#63 – Candide

Judul: Candide
Penulis: Voltaire
Edisi: E-book (pertama terbit tahun 1759)
Halaman: 129
Harga: Gratis. Bisa dibaca di Bookmate atau unduh dari Project Gutenberg
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Candide tinggal di kastil mewah bersama pamannya yang juga seorang Baron di Westphalia. Hidupnya saat itu sangat enak dan nyaman. Semua kebutuhannya tercukupi. Dia dan sepupunya mendapat pendidikan dari gurunya, Pangloss. Diam-diam dia jatuh cinta dengan sepupunya yang cantik jelita bernama Cunegund.

Dia harus mengucapkan selamat tinggal pada hidupnya yang nyaman tersebut setelah dia ketahuan oleh pamannya kalau dia dicium Cunegund. Dia diusir dari kastil dan sejak saat itu hidupnya terus dirundung kemalangan. Dia dipaksa jadi tentara dan dipukul sampai hampir meninggal. Kemudian dia berhasil kabur, diselamatkan oleh James, lalu bertemu dengan guru idolanya yang ternyata kena sifilis.

Kemalangannya tidak hanya berhenti di situ. Setelah menyelamatkan Pangloss, mereka bertiga (Candide, James, dan Pangloss) ke Lisbon. Dalam perjalanan tersebut, kapal mereka terkena badai dan James tenggelam. Begitu sampai di Lisbon, gempa memporakporandakan kota tersebut. FYI, gempa di Lisbon ini benar-benar terjadi di tahun 1755. Gempa yang kemudian disusul dengan tsunami dan kebakaran hebat ini menewaskan 100ribu orang penduduk Lisbon.

Candide dan Pangloss selamat, namun mereka ditangkap. Pangloss dihukum gantung dan untungnya Candide berhasil kabur. Di tengah pelariannya dia kembali bertemu dengan Cunegund yang menjadi wanita simpanan. Candide membunuh dua pria yang “memelihara” Cunegund. Berdua mereka kabur untuk pada akhirnya kembali berpisah.

Percayalah kisah kemalangan Candide masih panjang. Setelah dari Lisbon, Candide pergi ke Buenos Aires, lanjut ke El Dorado, dan terakhir ke Constantinople. Di sepanjang perjalanan tersebut kemalangan tidak putus dan Candide ternyata seorang pria muda yang naif. Menghadapi semua musibah yang menimpanya dia selalu teringat akan ajaran Pangloss bahwa Tuhan selalu memberikan yang terbaik. Bahwa dunia ini adalah yang terbaik.

Membaca Candide yang begitu naif dan selalu khawatir dengan apa komentar Pangloss, membuat saya jadi kesal sendiri dengan Candide dan Pangloss. Pengaruh Pangloss begitu besar pada Candide. Candide semacam tidak punya pendirian dan sepertinya sangat bergantung juga percaya pada Pangloss.  Kenaifan dan kepolosannya itu juga yang turut andil dalam musibah yang menimpa Candide, salah satunya di mana dia ditipu berkali-kali.

Sementara Pangloss, sebagai penganut Leibnizian optimism, ternyata bisa bikin saya ingin keplak kepalanya Pangloss. Jadi orang ya jangan gitu-gitu amat kali berpikir positifnya, Bapak Pangloss.

Untunglah ada Martin sebagai karakter penyeimbang untuk Pangloss. Kalau Pangloss terlalu optimis, maka Martin sangat skeptis dan negatif. Dia menjadi seperti itu karena pengalaman hidupnya yang penuh dengan kepahitan.

Sebenarnya berhadapan dengan orang yang terlalu getir itu juga tidak enak, namun dengan hadirnya Martin ini seperti selayaknya sebuah penyegaran setelah jengah dengan segala macam optimisme dari Pangloss. Martin datang untuk menyadarkan Candide kalau hidup itu tidak seindah, sesempurna, atau yang selalu Pangloss sebut-sebut sebagai all is for the best atau best of all possible worlds.

