#66 – 9 dari Nadira

Judul: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, 2009)
Halaman: xi + 270
ISBN-13: 978-979-91-0209-6
Harga: Gratis dengan meminjam di iPusnas
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Suatu pagi Nadira menemukan ibunya, Kemala Yunus, terbujur kaku. Tubuhnya membiru dengan busa yang keluar dari mulutnya. Di dekatnya ditemukan obat-obatan.

Kematian Kemala yang begitu mendadak dengan cara yang mengejutkan pula membuat satu keluarga tersebut sangat terpukul dan berduka dengan caranya masing-masing. Bram Suwandi, sang suami, harus mengalami depresi karena ditambah permasalahan dia dipensiunkan secara halus di kantornya. Yu Nina–kakak pertama Nadira–menangis meraung-raung, lalu pergi ke Amerika. Kang Arya–kakak kedua Nadira–mungkin terlihat tegar, tetapi kemudian dia menyepi ke hutan bertahun-tahun untuk mengobati kesedihannya. Sementara Nadira, si bungsu yang sangat mencintai dan mengagumi ibunya, butuh waktu bertahun-tahun pula (empat tahun tepatnya) untuk keluar dari kolong meja kerjanya dan mulai menata diri. Selama ini dia membangun kemah di sana, tidur di sana, dan mengabaikan kebutuhan untuk mengurus diri.

Tidak cukup dengan pembukaan yang kelam, Leila melanjutkan ceritanya dengan cerita-cerita yang tidak kalah kelamnya. Hubungan yang naik-turun antara Yu Nina dan Nadira, proses berduka yang berat dan tidak mudah untuk dilalui oleh Nadira, sebuah pengorbanan yang berakibat kehilangan eksistensi diri, kisah cinta yang tak tersampaikan, dan kisah cinta yang tersakiti oleh pengkhianatan. Seolah-olah ingin menyampaikan bahwa semua yang menjadi tokoh di dalam cerita ini tidak henti-hentinya dirundung oleh berbagai masalah. Bagaimana mereka harus bertahan dari segala macam beban psikologis yang berada di pundak mereka.

Meski Nadira adalah tokoh sentral dalam cerita ini, saya juga merasakan tokoh-tokoh lain punya karakter yang tidak kalah kuat dengan Nadira. Misalnya, Yu Nina dan Utara Bayu. Karakter Yu Nina digambarkan sebagai anak tertua yang harus bertanggung jawab dalam segala hal. Ada kebutuhan dalam dirinya untuk diakui oleh orang lain dan itu membuat dirinya iri dengan Nadira, yang sejak kecil sudah dibangga-banggakan oleh bapaknya. Sementara Utara Bayu, pria tampan dan sukses, tapi lemah begitu dihadapkan dengan Nadira. Karakter ini yang selalu setia menemani Nadira dan membuat kita jatuh iba ketika Nadira sedikitpun tidak menyadari perasaan Tara. Tidak hanya iba, tetapi juga membuat kita kesal dan geregetan sendiri karena bagaimana mungkin pria dewasa seperti Tara memiliki kesulitan dalam menyampaikan perasaan?

Dengan begitu banyaknya tokoh yang bermasalah, ada satu tokoh yang cukup menghibur. Dia adalah Kang Arya. Kang Arya semacam menawarkan air kepada kita untuk melepas dahaga setelah cukup lelah berinteraksi dengan tokoh-tokoh yang gelap dan berjuang dengan dirinya sendiri. Kang Arya menghibur kita dengan cerita kenakalan-kenakalannya sewaktu dia remaja. Untuk kemudian dia menjelma menjadi pria pelindung keluarganya, terutama Yu Nina dan Nadira. Kang Arya berusaha melindungi mereka dari pria-pria yang hanya dapat memberikan rasa sakit kepada dua wanita yang dia sayangi.

9 dari Nadira merupakan sebuah kumpulan cerita pendek yang terdiri dari sembilan judul cerita:

  1. Mencari Seikat Seruni
  2. Nina dan Nadira
  3. Melukis Langit
  4. Tasbih
  5. Ciuman Terpanjang
  6. Kirana
  7. Sebilah Pisau
  8. Utara Bayu
  9. At Pedder Bay

Cerita-cerita ini dibuat dalam rentang waktu yang cukup panjang. Misalnya saja “Nina dan Nadira” yang ditulis antara Mei 1992 – September 2009. Meski disebut sebagai kumpulan cerpen, tetapi saya melihatnya sebagai satu kesatuan cerita yang utuh. Antara satu cerita dengan cerita yang lain terdapat jembatan yang menghubungkan. Jembatan itu bernama Nadira dan dia adalah tokoh utama dalam cerita ini. Oleh karena itu, menurut saya, akan agak sulit jika membacanya tidak secara runut.

Dari kesembilan cerita yang ada, “Utara Bayu” dan “At Pedder Bay” adalah favorit saya. Dua cerita yang membuat saya harus menahan sakit dan kecewa. Tara akhirnya memutuskan untuk berhenti berharap dan mengucapkan selamat tinggal pada seseorang yang tidak pernah ia miliki dan Nadira akhirnya menyadari bahwa selama ini dia menyediakan tempat di hatinya untuk Tara.

“Kang Arya benar, di dalam hati kecilku, aku menyimpan sebuah tempat untuk Tara… Mungkin selama ini aku terlalu sibuk mencari lilin, mencari obor… Hidup ini selalu saja gelap, Kang. Aku mencari dan mencari, hingga ke Pedder Bay… Hingga ke ujung bukit Victoria. Dan tiba-tiba aku baru menyadari, di mana pun aku berada, selalu ada Tara.” (hal. 267)

 

Iklan

Satu respons untuk “#66 – 9 dari Nadira

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s