#57 – Rumah Kaca

Judul: Rumah Kaca
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara (Cetakan keenam, Desember 2007)
Halaman: xii + 646
ISBN-13: 978-979-97312-6-5
Harga: Lupa. Beli buku ini di tahun 2008.
Rating: 4/5 – Really liked it

Minke sudah dibuang ke pengasingan di Maluku. Kebebasannya direnggut. Kekuatannya dipadamkan. Gubermen mengambil langkah tersebut karena khawatir akan sepak terjang Minke yang dianggap sudah meresahkan. Minke dianggap dapat memprovokasi rakyat untuk melakukan perlawanan. Oleh karena itu, tindakan pengasingan harus diambil. Dan orang di balik pengambilan keputusan itu adalah Jacques Pangemanann, seorang Pribumi asli yang diangkat anak oleh pasangan suami-istri Perancis dan mendapatkan pendidikan di negeri tersebut.

Kita tidak lagi mendengar suara Minke di Rumah Kaca. Pangemanann mengambil alih tugas Minke. Di roman keempat dari Tetralogi Buru ini kita akan membaca cerita dari sudut pandang Pangemanann. Sebagai seorang ahli pergerakan organisasi pribumi, Pangemanann mengerahkan segala kemampuannya untuk menghambat pengaruh organisasi-organisasi tersebut.

Dari kata pengantar Penerbit:

Rumah Kaca adalah reaksi balik dari pemerintahan Hindia Belanda yang melihat kebangkitan perlawanan meluas di tanah jajahan mereka. (hal. ix)

Pangemanann dengan berbagai macam cara ditempuhnya, baik cara halus, licik, maupun terang-terangan. Meskipun dalam melaksanakan tugasnya dia selalu mengalami pertentangan batin antara kewajibannya melaksanakan tugas dan dirinya yang khawatir akan kehilangan hati nuraninya.

Sejujurnya, saya merasakan di roman ini suasana cerita mulai berubah. Mungkin itu karena pengaruh dari sudut Pangemanann. Gayanya bercerita yang tidak meletup-letup seperti Minke, yang selalu bersemangat, membuat cerita agak sedikit membosankan. Apalagi kebanyakan dari nadanya bercerita kita dapat menangkap isinya kebanyakan berupa penyesalan.

Sebagai orang yang bertanggungjawab membuang Minke ke pengasingan, Pangemanann sangat merasa bersalah. Apalagi dia menganggap Minke adalah gurunya. Minke layak untuk mendapatkan penghormatan dari dirinya. Karena Minke, sebagai Pitung Modern, telah berhasil menegakkan tonggak sejarah untuk bersuara melalui koran pribumi. Dia membela kaumnya dan melawan ketidakadilan. Usahanya mulai membuahkan hasil dengan tanda rakyatnya mulai berani bersuara dan juga melawan.

Cerita Rumah Kaca menjadi kembali seru ketika Minke kembali dari pengasingan. Setelah sebelumnya cukup merasa bosan maka dengan kembalinya Minke membuat semangat saya muncul lagi. Minke memang membawa aura positif tersendiri yang tidak dapat ditolak.

Rasa semangat itu muncul untuk kemudian bercampur dengan marah begitu saya mengetahui perlakuan Gubermen yang semena-mena terhadap Minke. Perusahaan Minke ditutup, rumahnya disita, dan asetnya dibekukan. Dan Minke baru tahu itu semua ketika dia pulang. Tanpa keluarga, tanpa uang, dia terlunta-lunta ke sana ke mari sampai akhirnya mendapat bantuan dari temannya. Dulu dia punya nama besar dan pengaruh yang juga besar. Hanya dalam waktu 5 – 7 tahun dia kehilangan itu semua.

Penghakiman semena-mena dari Gubermen masih belum berakhir. Karena Minke masih harus terus diawasi. Masih harus dibatasi ruang geraknya. Dan masih harus difitnah agar dia semakin hancur dan terpuruk.

Untuk teman-teman yang belum tahu, Minke adalah nama samaran dari Raden Tirto Adhi Soerjo, biasa disingkat T.A.S. Beliau adalah tokoh pers dan tokoh kebangkitan nasional. Beliau dikenal juga sebagai perintis surat kabar. Pramoedya memang menulis Tetralogi Buru dengan mengangkat perjuangan T.A.S.

Pada akhir cerita ditutup oleh Pangemanann dengan rasa bersalah yang demikian besar. Maka ditulisnya Rumah Kaca ini dan ditulisnya surat untuk Madame Sanikem Le Boucq alias Nyai Ontosoroh. Surat itu diakhiri dengan tulisan:

Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina).

Iklan

3 thoughts on “#57 – Rumah Kaca

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s