Buku di Mei 2014

Sebenarnya agak terlambat untuk menulis wrap-up buku yang dibaca bulan lalu. Tapi, tak mengapa. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Betul tidak? 😉

Jadi, selama bulan Mei kemarin saya membaca empat buah buku. Keempat buku tersebut adalah:

1. Arok Dedes – Pramoedya Ananta Toer

Novel ini berkisah tentang pemberontakan Ken Arok terhadap pemerintahan Tunggul Ametung. Selama ini yang saya tahu dari buku-buku sejarah di sekolah dulu bahwa Ken Arok itu seorang pemberontak dan perampok yang jahat. Istri Tunggul Ametung, yakni Ken Dedes, dikawini setelah suaminya dibunuh. Dan saya juga ingat kata-kata guru Sejarah saya di SMP dulu, “Ken Arok meminta Empu Gandring untuk membuatkannya keris sakti. Dengan keris sakti itulah dia berharap bisa menaklukkan Tunggul Ametung. Setelah keris itu selesai ditempa, Ken Arok menusuk Empu Gandring dengan keris tersebut. Empu Gandring mengutuk keturunan Ken Arok akan saling bertikai dan membunuh dengan keris tersebut.” Begitulah kira-kira.

Otomatis, selama saya membaca novel ini saya mencari adegan dimana Empu Gandring akan mengutuk Ken Arok. Nyatanya, sampai akhir cerita saya tidak menemukan adegan kutuk-mengutuk itu. 😆 Dan saya jadi punya persepsi baru mengenai Ken Arok. Ternyata Ken Arok ini tidak sejahat yang digambarkan buku sejarah. Meski dia berkastra sudra, ternyata dia orangnya pintar. Bisa menguasai Sansekerta dalam usia muda. Sementara Ken Dedes ini tidak pasrah dan menderita. Bertolak belakang dengan apa yang ada di dalam benak saya dulu. Oleh Pram, Ken Dedes digambarkan sebagai wanita yang pintar, tapi diskriminatif dan licik juga. Halah, keren betul bahasanya. 😆

Rating: 5/5

2. Voices of Bereavement – Joan Beder

Buku ini isinya tentang kisah-kisah personal orang-orang yang kehilangan orang tercinta. Diceritakan bagaimana hubungan yang terjalin antara mereka dan orang yang dicintai, bagaimana kehilangan itu terjadi, dan bagaimana perasaan mereka. Juga diceritakan sesi konseling mereka masing-masing. Ada satu kutipan dari buku ini yang sangat membekas di saya, yaitu:

Bereavement does not mean forgetting the person who died but the mourner can remember him or her without a terrible amount of pain.

Rating: 1/5

3. Pantai Kupu-kupu – Elia Bintang

Alkisah sebuah tempat disebut Pantai Kupu-kupu, tempat dimana Nina tuju untuk mencari tujuan hidup. Di sana dia bertemu dengan Sam. Dari pertemuan itu mereka merasa cocok satu sama lain dan menghabiskan malam dengan mengobrol banyak hal. Tentang musik, pemberontakan, hingga tentang legenda Pantai Kupu-kupu.

Membaca Pantai Kupu-kupu seperti membaca sebuah perenungan dan kegelisahan diri. Entah kenapa membaca buku ini membuat saya teringat lagu Sandi Thom yang berjudul I Wish I was a Punk Rocker. Meski ceritanya ringan dan bukunya tipis, pembaca diajak berkontemplasi. Kalau menurut saya, kurang tebal sih bukunya kalau untuk berkontemplasi atau semacam berfilosofis begitu. 😆 But, it was OK after all. 

Rating: 2/5

4. Corat-coret di Toilet – Eka Kurniawan

Buku kumpulan cerpen dari Eka Kurniawan ini berisi 10 cerpen yang menarik, lucu, penuh sindiran, dan satir. Saya akhirnya memutuskan membeli kumpulan cerpen ini karena penasaran dengan nama Eka Kurniawan. Beberapa orang bilang mereka nge-fans dengan Eka. Oke, sebagus apa sih tulisan Eka Kurniawan? Ternyata, setelah saya selesai membaca sepuluh cerpennya, saya lantas jadi penasaran ingin mengumpulkan buku-bukunya yang lain.

Rating: 5/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s