#60 – Frankenstein

Judul: Frankenstein
Penulis: Mary Shelley
Penerbit: Wordsworth Editions
Halaman: xxv + 175
ISBN-13: 978-1-85326-023-0
Harga: Rp 27.000,- (beli di tahun 2010)
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Frankenstein dibuka dengan surat dari Robert Walton — seorang penjelajah — untuk adik perempuannya, Margaret Saville. Dalam surat-surat itu Walton menceritakan peristiwa sehari-hari dalam pelayarannya menuju Kutub Utara. Dia menulis pelayarannya tidak akan mudah. Banyak rintangan sudah pasti akan menghadang. Dia bahkan tidak tahu apakah dia akan bisa kembali ke Inggris atau tidak.

Di salah satu suratnya dia menceritakan pertemuannya dengan Victor Frankenstein. Kondisinya yang lemah membuat Walton iba dan menaruh perhatian lebih.

His limbs were nearly frozen, and his body dreadfully emaciated by fatigue and suffering. I never saw a man in so wretched a condition. (hal. 21)

Victor yang tadinya tertutup lama-lama mau membuka dirinya kepada Walton. Dia pun menceritakan kisahnya yang membuatnya harus sampai meninggalkan kotanya jauh sampai hampir ke Kutub Utara.

Victor memiliki ketertarikan yang sangat besar pada natural philosophy, khususnya pada organic chemistry. Dia juga terobsesi ingin menghidupkan kembali mayat. Bertahun-tahun dia habiskan waktunya untuk mewujudkan obsesinya tersebut. Dia menggabungkan potongan-potongan mayat dan hewan. Dia juga berniat akan menciptakan makhluk dengan postur tubuh yang besar dan tingginya sekitar delapan kaki.

Sebenarnya apa tujuan Victor menciptakan makhluk ini? Apakah karena rasa cinta dan rasa haus yang begitu besar akan ilmu pengetahuan? Ataukah karena dengan menciptakan makhluk hidup Victor merasa memiliki kuasa? Ataukah karena dia merasa ingin disembah dan dipuja? Seperti yang Victor sendiri bilang:

… A new species would bless me as its creator and source; many happy and excellent natures would owe their being to me. No father could claim the gratitude of his child so completely as I should deserve theirs. Pursuing these reflections, I thought, that if I could bestow animation upon lifeless matter, I might in process of time (although I now found it impossible) renew life where death had apparently devoted the body to corruption. (hal. 43)

Sayangnya, saat makhluk ciptaannya membuka matanya, Victor ketakutan setengah mati dan dia langsung kabur pergi meninggalkan hasil kreasinya sendirian. Dia bahkan menyebut ciptaannya sebagai creature. Untuk seterusnya mari kita panggil dia dengan “Monster” ya.

I had worked hard for nearly two years, for the sole purpose of infusing life into an inanimate body. For this I had deprived myself of rest and health. I had desired it with an ardour that far exceeded moderation; but now that I had finished, the beauty of the dream vanished, and breathless horror and disgust filled my heart. Unable to endure the aspect of the being I had created, I rushed out of the room, and continued a long time traversing my bedchamber, unable to compose my mind to sleep. (hal. 45)

Intermezzo sebentar. Orang-orang suka keliru, termasuk saya dulu. Saya kira Frankenstein ini adalah nama monsternya dan ternyata bukan. Frankenstein adalah nama si pencipta monster. Sementara monster itu sendiri tidak memiliki nama. Jadi, sampai sini jangan keliru lagi ya.

Mari kita lanjut lagi.

Yang menyedihkan tentu saja si Monster. Penolakan Victor terhadap dirinya membuatnya langsung pergi mengembara. Sayangnya dia tidak diterima di mana-mana. Dia dimusuhi, diusir, disakiti. Keberadaannya ditolak. Dia dituduh jahat karena wujud fisiknya yang mengerikan. Padahal Monster sesungguhnya adalah makhluk yang baik hati dan berbudi luhur.

“Oh, Frankenstein, be not equitable to every other, and trample upon me alone, to whom thy justice, and even thy clemency and affection, is most due. Remember, that I am thy creature; I ought to be thy Adam; but I am rather the fallen angel, whom thou drivest from joy for no misdeed. Everywhere I see bliss, from which I alone am irrevocably excluded. I was benevolent and good; misery made me fiend. Make me happy, and I shall again be virtuous.” (hal. 77 – 78)

Meski tampangnya sangat menyeramkan, namun sebenarnya Monster memiliki hati yang sangat baik dan peka. Dalam masa persembunyiannya di kandang kecil dekat rumah De Lacey, Monster tertarik dengan satu keluarga tersebut. Dia mengamati mereka dari kejauhan, tidak berani menunjukkan diri. Jika mereka sedih, Monster ikut merasa sedih. Jika mereka kesusahan, Monster ingin membantu.

