#46 – Dari Buku ke Buku

dari-buku-ke-bukuJudul: Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu
Penulis: P. Swantoro
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan III, April 2016)
Halaman: xxix + 472
ISBN-13: 978-602-620-823-1
Harga: Rp 94.050,- (setelah diskon 10%)
Rating: 5/5

Mari kita jalan-jalan ke masa lampau, tepatnya saat Nusantara belum menjadi Indonesia. Pada abad XIX kerajaan-kerajaan masih berdiri dan mulai memasuki kehancurannya. Saat itu banyak pemberontakan ditambah VOC semakin pintar mengadu domba. Klop lah sudah.

Kemudian pendahulu kita mulai menyadari pentingnya bangsa untuk bersatu. Persatuan ini diperlukan untuk mengusir Belanda dari negara kita. Mulailah berbagai macam pergerakan untuk menyatukan rakyat. Perlawanan dilakukan dengan cara diplomasi dan militer. Partai-partai dibentuk, rakyat bergerilya. Akhirnya, Indonesia merdeka.

Itulah sebagian isi Dari Buku ke Buku. Apakah isinya hanya itu? Tidak, masih banyak. Diantaranya tentang para Indonesianis dari Barat, sastra Jawa Kuno, Candi Borobudur, Perang Aceh, hubungan Soekarno – Hatta, keris Jawa, bahkan Tan Malaka juga diceritakan.

Bagi pecinta Sejarah tentu sangat menikmati buku ini. Saya menikmatinya. Membaca Dari Buku ke Buku seperti membaca buku cerita yang asyik. Padahal isinya merupakan cerita singkat buku-buku kepunyaan P. Swantoro, si penulis.

Bapak Swantoro adalah seorang kolektor buku. Dia tidak hanya sekadar mengoleksi — hanya mengoleksi untuk kemudian tidak dibaca — buku-buku langka dan mahal, melainkan juga seorang penikmat buku. Saya berani bilang Bapak Swantoro sangat suka membaca. Dia paham isi buku-buku koleksinya. Dari Buku ke Buku ini buktinya.

Buku-bukunya bukan sembarang buku. Ada buku berjudul Javaansch-Nederlandsch Handwoordenboek terbitan tahun 1907. Ada pula Hindoe-Javaansche Geschiedenis terbitan tahun 1926. Buku Dari Pendjara ke Pendjara dari Tan Malaka, terbitan tahun 1948, juga ada. Kurang lebih di daftar pustaka ada dua ratus buku yang menjadi referensi. Jadi, bisa saya simpulkan semena-mena membaca buku ini seperti membaca dua ratus buku.

Ketika membacanya, buku ini memang terasa “liar”. Seperti tidak jelas ingin menceritakan apa. Susunannya juga tidak sistematis. Hal ini memang diakui Bapak Swantoro sendiri dalam kata pengantarnya:

Si Kakek pun harus mengendalikan alur memorinya agar jangan sampai menjadi terlalu liar. Ia tidak boleh menuruti ajakannya untuk berkelana sejauh dan seluas mungkin jangkauannya. Ingatan yang satu memang biasanya memanggil-manggil ingatan yang lain. … Buku ini memang berisi bermacam-macam cerita yang nampaknya tidak ada hubungannya satu sama lain, dan yang masing-masing merupakan penampilan dari perkelanaan memori si Kakek. … “Perkelanaan memori” inilah yang membuatnya melakukan “perkelanaan pustaka” di ruang kerjanya di kantor dan di rumahnya. (hal. xxvi – xxviii)

Sekali lagi, saya sangat menikmati membaca Dari Buku ke Buku. Sepertinya sudah lama sekali saya tidak baca buku Sejarah sampai-sampai membuat saya lupa bahwa saya pernah punya minat dengan Sejarah. Sejarah adalah cinta pertama saya di SMP. Dan lewat buku ini mengingatkan kembali akan cinta pertama saya itu. Terima kasih, Bapak Swantoro.

Iklan

3 thoughts on “#46 – Dari Buku ke Buku

  1. Menarik juga ya koleksi buku dijadikan cerita tersendiri, idenya menarik. Dirimu sepertinya juga bisa bikin cerita kyk gitu berdasarkan memori ttg koleksi bukumu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s