[Interview] Mas Joe: Jangan Sampai Nggak Suka Mbaca

Kali ini saya mewawancarai salah satu idola saya di dunia maya. Dia tak lain dan tak bukan adalah Mas Joe. Itu nama panggilannya dan saya terbiasa memanggilnya demikian.

Pemilik nama asli Anindito Baskoro Satrianto ini sudah saya kenal sejak jaman dahulu kala. Tepatnya sejak awal-awal saya masuk kuliah dulu. Dulu saat blog sedang jaya-jayanya–maksud saya, jaya sekali dibandingkan sekarang–blog Mas Joe termasuk blog-blog pertama yang saya baca. Syukur Alhamdulillah-nya, beliau masih konsisten ngeblog sampai sekarang meski dengan frekuensi update tidak sesering dulu.

Saya belajar banyak dari beliau, baik dari tulisan-tulisannya maupun dari orangnya langsung. Secara jujur saya bisa bilang Mas Joe termasuk orang-orang yang memengaruhi cara berpikir saya ketika masa-masa jahiliyah dulu. Sekarang juga masih jahiliyah sih.

Sudah pasti Mas Joe hobi baca. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa sepintar itu. Iya kan? Akun Goodreads-nya juga terbilang aktif. Silakan untuk menambahnya sebagai teman di akun Goodreads kalian.

Nah, karena inilah saya ingin mewawancarai beliau. Wawancara saya lakukan via surel karena kalau dilakukan via Whatsapp bisa dipastikan obrolan akan melantur kemana-mana. Ada kemungkinan besar pula beliau akan nyepik saya. Maka untuk lebih amannya wawancara dilakukan via surel biar bisa fokus.

Mas Joe foto dokumentasi pribadi

Berikut hasil wawancara dengan Mas Joe. Selamat menikmati!

Tentang pengalaman dan hobi membaca
1. Sejak kapan Mas Joe tertarik dengan buku dan hobi membaca?
Lupa juga pastinya kapan. Mungkin sejak sebelum esde. Yang jelas waktu kelas 1 esde, sih, saya sudah khatam buku paket pelajaran Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB)-nya anak kelas 4 esde.

2. Siapa orang yang mempengaruhi Mas Joe untuk gemar membaca?
Mungkin eyang kakung saya. Beliau memang hobi baca. Koleksi ensiklopedianya macam-macam, dalam macam-macam bahasa juga. Ada Inggris, Endonesa, Jepang, Jawa, dan Belanda. Di dekat rumah eyang saya di Denpasar ada supermarket yang namanya Tiara Dewata. Gramedia belum masuk Bali waktu itu. Tiap bulan pasti saya diajak eyang saya jalan-jalan ke situ nyari buku. Sebagai upahnya nemenin beliau jalan kaki, saya dibolehin ngambil buku apa saja yang saya suka. Biasanya, sih, saya ngambil komik wayang karangannya R.A. Kosasih, atau Oerip, atau siapa sajalah – yang penting komik wayang yang belum sempat saya punya.

Tapi itu baru mungkin lho. Saya nggak yakin juga sebenarnya pengaruh yang paling kuat itu dari siapa? Dulu mamak saya langganan majalah “Ayah-Bunda” sampai saya selesai balita, yang di tengahnya ada sisipan buat anak-anak. Awalnya saya selalu minta dibacakan semua isinya, tapi lama-lama tarifnya naik. Tiap minta dibacain cerita yang agak panjang, saya harus mbacain orangtua saya dulu cerita yang lebih pendek. Yeah, kalau diliat pake kacamata pendidikan untuk anak usia dini jaman sekarang, pendidikan yang saya terima memang nggak sehat: saya sudah lancar mbaca sebelum masuk teka, yang mana katanya, sebaiknya kalau belum usia esde, anak-anak jangan diajarin calistung. Tapi orangtua saya mana peduli :v

Sekarang saya juga nggak peduli, sih. Keponakan saya – itu yang sekarang lagi di depan saya nonton film kartun “Mr. Peabody and Sherman” – juga sudah lancar mbaca, padahal belum teka. Sudah bisa ngetik-ngetik buat ngirim Whatsapp juga. Pengaruh siapa? Tentu saja pengaruh pakdhenya yang tampan, seperti kata-katanya sendiri: “Aku, kan, cerdas, kayak pakdhe.” 😆

