[Interview] Mbak Anggi: Membaca Bisa Mengubah Peradaban

Hai, teman-teman! Untuk kesempatan kali ini saya mewawancarai Mbak Anggi. Pemilik nama lengkap Yenita Anggraini ini senior saya di SD, SMP, dan SMA, yang anehnya kami baru kenal dekat justru setelah kami sama-sama bekerja di lingkungan yang sama. Sewaktu sekolah dulu mah cuma saling lihat saja. Tahu wajah, tapi tidak tahu nama. Ha, ha, ha.

Seperti orang-orang yang sudah saya wawancarai sebelumnya, Mbak Anggi juga hobi membaca. Mbak Anggi juga penulis lho. Cerpennya ada di beberapa antologi. Kerennya lagi beliau juga punya penerbitan sendiri bareng temannya.

Yuk, kita langsung saja ngobrol-ngobrolnya dengan Mbak Anggi. Selamat menikmati!

foto dokumentasi pribadi

Tentang pengalaman dan hobi membaca
1. Sejak kapan Mbak Anggi tertarik dengan buku dan punya hobi membaca? Siapa yang mempengaruhi Mbak Anggi untuk suka baca?
Halo, Kim. Aku tertarik dengan buku dan mulai sering membaca mungkin sejak aku TK. Waktu itu aku sering tinggal di rumah nenek, nenek aku punya anak (aku manggilnya Bik Na, kamu pasti sudah pernah dengar beberapa cerita tentang dia di blog aku) yang punya koleksi buku banyak banget di kamarnya. Bisa dibilang, selain Mama (yang seorang guru SD), Bik Na itu yang tanpa dia sengaja sudah mempengaruhi aku untuk suka membaca. That’s why I love her so much… Pesan moralnya adalah : agar anak mempunyai minat baca yang besar, pajang buku di mana-mana. Hehehe..

2. Ceritain dong pengalaman pertama Mbak Anggi beli buku!
Pengalaman pertama beli buku ke toko buku itu waktu SD pas ulang tahun keberapa, aku lupa. Yang pasti waktu itu bahagia banget karena untuk pertama kalinya aku bisa pilih buku yang aku suka. Beli bukunya di Gunung Agung (sekarang udah jadi Central Plaza kalau gak salah) dan buku yang dibeli adalah Doraemon dan Kobo Chan.

3. Rata-rata dalam sebulan bisa baca berapa buku?
Hm, aku pembaca yang lambat. Sebulan maksimal 4 buku. Tapi seringnya sih hanya 2-3 buku. Tapi kalau buku komik sih, bisa banyak banget hehehe…

Tentang buku
4. Sekarang Mbak Anggi sedang baca buku apa? Dan Mbak Anggi paling suka baca buku genre apa?
Sekarang sedang baca bukunya Richard Templar yang Rules of Parenting karena lagi butuh bahan untuk tulisan, sambil disambi baca Anak Semua Bangsa-nya Pram. Genre yang selalu berhasil membuat aku duduk diam sampai bukunya selesai, seringnya adalah genre thriller.

5. Siapa saja penulis favorit Mbak Anggi? Menurut Mbak Anggi apa kekuatan/kelebihan dari mereka dalam menuliskan karyanya?
Kalau penulis dari Indonesia aku suka Hilman, Bung Smas, Andrea Hirata dan Pramoedya. Kalau dari luar masih setia sama J.K Rowling, Agatha Christie, Arthur Conan Doyle, dan Enid Blyton. Untuk J.K Rowling, Agatha Christie, Arthur Conan Doyle jelas banget kekuatan penulisan mereka ada di alurnya. Twist endingnya itu juara! Untuk Hilman, Bung Smas, Andrea Hirata adalah cara bernarasi mereka yang sederhana tapi benar-benar menyentuh. Rasanya tiap baca karya mereka mau bilang, “Njir..ini pikiran gue banget!”. Lalu Pram, wuiiih…semangat dari idealismenya itu tertulis dengan baik di tiap patah kata. Membakar. Gilak!

