[Interview] Ayu: Just Read, Guys.

Hai, teman-teman semua! Akhirnya saya mewawancarai orang lagi. Terakhir yang saya interview kan Lulu ya tanggal 31 Juli 2016 yang lalu. Buset! Lama banget ya? Padahal saya punya niat sebulan sekali di blog ini tayang hasil wawancara saya dengan orang-orang yang punya hobi baca.

Untuk kali ini saya mewawancarai adik tingkat saya di kampus dulu. Namanya Ayu Puspita Sari. Panggilannya Ayu. Nama penanya Yuu Sasih. Beliau yang menulis Kahve dan Trilogi Keris Tiga Naga. Pengakuan: saya sudah baca Kahve, tapi belum baca bukunya yang trilogi. Maaf ya, Dek Ayu.

Intermezzo sedikit. Sejak kuliah Ayu tertarik dengan topik gender dan seksualitas. Tak heran buku-bukunya pasti ada isu tersebut. Katanya sih karena masih banyak banget stereotip yang salah di masyarakat mengenai gender dan seksualitas dan Ayu merasa ingin mendalami lebih jauh lagi topik tersebut.

Baiklah. Kita langsung saja ya. Berikut wawancara saya dengan Ayu. Selamat menikmati!

ayu

foto dokumentasi pribadi

Tentang pengalaman dan hobi membaca
1. Sejak kapan Ayu tertarik dengan buku dan punya hobi membaca? Siapa yang mempengaruhi Ayu untuk suka baca?
Sampai sekarang sebenarnya aku nggak pernah mengamini kalau aku hobi baca, sih. hahaha. Karena lebih sering aku masih perlu memaksa diri sendiri buat baca buku. Kalau hobi adalah sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan enjoyment, berarti membaca bukan hobiku. Aku masih di level baca karena butuh dan baca karena aku bodoh banget orangnya.

Aku baca buku dari umur 4 tahun, sih, tapi dulu kebanyakan komik. Dulu aku nggak baca buku terlalu banyak karena akses terbatas, perpus sekolah isinya kalau nggak teenlit ya ensiklopedia atau biografi. Aku nggak suka banget teenlit pas jaman sekolah (lol), jadi mewabahnya teenlit circa 2000 bikin aku menjauh dari dunia buku. Baca buku yang serius itu barusan aja, sekitar tahun 2010. Waktu itu sohibku dari kecil mulai memperkenalkan aku sama ebook dan luasnya dunia buku–yang nggak mentok di sekitar komik, teenlit atau Harry Potter. Baru habis itu kalap beli dan baca buku.

2. Ceritain dong pengalaman pertama Ayu beli buku…
Beli buku yang serius, ya. Waktu itu yang pertama banget dibeli adalah History of Java-nya Raffles karena lagi butuh untuk referensi novel. Nemu buku itu rasanya wow banget, karena termasuk buku yang sering disebut di buku pelajaran sejarah gitu, kan (lol). Setelah beli buku itu aku jadi terobsesi mengumpulkan classics.

3. Rata-rata dalam sebulan bisa baca berapa buku?
Aku bacanya lambat, jadi paling 1-2 buku sebulan.

Tentang buku
4. Sekarang sedang baca buku apa, Yu? Kamu paling suka baca buku genre apa?
Sekarang masih berusaha menyelesaikan seri Neapolitan Novels karangannya Elena Ferrante. Untuk genre, aku orangnya omnivor reader, apa saja dibaca dan sebisa mungkin membebaskan diri dari bias, tapi biasanya memang aku (secara tidak sadar) punya genre tertentu yang dieksplor dalam satu tahun. Misalnya tahun 2011 itu aku baca banyak banget buku sains. Tahun kemarin aku taat sama sastra non-english. Tahun ini belum tahu mau eksplor apa.

5. Siapa saja penulis favorit Ayu? Menurut kamu apa kekuatan/kelebihan dari mereka dalam menuliskan karyanya?
Banyak, sebenarnya, tapi yang paling nyantol di kepala Haruki Murakami sama Jhumpa Lahiri. Aku suka karena mereka punya cara yang tepat dalam menggambarkan sense of detachment manusia dengan lingkungan sekitarnya. Paling ngena secara personal, sih.

6. Apa buku favorit Ayu sepanjang masa?
Sepanjang masa, ya…. apa, ya… mungkin masih jawaban standar a la booksnob: Tetralogi Buru.

