#34 – 1984

1984Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Penerbit: Penguin Books (2008)
Halaman: viii + 326
ISBN: 978-0-141-03614-4
Harga: Lupa. Beli buku ini di tahun 2010.
Rating: 5/5

It was a bright cold day in April, and the clocks were striking thirteen.

Kalimat di atas membuka cerita 1984. Novel dystopia ini ditulis oleh George Orwell, nama pena dari Eric Arthur Blair, di tahun 1949.

Pada saat itu keadaan dunia terbagi menjadi tiga, yaitu Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Airstrip One, dulu yang dikenal Great Britain dan sekarang menjadi bagian Oceania, menjadi latar tempat cerita ini. Negara ini dipimpin oleh tirani, Big Brother, yang sangat mengatur kehidupan rakyatnya. Makanan, postur tubuh, hingga seks semuanya diatur oleh Negara. Tidak ada kebebasan berbicara, tidak ada kebebasan berpikir, jatuh cinta tidak diizinkan, bahasa juga diatur. Negara sampai membuat Newspeak sebagai pengganti Oldspeak (bahasa Inggris yang digunakan sebelum perang).

You think, I dare say, that our chief job is inventing new words. But not a bit of it! We’re destroying words–scores of them, hundreds of them, every day. We’re cutting the language down to the bone. … It’s a beautiful thing, the destruction of words. … (hal. 53 – 54)

Negara percaya dengan mengatur berbahasa akan membatasi pola pikir rakyatnya. Karena bagi Negara kebebasan berpikir sangat berbahaya maka harus diatur dan dianggap sebagai thoughtcrime.

Don’t you see that the whole aim of Newspeak is to narrow the range of thought? In the end we shall make thoughtcrime literally impossible, because there will be no words in which to express it. Every concept that can ever be needed will be expressed by exactly one word, with its meaning rigidly defined and all its subsidiary meanings rubbed out and forgotten. … Every year fewer and fewer words, and the range of consciousness always a little smaller. Even now, of course, there’s no reason or excuse for committing thoughtcrime. … (hal. 55)

Winston Smith, tokoh protagonis kita, bekerja di Ministry of Truth yang tugasnya adalah menyebarkan propaganda dan merevisi sejarah sesuai kebutuhan. Di tahun 1984 penduduk Oceania tidak tahu mana yang benar dan mana yang rekayasa. Ketika semuanya disiapkan oleh Negara maka kebenaran yang dipakai adalah kebenaran versi Negara. Dia bersikap kritis. Dia mempertanyakan catatan-catatan sejarah yang terus direvisi. Dia juga mempertanyakan bagaimana keadaan dulu sebelum Big Brother berkuasa. Apa dulu makanan rasanya lebih berwarna tidak seperti sekarang yang rasa semua makanan hambar? Apa itu coklat? Apa itu kopi? Apa itu gula? Dan pertanyaan terbesarnya adalah apakah kehidupan dulu memang jauh lebih buruk sebelum Big Brother atau justru malah lebih baik?

Saya tidak dapat membayangkan jika harus hidup di sebuah negara dengan pemerintahan totalitarian seperti Oceania dengan Big Brother-nya. Membayangkan saya tidak dapat berpikir dengan bebas dan tidak dapat mengeluarkan pendapat, dan semua aspek kehidupan saya harus diatur negara sudah cukup membuat saya ngeri sendiri. Sebuah kehidupan di mana kita tidak dapat berpikir adalah sebuah kehidupan yang tidak layak untuk dijalani.

Membaca 1984 dibutuhkan tekad yang kuat dan mood yang bagus karena deskripsi yang detil dari Orwell membuat saya dapat merasakan bagaimana menderitanya hidup jika tidak ada kebebasan sama sekali. Menakutkan! Rasanya begitu nyata.

Tentu membuat cerita fiksi seperti 1984 dibutuhkan imajinasi dan kecerdasan yang tinggi. George Orwell dapat “membangun” sebuah negara fantasi yang totalitarian, dengan ide-ide seperti Newspeak, Thought Spies, telescreen, dan lainnya. Pandangan-pandangan politik juga terpapar di sini, terutama sekali pandangan Negara yang ingin menguasai rakyatnya hingga mencengkeram mereka. Karena itulah buku ini wajib dibaca.

Akhirul kalam, semoga nanti kita tidak akan mengalami masa di mana untuk menulis buku harian saja harus sembunyi-sembunyi karena dianggap kejahatan. Seperti Winston yang menulis di buku hariannya secara diam-diam:

To the future or to the past, to a time when thought is free, when men are different from one another and do not live alone–to a time when truth exists and what is done cannot be undone:

From the age of uniformity, from the age of solitude, from the age of Big Brother, from the age of doublethink–greetings!

Thoughtcrime does not entail death: thoughtcrime is death. (hal. 30)

*gambar dari Goodreads

Iklan

3 thoughts on “#34 – 1984

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s