#54 – Anak Semua Bangsa

Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara (Cetakan 10, April 2008)
Halaman: xi + 539
ISBN-13: 978-979-97312-4-0
Harga: Lupa. Beli buku ini di tahun 2008.
Rating: 4/5 – Really liked it

Kepergian Annelies yang dijemput paksa oleh pengadilan membuat Minke hancur. Dia merasa sudah tidak ada semangat lagi. Hidup dijalaninya tanpa gairah.

Annelies telah berlayar. Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk. Perpisahan ini jadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda. (hal. 1)

Syukurlah masa berduka hanya sebentar. Karena tak lama sejak kepergian Ann, Minke bertemu Khouw Ah Soe, seorang aktivis pergerakan Tionghoa. Dengan berapi-api Khouw Ah Soe menceritakan perjuangannya dan idealismenya. Dia meninggalkan negerinya menuju Hindia untuk berseru pada rekan sebangsanya di perantauan agar mereka sadar jaman telah berubah dan mengajak mereka untuk segera bangkit jika tidak ingin tertinggal dan ditindas oleh bangsa lain.

Minke merenung. Minke akhirnya sadar bahwa bangsanya bisa lepas dari penjajahan. Untuk itu bangsanya perlu berjuang. Dan Minke ingin turut ambil bagian.

Minke tahu kekuatannya ada dalam tulisan. Minke pandai menulis. Nyai Ontosoroh mendukung Minke untuk terus menulis:

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (hal. 112)

Namun, Minke mendapat kritikan dari Jean Marais dan Kommer. Mereka beranggapan Minke seharusnya juga menulis dalam bahasa Melayu, tidak hanya menulis dalam bahasa Belanda. Tujuannya agar tulisannya itu bisa menjangkau lebih luas. Ini yang dikatakan Kommer kepada Minke:

“Ya, Tuan, bukan Pribumi yang justru merasa punya kepentingan memberi kabar dalam Melayu dan Jawa pada Pribumi. Kan itu hebat, Tuan. Bukan Pribumi! Juga bukan Pribumi yang merasa berkepentingan bahasa Melayu dan Jawa berkembang baik. Bahasa miskin? Tentu. Semua yang dilahirkan memulai hidup tanpa mempunyai sesuatu kecuali tubuhnya dan nyawanya sendiri. Tuan tak terkecuali.” (hal 153)

Anak Semua Bangsa adalah buku kedua dari Tetralogi Buru. Buku ini bercerita tentang sebuah proses. Yaitu proses Minke agar lebih mengenali bangsanya sendiri. Khouw Ah Soe, Jean Marais, dan Kommer, juga Ter Haar dihadirkan dengan tujuan membimbing Minke untuk lebih nasionalis.

Minke yang sebelumnya mengagung-agungkan budaya Eropa di buku ini dia tidak lagi begitu memuja Eropa. Di Anak Semua Bangsa Minke lebih menapakkan kakinya ke bumi. Kalau sebelumnya dia terlampau berfokus pada hidupnya yang selalu dirundung masalah, kali ini dia mencoba melatih kepekaan hatinya dengan melihat penderitaan rakyatnya.

Hal itu terjadi karena Minke mendengarkan ocehan Kommer. Kommer menyarankan Minke agar lebih mengenal bangsanya sendiri. Kommer menilai Minke memang pribumi, namun tidak banyak yang dia tahu tentang bangsanya. Hal itu dikarenakan dia mendapat pendidikan Belanda dan lebih banyak bergaul dengan orang-orang Belanda dan yang punya jabatan. Sehingga dia jarang terjun langsung ke rakyat kecil.


“Belum berarti Tuan mengenal bangsa Jawa lebih baik. Pernah Tuan mengenal kampung dan dusun orang Jawa, di mana sebagian terbesar bangsa Tuan tinggal? Paling-paling Tuan hanya melaluinya saja. Tahu Tuan apa yang dimakan petani Jawa, petani bangsa Tuan sendiri? Dan petani adalah sebagian terbesar bangsa Tuan, petani Jawa adalah bangsa Tuan.” (hal. 159 – 160)

Ter Haar, yang merupakan teman yang baru Minke kenal di perjalanan ke Betawi, juga menyadarkan Minke. Dia bercerita perjuangan rakyat Filipina yang bisa lepas dari Spanyol. Meski pada akhirnya harus jatuh ke Amerika, tetap saja Filipina sempat berhasil melepaskan diri dari kolonialisme meski hanya sebentar. Ter Haar memberikan optimisme pada Minke.

Di roman ini juga kita bisa menyimak pertentangan kelas yang terjadi antara buruh tani dan perusahaan gula. Ter Haar lebih lanjut bercerita tentang konflik antara pemilik modal besar dan rakyat kecil. Sekilas Ter Haar juga menjelaskan pentingnya berjuang melalui organisasi modern.

Jika di Bumi Manusia saya tidak memiliki tokoh favorit, maka di sini saya menyukai Minke dan Nyai Ontosoroh. Minke berkembang menjadi lebih dewasa. Sementara Nyai Ontosoroh lebih tenang, meski sesekali dia meluap-luap emosinya. Rupanya kepergian Ann betul-betul memukul mereka.

Anak Semua Bangsa saya beri skor 4 dari 5 karena saya merasa ada yang kurang dari roman ini. Konfliknya kurang mendalam. Konflik yang terjadi di keluarga Mellema terasa kurang tajam digali. Seolah-olah hanya sebagai pemanis dan penjelas saja dari kelanjutan cerita yang menggantung di Bumi Manusia.

Konflik pertentangan kelas pun tidak lebih jauh dijelaskan. Saya mencoba memahaminya mungkin ini hanya sebagai pengenalan untuk Minke sebelum akhirnya dia nanti memutuskan berjuang untuk bangsanya.

Beberapa kali nama Kartini juga disebut meski entah tujuannya apa. Hanya sembari lewat. Semacam news flash bahwa ada gadis Jepara yang senang berkorespondensi dengan orang Belanda. Surat-suratnya dibahas di Nederland, tetapi oleh Kommer dikritiknya pemikiran-pemikiran Kartini tersebut.

Meski saya memberi skor 4 dari 5, Anak Semua Bangsa tetap menjadi favorit saya karena, hey, ini bagian dari Tetralogi Buru. Ini karya Pramoedya Ananta Toer yang mengajarkan kita untuk lebih mengenali bangsa sendiri dan mencintai bangsa ini.

Iklan

2 thoughts on “#54 – Anak Semua Bangsa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s