#48 – Wisanggeni: Sang Buronan

wisanggeniJudul: Wisanggeni: Sang Buronan
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Laksana (cetakan I, 2016)
Halaman: 108
ISBN-13: 978-602-391-199-8
Harga: Gratis. Hadiah ulang tahun dari Mas Joe.
Rating: 5/5

Seorang laki-laki berpakaian compang-camping, tampak seperti pengemis, dan berbau badan kurang sedap tampak memasuki sebuah kedai. Dia memesan daging bakar dan sebotol arak. Keluar dari kedai dia dibuntuti seorang pria berpakaian sutra keemasan. Pria yang seperti pengemis ini adalah Wisanggeni, sementara pria berpakaian indah tersebut adalah Utusan Dewa. Utusan Dewa mendapat tugas untuk membunuh Wisanggeni.

Tugas membunuh Wisanggeni bukanlah tugas yang mudah. Sebelumnya sudah sembilan Utusan Dewa menjadi abu di tangan Wisanggeni. Ilmu kanuragan Wisanggeni sangat mumpuni, setara dengan kehebatan para dewa, bahkan bisa dikatakan kekuatannya lebih hebat dibandingkan para dewa. Wisanggeni ini sakti mandraguna. Hal itu merupakan hal yang wajar karena Wisanggeni dididik dan ditempa oleh Sang Hyang Antaboga dan Batara Baruna.

Para dewa begitu ingin memusnahkan Wisanggeni karena dia adalah anak yang dilahirkan di luar rencana. Seharusnya Wisanggeni tidak boleh ada karena ayahnya seorang manusia biasa, yaitu Arjuna. Berkat jasanya menyelamatkan kahyangan dari Niwatakawaca, Arjuna dikawinkan dengan Dewi Darsanala. Seharusnya dalam perkawinan tersebut tidak boleh menghasilkan anak. Arjuna tersinggung dengan peraturan para dewa yang menurutnya merendahkan derajat kemanusiaan. Dia bahkan berani membawa lari Dewi Darsanala dari kahyangan ke bumi dan membiarkannya mengandung.

Setelah mendengar kisah asal-usulnya Wisanggeni murka.

“Jadi para dewa menolak kehadiranku di dunia ini Sri Kresna yang bijaksana?” tanyanya tiba-tiba dengan hati yang geram.

“Tampaknya begitu, Wisanggeni, mereka mengingkari kenyataan dirimu, mereka merasa rendah mendapatkan keturunan dari seorang manusia biasa seperti Arjuna.” (hal. 66)

Wisanggeni menjejakkan kakinya lalu melesat terbang ke angkasa raya. Tujuannya satu: ingin memporakporandakan Suralaya.

Selalu ada nilai-nilai yang terkandung ketika kita membaca cerita pewayangan, termasuk Wisanggeni: Sang Buronan. Pada awalnya Wisanggeni digambarkan sebagai pemuda yang meletup-letup penuh amarah. Dia tidak terima dirinya ditolak para dewa. Apa salahnya sehingga dia diburu kahyangan? Toh, dia tidak pernah meminta untuk dilahirkan.

“…tapi apa tujuannya ia menolakku hidup di dunia ini? Aku bukan Batara Kala yang menuntut gelar kadewan meskipun aku berhak. Aku hanya ingin tahu asal-usulku. Apa salahnya menengok ibuku? Kemapanan macam apakah yang dijaganya? Aku tidak mengerti semua itu, Kek.” (hal. 86)

Setelah dia mengacaukan kahyangan dan hampir saja membunuh Batara Guru, Wisanggeni membatalkan niatnya. Dia pergi meninggalkan Batara Guru dan Semar, lalu menemui Sri Kresna. Di hulu sungai mereka berbincang-bincang. Sri Kresna sambil memancing ketika dia berujar:

“Perhatikanlah, Wisanggeni, bahwa kekuatan batin bisa mengendalikan yang lahir.” (hal. 92)

Wisanggeni pun merenungi hidupnya. Dia memang dilahirkan, tapi kemudian untuk dilenyapkan. Dia menyadari kelahirannya di luar rencana. Kelahirannya merupakan pelanggaran akan hukum dewa-dewa.

Tapi, apakah kehidupan itu, kalau semua ini hanya sebuah rencana? Apakah artinya hidup, kalau segenap langkah telah digoreskan takdir? (hal. 93)

Di tengah lamunannya itu tiba-tiba dia bertanya:

“Sri Kresna, benarkah hidup itu seperti mimpi?”

“Ya, Wisanggeni, hidup memang seperti mimpi, dan sebenarnya roh kita tak akan pernah mati.” (hal. 93)

Sekarang Wisanggeni bisa memahami semuanya. Dia tahu apa yang harus dilakukannya. Dia akan ikhlas menerima takdirnya.

Cerita Wisanggeni ini pada akhirnya membuat kita kembali pada perdebatan kehendak bebas dan determinisme. Jadi, manusia itu bebas, atau ditentukan kodrat? Dalam cerita Wisanggeni ini jawabannya sudah jelas sekali.

Wisanggeni ditulis SGA ketika dia masih bekerja sebagai wartawan di majalah Zaman pimpinan Putu Wijaya di tahun 1984 sebagai cerita bersambung. Diterbitkan pertama kali oleh Yayasan Bentang Budaya di tahun 2000. Selang cukup lama sampai akhirnya Laksana menerbitkan kembali buku tipis ini di tahun 2016.

Bagi kalian pecinta cerita wayang, maka kalian wajib membaca buku ini. Bagi yang bukan pecinta wayang pun tidak ada salahnya membacanya. Maksud saya, ini Seno Gumira Ajidarma, Saudara-saudara! Yang menulis buku-buku keren, seperti Nagabumi I dan Nagabumi II, dan masih banyak yang lain. Sudah pasti jaminan mutu. Kalau sudah membaca buku ini, insya Allah kalian akan tertarik dengan dunia wayang. Dan, akhir ceritanya ini lho yang sungguh ha, ha, ha… Keren sekali!

Akhirul kalam, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mas Joe yang sudah jauh-jauh dari Inggris memesankan buku ini sebagai hadiah ulang tahun untuk saya. Bukunya bagus sekali, Mas. Sangat bagus. Sekali lagi terima kasih.

 

Iklan

3 thoughts on “#48 – Wisanggeni: Sang Buronan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s