3. Apakah Mas Joe masih ingat judul buku pertama yang Mas Joe beli? Boleh lah Mas Joe ceritakan sedikit pengalamannya itu.
Pulang bubaran esde, waktu kelas 3, saya numpang mobilnya Rian, temen sekelas saya, buat mampir ke Tiara Dewata. Di situ saya pertama kalinya belanja buku sendiri. Uangnya, sih, jelas hasil ngerengek ke mamak saya. Saya beli komik “Doraemon”-nya Elex Media Komputindo yang seri 4. Sekarang, sih, bukunya entah di mana. Komik-komik dan buku-buku saya jaman di Denpasar banyak yang lenyap entah ke mana rimbanya gara-gara dipinjem sama sepupu-sepupu saya yang lebih kecil. Oh iya, di Denpasar, saya ini cucu eyang yang paling gede. Apa-apa yang dipengenin sama sepupu-sepupu saya tapi saya sudah punya duluan, orangtua mereka selalu menyarankan ke mereka supaya pinjem ke saya sahaja, hahaha.

4. Rata-rata dalam sebulan Mas Joe bisa baca berapa buku?
Bisa 3-4 seri komik. Sejak tugas di Jakarta saya jadi hobi nongkrong di Gramedia Pondok Indah Mall (PIM) buat numpang baca komik tanpa beli. Kalau yang bukan komik, sih, bisa 3-4 judul buku juga. Cuma biasanya nggak selesai dalam sebulan. Biasanya baru selesai bulan depannya, atau malah beberapa bulan kemudian. Tergantung mood juga.

Tentang buku
5. Belakangan lagi sering baca buku tentang apa, Mas?
Terakhir saya lagi berusaha namatin 5 judul buku: “The Janissary Tree”-nya Jason Goodwin, cerita tentang kasim istana Kesultanan Turki yang kebagian kerjaan jadi detektif juga; “Sepanjang Hayat Bersama Rakyat”, biografi nggak resminya Hamengkubuwono IX; “Dunia Sophie”-nya Joostein Garder, novel filsafat, seperti yang disarankan sama sampeyan, Mbak; “#sharing 2”-nya Handry Satriago, yang isinya seputar motivasi dalam konteks kepemimpinan; sama terakhir yang baru nyampai paketannya, sih, “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!”-nya Muhidin M. Dahlan, buku yang dulu nggak pernah tega saya selesaiin. Saya dulu (pas tahun pertama jadi mahasiswa) nggak sanggup untuk percaya kalau ada seorang akhwat aktifis dakwah yang nyambi kerjaan jadi lonte. Tapi sekarang gara-gara hal beginian kayaknya sudah jamak, saya putuskan buat baca lagi sampai habis. Saya lagi kepengen laku prihatin, soale.

Ah ya, kemarin, Mbak Mantan bilang mau ngasih buku juga berhubung saya masih dalam suasana ultah. Kalau beneran, berarti bakal ada 6 judul buku yang harus saya selesaiin. Waktu ditanya pengen buku apa, sih, saya bilangnya kepengen antara buku biografinya Gus Dur yang official atau buku tentang sejarah budaya media digital. Mbak Mantan saya baik ya? Ah, mungkin memang dia sebenarnya masih cinta, sih. Cuma sekarang kehalang status sudah punya suami aja, hahaha.

6. Mas Joe paling suka baca buku bergenre apa? Kenapa Mas Joe suka membaca buku-buku genre tersebut?
Nggak ada yang khusus sebenarnya. Jenis ketertarikan saya terhadap suatu genre suka fluktuatif. Kadang pengen baca buku-buku yang temanya spiritual, kadang self-help a la Barat ataupun Timur, novel-novel pop yang katanya best-teler, tutorial, atau juga chic-lit dan teen-lit. Semuanya saya baca. Tapi kalau ditanya genre apa yang paling banyak di rak buku saya, jawabannya genre detektif-detektifan, mulai dari detektif kelas pelajar sampai detektif yang hampir sakaratul maut.