Untuk memenuhi rasa lapar, Monster mencuri makanan dari rumah De Lacey. Namun, begitu dia tahu perbuatannya ini mengakibatkan kelaparan bagi mereka, Monster berhenti mencuri dan dia mencukupkan dirinya dengan buah beri, kacang-kacangan, dan roots.

Monster juga menolong keluarga De Lacey secara diam-diam.

I discovered also another mens through which I was enabled to assist their labours. I found that the youth spent a great part of each day in collecting wood for the family fire; and, during the night, I often took his tools, the use of which I quickly discovered, and brought home firing sufficient for the consumption of several days.” (hal 86)

Dari keluarga De Lacey Monster belajar bicara dan membaca. Dia belajar diam-diam. Buku-buku yang dibacanya dari keluarga tersebut pun keren-keren, yaitu Sorrows of Young Werther dari Goethe, Paradise Lost-nya John Milton, dan Plutarch’s Lives. Tuh, kalau Monsternya Victor saja suka baca, masa’ kalian tidak?

Well anyway, ketiga buku tersebut sangat memengaruhi Monster. Ketiganya memberikan ilmu dan pengalaman baru juga emosi mendalam bagi Monster.

Rasa ketertarikan Monster kepada keluarga De Lacey begitu besar, juga rasa kesepian dan keinginannya untuk memiliki teman membuatnya memberanikan diri mendatangi keluarga De Lacey. Hasilnya sudah dapat ditebak: Monster menimbulkan ketakutan yang sangat hebat bagi keluarga tersebut.

Penolakan yang dialaminya di mana-mana membuat Monster berubah menjadi jahat. Kekecewaannya pada Victor membuatnya membunuh adik Victor, sahabatnya, dan istrinya. Dia membunuh mereka semua karena ingin menyiksa dan membuat Victor menderita. Monster kecewa karena Victor tidak menepati janjinya yang akan membuat monster wanita untuk menjadi teman si Monster.

Hal pertama yang ingin saya sorot dari Frankenstein adalah hubungan antara Victor dan Monster. Mereka ini saling benci, tetapi masih ada rasa peduli juga. Victor sempat iba dan akan mengabulkan permintaan Monster yang ingin dibikinkan teman wanita, meski akhirnya Victor membatalkan niatnya tersebut. Sementara si Monster begitu dia tahu bahwa Victor meninggal, dia sangat terpukul dan sangat merasa bersalah. Dia bahkan berencana untuk terus ke Kutub Utara dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di sana.

Sifat Victor ini kalau diperhatikan juga sangat menyebalkan. Dia merupakan sosok yang sangat tidak bertanggung jawab. Begitu Monster menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Victor meninggalkan Monster begitu saja bahkan dia sangat membencinya padahal dia belum mengenalnya. Meski Monster menceritakan pengalamannya yang menyedihkan, Victor tidak bergeming sedikit pun.

Victor juga pengecut. Ketika Justine dituduh membunuh William (adik Victor) dan terancam hukuman mati, Victor terlalu pengecut untuk menceritakan kejadian yang sesungguhnya bahwa dia menciptakan monster dan monster inilah yang membunuh William.

Berikutnya yang menjengkelkan lagi, Victor seringkali mengabaikan keluarganya. Dia bisa tidak memberi kabar kepada keluarganya bertahun-tahun. Dia juga bisa meninggalkan Elizabeth (sepupu dan juga akan menjadi istrinya kelak) berkali-kali dan bertahun-tahun. Dia juga semacam menggantungkan hubungan mereka sampai-sampai Elizabeth harus bertanya ke Victor jangan-jangan Victor sudah punya calon istri yang lain.

Victor juga tidak menceritakan keadaan yang sesungguhnya kepada Elizabeth. Padahal nyawa Elizabeth dalam bahaya karena Monster mengancam Victor:

“… I shall be with you on your wedding night.” (hal. 129)

Bagaimana mungkin Victor tidak bisa jujur kepada calon istrinya ada ancaman yang datang untuk calon istrinya tersebut? Victor baru akan bilang ketika mereka sudah menikah nanti. Bukankah itu terlalu terlambat, Tuan Victor? Dan bukannya kamu menjaga istrimu, eh kamu malah meninggalkannya sendirian. Jadi salah siapa begitu Monster datang dan membunuh istrimu?