6. Apa buku favorit Mbak Anggi sepanjang masa?
Serial Noni-nya Bung Smas.

7. Mbak Anggi pernah punya pengalaman menyesal beli buku karena setelah dibaca buku itu ternyata gak asik banget? Cerita dong!
Aku jarang menyesal, sih. #ciye. Maksudnya gini, bagi aku, setiap buku pasti mengajarkan hal baru dan dia memang terlahir tidak akan sempurna. Jadi kalau aku membaca buku jelek sekali pun, pasti ada satu hal yang membuatnya dilirik oleh penerbit. That’s why aku jarang banget kasih bintang satu di Goodreads karena setiap buku yang telah lahir, pasti ada jerih payah penulisnya di dalamnya. Bahkan jika buku itu adalah buku yang diterbitkan oleh penulisnya sendiri. Paling tidak, dia akhirnya menyelesaikan satu buku. Paling tidak dia akhirnya membuat sebuah cerita utuh. Paling tidak, dia sudah menuliskan ceritanya.

8. Dari semua buku yang pernah Mbak Anggi baca, paling pusing baca buku yang mana? Kalau sudah begini, Mbak Anggi terusin baca atau menyerah begitu saja?
Ada beberapa buku Dee Lestari yang aku pusing bacanya. Kenapa? Mungkin karena aku membaca itu di umur yang masih sangat muda di mana pemahaman akan beberapa hal masih sangat cetek. Sekarang pun masih cetek, sih. Kalau sudah begitu, biasanya aku tinggal dulu bertahun-tahun karena menurut pengalaman aku, beberapa tahun kemudian membuka kembali sebuah buku yang tadinya kita tinggalkan, akan menemukan kesenangan yang berbeda. Mungkin buku juga kayak jodoh, kadang sudah di depan mata, tapi waktunya belum tepat…#eaaa

9. Kaitannya dengan pertanyaan nomor 8, ada tips untuk membaca buku-buku sulit begini atau tips membaca secara general biar kita lebih gampang mencerna dan mengingat isi buku?
Untuk buku yang aku tempatkan sebagai hiburan dan pelarian, aku tipe yang gampang menyerah jadi kalau buku itu sudah nggak cocok di awal dan aku harus bekerja keras mati-matian untuk mencernanya, lebih baik aku tinggalkan dulu. Life is too short to read books that I’m not enjoying (kata seseorang). Untuk buku yang aku tempatkan sebagai bahan riset maupun untuk menambah wawasan, biasanya aku tukar pikiran dengan orang yang pernah membaca buku itu namun punya penjelasan yang lebih sederhana untuk hal-hal yang rumit itu.

10. Dari semua buku yang sudah Mbak Anggi baca, apakah ada buku yang bisa dikatakan telah mengubah hidup Mbak Anggi? In what way?
Semua buku yang aku baca rasa-rasanya pasti mengubah hidup aku walaupun dalam skala yang sangat kecil. Cara memandang hidup, memandang sebuah masalah, menyelami pikiran seseorang, berempati, sepertinya itu hal-hal yang ditawarkan oleh setiap buku.

11. Apa Mbak Anggi setuju dengan statement “Don’t judge book by its cover”? Seberapa penting cover buku menurut Mbak Anggi?
Tidak menilai buku dari covernya, aku setuju. Cover buku itu penting, aku juga setuju. Hehehe. Bagi penerbit dan penulis, cover itu penting karena banyak orang yang datang ke toko buku tanpa tahu mau membeli buku apa, akhirnya terpikat sebuah buku karena cover yang menarik. Tapi banyak juga yang datang ke toko buku dan sudah tahu mau membeli buku apa tanpa peduli covernya karena mereka telah mencari tahu sebelumnya tentang isi buku tersebut. Pesan moralnya : penerbit yang pintar pasti akan membuat cover yang baik, juga isi yang menarik. #yaiyalah

12. Mana yang lebih Mbak Anggi pilih: buku cetak atau e-book?
Sampai saat ini masih buku cetak.

gambar dari Pinterest

Tentang belanja buku
13. Seberapa sering Mbak Anggi belanja buku? Mbak Anggi ada budget khusus untuk belanja buku?
Tidak ada waktu khusus jadi tidak tahu seberapa sering belanja buku dan tidak ada budget khusus juga. Membeli buku pasti selalu ada waktunya dan budgetnya juga selalu (diada) ada (kan). *maksa*

14. Apa saja yang menjadi pertimbangan Mbak Anggi sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli sebuah buku?
Ada beberapa orang teman yang reviewnya selalu aku jadikan pertimbangan nomor satu dalam membeli buku. Nomor satu berikutnya #lah adalah genre. Jadi kalau menurut teman-teman buku X bagus namun aku tidak suka genrenya, ya tidak jadi dibeli.

15. Dalam sekali belanja buku Mbak Anggi pernah habis paling banyak berapa rupiah?
Habis paling banyak waktu itu 1,5 juta rupiah, itu pun karena sudah lama tidak belanja buku, sih.