Voltaire mengkritik Leibnizian optimism melalui Martin. Menurut Leibniz, semua yang terjadi di dunia ini sudah ditentukan oleh Tuhan. Oleh karena itu, apa yang ditentukan oleh Tuhan tentunya sudah merupakan yang terbaik. Contohnya, Pangloss sebagai hardcore fan dari Leibniz masih dapat mencari sisi positif kenapa dia terkena sifilis. Menurutnya, meskipun Columbus kembali ke Eropa membawa Sifilis dari New World, dia juga membawa makanan baru dari sana, seperti cokelat, tomat, dan jagung, yang dapat mereka nikmati sekarang. Hah! Cokelat memang enak sih, tetapi kalau harus dibayar dengan membawa wabah sifilis ke Eropa pada saat itu dan kemudian menyebar ke seluruh dunia, ya bagaimana juga ya…

Alur cerita Candide berjalan cepat. Bukunya tipis dan terjemahan bahasa Inggrisnya mudah dipahami. Bisa selesai dibaca dalam waktu singkat. Namun, dalam buku tipis ini banyak cerita dan plot. Kalau tadi kita sudah bahas sekilas tentang kritikan pada Leibniz optimism, di novela ini kita juga akan menemukan kritikan Voltaire pada agama, perbudakan, dan perang. Isinya juga penuh dengan penderitaan yang sepertinya tidak habis-habis, seperti pemerkosaan, penyiksaan, pembunuhan, kekuasaan yang sewenang-wenang.

Ada yang menyebut Candide sebagai cerita yang penuh dengan dark humor. Meski suram begitu, tetapi Candide ditulis dengan gaya yang menyenangkan sehingga tidak terasa aura suram dan negatif.

Ada satu bagian yang meninggalkan kesan sangat mendalam buat saya. Yaitu ketika Candide dan Cacambo memasuki sebuah kota setelah dari El Dorado, mereka melihat seorang pria Negro yang berbaring di tanah dengan kain separuh yang membalut tubuhnya dan pria tersebut tidak punya kaki kiri dan tangan kanan. Ketika Candide bertanya apa yang terjadi dengannya, pria tersebut menjawab:

“… It is the custom here. They give a linen garment twice a year and that is all our covering. When we labor in the sugar works, and the mill happens to snatch hold of a finger, they instantly chop off our hand; and when we attempt to run away, they cut off a leg. Both these cases have happened to me, and it is at this expense that you eat sugar in Europe …”

Kan brengsek banget ini sindirannya!

Dengan cerita yang penuh dengan tragedi dan pesimisme begini, apakah Candide betul-betul tidak ada hal positif yang ingin disampaikan? Kalau kata John Green di Crash Course Literature episode #405 Candide sih ada:

And yet I don’t think Voltaire is arguing for mere pessimism. Like, the old woman, a companion of Cunegund’s tells a really harrowing life story, which climaxes with one of her buttocks being cut off. Because of course it does. But, she ends it, “I have wanted to kill myself 100 times, but somehow I am still in love with life.”

Pesan yang ingin disampaikan wanita tua tersebut adalah penderitaan yang datang bertubi-tubi jangan sampai membuat kita membenci kehidupan. Masih banyak hal kok yang dapat kita nikmati dari hidup ini. Sebenarnya bisa juga diartikan seperti itu atau bisa saja kan wanita tua tersebut takut mati sehingga dia tidak bisa menikmati apa-apa lagi begitu dia mati? Kalian bisa menangkap poin yang ingin saya sampaikan? Heuheu.

Pesan lainnya adalah kalau kamu merasa kamu makhluk paling malang di dunia ini, percaya deh masih ada orang lain di luar sana yang jauh lebih malang daripada kamu. Tips dari saya kalau kamu sedang merasa terpuruk banget coba deh kalian lakukan downward social comparison, yaitu cari orang lain atau baca berita yang punya cerita jauh lebih menyedihkan dari masalahmu. Semoga dengan begitu kalian bisa menjadi lebih bersyukur dan menjadi lebih baik.

Ngomong-ngomong, ini video lengkapnya:

Semakin mendekati akhir cerita, kita akan bisa menemukan pesan moral yang ingin disampaikan Voltaire. Di akhir cerita, semua tokoh dikumpulkan oleh Voltaire. Mereka membeli kebun, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa lagi. Setelah sempat selama beberapa waktu Candide kembali galau filosofis, Candide akhirnya memutuskan untuk merawat kebun mereka. “Neither need you tell me that we must take care of our garden.” Oleh Pangloss dan Martin dijawab:

“You are in the right,” said Pangloss, “For when man was put into the garden of Eden, it was with an intent to dress it; and this proves that man was not born to be idle.”

“Work then without disputing,” said Martin. “It is the only way to render life supportable.”

