[Interview] Moer: Membaca adalah Sebuah Keperluan

Setelah satu bulan absen edisi interview datang lagi. Kali ini saya mewawancarai teman saya, Moerjanto Ali, lewat surat elektronik. Nama panggilannya Moer, by the way. Meski saya belum lama kenal dengan beliau, tetapi saya sudah bisa langsung tahu kalau Moer senang membaca. Karena itulah saya tertarik untuk mewawancarai beliau.

Baiklah. Sekarang mari kita langsung saja ke wawancaranya.

foto dokumentasi pribadi

1. Siapa yang pertama kali mengenalkan buku ke kamu dan mempengaruhi kamu untuk suka membaca?

Dari kecil emang doyan baca. Mungkin karena itu bapak kadang beliin majalah Bobo atau komik. Jarang sih, paling pas naik kelas aja (karena kere, hahaha…). Dulu ada tetangga punya koleksi majalah Bobo versi berjilid-jilid di-hardcover kayak ngeliat harta karun, tapi nggak kesampean punya sendiri, jadi cuma sering main ke itu tetangga buat numpang baca. O iya, baru-baru ini bapak cerita kalau dia jaman mudanya juga suka koleksi novel silat, meski nggak ada satu pun sisanya yang pernah saya liat. Saya baru tau itu. Saya cuma tau bapak dulu bacanya koran aja soalnya.

Jadi, meskipun beliau nggak pernah nyuruh apalagi maksa atau kasih nasihat bijak soal membaca, bapak yang pertama menyalakan api buat saya.

2. Siapa (saja) penulis favorit kamu? Menurut kamu, apa yang menjadi kelebihan/kekuatan mereka dalam menulis karya-karyanya?

Ahmad Tohari. Beliau buat saya salah satu penulis yang merakyat tanpa keliatan pretensius atau terlalu eksklusif nyastra. Mudah merasa dekat dengan tokoh-tokoh karangan beliau. Siapa lagi ya, Budi Darma. Sama Murakami paling, suka sama cara dia bikin karakter dengan kehidupan biasa aja sebetulnya, tapi bisa berada dalam keadaan yang aneh-aneh. Kayaknya banyak penulis yang bisa jadi favorit, cuma untuk bisa ke situ kok kalo baru baca satu dua karyanya belum afdol aja rasanya―juga, saya ini sebetulnya nggak banyak tau penulis jadi masih banyak yang harus digali.

3. Apa buku favorit kamu sepanjang masa? Kenapa kamu suka buku tersebut?

Berikut beberapa:
―Kubah (Ahmad Tohari)
―The Great Gatsby (F. Scott Fitzgerald)
―Slaughterhouse-Five (Kurt Vonnegut)
―Hard-Boiled Wonderland and the End of the World (Haruki Murakami)
―Beginilah Kondisi Manusia (T. Jacob)

Alasannya macem-macem. Kapan-kapan saya ceritain aja sambil ngopi di pinggir pantai sembari nunggu matahari terbenam ya. 😉

4. Kalau pertanyaan sebelumnya tentang buku favorit, sekarang buku apa yang paling tidak kamu suka? Biasanya apa yang menjadi alasanmu tidak menyukai suatu buku?

Buku-buku motivasi. Kalo fiksi paling buku-buku yang nggak bisa selesai saya baca, diksinya nggak nyantol atau terlalu kemana-mana, ya banyak sebab. Beda sama buku yang belum bisa selesai saya baca (karena belum mampu misalnya).

5. Menurut kamu, apakah kita perlu membatasi diri hanya membaca buku jenis tertentu atau sebaiknya kita baca semua jenis buku? Kamu sendiri paling suka baca buku genre apa?

Lebih sering baca fiksi. Kalo baca esei pasti bakal lebih lama, hahaha… selingan aja. Tapi ya orang gemar baca saya yakin apa juga bakal dibaca, nggak suka ya ditinggal, nanti akan dengan sendirinya tau buku jenis apa yang paling digemari. Yang penting minat bacanya selalu ada.

6. Apa saja yang menjadi pertimbangan kamu sebelum kamu memutuskan untuk membeli buku?

Buku-buku yang ada di daftar pencarian (biasanya yang jadul-jadul), atau baca sinopsis kalo nggak tau sama sekali, terus googling. Satu lagi, sampul, karena saya agak banci estetika soal sampul buku. Yang udah kebanyakan embel-embelnya (penulis ini, penerima penghargaan ini, kutipan komentar, terjual lebih sekian juta, bla-bla-bla…) kadang-kadang ngerusak selera buat nyomot, Buat saya sampul itu seni tersendiri untuk sebuah buku.