Tidak hanya itu, Victor ini juga rada-rada seksis. Begitu Monster meminta Victor untuk membuatkannya teman wanita, Victor ragu-ragu dan malah berpikir negatif.

… I was now about to form another being, of whose dispositions I was alike ignorant; she might become ten thousand times more malignant than her mate, and delight, for its own sake, in murder and wretchedness. (hal. 126)

Dia juga khawatir jikalau dia menuruti kemauan Monster, jangan-jangan nanti Monster dan teman wanitanya akan beranak-pinak. Tentu saja hal itu jangan sampai terjadi! Jadi, menciptakan monster lain dalam jenis kelamin wanita? Tidak, tidak!

Sementara si Monster ini merupakan contoh dari labeling. Ketika kita menyematkan label kepada seseorang, lama-lama dia akan menerima label tersebut sebagai identitas dirinya. Ketika Monster dibilang jahat dan perlakuan tidak menyenangkan mengikutinya, Monster pun menjadi jahat sungguhan. Monster ini juga merupakan contoh lain dari jangan menilai sesuatu dari tampilan luarnya karena penampilan itu bisa menipu.

Apa yang Monster butuhkan sebenarnya hanyalah teman. Dia tidak ingin sendirian. Dia ingin memiliki teman. Dia ingin berinteraksi dengan orang lain dengan baik. Dia tidak ingin ditakuti. Dia juga butuh pengakuan dari Victor.

Dia sadar dia tidak akan diterima oleh manusia. Oleh karena itu, dia datang ke Victor dan memohon agar Victor mau membuat makhluk seperti dirinya. Dia berjanji akan meninggalkan peradaban manusia dan masuk ke dalam hutan terpencil bersama teman wanitanya kelak. Dia tidak akan mengganggu manusia. Well, bahkan monster pun tidak dapat hidup sendirian, apalagi manusia ya.

Asal-muasal Frankenstein

Musim panas tahun 1816, Mary Shelley dan suaminya berkunjung ke Swiss dan bertetangga dengan Lord Byron. Pada suatu hari, di saat mereka sedang nongkrong-nongkrong ngobrol mungkin juga sambil minum kopi atau secangkir teh dan makan kue, Lord Byron tiba-tiba mengajukan tantangan, “Semua yang ada di sini harus bikin cerita horor!” Mereka yang ada di sana adalah Lord Byron, pasangan suami-istri Shelley, dan Polidori.

Mary Shelley kebingungan akan menulis cerita apa. Dia akhirnya mendapatkan idenya dari hasilnya menguping pembicaraan suaminya dan Lord Byron yang membahas eksperimen dari Dr. Erasmus Darwin (kakek Charles Darwin). Eksperimennya waktu itu Dr. Darwin:

...who preserved a piece of vermicelli in a glass case, till by some extraordinary means it began to move with voluntary motion. Not thus, after all, would life be given. Perhaps a corpse would be re-animated; galvanism had given token of such things: perhaps the component parts of a creature might be manufactured, brought together, and endued with vital warmth. (hal. 4)

Malamnya, Mary Shelley semacam mendapatkan wangsit (mungkin sebenarnya dia tertidur dan bermimpi, tetapi di kata pengantarnya sih katanya dia tidak tidur).

I saw — with shut eyes, but acute mental vision — I saw the pale student of unhallowed arts kneeling beside the thing he had put together. I saw the hideous phantasm of a man stretched out, and then, on the working of some powerful engine, show signs of life, and stir with an uneasy, half-vital motion. … (hal. 4)

Wangsit itu terus menghantuinya. Dia pun jadinya mengembangkannya menjadi sebuah cerita yang sekarang kita kenal dengan judul Frankenstein. Mary baru berusia 18 tahun ketika menulis cerita tersebut.