Kenapanya, ya mungkin gara-gara saya dulu dididik dengan teka-teki. Dulu babah saya rajin ngasih tantangan ke saya. Kalau saya bisa njawab games yang dia kasih ke saya, jawaban betul saya dibarter duit 5.000 rupiah. Jumlah yang besar buat anak esde di era awal 90-an. Mungkin gara-gara itu jadinya saya suka tema-tema bacaan yang isinya pemecahan terhadap suatu misteri.

Eh, tapi saya nggak tertarik sama teka-teki sebagai teka-tekinya itu sendiri, lho. Buktinya saya nggak ngambil mata kuliah Kriptografi. Saya suka teka-teki cuma demi melihat ekspresi orang yang teka-tekinya saya pecahkan. Dulu rasanya bangga banget setiap ngeliat ekspresi takjub plus sebelnya babah saya kalau saya bilang, “Sudah selesai. Mana uangnya?”

“Hah, sudah selesai?” tanya babah saya.

Rasa-rasanya itu kayak “saya ini jauh lebih pintar daripada apa yang sampeyan sangka tentang kepintaran saya”, lho 😀

Sombong? Memang. Biarin!

DSCF4819foto dokumentasi pribadi

7. Siapa saja penulis favorit Mas Joe? Menurut Mas Joe apa kekuatan/kelebihan dari mereka dalam menuliskan karyanya?
Waktu esde saya suka sama Hilman Hariwijaya. Gara-gara sering baca “Lupus”-nya, meskipun nggak sesuai sama umur saya yang seharusnya, saya jadi punya bahan guyonan yang teman-teman saya waktu itu belum banyak tahu. Alhasil saya dicap sebagai teman yang menyenangkan, yang bisa bikin orang lain ketawa, dan saya menikmati status saya itu. Joker; orang yang kalau dia nggak ada, suasana jadi nggak serame yang seharusnya.

Saya juga suka Sir Arthur Conan Doyle. Apa boleh buat? Dia pencipta tokoh detektif paling terkenal di dunia, sih. Berikutnya saya suka J.K. Rowling sama Dan Brown. Serial Harry Potter-nya Rowling memang bisa bikin saya nggak pengen berhenti mbaca kalau buku itu belum tamat. Sayang, nggak begitu kondisinya dengan seri Cormoran Strike-nya. Daya magis tulisannya seolah hilang, padahal yang terakhir ini malah genre favorit saya: detektif-detektifan. Soal Dan Brown? Yeah, sampai buku terakhirnya yang saya baca, “Inferno”, alur ceritanya masih bisa bikin saya betah nggak mau berhenti sebelum selesai.

Selain itu, saya suka Seno Gumira Ajidharma, terutama kalau dia lagi nulis dengan gaya sinisnya. Ngejek betul! Perkara Seno, sampai sekarang saya masih nyari bukunya yang “Wisanggeni Sang Buronan”. Alhamdulillah, sampai sekarang belum dapat-dapat.

Lainnya, saya suka tulisannya (eh, atau IDE tulisannya ya?) Emha Ainun Nadjib. Bahasa tulisnya memang suka agak njelimet bin muter-muter, sih. Terkadang. Soal yang ini mungkin saya jadi sukanya ya gara-gara apa yang dituliskannya biasanya sejalan dengan isi otak saya, terutama kalau dia lagi nulis tentang kondisi sosial masyarakat Endonesa yang masih semrawut dan suka latah ini.

8. Apakah Mas Joe ada penerbit favorit? Apa saja penerbit favorit Mas Joe?
Standar: grupnya Gramedia. Buat saya ini yang paling bagus mutu cetakannya.

9. Buku favorit Mas Joe apa saja?
Banyak. Tapi kalau yang saya baca berulang-ulang dan belum pernah bosan sampai sekarang…ah, agak nggak biasa ini: “Ensiklopedi Wayang Indonesia” seri 1-6 terbitannya Senawangi, hahaha.