7. Kamu lebih pilih buku cetak atau ebook? Apa alasannya?

Cetak. E-book belum terbiasa baca berlanjut dari satu buku ke buku lain. Pernah jaman belum bisa sering beli buku unduh bajakan, baca di netbook berturut-turut (lebih lanjut pada pertanyaan no. 10). Sekarang buat selingan aja. Kalo lagi kepingin.

8. Menurut kamu, buku itu apa sih?

Buku itu harta. Baru-baru ini saya pergi ke luar kota dan harus tinggal di sana beberapa hari, karena nggak punya banyak barang biasanya apa-apa yang saya punya muat dalam satu tas yang nggak gede-gede amat. Kemarin itu ternyata udah nggak muat, ada perintilan yang kudu ditinggal supaya ada sela buat taruh barang sebiji buku. Lalu saya tengok buku-buku yang saya punya, terdiam, agak dramatis, cuma mereka harta dalam satu jenis yang saya punya segitu banyaknya (padahal nggak banyak-banyak amat), itu sudah harta buat saya. Dan sebagaimana halnya harta kemungkinan bakal bikin iri sama mereka yang punya lebih banyak atau lebih berharga. Ada seorang kawan yang punya koleksi buku menarik, peninggalan almarhum bapaknya. Saya iri sama itu rak tiap kali main ke rumahnya, dari jaman sekolah. Buku-buku tua. Ada satu buku yang berkali-kali saya rayu buat dihibahkan saking sukanya, Beginilah Kondisi Manusia-nya T. Jacob itu. Dia cuma ketawa-tawa aja, nggak pernah bilang nggak boleh secara gamblang. Tapi saya paham di dalam lubuk hatinya, buku-buku itu adalah harta peninggalan paling berharga buat dia.

9. Bagaimana pandanganmu terhadap orang-orang yang tidak suka membaca? Dan menurutmu bagaimana caranya supaya mereka gemar membaca? In grand scale, bagaimana caranya meningkatkan minat baca di Indonesia?

Wah serius amat yah. Saya cuma tau orang yang suka baca itu dari kecil pasti emang doyan baca, biasanya… Eh gini gini, selama ini yang lebih sering kedengaran kan membaca itu kegemaran; orang suka baca buku ya hobi baca buku. Gemar. Kutu buku. Ada label di sana. Dengan sendirinya. Nggak salah. Tapi membaca itu (yang paling penting) adalah sebuah keperluan. Baca itu perlu, karena makin banyak baca maka kita akan tau kalau kita nggak banyak tau, tentang banyak hal. Muter ya? Gitu lah pokoknya.

10. Bagaimana pendapatmu mengenai buku-buku bajakan dan ebook ilegal yang bertebaran di internet?

Nah ini… sebentar ta makan dulu ya.

****

Yang menarik itu pro kontra di beberapa kalangan yang menciptakan karya itu, ada yang mengikhlaskan, ada yang mendukung, ada yang nggak sudi. Tapi ya jaman internet begini. Buku. Musik. Film. Saya juga ada e-book unduhan gratisan kok. Sebagian besar Murakami itu dulu saya baca di netbook teman, minjem. Sebelum ada teman yang bisa dipinjami gadget buat baca, saya pernah cetak sendiri beberapa judul buku Ahmad Tohari. Di warnet teman. Malam hari. Ngumpet-ngumpet. Berlapis itu jahatnya, hahaha…

Tapi buat saya pribadi, selama mampu, beli. (Sekarang alhamdulillah sudah nda sekere dulu).

Kalo buku bajakan cetak mah jelas jahat sudah. Jangan dibeli!

11. Ada pesan untuk pembaca blogku mengenai buku dan hobi membaca?

I’m not good at that kinda thing, so just let me put some quotes here:

“Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca; sebuah kebahagiaan.”
―Goenawan Mohamad

Oke. Itulah wawancara saya dengan Moer. Semoga bermanfaat untuk teman-teman dan bisa membangkitkan semangat membaca kalian.

Iklan

One thought on “[Interview] Moer: Membaca adalah Sebuah Keperluan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s