#53 – Semua Ikan di Langit

Judul: Semua Ikan di Langit
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo (cetakan I, 2017)
Halaman: iv + 259
ISBN-13: 978-602-375-806-7
Harga: Rp. 82.500,- (diskon 10% jika pakai Gramedia Flazz Card)
Rating: 5/5 – It was amazing!

Hari itu Saya bekerja seperti biasa. Karena dia sudah bekerja dengan baik dia mendapat imbalan bisa mandi sepuasnya; membersihkan kutu-kutu dan lalat yang bersantai di tubuhnya. Malam pun datang dan dia berniat untuk beristirahat. Pagi-pagi besok dia sudah harus bekerja. Keliling kota lagi mengantar penumpang.

Lampu sudah dimatikan dan Saya sudah siap untuk bersantai sepanjang malam. Tiba-tiba ada cahaya muncul bergerak mendekatinya. Seekor ikan! Lebih tepatnya ikan julung-julung. Lebih tepatnya lagi ikan julung-julung terbang mendekat ke arahnya.

Saya bingung dan penasaran. Ikan seharusnya tidak terbang. Ikan seharusnya berenang di laut, di kolam ikan, di sungai, pokoknya ikan berada di air dan bukannya terbang di udara. Tetapi, Saya sendiri juga terbang. Semakin bingung dan penasaran lah dia. Karena seharusnya bus Damri tidak terbang. Iya, tokoh Saya adalah bus Damri trayek Dipatiukur-Leuwipanjang.

Saya terbang di belakang mengikuti ikan julung-julung tersebut. Ikan julung-julung membawanya ke suatu tempat.

Ikan julung-julung membawa saya ke tempat sampah. Ada 109 gunung tinggi, seluruhnya tersusun dari sampah. Ada tujuh benua, seluruhnya dihuni oleh sampah. Ada lima lautan, seluruhnya diisi sampah. Kecuali untuk segerombolan ikan julung-julung yang mengapung rendah. Dan anak lelaki yang tergeletak di sana. (hal. 10)

Ini adalah pertemuan pertama mereka; antara Saya dan Beliau. Saya memanggil anak lelaki ini dengan panggilan Beliau karena dia tidak pernah memberitahu namanya. Beliau tidak bernapas, tidak berbicara, dan tidak makan. Tetapi, dia tidak mati.

Beliau dikerumuni banyak ikan julung-julung. Mereka masuk ke dalam Saya dan membawa Saya kembali terbang. Petualangan mereka resmi dimulai.

Beliau mengajak Saya ke banyak tempat. Bersama-sama mereka menjelajah ruang dan waktu. Mereka mengunjungi Bumi, planet-planet lain, bintang-bintang, ruang angkasa yang hampa, dan tempat-tempat penuh imajinasi lainnya. Di tempat-tempat tersebut mereka bertemu dengan berbagai makhluk aneh dan unik dengan berbagai macam sifat dan karakter.

Waktu menjadi tidak penting lagi. Mereka bergerak maju dan mundur. Saya tidak tahu mereka sudah berpetualang berapa lama. Saya juga tidak tahu mereka ada di tahun berapa. Nadehzda, seekor kecoa dari Rusia dan merupakan teman seperjalanan Saya juga, rajin memberi update untuk Saya. Suatu waktu Nad memberitahu bahwa mereka sedang berada di Auschwitz tahun 1944 di saat Holocaust sedang terjadi. Pada kesempatan yang lain Nad memberitahu mereka berada di luar angkasa di tahun 2007.

Cerita terus bergulir dengan Saya, si bus Damri, sebagai narator. Gaya bertutur Saya enak sekali untuk disimak. Kekuatannya ada pada deskripsi yang sangat detil, tetapi tidak norak dan tidak berlebihan. Coba simak paragraf ini:

Dan, jadilah: di atas Bumi, di langit yang kosong, ada serakan peralatan jahit-menjahit. Berderet-deret pita kain dengan warna merah dan kuning dan biru dan putih menghampar panjang, dari kejauhan tampak seperti bintang berekor. Bermeter-meter kain lembut terentang, menggantikan sebagian kegelapan langit dengan warna cokelat muda yang indah. Tangan kecil Beliau mengangkat gunting dan mulai memotong pola di udara. Gulungan benang berwarna hitam, merah, cokelat, putih, dan kuning berkeliaran di dekatnya, disundul-sundul oleh ikan julung-julung kecil yang, barangkali, menganggapnya bola sepak. (hal. 35)

Deskriptif sekali bukan? Juga khas. Dan unik. Tak heran Semua Ikan di Langit menjadi pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016.

Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta Sayembara kali ini. Novel ini mampu merekahkan miris dan manis pada saat bersamaan. Dan, perbedaan mutu yang tajam antara Pemenang Pertama dan naskah-naskah lainnya, membuat dewan juri tidak memilih pemenang-pemenang di bawahnya.” — Laporan Pertanggungjawaban Dewan Juri Sayembara Novel DKJ 2016.

Begitulah yang tertera di sampul belakang novel ini.

Jika kita meneruskan membaca kisah perjalanan Saya dan Beliau, pada akhirnya kita akan bisa memahami siapa sesungguhnya Beliau ini. Ziggy memasukkan kisah-kisah dari kitab suci dan memodifikasinya sedemikian rupa demi penyesuaian cerita di novel ini. Di sini ada kisah Nabi Luth dan kaum Sodom, kisah Nabi Ibrahim yang akan dibakar, dan kemunculan Dajjal.

Sesungguhnya Semua Ikan di Langit minim konflik dan konflik besar justru berada di akhir-akhir cerita. Bahwa cerita-cerita perjalanan Saya dan Beliau sebelumnya hanya seperti cerita pendek yang menceritakan kisah kunjungan mereka ke suatu tempat dan sebagai pengantar ke konflik besar sesungguhnya, yaitu bertemu dengan Anak Jahat. Bagian mendekati akhir inilah yang menjadi favorit saya, yaitu dimulai dari bab “Perlawanan Makhluk Gendut” hingga halaman terakhir. Ziggy tahu bagaimana seharusnya cerita ini berakhir dan caranya mengeksekusi idenya sungguh baik sekali.

Semua Ikan di Langit adalah novel yang penuh imajinasi dari penulisnya. Daya fantasi Ziggy luar biasa liar. Ziggy menciptakan tokoh-tokoh unik seperti bus Damri yang bisa terbang, anak lelaki yang hobi menjahit ternyata punya kuasa besar, kecoa dari Rusia yang biasa membaca koran di tong sampah, pohon raksasa yang hobi berbicara, dan masih banyak lagi. Belum lagi Ziggy bisa menciptakan setting tempat yang benar-benar di luar perkiraan.

Ziggy bisa membuat Semua Ikan di Langit menjadi cerita yang berkesan enteng padahal sesungguhnya novel ini sarat akan renungan. Selama membaca Semua Ikan di Langit berkali-kali saya dibuat tersentuh. Novel ini menyentuh saya agar kembali menjalin hubungan yang hangat dengan Tuhan. Dengan cara sederhana Saya (si bus Damri, red.) membuat saya (pemilik blog ini, red.) menyadari posisi saya yang kecil dan lemah sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang Maha Kuasa. Saya mengajarkan — tanpa bernada menggurui atau sok tahu — bagaimana seharusnya berelasi dengan Sang Maha Pencipta. Konsepnya sederhana sekali, yaitu mencintai Tuhan dengan cara tidak menyakiti makhluk-makhluk yang menjadi kesayangan Tuhan. Dan kita semua adalah kesayangan Tuhan.

Konsep di atas — dan cerita Semua Ikan di Langit secara keseluruhan — bisa diterima jika teman-teman mempercayai keberadaan Tuhan. Saya sangat menikmati novel ini karena saya masih mengakui Tuhan dan alasan lain yang akan saya segera beritahu. Yang kemudian membuat saya berpikir sebuah novel bisa menyadarkan saya — dan menginspirasi — alih-alih ceramah ustadz-ustadz gaul. Meskipun ada di satu tempat di mana saya tidak sepakat dengan Ziggy, yaitu ketika Nad harus dihukum Beliau dengan cara digencet batu karena Nad bersikap kritis dan skeptis mempertanyakan kehebatan Beliau. Karena saya percaya Tuhan pun memberi kita akal untuk kita gunakan, termasuk bersikap kritis dan skeptis.

Walaupun teman-teman tidak memercayai Tuhan atau tidak peduli akan keberadaan Tuhan, Semua Ikan di Langit tetap layak untuk dinikmati. Nikmatilah novel ini sebagai sebuah kisah fantasi, surealis, dan filosofis yang merupakan hasil imajinasi out-of-the-box Ziggy. Ini adalah alasan lain mengapa saya begitu menikmati kisah petualangan si bus Damri dan Beliau. Belum pernah saya membaca cerita seperti ini dari penulis Indonesia. Mungkin itu alasan terutama saya, sekali lagi, sangat menikmati novel ini. Atau mungkin saja Semua Ikan di Langit memang memiliki semua kualitas yang diperlukan untuk dinikmati dengan layak.

Iklan

8 thoughts on “#53 – Semua Ikan di Langit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s