10. Ada buku yang Mas Joe tidak suka setelah membacanya, yang membuat Mas Joe menyesal pernah beli buku tersebut? Apa judulnya? Dan kenapa Mas Joe tidak suka?
Saya pernah baca 2 biji buku. Yang pertama novel “Match Made in Heaven” karangannya Bob Mitchell. Ide ceritanya bagus. Tentang orang yang berada antara hidup dan mati, yang badan halusnya harus bertanding golf 18 holes lawan wakil-wakil Tuhan demi mendapatkan hidupnya kembali. Dan lawan terakhir yang harus dihadapinya adalah Tuhan sendiri. Wakil-wakil Tuhan-nya sendiri juga bukan sebangsa nabi atau waliyullah lainnya, tapi orang-orang top macam Shakespeare, Leonardo da Vinci, Abe Lincoln, sampai Joan of Arc.

Yang kedua judulnya “The 10 Greatest Football Number 10’s”, tentang 10 fantasista terhebat pengagem nomor punggung 10. Saya beli gara-gara ada bab tentang Roberto “The Divine Ponytail” Baggio, dewa sepakbola sesembahan saya yang gaya mainnya selalu coba saya tiru di lapangan hijau.

Kedua buku terbesut, eh, tersebut adalah terbitannya Ufuk Press, dan, yeah, saya nyesel! Mutu terjemahannya kayak make Google Translate sahaja. Sejak saat itu saya kapok mengonsumsi buku terbitannya Ufuk Press. Sumpah!

11. Dari sekian banyak buku yang Mas Joe pernah baca, buku apa yang menurut Mas Joe paling sulit Mas Joe pahami (kecuali text book kuliah ya)? Kalau sudah ketemu buku model begini, Mas Joe langsung tutup bukunya atau pantang menyerah dan lanjut saja membaca sampai tamat?
Itu: “The 10 Greatest Football Number 10’s”. Saya baca sampai selesai, sih, meskipun saya banyak nggak nangkep sama maksud kalimat terjemahannya. Untunglah semua atlet bola yang ditulis di sana sedikit-banyak saya sudah tahu lika-liku hidupnya. Jadinya ya secara garis besar saya tetap paham-paham aja.

Overall, sih, saya lebih ke menilai sebuah buku itu cara nulisnya bagus atau nggak; bukan soal paham atau tidak pahamnya. Insyaallah, kalau pikiran kita tenang dan hati kita jernih, kita tetap bisa nangkep substansi dari sebuah buku, kok. Bahahahak!

12. Kaitannya dengan pertanyaan nomor 11, ada tips untuk membaca buku-buku sulit begini atau tips membaca secara general biar kita lebih gampang mencerna dan mengingat isi buku?
Oke, kita mulai ceramah saya untuk kesempatan kali ini!

Biasanya saya membagi buku menjadi 2 jenis: pengen saya nikmati atau pengen saya mengerti?

Kalau pengen saya nikmati, saya bakal berusaha membacanya dalam kondisi sangat rileks. Kapankah itu? Pada saat e’ek :mrgreen: Di manakah itu? Di jamban, tentu saja. Konon, sesibuk-sibuknya orang, beliau bakal jadi sabar pada saat duduk di jamban. Cuma gara-gara saya males kalo harus bawa buku keluar-masuk toilet, saya masang rak buat naruh buku di lingkungan toilet saya. Yang standby di situ cuma 1 judul buku saja. Maka tiap kali saya beraksi di WC, alih-alih bawa smartphone, saya jadi lebih disiplin untuk nyambi baca buku yang pengen saya selesaikan.

Berikutnya, kalau pengen saya mengerti artinya saya tidak harus menikmatinya. Percaya atau nggak, saya mraktekin cara baca cepat dari buku-buku tutorial membaca efektif model “Quantum Reading” atau serinya “BacaKilat”. Boleh dicoba, kok. Buku-buku tutorialnya ada di Gramedia. Terakhir saya ke situ minggu lalu, bukunya masih ada. Buat saya cara ini memang bekerja, meskipun boleh dibilang masih masuk kategori pseudo-science. Tapi pseudo ataupun bukan pseudo saya nggak peduli, selama metodenya memang bekerja buat saya.

