#33 – The Men who Stare at Goats

The Men who Stare at GoatsJudul: The Men who Stare At Goats
Penulis: Jon Ronson
Halaman: 180
Rating: 3/5

The Men who Stare at Goats adalah buku investigasi lainnya dari Jon Ronson. Kali ini Ronson menyelidiki pasukan “khusus” Amerika. Khusus yang dimaksud di sini adalah kekuatan supranatural. Jadi, ada masanya AS ternyata pernah merekrut orang-orang yang punya kekuatan psychic untuk menjadi pasukan tentara AS.

Kalian merasa heran? Jangankan kalian, saya pun juga heran. Di halaman-halaman awal saya sempat tidak percaya dan berpikir ini tidak mungkin. Ronson barangkali sedang mengelabui saya, tak peduli meskipun sebelumnya Ronson bilang kalau ini adalah a true story. Mustahil. Masa’ iya Amerika Serikat, yang katanya negara adidaya itu, percaya begituan sih?

Seorang jenderal percaya manusia bisa melayang? Bisa menembus dinding? Bisa membengkokkan sendok? Bisa membaca pikiran? Bisa meramal serangan teror yang akan datang? Like, seriously?

Iya, ini serius. Sulit dipercaya, tapi ya memang begitu adanya.

Bermula dari Jim Channon yang traumatis setelah pulang bertempur di Perang Vietnam. Dia kemudian berpikiran kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Harusnya ada cara lain untuk mengalahkan musuh. Tidak harus lewat bedil dan bom. Maka dia keliling negeri untuk mencari cara tersebut sampai akhirnya dia membuat modul dan pasukan khusus.

Investigasi terus berlanjut dari membahas pasukan khusus ini kemudian membahas metode penyiksaan tentara AS terhadap tawanannya. Tidak hanya menyiksa tawanan dengan cara-cara di luar batas kemanusiaan seperti di Abu Ghraib dan Guantanamo, Tentara AS juga menyiksa tawanannya dengan menyetel lagu yang sama berulang-ulang. Lagu-lagu yang disetel, seperti “Enter Sandman” dari Metallica, “I Love You” dari Barney & Friends, hingga lagu-lagu dari Sesame Street.

Ronson masih setia dengan gaya gonzo journalism-nya membuat saya sampai sekarang masih merasa The Men who Stare at Goats ini adalah buku fiksi. Sebuah novel tentang pasukan khusus AS. Kalaupun ini nonfiksi, pasti Ronson mencari sensasi dengan mengaku-ngaku bahwa buku ini adalah cerita nyata. Saya sadar perasaan saya itu muncul karena saya menolak untuk percaya apa yang ditulis Ronson. Bagaimana bisa percaya bahwa ada orang yang bisa membunuh seekor kambing dan seekor hamster hanya dengan menatapnya? Lebih tidak percaya lagi, orang-orang dengan kekuatan supranatural ini direkrut untuk melumpuhkan manusia. Nyatanya, orang ini benar-benar ada. Bahkan, kabarnya mereka kembali direkrut untuk “dilepas” di kerumunan. Mereka yang biasanya bekerja di balik layar kali ini diijinkan untuk turun ke lapangan untuk melakukan misi.

Meski saya dibuat shock oleh Ronson dengan cerita PsyOps-nya, bersyukurlah saya ternyata Ronson memasukkan cerita yang menurut saya masih bisa diterima oleh saya. Seketika cerita kekejaman tentara AS menyiksa tawanan di Abu Ghraib dan Guantanamo lebih masuk akal ketimbang cerita tentara dengan kekuatan supernya. Cerita tentang tentara AS yang salah tangkap—kesaksian warga Inggris yang menjadi korban—langsung dimasukkan ke penjara selama dua tahun, tanpa pengadilan, dan siksaan yang… Aduh, saya tidak sanggup menulisnya.

Karena buku ini temanya lebih menarik dan menurut saya lebih fokus ketimbang Them, maka saya memberinya nilai 3 bintang dari 5.

Iklan

2 thoughts on “#33 – The Men who Stare at Goats

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s