#49 – Jejak Dedari

jejak-dedariJudul: Jejak Dedari
Penulis: Erwin Arnada
Editor: Alit Tisna Palupi
Penerbit: GagasMedia (Cetakan I, 2016)
Halaman: xvi + 324
ISBN-13: 978-979-780-860-0
Harga: Gratis. Hadiah dari GagasMedia.
Rating: 4/5

Sebuah desa di Bali, Desa Beskala, di akhir tahun 1800 didera musibah. Wabah menyebar dan kekeringan menyerang. Akibatnya penduduk desa terkena penyakit. Satu per satu penduduk desa meninggal. Ketakutan menyebar ke seluruh penjuru desa. Mereka yang masih sehat meninggalkan yang sakit. Mereka yang sakit mengutuk saudara-saudaranya yang pergi menelantarkan mereka. Mereka memohon kepada Sang Hyang Widhi untuk membisukan mulut dan menulikan telinga saudara-saudara mereka yang tidak menghiraukan mereka.

Sumpah mereka didengar oleh dewa. Dewa-dewa memutuskan untuk mengabulkan permohonan mereka. Kutukan pun menimpa penduduk yang selamat. Ketika wabah sudah hilang dan mereka kembali ke desa, kutukan itu memburu mereka hingga ke anak cucu. Itulah yang menjadi penyebab sebagian besar penduduk Desa Beskala menjadi kolok (bisu dan tuli).

Salah satu penduduk Desa Beskala bernama Rare, seorang gadis remaja usia 15 tahun, dan ia juga terlahir kolok. Seolah tidak cukup dengan penderitaannya terlahir kolok, ia lahir pada Wuku Wayang. Menurut tradisi keagamaan Hindu Bali, anak yang lahir pada Wuku Wayang harus diruwat dengan upacara Sapuh Leger. Jika tidak, maka sepanjang hidupnya akan dipenuhi dengan penderitaan.

Masa lalu dan latar belakang kehidupan keluarga memang sering mengungkung nasib seseorang.

Masa lalu yang kelam, perbuatan-perbuatan salah pada masa silam sepertinya menuntut bayar di hari kemudian. (hal. 31)

Karena Rare belum diruwat, kesialan demi kesialan menimpa dirinya. Ayahnya selalu mengejarnya dan ingin menodainya. Karena perbuatannya itu dia diusir dari kampung. Kemudian, Rare diberhentikan dari sekolah karena dituduh mencelakakan teman-teman sekelasnya. Terakhir, penduduk desa menuding Rare sebagai penyebab kekeringan yang menimpa desa dan hewan-hewan yang mati mendadak.

Penduduk desa berembuk. Untuk memohon keselamatan dari bencana atau wabah penyakit, mereka harus mengadakan upacara. Tarian suci, Sanghyang Dedari, harus diadakan. Rare, yang berusaha mendapatkan hormat dan penghargaan dari penduduk desa, ingin menjadi penari Sanghyang Dedari. Namun, sebelum Rare bisa menjadi penari Sanghyang Dedari, ia terlebih dahulu harus diruwat melalui upacara Sapuh Leger.

Ibunya, Menak, bukannya tidak ingin meruwat anaknya, tapi biaya yang cukup besar untuk menyelenggarakan upacara Sapuh Leger menjadi kendala buatnya. Namun, mau tak mau Menak harus segera meruwat Rare karena dia tidak ingin anaknya terus-menerus dituduh sebagai penyebab segala kesialan yang terjadi di desa. Menak bersama kakaknya, Ronji, juga ingin melindungi Rare dari semua kesialan yang mungkin terjadi karena ia terlahir sebagai anak Wuku Wayang. Selain itu, mereka juga mendukung penuh niat Rare untuk menjadi penari Sanghyang Dedari.

Selama ini kita melihat Bali sebagai surga dunia. Sebagai destinasi pariwisata kita disuguhkan dengan pemandangan yang luar biasa indah, seperti laut, sawah hijau yang menghampar luas, dan perbukitan. Kebudayaan tradisionalnya juga sudah mendunia. Kehidupan malamnya pun menggoda.

Novel Jejak Dedari ditulis berdasarkan dari skenario film dengan judul yang sama dan disutradarai oleh Erwin Arnada. Jadi, film dulu yang dibuat, baru novelnya.

Melalui Jejak Dedari Erwin ingin memberi perspektif yang berbeda. Bahwa ada sebuah desa di sebelah utara Bali, yang lebih terkenal dengan nama Desa Kolok, sebagian besar penduduknya terlahir kolok. Di sana penduduknya — baik yang normal dan kolok — berkomunikasi dengan menggunakan bahasa isyarat Desa Kolok yang sederhana. Ini adalah sisi kelam dari Bali yang tidak banyak kita ketahui.

Sebagai orang yang punya minat dengan Bali tentu saja saya penasaran dengan novel ini. Begitu dihubungi pihak GagasMedia untuk memilih novel tanpa ragu saya pilih Jejak Dedari. Padahal sebelumnya saya tidak ada gambaran sama sekali ceritanya bakal bagaimana. Hanya berdasarkan judulnya saja saya tahu saya harus memilih novel ini. Alhamdulillah pilihan saya tidak salah.

Erwin mencoba menulis tentang Desa Kolok dari sudut historis, psikografis, maupun kultural. Risetnya tidak main-main. Bolak-balik mengunjungi Desa Kolok sejak tahun 2009. Dia mewawancarai penduduk dan sesepuh desa. Dia juga membaca berbagai macam buku tentang adat dan budaya Bali. Sehingga ketika membaca novel ini terasa kuat sekali risetnya. Bahkan aura magisnya juga terasa.

Tiga tokoh utama di sini adalah perempuan dan ketiganya luar biasa. Mereka adalah Rare, Menak, dan Ronji. Rare meski dia dikeluarkan dari sekolah, tapi dia tetap semangat belajar. Menak berjuang keras dan rela berkorban demi anaknya. Ronji mengorbankan egonya dengan memilih menjadi balian dan tidak menikah.

Adapun yang ingin saya kritisi adalah ketika Menak menemui Pak Gendo dan memohon untuk membiayai upacara Sapuh Leger. Sebagai imbalannya Menak mengizinkan Pak Gendo meminang Rare yang masih suci dan baru berusia 15 tahun. Sangat disayangkan hanya demi gengsi dan harga diri Menak menolak bantuan dari Jero Mangku yang lebih ikhlas. Dengan lari meminta bantuan kepada Pak Gendo disadarinya sendiri bahwa Pak Gendo akan merendahkan harkat dan martabat Menak sebagai wanita.

Perkembangan karakter Rare juga menarik untuk kita lihat. Sebelumnya Rare adalah remaja penuh dengan kegundahan. Ia berkembang menjadi Rare yang pandai menafsir kemauan alam. Ia menjadi anak yang tegar.

Kini, Rare adalah anak yang berani mengatakan, “Mereka yang menghinaku tak pernah bisa memupus kecemasan mereka sendiri.” (hal. 266)

Mari kita belajar pada Rare. Meski terlahir kolok, tapi hal itu tidak membatasinya untuk mengejar mimpinya menjadi penari Sanghyang Dedari.

Jadi, mari kita menjadi manusia tegar dan tidak mudah menyerah.

Iklan

One thought on “#49 – Jejak Dedari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s