Hanya saja buku-buku model gitu biasanya ada ajakan buat ikutan seminar atau workshop-nya yang ongkosnya lumayan mahal kalau memang kepengen menguasai seluruh ilmunya. Memang semprul betul! Tapi jangan khawatir, saya sudah khatam. Jadi nggak perlu ikutan workshop-nya segala. Saya toh nggak masalah kalau diminta buat berbagi tips lanjutan dari saya lebih jauh – kalau sampeyan memang berkenan, soalnya kepanjangan kalau harus saya jabarkan di sini, selain saya harus ditraktir ngemil dan minum di warkop sok impor model Setarbaks atau Kofibin 😛

13. Dari sekian banyak buku yang sudah Mas Joe baca, apakah ada buku yang bisa dikatakan telah mengubah hidup Mas Joe? In what way?
Ada. Alqur’an. Seriously, Alqur’an. Saya dulu pernah jadi teis-agnostik berlanjut jadi ateis-agnostik, cuma nggak saya terusin buat jadi ateis beneran. Nggak sempat karena sayanya sendiri keburu insyaf duluan. Insyafnya justru gara-gara baca macam-macam buku.

Jadi waktu itu ceritanya saya ninggalin agama bukan gara-gara kecewa, ngambek sama Tuhan. Bukan. Saya nggak secupu itu :mrgreen: Macam patah hati ditolak cintanya terus ngeblok nomor hapenya gebetan kita, hahaha. Saya justru kepengen ngetes, apa iya yang orang bilang, bahwa semua konsep hidup itu ada kitab suci saya sebelumnya, itu memang beneran ada atau cuma bokis-bokisnya marketer agama?

Saya baca macam-macam buku, saya cocokin, di agama saya (sebelumnya) ada nggak bahasan tentang hal yang baru saja saya baca, begitu terus-terusan. Lha, jebulnya – sepengalaman saya – semuanya memang ada. Saya belum pernah nemu kondisi yang nggak ada bahasan solutifnya di Alqur’an. Oh ya, Alqur’an yang saya baca itu yang versinya memuat keterangan arti per kata dan turunannya, azbabun nuzul, juga nasikh-mansukh-nya sebuah ayat. Jadi, kayak waktu kemarin ada sejawat saya yang komentar bahwa Alqur’an gagal menjawab realita yang ada di masyarakat jaman sekarang, saya kemudian bilang ke dia, “Tentang perkara yang kamu anggap keliru, seberapa dalam pemahamanmu tentang hal itu?”

14. Apa Mas Joe setuju dengan statement “Don’t judge book by its cover”? Seberapa penting cover buku menurut Mas?
Setuju. Isi buku adalah memang bukan cover buku. Isi buku adalah isi buku itu sendiri. Kalau isinya bagus, seberapapun jelek gambar covernya, isinya ya tetap bagus. Hanya saja cover mutlak diperlukan sebagai pemancing. Sebuah buku yang bagus nggak akan sempat dinikmati sama manusia-manusia gembus yang hobi menilai sesuatu dari covernya melulu. Seenggaknya, kalau kita kepengen isi buku yang bagus bisa dinikmati sama orang-orang koplak ini, baguskanlah dulu covernya, biar mereka nggak antipati duluan. Cover bagus itu perlu. Perlu karena homo sapiens semprul ini jumlahnya masih teramat banyak di Planet Bumi kita.

15. Mana yang lebih Mas Joe pilih: buku cetak atau e-book?
Truk gandeng. Truk gandeng karena truk gantung (baca: terg-gantung) itu nggak ada.

Sebenarnya kesukaan saya ini mbaca; bukan cuma mbaca buku. Bahkan, mbaca pengumuman kalau besok itu libur di papan pengumuman esde saya jaman dulu pun saya suka. Saya juga mbaca berita via monitor komputer saya, baca komik online via ponsel pintar-pintar bodo punya saya.

