#19 – Supernova: Petir

Supernova PetirJudul: Supernova: Petir
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books (Cetakan IV, Juni 2007)
Halaman: x + 226 halaman
ISBN: 979-98229-0-4
Rating: 5/5

Petir berkisah tentang seorang gadis Cina yang terobsesi dengan petir bernama Elektra. Etra, panggilan akrabnya, tinggal di Bandung bersama ayahnya dan kakak perempuannya, Watti. Etra yang cuek bebek dan pemalas seperti tidak memiliki visi dalam hidupnya. Berbeda dengan Watti yang sudah tahu nanti dia mau jadi apa.

Di sinilah letak menariknya Etra. Meski terlihat dia cuek dan pemalas, tetapi ketika dia dalam keadaan terdesak toh mau tak mau dia harus memikirkan kelangsungan hidupnya. Lulusan S1 menganggur dan tidak punya pekerjaan itu rasanya sungguh menyedihkan. Menyedihkan karena tidak punya gaji rutin yang diterima tiap bulan, sementara uang tabungan Etra semakin menipis. Mau sehemat apapun kamu menggunakan uangmu, ketika kamu tidak memiliki pemasukan tentu saja lama-kelamaan uang yang kamu punya akan habis. Betul tidak?

Karena keadaan lah yang membuat Etra mengirim surat lamaran ke Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional (dia sudah sangat desperate!). Dia mengesampingkan akal sehatnya dan diam-diam berharap tidak ketahuan menaruh surat lamaran itu di kuburan belakang rumah pamannya. Siapa sangka dari keisengan seseorang-entah-siapa yang menaruh surat lowongan kerja Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional ini di bawah pintu rumah Etra rupa-rupanya menuntun Etra berinteraksi dengan Ibu Sati? Ibu Sati ini pula lah yang membantu Etra menemukan jati dirinya dan mengeluarkan potensi dalam diri Etra yang sesungguhnya.

Petir berbeda dengan dua prekuelnya, yakni Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh dan Akar. Jika kedua prekuelnya lebih serius, maka Petir lebih terasa kesederhanaan dalam ceritanya. Petir terasa lebih dekat dengan kisah kita sehari-hari. Tentang sarjana nganggur yang putus asa butuh uang dan pekerjaan, tentang sibling rivalry, juga tentang membangun bisnis dari nol. Meski demikian, ketiganya tetap mengusung tema yang sama: pencarian jati diri.

Tokoh Elektra yang cuek dan pemalas itu juga terasa membumi. Dia tidak sepintar Ruben atau semisterius Bodhi. Elektra tetaplah gadis Cina cuek, pemalas, keras kepala, tapi sesungguhnya dia baik hati. Dia hanya perlu dilecut dulu untuk bisa bermetamorfosis. Mengingatkan kalian dengan seseorang kah? 😛

Oh, dan satu hal lagi, Elektra ini sungguh lucu. Saya yakin dari sononya Elektra bukan orang yang humoris, melainkan kecuekannya itu yang bikin gemas. Sifat pemalas dan keras kepalanya itu yang bikin lucu. Tidak sekali-dua kali saya dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah Elektra dan celetukan-celetukannya, tetapi berkali-kali. Misalnya, Watti yang terus-terusan merecoki kehidupan Elektra dengan menyuruhnya cari pacar yang oke, baik, dan yang bisa menghidupi Elektra. Elektra yang kesal membalas Watti dengan menyampaikan pesan dari Bang Nelson.

Seminggu yang lalu saya ketemu Bang Nelson, terus dia menanyakan kamu. Saya bilang kamu sudah nikah terus pindah ke Papua. Bang Nelson mukanya sedih gitu, soalnya dia titip satu ayat untuk kamu. Tapi sudah telat.
Ayat yang mana? Suara Watti langsung tegang.
Yohanes 22 ayat 5: Ketahuilah, barang siapa yang menukar kasih Yesus demi cinta pada kekasih akan tersesat, dan baginya pintu semua surga tertutup selama-lamanya. Aku berbicara tanpa diputus napas.
Sejenak tak ada suara. Baru kemudian kudengar Watti terbata-bata: Ta–tapi, kan, kamu bilang aku bakal impas. Kalau pintu surga yang ini menutup, yang sana bakal kebuka…
Sori, Watt. Ternyata saya salah. Dalam ayat dari Bang Nelson, jelas-jelas ditulis ‘semua’. SEMUA pintu surga, jadi… nggak ada yang terkecuali. Kuhela napas berat. Mengesankan keprihatinan yang mendalam. (hal. 47)

Seminggu dari situ Watti marah-marah dan ngambek dengan Elektra. Dia memusuhi Elektra sebulan, yang oleh Elektra dianggap sebulan yang indah. Watti telat menyadari kitab Yohanes cuma sampai pasal 21. Tidak ada pasal 22.

Dan berikut salah satu contoh celetukan Elektra yang membuat saya tersenyum simpul:

Dan konon, pria manapun akan ngiler lihat cewek bokong besar karena itu lambang kesuburan. Sementara kalau kulihat-lihat, lingkar pinggang dan pinggulku tak jauh beda. Dadaku timbul seada-adanya. Mau bagaimana masa depanku, coba? Watti sudah bisa tenang karena dia ‘cica’. Cina cakep. Aku masih harus tegang karena statusku cuma ‘cia’. Cina aja. … Aku juga ingin ketemu Mami agar kami bisa bercermin berdua, mencari kemiripanku dengan wajah cantiknya. Sungguh. Aku tak merasa buruk-buruk amat, tapi tak terurus. Itulah ungkapan yang tepat. (hal. 29)

Bagi teman-teman yang sedang butuh bacaan ringan dan menghibur, juga ingin tertawa, tidak ada salahnya mempertimbangkan Petir untuk dibaca.

Iklan

3 thoughts on “#19 – Supernova: Petir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s