Ada juga yang mengaitkan cerita novel ini dengan kisah hidup Mary. Mary merupakan putri dari pasangan William Godwin dan Mary Wollstonecraft. Ibunya meninggal sepuluh hari setelah melahirkan Mary di tahun 1797. Di umur 18 tahun, Mary harus kehilangan bayinya setelah dua minggu bayinya lahir. Di jurnalnya dia menulis:

Dreamt that my little baby came to life again; that it had only been cold, and that we rubbed it before the fire, and it lived. Awake and find no baby. I think about the little thing all day. Not in a good spirits. (hal. viii)

Mary dan Percy Shelley memiliki empat anak. Namun, yang dapat bertahan hidup hanya satu orang. Bisa dibayangkan perasaan Mary bagaimana. Dengan kehilangan tiga anaknya dan memiliki mimpi bisa menghidupkan kembali anaknya merupakan suatu hal yang wajar.

Dari kata pengantar penerbit yang ditulis oleh Dr. Siv Jansson, kita juga bisa menginterpretasikan Frankenstein sebagai sebuah cerita yang bertemakan eksplorasi ilmu pengetahuan. Frankenstein membedakan antara sains yang “baik” dan “buruk”. Ada masalah etika juga setiap kita ingin melakukan penelitian. Haus akan ilmu pengetahuan itu bagus karena dengan begitu ilmu pengetahuan akan terus berkembang. Namun, kita juga harus memperhatikan etika dan moral. Jangan sampai atas nama sains justru akan merugikan manusia itu sendiri.

Meski Frankenstein mendapat label sebagai cerita horor, saya tidak melihatnya sebagai cerita horor. Justru saya melihatnya sebagai sebuah cerita yang sedih dan penuh kepahitan. Mungkin ketika saya membaca novel ini saya terlalu terpaku pada Monster makanya saya menganggap Frankenstein adalah sebuah cerita sedih dan pahit.

Referensi:

  • Don’t Reanimate Corpses! Frankenstein Part 1: Crash Course Literature 205

  • Frankenstein Part II: Crash Course Literature 206

8 pemikiran pada “#60 – Frankenstein

  1. ulasan novel yang menarik. dari segi tuturannya, saya sebagai pembaca mampu melihat gambaran isi cerita dari Victor Frankenstein tersebut.

    saya kira tulisan ini hanya mengulas buku saja, namun juga memberikan penjelasan mengenai latar belakang penulisan novel tersebut. saya pikir akan lebih baik bila cukup satu alur saja, yakni menjelaskan mengenai isi novel. saya sebagai pembaca merasa tercukupi bila ulasan memberikan gambaran mengenai isi novel saja. untuk latar belakang penulisan, barangkali bisa membuat tulisan lainnya, supaya mendapatkan ruang dan pengulasan yang komprehensif.

    pada tulisan ini “Sementara si Monster begitu dia tahu bahwa Victor meninggal, dia sangat terpukul dan sangat merasa bersalah. Dia bahkan berencana untuk terus ke Kutub Utara dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di sana.” kalimat “Dia bahkan berencana …” itu merujuk kepada si “monster” atau Victor? karena dalam paragraf pertama kamu menuliskan bahwa Victor yang berada di Kutub Utara. ada baiknya menuliskan rujukannya langsung guna menghilangkan kebingungan pembaca.

    pengutipan teori labelling menjadi hal yang menarik, karena dapat menjadi gizi tambahan bagi para pembaca untuk meluaskan wawasannya. untuk contohnya sendiri yang menggunakan kata “monster” dan justru menjadi kontradiksi atas tulisanmu yang mengatakan bahwa “monster” memiliki budi luhur serta empati tinggi. tentunya bila “monster” ini merupakan hal yang lain dari isi novel, bisa menggunakan permisalan dengan kata “kita” atau “kamu.” supaya tidak merancukan para pembaca. sebab tidak ada penjelasan “apakah monster terpengaruh oleh labelling atau tidak?”

    penutup dengan mencantumkan video dari Crash Course itu amat menarik!

    sekian dari saya. terima kasih telah menyajikan tulisan yang enak dibaca dan dapat menjadi penghilang penat sejenak.

    🙂

    1. Komentarmu ini panjang sekali. Malas ah aku balasnya. Heuheu. Becanda! Jangan ngambek. Oke, aku coba balas satu per satu ya.

      saya kira tulisan ini hanya mengulas buku saja, namun juga memberikan penjelasan mengenai latar belakang penulisan novel tersebut. saya pikir akan lebih baik bila cukup satu alur saja, yakni menjelaskan mengenai isi novel. saya sebagai pembaca merasa tercukupi bila ulasan memberikan gambaran mengenai isi novel saja. untuk latar belakang penulisan, barangkali bisa membuat tulisan lainnya, supaya mendapatkan ruang dan pengulasan yang komprehensif.

