#45 – The Picture of Dorian Gray

the-picture-of-dorian-grayJudul: The Picture of Dorian Gray
Penulis: Oscar Wilde
Penerbit: Project Gutenberg
Halaman: 180
Harga: Gratis dan resmi karena diunduh dari Project Gutenberg
Rating: 5/5

Lord Henry Wotton sedang berkunjung ke tempat sahabatnya yang juga seorang pelukis, Basil Hallward, ketika sahabatnya itu sedang asyik melukis. Basil melukis pria tampan bernama Dorian Gray. Lukisan itu bagus sekali dan tampak hidup. Lord Henry ngotot ke Basil agar dia diperkenalkan dengan Dorian.

Basil, yang tahu bagaimana Lord Henry sesungguhnya, ragu-ragu ingin mengenalkan Lord Henry ke Dorian. Dia takut Lord Henry akan memberi pengaruh buruk ke Dorian. Basil juga tidak rela ada orang lain yang dekat dengan Dorian selain dirinya. Toh, akhirnya mau tidak mau Basil terpaksa mengenalkan mereka berdua karena mereka bertemu di tempat yang sama.

Meski baru pertama kali bertemu, Dorian sudah terpukau dengan Lord Henry. Menurutnya Lord Henry sangat tidak biasa pemikirannya. Tanpa dia sadari Lord Henry sudah meracuni pikiran Dorian yang masih muda dan polos.

Saat itu Lord Henry memuji ketampanan Dorian. Dia terus berceloteh tentang pentingnya masa muda. Menurutnya yang penting itu hanyalah ketampanan dan masa muda.

“Because you have the most marvellous youth, and youth is the one thing worth having.”

“I don’t feel that, Lord Henry.”

“No, you don’t feel it now. Some day, when you are old and wrinkled and ugly, when thought has seared your forehead with its lines, and passion branded your lips with its hideous fires, you will feel it, you will feel it terribly. Now, wherever you go, you charm the world. Will it always be so? … You have a wonderfully beautiful face, Mr. Gray. Don’t frown. You have. And beauty is a form of genius–is higher, indeed, than genius, as it needs no explanation. … People say sometimes that beauty is only superficial. That may be so, but at least it is not so superficial as thought is. To me, beauty is the wonder of wonders. It is only shallow people who do not judge by appearances. … Live! Live the wonderful life that is in you! Let nothing be lost upon you. Be always searching for new sensations. Be afraid of nothing…. A new Hedonism–that is what our century wants.  … Youth! Youth! There is absolutely nothing in the world but youth!” (hal. 17 – 18)

Setelah mendengar ceramah dari Lord Henry, cara pandang Dorian berubah seketika. Dia menjadi takut tua dan membenci lukisan Basil yang melukis wajah mudanya tanpa cela.

“How sad it is!” murmured Dorian Gray with his eyes still fixed upon his own portrait. “How sad it is! I shall grow old, and horrible, and dreadful. But this picture will remain always young. It will never be older than this particular day of June…. If it were only the other way! If it were I who was to be always young, and the picture that was to grow old! For that–for that–I would give everything! Yes, there is nothing in the whole world I would not give! I would give my soul for that!” (hal. 21)

Harapan Dorian terkabul. Dorian tidak menua. Wajahnya tidak berubah sedikit pun sejak saat itu. Justru lukisan wajahnya yang menua setiap harinya. Tidak hanya itu, lukisan itu juga merupakan catatan hidup Dorian. Setiap kali Dorian berperilaku jahat, perbuatannya itu meninggalkan bekas di lukisan tersebut. Dorian di dalam lukisan adalah seorang pria tua buruk rupa dan menyeramkan.

Pertama-tama mari kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Oscar Wilde karena telah menulis novel keren ini di era Victoria. Bagaimana tidak, dengan tema Hedonisme, homoseksual, dan seksisme, novel ini dianggap tidak bermoral, berbahaya, dan dapat mengotori pikiran orang-orang yang membacanya. Harap dimaklumi pada masa tersebut moral conduct begitu kaku.

Novel ini pertama kali terbit 1890 di majalah dalam bentuk serial. Baru tahun 1891 The Picture of Dorian Gray diterbitkan dalam bentuk buku. Begitu terbit novel ini mendapat banyak kritikan. Itu hal yang wajar tentu saja.

Wilde membela diri dari kritikan-kritikan tersebut. Wilde bilang novel ini menjelaskan peran artis pada masa itu, tujuan dari sebuah seni, dan nilai dari keindahan. Kalau saya boleh menambahkan, keindahan yang berujung pada kehancuran Dorian Gray. 

Cerita The Picture of Dorian Gray sangat menarik. Itu tidak diragukan. Wilde sangat baik dalam mendeskripsikan kehidupan pada masanya, seperti pesta, bersenang-senang, dan menjadi egois. Seolah-olah tidak ada yang lebih penting selain memuaskan diri sendiri. Seize the day! Abaikan yang lain! Tidak cuma bersenang-senang, ceritanya juga “gelap” dan sedikit horor. Juga penuh dengan pergulatan batin Dorian Gray.

Kembali muncul pertanyaan apakah novel ini betul-betul berbahaya untuk dibaca? Kalau dibaca oleh orang-orang seperti Dorian Gray yang masih muda, labil, belum punya pegangan, saya bisa bilang iya ini berbahaya. Jika tidak hati-hati membacanya, doktrin-doktrin Lord Henry bisa tertanam kuat di dalam diri kalian. Lihatlah Dorian Gray muda yang tadinya polos dan lugu lalu berubah menjadi pria sombong, egois, dan sangat jahat berkat wejangan dari Lord Henry. Petuah semena-menanya tentang youthbeauty, wanita (yang kurang ajarnya sangat merendahkan), dan intelligent, sangat-sangat berbahaya.

Tapi, akhir ceritanya pahit? Bukankah itu berarti Wilde juga ingin mengingatkan kita agar tidak seperti Dorian? Iya, kalau kalian bisa mengambil maknanya seperti itu. Kalau ternyata tidak bisa, bagaimana?

Mungkin ada yang berpendapat bisa saja novel ini sebagai sebuah kritikan pada masanya. Saya meragukannya. Karena Wilde bilang tentang tiga karakter utama di novelnya sebagai berikut:

Basil Hallward is what I think I am; Lord Henry is what the world thinks of me; Dorian is what I would like to be—in other ages, perhaps.

Jadi, The Picture of Dorian Gray adalah tentang Oscar Wilde. Ini sih menurut saya. Sok tahu sih memang.

Banyak sekali cara pandang Lord Henry yang bertentangan dengan cara pandang saya, terutama bagaimana dia memandang wanita. Menyebalkan, iya. Benci sama dia? Tidak. Saya tidak punya tokoh yang saya benci di sini. Aneh kan? Bagi saya, tiga tokoh utama di sini — Dorian Gray, Lord Henry, Basil Hallward — merupakan tokoh-tokoh yang menyebalkan, tapi tidak perlu sampai dibenci juga. Malah harus dikasihani.

Akhirul kalam, kalau kalian berniat membaca novel ini, saya hanya ingin mengingatkan hati-hati. Kalau belum kuat mental, mending jangan baca deh. Aura gelapnya terlalu kuat. Hati-hati terbawa suasana.

Iklan

7 thoughts on “#45 – The Picture of Dorian Gray

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s