February 2017 Wrap-up

Satu bulan kemarin saya baca sembilan buku. Langsung saja ya. Berikut buku-buku yang saya baca di bulan Februari kemarin:

1. Gandhi the Man – Eknath Easwaran

I feel totally guilty give 2 stars for this book. Bukan salah Gandhi kok ini. Sekali lagi bukan. Siapa yang tidak terpesona dengan karisma beliau? Orang hebat beliau itu dan India patut bersyukur memiliki Gandhi.

Tapi ini masalahnya ada di… Entahlah. Sejak awal membaca saya merasa buku ini tidak mampu menarik saya lebih dalam. Bukunya juga terlalu ringkas. Kurang pas kalau mau dibilang biografi karena isinya kebanyakan pandangan si penulis akan Gandhi. Juga pokok-pokok ajaran Satyagraha sih.

Rating: 2/5

2. The Time Keeper – Mitch Albom

Ceritanya tentang seorang pria yang pertama kali berhasil mengukur waktu dan menciptakan jam. Dia dihukum untuk menjalani keabadian sampai akhirnya nanti dia dibebaskan dari hukumannya tersebut jika berhasil menemukan dua orang yang harus diselamatkannya.

Rating: 2/5

3. Bajak Laut & Purnama Terakhir – Adhitya Mulya

Novel terbaru dari Adhitya Mulya ini berkisah tentang Jaka Kelana, seorang bajak laut yang cupu berat. Petualangannya untuk menjadi bajak laut yang disegani sangat menarik untuk diikuti. Berlatar belakang sejarah mencakup Kerajaan Singosari, Majapahit, dan Mataram. Proporsi antara humor dan sejarah seimbang. Ulasan lebih lengkap bisa teman-teman baca di sini.

Rating: 5/5

4. Balada Becak – Y. B. Mangunwijaya

Ebook tipis yang hanya 64 halaman ini saya beli di Play Store dengan harga miring. Ceritanya tentang kisah cinta Yus dan Riri. Yus, yang seorang tukang becak, jatuh cinta dengan Riri, anak dari pelanggannya. Ceritanya sederhana dan menggambarkan mereka yang berada di pinggiran.

Rating: 3/5

5. Looking for Alaska – John Green

Saya membaca Looking for Alaska format ebook yang saya pinjam di iJakarta. Saya iseng ingin membaca novel ini karena saya penasaran dengan penulisnya dan saya ingin membaca sesuatu hal yang berbeda. Ternyata begitu saya baca, duh, saya sungguh butuh tenaga ekstra untuk menyelesaikannya. Sudah lama sekali saya tidak baca buku jenis ini. By the way, ini jenis apa ya? Teenlit? Young adult? Pokoknya itulah. Intinya setelah sekian lama tidak membaca buku bergenre ini saya tersiksa sekali rasanya. Sungguh. Saya nggak bohong.

Rating: 2/5

6. The Emperor of Maladies – Siddharta Mukherjee

Buku ini semacam “biografi” tentang kanker. Asal mula dulu orang-orang belum tahu kanker itu apa, kemudian berbagai penelitian yang terus-menerus dilakukan untuk mengetahui apakah kanker itu dan bagaimana pengobatannya. Para peneliti tersebut tidak kenal lelah untuk mencari jawaban bahkan sampai mengorbankan keselamatannya sendiri. Kanker memang penyakit yang sangat kompleks. Dan kita masih dari jauh untuk menemukan obat dan terapi yang betul-betul bisa mengalahkannya.

Rating: 5/5

7. Norwegian Wood – Haruki Murakami

Kisah bermula dari Watanabe yang berusia 37 tahun sedang berada di pesawat. Dia sedang mengingat Naoko kembali. Kenangannya yang sudah berusia dua puluh tahun. Ada janji yang terucap oleh Watanabe bahwa dia tidak akan melupakan Naoko sebagaimana Naoko memintanya demikian.

Meski ceritanya sederhana, deskripsi ceritanya sangat kuat dan saya rasa inilah kekuatan dari novel ini. Murakami bagus sekali dalam mendeskripsikan perasaan masing-masing tokohnya. Sangat detil, tapi tidak membosankan. Terbantu dengan terjemahan yang bagus membuat saya sangat menikmati novel ini.

Rating: 4/5

8. Wisanggeni; Sang Buronan – Seno Gumira Ajidarma

Wisanggeni memberontak pada kahyangan. Kenapa keberadaannya harus dimusnahkan oleh para dewa? Apa salahnya? Kenapa para dewa begitu membenci dirinya? Sebuah novel, yang meski tipis, tapi sarat akan renungan. Resensi sudah saya tulis di sini.

Rating: 5/5

9. Jejak Dedari – Erwin Arnada

Rare terlahir bisu dan tuli. Sejak kecil hidupnya penuh dengan cobaan. Ia pun bertekad ingin menjadi penari Sang Hyang Dedari untuk mendapatkan kehormatan dari penduduk desanya. Pada awalnya ia diragukan, tapi ia tidak menyerah. Ia terus mengejar mimpinya. Kisahnya menarik dengan latar belakang adat dan budaya Bali. Cara Erwin Arnada menuturkan ceritanya ini pun cukup menarik. Cukup “nyastra“. Halah. Resensi lebih lengkap bisa teman-teman baca di sini.

Rating: 4/5

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s