      Terima kasih atas sarannya, tetapi untuk resensi kali ini aku memang sengaja memasukkan latar belakang ide penulisan Frankenstein karena menurutku sepertinya menarik jika aku juga menuliskannya. Jadi, tidak hanya sekedar membahas isi novel, melainkan juga membahas latar belakang ide. Bukankah di dalam diskusi buku latar belakang ide penulisan juga bisa jadi topik pembahasan agar bisa lebih memahami isi buku? Tujuannya biar lebih memperkaya wawasan untukku dan untuk siapapun yang membacanya. Tetapi ya tulisan ini resensi buku sih, bukan diskusi buku. Meski begitu, tetap saja harapanku semoga dari resensi ini bisa jadi sebuah diskusi.

      pada tulisan ini “Sementara si Monster begitu dia tahu bahwa Victor meninggal, dia sangat terpukul dan sangat merasa bersalah. Dia bahkan berencana untuk terus ke Kutub Utara dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di sana.” kalimat “Dia bahkan berencana …” itu merujuk kepada si “monster” atau Victor? karena dalam paragraf pertama kamu menuliskan bahwa Victor yang berada di Kutub Utara. ada baiknya menuliskan rujukannya langsung guna menghilangkan kebingungan pembaca.

      Aku rasa kalimat tersebut sudah cukup jelas ya. “Dia” di sini merujuk ke Monster tentu saja karena dua kalimat tersebut kan berkelanjutan. Monster tahu Victor meninggal, dia sangat terpukul, dan membuatnya ingin pergi ke Kutub Utara dan mengakhiri hidupnya di sana. Jika “Dia” di sini merujuk ke Victor, bagaimana mungkin Victor bisa merasa sedih dan terpukul dan ingin mengakhiri hidup di Kutub Utara sementara Victor sendiri sudah meninggal? Dan, sebenarnya lokasi kejadian belum betul-betul di Kutub Utara, melainkan hampir sampai di Kutub Utara.

      pengutipan teori labelling menjadi hal yang menarik, karena dapat menjadi gizi tambahan bagi para pembaca untuk meluaskan wawasannya. untuk contohnya sendiri yang menggunakan kata “monster” dan justru menjadi kontradiksi atas tulisanmu yang mengatakan bahwa “monster” memiliki budi luhur serta empati tinggi. tentunya bila “monster” ini merupakan hal yang lain dari isi novel, bisa menggunakan permisalan dengan kata “kita” atau “kamu.” supaya tidak merancukan para pembaca. sebab tidak ada penjelasan “apakah monster terpengaruh oleh labelling atau tidak?”

      Di postingan ini sepertinya sudah beberapa kali disebutkan bahwa Monster itu aslinya baik dan berbudi pekerti luhur, serta empati tinggi. Namun, karena fisiknya yang sangat menyeramkan membuatnya harus menerima perbuatan yang tidak menyenangkan dari semua manusia yang melihatnya. Dia dibenci, diusir, disakiti, dihina, dan sebagainya. Dia dicap jahat karena fisiknya yang menyeramkan padahal dia tidak jahat. Nah, karena dia terus-menerus mendapat label “jahat” dan mendapat berbagai hal yang tidak mengenakkan dari manusia, dia pun memutuskan untuk jadi jahat. Dia membunuh adiknya Victor, sahabatnya Victor, dan istrinya Victor. Sederhananya si Monster berpikir, “Buat apa gue berbuat baik kalau manusia sendiri tidak baik ke gue dan tidak menghargai gue?” Dan ini sudah aku tulis juga kok.

      Nah, semoga menjawab. Terima kasih sudah mau meluangkan waktu menulis komentar panjang. Sering-sering berkunjung ke blogku ini dan blogku yang satunya ya!

  2. Menarik resensinya. Jadi sedikit tahu cerita asli tentang Frankenstein. Selama ini saya cuma tahu Frankenstein dari satu episode di sebuah serial saja. Dan tentu saja agak berbeda dari cerita yang di novel ini, terutama soal hubungan Viktor dengan sang monster.

    Jadi penasaran baca novelnya. Terutama terkait soal sainsnya bagaimana Viktor “menghidupkan” sang monster tadi. Dibahas juga nggak ya dalam novel itu?

  3. Ping balik: Rekap Tahun 2017 | Blog Bukunya Kimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s