7. Ayu pernah punya pengalaman menyesal beli buku karena setelah dibaca buku itu ternyata gak asik banget? Cerita dong!
So far, kalau beli sendiri, belum pernah. Karena biasanya aku baca preview/review/ebooknya dulu, jadi kalau sudah dibeli sudah yakin pasti cocok sama selera dan/atau akan dikoleksi.

8. Dari semua buku yang pernah Ayu baca, paling pusing baca buku yang mana? Kalau sudah begini, Ayu terusin baca atau menyerah begitu saja?
Sejauh ini belum ada yang mengalahkan pusingnya baca The Communist Manifesto. Apalagi dulu kemampuan bahasa inggris masih cetek bin remeh gitu, kan. Aku kalau ketemu buku susah biasanya cari alternatif cari buku fisiknya, kalau masih belum paham cari buku terjemahannya, dan kalau semuanya masih belum paham juga, simpan sampai kapabilitas otak sudah mumpuni. (lol)

9. Kaitannya dengan pertanyaan nomor 8, ada tips untuk membaca buku-buku sulit begini atau tips membaca secara general biar kita lebih gampang mencerna dan mengingat isi buku?
Kalau untuk lebih gampang mencerna dan mengingat…. kayaknya nggak ada. lol. Karena aku juga jujur masih sering kesulitan mencerna dan mengingat isi buku. Paling kalau nggak paham suatu paragraf, aku bacanya pelan-pelan dan satu paragraf bisa berkali-kali. Untuk buku nonfiksi tebal yang isinya absurd macamnya buku-buku filsafat, kadang aku bikin progress notes yang isinya summary dari bagian yang dibaca, biar pas dilanjut lagi setelah ditinggal (mengistirahatkan otak) bisa langsung nyambung dan nggak perlu hah-heh-hoh-ini-kenapa-bisa-sampe-di-sini-apa-yang-sebelumnya-kubaca-kuingin-balik-dari-halaman-depan-lagi.

10. Dari semua buku yang sudah Ayu baca, apakah ada buku yang bisa dikatakan telah mengubah hidup Ayu? In what way?
Ini jawabannya the one and only: Anak Semua Bangsa-nya Pram Toer. Seperti yang sudah kuceritakan di atas, aku kan sempat menjauh dari dunia buku, yah. Tapi terutama di masa itu aku mencibir banget karya anak bangsa. Snob gitu, deh, semacam, “alah apa sih teenlit, kalau mau yang bagus tuh buku terjemahan, buku buatan orang Indonesia mah apaan gitu-gitu doang isinya cuih!” Anak Semua Bangsa-nya Pram itu yang nonjok mukaku secara langsung — kiasan dan harfiah, karena ketiban buku itu sakit banget huhu — dan mengubah sikapku yang snob itu. *ya sekarang masih snob, sih, tapi sudah ingat untuk istighfar kalau mulai suudzon*

11. Apa Ayu setuju dengan statement “Don’t judge book by its cover“? Seberapa penting cover buku menurut Ayu?
Setuju banget. Karena banyak buku bagus yang sayangnya dikemas dengan kover yang kurang sedap dilihat. Tapi kan ya first impression itu penting, jadi cover itu masih jadi elemen penting menurutku.

12. Mana yang lebih Ayu pilih: buku cetak atau e-book?
Dua-duanya punya fungsi yang beda di aku. Untuk buku-buku populer biasanya aku lebih enjoy baca ebook-nya, begitu dibaca cetak rasanya kayak “meh” gitu, nggak seseru pas baca di ebook. Nah, untuk buku-buku yang “sulit”, enaknya dibaca via cetak, jadi bisa dibaca bolak-balik paragraf/halaman sebelumnya dengan lebih mudah. Tapi pertama aku selalu coba ebook-nya dulu, kalau sulit, baru pindah cetak. Ebook pilihan pertama. πŸ™‚

Tentang belanja buku
13. Seberapa sering Ayu belanja buku? Ayu ada budget khusus untuk belanja buku?
Tiap bulan setidaknya beli satu buku selama uangnya ada. Enggak pernah ada budget khusus.

14. Apa saja yang menjadi pertimbangan Ayu sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah buku?
Untuk buku-buku yang dibeli, pertimbangannya biasanya ada 3 kategori: 1) buku filsafat atau buku kajian yang enggak kuat kalau dibaca di ebook, 2) buku-buku yang sulit ditemukan versi digitalnya/susah dicari pinjaman, dan 3) buku yang masuk collectible list, alias aku suka banget buku/pengarang itu jadi merasa perlu punya cetaknya.

