#52 – The Wind-Up Bird Chronicle

Judul: The Wind-Up Bird Chronicle 
Penulis: Haruki Murakami
Penerjemah: Jay Rubin
Penerbit: Vintage (Tahun 2011)
Halaman: x + 609
ISBN-13: 978-009-956-298-6
Harga: SGD 15.95
Rating: 5/5 – It was amazing!

Toru Okada, pria berumur 30 tahun, baru saja mengundurkan diri dari pekerjaannya di firma hukum. Dia tidak menikmati pekerjaannya dan ingin rehat sejenak sampai nanti dia siap kembali untuk bekerja. Toru sudah menikah dengan Kumiko. Mereka hidup berdua ditemani seekor kucing yang diberi nama Noboru Wataya, yang sebenarnya nama Noboru Wataya ini adalah nama kakak Kumiko.

Kehidupan mereka yang sebelumnya tenteram mulai berubah sejak kucing mereka, Noboru Wataya, tiba-tiba menghilang. Kumiko menjadi tidak tenang dan gelisah. Bahkan, Kumiko sampai menemui seorang cenayang untuk menanyakan keberadaan Noboru Wataya.

Hubungan Toru dan Kumiko pun mendingin. Kumiko semakin lama semakin menjauh dari Toru. Ia selalu pulang larut malam dengan alasan pekerjaannya di kantor sedang banyak-banyaknya. Sampai akhirnya di suatu pagi Kumiko pergi begitu saja dari rumah. Toru pun kelimpungan mencari istrinya.

Intermezzo sebentar yah.

Saya sudah baca novel ini untuk yang kedua kalinya. Kali ini butuh waktu cukup lama — barangkali sekitar sebulan — bagi saya untuk menyelesaikan The Wind-Up Bird Chronicle. Beda dengan sewaktu saya baca untuk pertama kali. Hanya dalam waktu 1 – 2 hari sudah selesai saya baca.

Kembali lagi ke resensi.

Cerita The Wind-Up Bird Chronicle sangat surreal. Novel ini sangat tidak jelas maunya apa. Apalagi alurnya cukup lambat sehingga sukses membuat saya geregetan.

Banyak tokoh bermunculan dan berseliweran yang pada awalnya diberi cukup peran namun lama-kelamaan perannya dikurangi untuk kemudian diganti dengan tokoh yang lain. Misalnya, kakak-beradik Malta dan Creta Kano yang mendapat “tugas” untuk menemukan Noboru Wataya. Ketika tugasnya sudah selesai mereka digantikan oleh ibu dan anak, Nutmeg dan Cinnamon Akasaka.

Masing-masing tokoh mendapat tempat sendiri untuk menceritakan kisahnya masing-masing yang tidak berkaitan dengan cerita inti dari novel ini. Seperti Letnan Mamiya yang menceritakan pengalaman perangnya, Creta Kano dengan cerita masa remajanya yang terpaksa melacurkan diri, Nutmeg Akasaka dengan cerita awal karirnya di dunia fashion dan pekerjaannya sekarang juga ceritanya tentang Cinnamon, Ushikawa yang bercerita dia pelaku KDRT, dan banyak cerita dari May Kasahara lewat surat-surat yang dikirimkannya untuk Toru. Potongan-potongan artikel koran juga ada. Intinya campur aduk. Meski campur aduk dan terkesan berantakan, tapi mereka semua memiliki satu benang merah, yaitu Noboru Wataya, kakak Kumiko.

Bagi yang belum paham Haruki Murakami pasti akan kebingungan dengan ceritanya ini. Sekali lagi, The Wind-Up Bird Chronicle ini surreal. Absurd. Bolak-balik antara dunia nyata dan mimpi. Misalnya, Toru yang iseng mencari ilham di dasar sumur tua dan kering kemudian tahu-tahu dia berada di sebuah kamar hotel nomor 208. Bangun-bangun di pipinya ada sebuah tanda gelap. Berikutnya dia kembali mencari ilham di dasar sumur yang sama, ketika bangun badannya penuh luka dan hampir mati tenggelam karena tiba-tiba sumurnya ada airnya lagi.

Sebetulnya saya sangsi seandainya yang menulis bukan Haruki Murakami dengan tema seperti ini apakah ceritanya akan tetap menarik? Terutama sekali apakah orang-orang mau baca? Tetapi, justru itulah yang menjadi kekuatan Haruki Murakami. Tema ceritanya yang surreal, tokoh-tokohnya yang punya karakteristik “ajaib”, jalan cerita yang tampak semena-mena, semuanya ini begitu diramu oleh Murakami menjadi sebuah cerita yang tidak dapat ditolak. Jadi, jangan heran kalau saya ngefans dengan Murakami.

Iklan

One thought on “#52 – The Wind-Up Bird Chronicle

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s