Beberapa bacaan memang saya beli versi ebook-nya, soalnya lebih murah, dan demi tidak menganggurkan ebook reader saya (dulu. Sekarang sudah ilang digondol copet. Mungkin dia ngirain itu sejenis tablet kelas hi-end. Kasian…malingnya pasti kuciwa begitu tahu kalau itu benda cuma bisa buat mbaca buku sahaja. Dalam hal ini saya terhibur fakta bahwa minat baca orang Endonesa masih sangat rendah). Biasanya ini adalah jenis bacaan yang saya pikir tidaklah urgent untuk punya versi hardcopy-nya. Tapi kalau buat jenis bacaan yang memang saya anggap adalah edisi koleksi, misalnya trilogi Bartimaeus-nya Jonathan Stroud, ya saya beli versi cetaknya.

Tentang belanja buku
16. Seberapa sering Mas Joe belanja buku? Apa Mas Joe ada budget khusus untuk belanja buku?
Sebulan sekali. Jangan lebih dari 500 ribu. Lima ratus ribu poundsterling, maksud saya 😎

17. Apa saja yang menjadi pertimbangan Mas Joe sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah buku?
Keterangan di sampul belakang, pengarang, penerbit, review dari teman, sampai dengan harga. Umumnya kalau ada gebetan yang bisa saya todong buat mbeliin, kalau buku yang saya suka harganya lumayan bisa buat makan 3 hari, saya bakal berusaha kirim-kirim kode ke gadis yang bersangkutan: “Eh, eh, aku lagi kepengen buku anu, lho…”

Biasanya, sih, berhasil.

Hahaha, saya jahat, ya?

Enggak, kok. Habis itu yang bersangkutan pasti saya balas, kok, kebaikannya. Biasanya saya traktir makan siomay atau saya donlotin serial drama Korea terbaru. Koneksi internetnya boleh numpang di rumahnya Pak Gendut, sejawat saya yang lagi stress mikirin tesisnya.

18. Mas Joe pernah khilaf belanja buku gak? Pasti pernah. Nah, pernah khilaf habis sampai berapa banyak pas satu kali belanja buku tersebut?
Pernah. Sampai 1 kardus buku-bukunya Quraish Shihab. Pulangnya bingung gimana mbawanya, soalnya saya naik motor sendirian. Alhasil saya ngoling temen buat datang ke PIM, tapi datangnya jangan bawa kendaraan sendiri, supaya dia bisa mbawain belanjaan saya.

Sebenernya dibilang khilaf, sih, ya nggak khilaf-khilaf betul. Waktu itu mamak saya lagi ultah. Udah dari kapan tahun dia bilang pengen baca buku-bukunya Quraish Shihab. Dasarnya orang kaya, begitu saya bingung mau milihin bukunya Pak Quraish yang judul apa, semua buku beliau yang ada di Gramedia PIM saya sikat sahaja. Ah, namanya juga demi mamak. Jangan kata buku, bahkan nyawa pun saya berikan.

19. Paling sering belanja buku online atau langsung ke toko buku? Ada toko buku favorit atau toko buku online favorit? Share pengalaman pas belanja di sana dong.
Langsung ke toko buku, supaya bisa sekalian numpang baca serial “Long Hu Men” terbaru.

Favorit saya, sih, ya ke Gramedia. Gramedia PIM, lebih tepatnya. Soalnya itu yang paling deket sama rumah saya, yang kebetulan berlokasi di kompleks perumahan Pondok Indah 😎 Di situ komiknya pasti ada yang nggak diplastikin, sih. Dulu sempat hobi ke Gramedia Matraman, meskipun jauh dari rumah, gara-gara itu Gramedia yang paling gede se-Endonesa. Tapi sekarang jadi nyebelin sejak komiknya pada diplastikin semua.

Kalau toko buku online, sih, nggak ada patokan. Biasanya ya nyari mana yang lebih murah aja. Kadang saya dapat buku yang harganya paling ekonomis justru nggak di toko online khusus buku. Saya malah dapatnya di situs-situs marketplace sebangsa Tokopedia atau Bukalapak.

Tentang idealisme buku
20. Menurut Mas Joe buku itu apa sih?
Buku itu bacaan, dan membaca adalah jendela dunia. Keren ya kata-kata saya? Nggak usah kagum, itu nyontek, kok.

