#58 – Di Tanah Lada

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Agustus 2015)
Halaman: vi + 244
ISBN-13: 978-602-031-896-7
Harga: Rp 49.300,- (setelah diskon 15% di Gramedia.com)
Rating: 4 out of 5 ⭐ – Really liked it

Salva — panggilannya Ava — adalah seorang anak perempuan berusia enam tahun. Di ulang tahunnya yang ketiga ia mendapat hadiah kamus dari Kakek Kia. Sejak saat itu Ava gemar membaca kamus. Jika ada kata-kata yang tidak ia ketahui artinya maka ia langsung mencarinya di kamus. Ia pun menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Meski suka melantur kemana-mana, Ava selalu berbicara dalam gaya berbahasa yang baik dan benar, yang menurut orang-orang di sekelilingnya, “Kamu masih kecil sudah pintar sekali ya.”

Setelah Kakek Kia meninggal dan memberikan warisan berlimpah untuk Papa, mereka sekeluarga (Papa, Mama, dan Ava) harus pindah ke Rusun Nero, tempat tinggal yang kumuh dan mengerikan. Papa yang memutuskan untuk pindah ke sana. Awalnya Ava tidak suka tinggal di tempat tersebut sampai akhirnya dia bertemu dengan P, seorang anak laki-laki berusia sepuluh tahun dan suka membawa gitar ke mana-mana.

Ava dan P cepat akrab karena kesamaan cerita; mereka berdua adalah korban kekerasan dari ayah mereka. Papa Ava benci sekali dengan Ava, sehingga memberinya nama Saliva yang berarti ludah. Ava juga kerap dipukul dan disiksa oleh Papa. Papa P pun demikian. Papa P tidak segan-segan untuk menyetrika lengan P karena kesal melihat P.

Karena kesamaan cerita itu membuat mereka saling mengerti dan ingin melindungi satu sama lain. Ava rela meninggalkan ibunya demi menemani P pergi ke rumah Nenek Isma di Tanah Lada. P yang sayang dengan Ava kerap menyuapi Ava karena tahu Ava belum bisa makan sendiri.

Membaca Di Tanah Lada di awal-awal sudah membuat saya tahu kalau Ziggy mengangkat isu kekerasan di dalam rumah tangga dengan sudut pandang dari anak kecil. Ava meski umurnya baru enam tahun, tapi pemikirannya dewasa sekali. Jauh melampaui anak-anak seusianya. Pengamatannya juga tajam, daya kritisnya tidak usah ditanya.

Gaya bicara dan pola pikirnya yang dewasa membuat kita sering meragukan apakah Ava ini benar masih anak-anak? Kalau teman-teman sudah membaca buku Ziggy yang Jakarta Sebelum Pagi, teman-teman akan mengerti sepertinya Ziggy suka dengan tokoh anak-anak yang berpikiran dewasa, dengan latar belakang pengalaman dan lingkungan membentuk mereka untuk menjadi lebih cepat dewasa.

Tadinya saya ingin memberi rating 5 ⭐ , tetapi saya ralat menjadi 4 ⭐ . Karena anak seusia Ava dan P, saya ragukan sudah bisa berpikir, memahami, dan berbicara topik abstrak, seperti Tuhan, reinkarnasi, kebahagiaan hakiki, konsep “sehidup semati”, dan bunuh diri. Anak-anak seusia ini masih berpikir secara konkret (misalnya: kalau nakal nanti dipukul) dan egonya masih berfokus ke diri mereka sendiri (misalnya: saya anak yang pintar).

Saya juga tidak sepakat dengan akhir cerita yang dibuat Ziggy. Saking tidak sepakatnya membuat saya ingin membuat cerita akhirnya sesuai dengan mau saya. Sungguh ini kejadian pertama dalam sejarah saya membaca novel yang membuat saya ingin mengubah cerita.

Maksud saya, masa’ iya saking merasa terkoneksinya dengan P membuat Ava lebih memilih P dan kabur meninggalkan ibunya? Kemudian, meskipun akhirnya Ava berjanji akan menemui ibunya di rumah Nenek Isma, kenapa Ava melupakan janji tersebut dan malah menuruti ajakan P?

Itu saja sih yang mengganjal di saya. Selebihnya oke banget. Karena seperti biasa kekuatan tulisan Ziggy ada pada diksinya dalam mendeskripsikan apapun. Dan khusus di novel ini entah bagaimana saya merasa tulisannya berhawa lembut, manis, dan rapuh.

4 pemikiran pada “#58 – Di Tanah Lada

  1. Ping balik: Rekap September 2017 | Blog Bukunya Kimi

  2. Ping balik: Rekap Tahun 2017 | Blog Bukunya Kimi

  3. Ping balik: Rekap Januari 2018 | Blog Bukunya Kimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s