Setelah Candide ke sana ke mari, ditimpa berbagai musibah, galau tentang kehidupan, akhirnya dia bisa berpikir sederhana dengan mengajak teman-temannya untuk, “Let us cultivate our garden.”

Tentunya kalimat tersebut bukan berfungsi hanya sebagai penutup kisah ini, tetapi juga sebagai sebuah bahan renungan. Kembali saya mengutip dari John Green:

“It’s the ‘our garden’ that’s the important part. Like we should stop worrying about everyone else’s garden. And I guess that seems sensible enough. A lot of people would probably feel better if instead of worrying sick themselves about the problem of evil in their lives, and in other people’s lives, they just grew some tomatoes and worked in their embroidery.

“… but most of the suffering is inflicted not by a higher power but by humans upon one another. These humans rape and kill and disembowel each other, and growing tomatoes maybe a way of personally opting out of those social problems, but I’m not convinced it does much to fix them. 

“I guess Voltaire thinks those problems are unfixable, and that people will be evil no matter what, but should we succumb to that pessimism or should we try to work to change and improve this-not-yet-best-of-all-possible-worlds? Is it enough to tend your own garden, or do we have a responsibility to help our neighbors tend their gardens as well? I don’t know. But, I do think at least we share our vegetables.”

Tentang Candide

Candide ditulis Voltaire dari Juli hingga September 1758 dan diterbitkan di tahun 1759. Pada awalnya Candide diterbitkan dengan tidak menuliskan nama Voltaire sebagai pengarangnya. Ia diterbitkan secara anonim. Mengingat isinya yang satir dan penuh sindiran juga kritikan di sana-sini tidak heran kalau Voltaire tidak ingin namanya ditulis sebagai penulis Candide. Pengalamannya dipenjara selama hampir setahun di Bastille karena menuduh Raja yang melakukan inses dengan putrinya, cukup membuatnya tidak ingin kembali ke sana.

Novela ini mengambil beberapa peristiwa sejarah sebagai latar ceritanya, seperti gempa di Lisbon yang terjadi di tahun 1755 dan respon dari Inquisition terhadap bencana alam tersebut, yaitu dengan mengejar para kafir untuk dihukum gantung atau dibakar. Auto-da-fé ini dilakukan untuk mencegah supaya tidak terjadi lagi gempa berikutnya.

Peristiwa lainnya, antara lain Perang Tujuh Tahun antara Inggris dan Perancis, eksekusi Admiral Byng, dan misi pendeta Jesuit di Portugal yang patut dipertanyakan. Mengutip dari sini:

Equally of the moment was the question of the Jesuit missions in Paraguay – and whether the priests, by wielding civil as well as religious authority, had created an earthly paradise or yet another squalid terrestrial dictatorship.

Tulisan panjang resensi kali ini memiliki tujuan utama yang ingin saya sampaikan: menulis satire itu tidak mudah dan Candide merupakan sebuah satire yang sangat keren! Voltaire memang sangat jenius dalam menulis satire. Bagi kalian yang tertarik ingin menulis satire, belajarlah kalian pada Voltaire.

Iklan

5 respons untuk ‘#63 – Candide

  1. bahkan saya tidak tahu jenis novela satir itu apa, saya bukan penikmat novel, tapi saya salut denganr esensinya dibahas sangat dalam dan tuntas.

    Membaca resensi ini cukup memberikan gambaran bagaimana novel tahun 1759 masih sangat cocok dibaca oleh penikmat novel zaman sekarang. Dengan menukilkan cerita yang terjadi pada saat dulu, tentu bagi yang membaca sekarang merupakan sejarah,

  2. Wow, detail sekali resensi ini. hehehe. Belakangan saya lagi suka cari-cari buku klasik, kayaknya yang ini boleh masuk list. Btw, bookmate itu semacam aplikasi kah? baru denger soalnya.

    salam kenal yah 🙂

    1. Hi, Mbak Mela. Salam kenal juga. Terima kasih sudah mau mampir dan meninggalkan komentar. Btw, Bookmate itu aplikasi membaca di hp. Dia tersedia di Android, Windows, dan iOS. Kita bisa berlangganan gratis ataupun yang berbayar. Tentunya yang berbayar buku-buku yang tersedia lebih banyak, tetapi yang gratisan pun sudah bisa baca banyak buku bagus kok. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s