21. Bagaimana pandangan Mas Joe terhadap orang-orang yang tidak suka membaca?
Kalau nanti jadi orang bodo, itu salahmu sendiri. Nggak usah sambat, jangan ngeluh. Siapa suruh malas membaca, hah? 😈

22. Menurut Mas Joe bagaimana cara meningkatkan minat baca di Indonesia?
Ada baiknya apabila – bagi para orangtua – semenjak anaknya masih kecil dibiasakan sebagaimana halnya orangtua saya membiasakan saya membaca, seperti jawaban dan petuah saya sebelumnya. Ada baiknya pula apabila budaya membaca dijadikan semacam kewajiban sejak usia sekolah dasar. Jadikan membaca sebagai tugas rutin, adakan kurikulumnya, buat para anak-didik itu “terpaksa” sering membaca, karena tidak semua orangtua di Endonesa punya kesadaran untuk berlaku iseng kepada anaknya seiseng orangtua saya.

23. Bagaimana pendapat Mas Joe mengenai buku-buku bajakan dan ebook ilegal yang bertebaran di internet?
Hahaha…nggak mau jawab, ah. Saya ini penikmatnya, soalnya. No comment. No comment, seperti no-comment-nya Desy Ratnasari.

24. Ada pesan untuk pembaca blogku mengenai buku dan hobi membaca?
Baiklah. Pertama-tama, jangan sampai nggak suka mbaca. Kalau perlu, kalau memang nggak suka mbaca, ikutan hipnoterapi. Minta diterapi biar berubah jadi suka mbaca. Eh, beneran ini. Jangan ngekek-ngekek. Jangan kira masukan saya ini ngawur belaka. Ini murni demi masa depan kalian sendiri.

Kedua-dua, jangan milih-milih bahan bacaan. Baca semuanya, apalagi buku bacaan yang direkomendasikan sama teman buat dibaca. Karena apa? Karena supaya kita terbiasa untuk terbuka dengan semua ide dan pemikiran. Kita jadi kaya akan parameter ketika harus mempertimbangkan suatu problematika, bisa melihat dan betul-betul menilai dari banyak sudut-pandang. Berikutnya, kadang kita tidak sebegitunya benar-benar mengenal diri kita sendiri. Makanya jangan menolak pelajaran yang berusaha diberikan sama teman kita. Kadang pula justru orang lain yang di dekat kitalah yang bisa menilai dengan obyektif apa yang sebenarnya kita butuhkan, apa yang enaknya kita baca. Pendek kata, jangan membatasi diri dalam menyerap pengetahuan, yang sayangnya pengetahuan itu sendiri lebih banyak tersedia jika dan hanya jika kita suka membaca.

Akhirul kalam, demikianlah khotbah singkat saya pada kesempatan kali ini. Semoga bisa diambil paedah dan mangpa’atnya. Yang jelek-jelek jangan ditiru, yang sekiranya baik binti bermanfaat silakan ambil dan implementasikan, tapi jangan lupa pula untuk menraktir saya kemudian ya! Sekian dan terima disun gadis manis.

Reading Bookgambar dari Pinterest

Wew. Ternyata panjang juga ya wawancara saya dengan Mas Joe. Semoga teman-teman tidak bosan membacanya sampai selesai. Akhir kata, semoga kita semua terinspirasi dan dapat belajar banyak dari Mas Joe. Tabik!

Iklan

9 thoughts on “[Interview] Mas Joe: Jangan Sampai Nggak Suka Mbaca

  1. membaca hasil wawancara ini, awalnya membuat saya mules-mules tanpa sebab, tapi sampai ujung, saya jd tersenyum lalu merasa orang ini sosok yang absurd dan asik buat ngobrol. hebad 🙂

  2. orang gilaaa… ditanyain muluk nih orang sama mamak saya, udah kewong belum dia… hakhakhak….
    ish ish ish… baru inget, wanpis saya separo masih di doi…. ckckckckckck….

    1. maklumlah…namanya juga mantan calon mantu idaman, tiada heran ditanyain terus.

      wanpisnya masih komplit. nanti habis lebaran bonus kaos. nah, 1 lagi penegasan kalau saya ini baik hati 😎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s