15. Dalam sekali belanja buku Ayu pernah habis paling banyak berapa rupiah?
Pernah tembus rekor satu juta lima ratus rupiah cuma untuk belanja buku dalam sekali masuk pameran.

16. Paling sering belanja buku online atau langsung ke toko buku? Ada toko buku favorit atau toko buku online favorit? Share pengalaman pas belanja di sana dong.
Lebih sering belanja online karena ada diskon. hahaha. Toko online favoritku Stanbuku (ig:Stanbukucom), karena dia banyak jual buku-buku terbitan indie yang cucok. Kalau toko buku aku paling suka ke Post Bookstore di Pasar Santa karena kurasi bukunya unik dan keren.

Opini mengenai buku
17. Menurut Ayu buku itu apa sih?
Salah satu tempat mencari jawaban.

18. Bagaimana pandangan Ayu terhadap orang-orang yang tidak suka membaca?
Harus diakui kalau membaca itu memang pekerjaan yang sulit dan membutuhkan komitmen yang luar biasa. Aku rasa semua orang pasti bisa dan mau membaca, hanya saja belum menemukan alasan yang tepat untuk giat membaca — bisa jadi karena mereka membatasi diri sendiri pada pengetahuan, bisa jadi karena mereka bias dengan stereotip buku dan pembaca buku, bisa jadi hanya karena tidak sempat saja.

19. Menurut Ayu bagaimana cara meningkatkan minat baca di Indonesia?
Perbanyak dan permudah akses mendapatkan buku dalam berbagai bidang. Yang jadi masalah sekarang ini menurutku, walau akses sudah lumayan bagus (akses literasi kita di atas Jerman, lho!), tapi konten perpustakaan dan toko buku masih dibatasi dengan dasar ketakutan-ketakutan zaman p(orba). Wajar kalau bacaan masyarakat jatuhnya ke ranah teori konspirasi lagi atau hoax lagi, wong toko bukunya penuh sama buku semacam “Hitler Mati di Indonesia” tanpa ada variasi berarti.

20. Bagaimana pendapat Ayu mengenai buku-buku bajakan dan ebook ilegal yang bertebaran di internet?
Wah, panjang sih itu kalau tanya pendapatku. Bisa bikin esai sosial tersendiri itu. πŸ˜„ Intinya aku enggak terlalu keberatan sama buku bajakan dan ebook ilegal. Keberadaan mereka bisa jadi cerminan bagi pemerintah dan pengusaha untuk bisa memberikan akses yang kurang-lebih setara dengan yang diberikan oleh pembajak. Makanya aku puaaaas sekali waktu Ahok maju ke penerbit dan berhasil nego cukup banyak penerbit untuk memasukkan buku mereka ke iJakarta yang bisa diakses gratis oleh siapa saja. Terbukti setelah ada iJakarta komen-komen orang “minta softcopy novel” berkurang cukup banyak karena bisa di-counter dengan, “daftar iJak aja!”

21. Ada pesan untuk pembaca blogku mengenai buku dan hobi membaca?
Just read, guys. Baca hoax pun nggak apa-apa, asal jangan berhenti di sana. Curious and explorative mind is the key. Selama membaca, yang paling utama adalah jangan membatasi diri terhadap satu sisi/genre/pandangan. Karena orang yang rajin membaca pun masih bisa terjebak pola pikir yang picik jika tidak membiarkan dirinya terbuka pada segala variasi informasi.

dig-into-reading

gambar dari sini

Demikian wawancara saya dengan Ayu. Mohon maaf jika wawancara terkesan asal-asalan, tapi semoga kalian suka dan bisa belajar banyak dari Ayu.

Seperti yang Ayu bilang, just read. Jadi, kalian sudah baca apa hari ini?

Iklan

7 thoughts on “[Interview] Ayu: Just Read, Guys.

  1. Aku dulunya sempat sangat pro paper book, tapi mengingat terbatasnya ruang dan uang, aku mulai beralih ke e-book. Setuju sih kalau minat baca masyarakat Indonesia masih perlu ditingkatkan πŸ™‚ Tapi aku belum pernah baca Pram sih.. jadi penasaran.

    Kalau aku sekarang lagi baca To Kill A Mockingbird, Kak πŸ™‚

  2. Baca judulnya tadi saya pikir nganu..-ahsudahlah, itu temenmu keren bisa bikin buku banyak & berlatar sejarah tampaknya

    Dan hari ini saya baca Flora-nya van Steenis , saya harus nulis ttg buku keren itu sepertinya suatu saat, salah satu buku favorit saya ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s