#61 – The Puppeteer

Judul: The Puppeteer: Kisah Filosofis tentang Makna Keluarga
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penerbit: Mizan (Cetakan I, September 2017)
Halaman: 352
ISBN-13: 978-602-441-024-7
Harga: Rp 65.000,-
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Jakop Jacobsen adalah pria yang gemar datang ke pemakaman orang-orang asing. Untuk itu dia harus mengarang berbagai cerita bagaimana dia dan almarhum bisa saling kenal. Cerita yang dibuatnya sungguh meyakinkan dan siapapun yang mendengarnya tidak akan bertanya-tanya lagi. Sampai akhirnya dia terkena batunya dan dia tidak bisa lagi berbohong. Agnes yang berada di pemakaman yang sama memergoki Jakop telah berbohong. Namun, dengan kebaikan hatinya Agnes melindungi Jakop dari rasa malunya.

Terkesan dengan sikap Agnes, Jakop pun menceritakan kepada Agnes seluruh kisahnya, berbagai pemakaman yang sudah dia hadiri, berbagai cerita kebohongan yang dia buat, dan kisah hidupnya yang menyedihkan. Buku ini berisi surat-surat yang dia tulis untuk Agnes.

Barangkali kalian akan sebal dengan Jakop, dengan kebohongan-kebohongan yang dia buat, dengan kedatangannya yang tidak diundang di setiap acara pemakaman, tetapi tunggu sampai kalian bisa memahami kenapa Jakop sampai begitu.

Jakop kesepian. Hampir sepanjang usianya dia merasa sepi. Dia hidup bersama ibunya, sementara ayahnya jarang mengunjunginya. Sejak awal saya mendapat kesan Jakop merasa dia tidak diinginkan oleh ayahnya. Hal itu merusak kepercayaan dirinya. Dia tumbuh menjadi anak penyendiri dan tumbuh dengan perasaan, “Tidak ada yang mengerti diriku, tidak ada yang mau berteman denganku, tidak ada yang menginginkan diriku”, yang dibawanya sampai dia dewasa.

Sahabatnya hanya satu. Namanya Pelle Skrindo. Dengan Pelle, Jakop merasa begitu lepas dan bebas. Dia bisa bercerita apa saja dengan Pelle. Pelle memang menyenangkan. Dia senang berbicara. Pengetahuannya luas. Dia membuat orang lain bisa merasa nyaman dengannya. Pokoknya tidak ada yang bisa mengerti Jakop, selain Pelle. Tetapi, Pelle bukanlah manusia. Dia adalah sebuah boneka tangan.

Jakop memiliki Pelle sejak dia masih kecil. Jakop sangat menyayangi sahabat bonekanya itu. Bahkan sampai Jakop berusia 60an tahun (mungkin?) dia masih menyimpan sahabatnya itu. Hubungannya yang aneh dengan Pelle — menurut kebanyakan orang — membuat Reidun, istrinya, sulit menerima. Merekapun harus berpisah karena Pelle.

Mari kita fokus ke tokoh Jakop Jacobsen. Sejak awal saya sudah tertarik dengan dia. Kesepian hampir sepanjang usianya membuatnya mencari kehangatan keluarga di dalam kesedihan orang lain. Dia menikmati keberadaannya di tengah-tengah pemakaman. Mengamati mereka yang berduka, bergabung dengan mereka dalam percakapan, merasakan kehangatan dalam keluarga meskipun semu dan hanya sebentar tapi itu sudah cukup buat dia. Karena kehangatan keluarga itu tidak pernah dia rasakan.

Persahabatannya dengan Pelle juga unik menurut saya. Dia begitu menyelami perannya sebagai Pelle sehingga dia lupa kalau Pelle hanyalah sebuah boneka tangan. Dia menciptakan karakter dan beragam sifat untuk Pelle, yang mungkin sesungguhnya dia ingin memiliki karakter seperti Pelle yang ramah dan menyenangkan, membuat orang lain bisa merasa nyaman, dan Pelle juga pintar. Pelle lebih pintar dan lebih berwawasan luas ketimbang Jakop, by the way.

Hal menarik lainnya dari Jakop adalah dia pecinta berat bahasa. Dia mempelajari kekerabatan bahasa Indo-Eropa. Selain tentu saja dia belajar filsafat, teologi, dan etimologi. Cukup sering Jakop berceloteh tentang asal-muasal dari satu kata dan kekerabatannya dengan bahasa lainnya. Ini salah satu contohnya:

Gardell adalah sebuah nama dari Gotland yang sudah lama dan masih banyak dipakai di pulau itu. Di pertengahan 1700-an, Pendeta Lars Berthold Hallgren mengambil nama ini dari nama paroki Garde atau Garda, yang artinya “tempat yang dipagari”. Nama-nama itu, termasuk juga nama keluarga Norwegia Gaarder, secara etimologis berhubungan dengan kata Norwegia gård (kebun) dan gjerde (pagar), kata Jerman garten, kata Prancis dan Spanyol jardin, kata Italia giardino, dan kata Inggris garden, atau bahkan yard, seperti dalam kata courtyard, keduanya mungkin berasal dari kata akar Indo-Eropa yang sama *gher-, yang artinya “mencakup atau terpagari”. (hal. 237 – 238)

FYI, tentu saja memberikan karakter pecinta bahasa pada Jakop sangat menarik buat saya. Dan kredit pujian harus diberikan kepada penerjemah yang mampu menerjemahkan dengan baik buku ini dari buku aslinya, Dukkeføreren. Dua kalimat ini tidak berkaitan memang, tapi ya sudahlah. Biarkan saja.

Lalu, apa yang membuat Jakop sangat terobsesi dengan hubungan kekerabatan kata-kata? Itu ada alasannya tersendiri. Alasannya adalah:

Aku tidak punya hubungan kekerabatan jenis lain. Aku tidak punya keluarga besar lain yang bisa kukaitkan dengan diriku selain keluarga rumpun bahasa Indo-Eropa. (hal. 238)

See… Semakin mengenal Jakop semakin membuat saya merasa iba terhadapnya. Gaarder membuat saya berempati dengan Jakop. Gaarder menulis kisah Jakop yang merasa kesepian dan merasa sendiri tanpa membuatnya menjadi sebuah kisah yang cengeng dan murahan. Menurut saya Gaarder sukses menulis kisah kesendirian Jakop secara elegan.

Dan endingnya… Duh! Dengan ending menggantung seperti yang diberikan Gaarder membuat saya penasaran dan bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Jakop. Apalagi surat terakhirnya untuk Agnes bernada kepasrahan dan sedikit kekecewaan. Saya jadi menebak-nebak apakah Jakop…? Mari kita main tebak-tebakan. Silakan kalian isi sendiri titik-titiknya. 😛

Akhirul kalam, karakter Jakop mengingatkan saya pada seseorang, yaitu saya sendiri. Dulu. Sewaktu saya masih merasa, “Nobody wants to be my friend.”

Iklan

7 respons untuk ‘#61 – The Puppeteer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s