16. Paling sering belanja buku online atau langsung ke toko buku? Ada toko buku favorit atau toko buku online favorit? Share pengalaman pas belanja di sana dong.
Aku suka belanja online maupun langsung ke tokonya. Toko buku favorit tetap Gramedia karena punya kartu member koleksinya lengkap. Kalau online, aku suka belanja di twitternya @jualbukusastra dan @kedaiboekoe. Waktu itu aku pernah dikasih buku Andrea Hirata gratis karena ikut kuis di @kedaiboekoe, tapi rasa-rasanya aku dikasih buku gratis bukan karena jawaban yang aku berikan tapi karena aku habis belanja banyak dan sempat complain karena bukunya telat datang. 😛

Opini mengenai buku
17. Menurut Mbak Anggi buku itu apa sih?
Mengutip kata-katanya Groucho Marx, “A book is man’s best friend.” Teman baik yang mungkin tidak akan pernah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Teman tempat kita bisa berlari dari kehidupan yang mungkin sedang mengecewakan, teman yang bisa menemani kapan saja, teman yang bisa memberi informasi apa saja, teman yang…apa yang kamu harapkan dari seorang teman baik? Itu juga yang bisa buku berikan. Kecuali utangan dan tebengan, sih. *eh*

18. Bagaimana pandangan Mbak Anggi terhadap orang-orang yang tidak suka membaca?
Sayang, ya. Aku bicara begini karena aku sudah di posisi yang tahu betul manfaat buku untuk kehidupan. Membaca menurut aku, seharusnya tidak ditempatkan dalam kelas “HOBI” yang membuatnya terdengar sama seperti memancing atau naik gunung. Membaca itu sudah seharusnya ditempatkan di dalam menu “Kebutuhan.” Membaca bukan saja menambah ilmu dan wawasan, lebih dari itu, ia juga bisa mengubah pola pikir, bahkan mengubah peradaban.

19. Menurut Mbak Anggi bagaimana cara meningkatkan minat baca di Indonesia?
Indonesia itu penduduknya sangat berisik di social media. Wajar saja karena jumlah pengguna social media di Indonesia juga sangat banyak. Lalu lagi, penduduk Indonesia itu suka mencontoh selebriti. Sama seperti di Korea sana. Aku kemarin-kemarin baru saja ngobrol sama teman yang fans berat BTS. Dia bilang, karena MV BTS yang dibuat dengan menggunakan inspirasi berupa buku-buku klasik keren, para fans BTS pun jadi suka membaca buku-buku yang jadi inspirasi MV BTS itu. Nah, jadi menurut aku, setiap orang apalagi kalau dia selebriti, punya power yang besar untuk menggerakkan minat massa. Sayangnya, lebih banyak selebriti yang pamer foto selfie daripada pamer buku bagus. 😦 Oh iya, Kimi dengan blog bukunya ini pun punya power, loh untuk meningkatkan minat baca. 🙂

20. Bagaimana pendapat Mbak Anggi mengenai buku-buku bajakan dan ebook ilegal yang bertebaran di internet?
Pastinya tidak setuju. Karena ini merugikan penulis dan penerbit. Ini juga (selain minat baca di Indonesia yang rendah) yang membuat penerbit di Indonesia sesak nafas. Tapi sebagai orang yang setiap hari bersentuhan dengan birokrasi, menuju regulasi yang ketat tentang bajak membajak itu sulit, sesulit mencari angkot yang nggak ngetem.

21. Ada pesan untuk pembaca blogku mengenai buku dan hobi membaca?
Kalau kalian sempat mampir ke blog ini, maka hampir bisa dipastikan kalau kalian sering membaca. Jadi, selamat bersenang-senang terus. Membaca satu buku akan membuatmu merasa sangat pintar, tapi membaca banyak buku akan membuatmu semakin merasa bodoh. Itulah hebatnya membaca. Dan merasa bodoh lalu terus belajar itu, aku rasa jauh lebih baik daripada merasa pintar dan berpuas diri.

gambar dari Pinterest

Demikianlah wawancara saya dengan Mbak Anggi. Semoga kita semua dapat belajar dari beliau ya. Dan seperti yang Mbak Anggi bilang semakin banyak membaca buku akan membuat kita semakin merasa bodoh sehingga kita akan selalu terus belajar. Jadi… Yuk, kita banyak baca buku!

Iklan

7 thoughts on “[Interview] Mbak Anggi: Membaca Bisa Mengubah Peradaban

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s