#68 – East of Eden

Judul: East of Eden (Sebelah Timur Eden, buku 1 dan 2)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2018)
Halaman: 528 + 632
ISBN: 978-602-038-683-6 (Digital, buku 1) dan 978-602-038-684-3 (Digital, buku 2)
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Salinas Valley terletak di California Utara. Ini adalah tempat kelahiran Steinbeck. Di bab 1 dia mendeskripsikan Salinas Valley sebagai berikut:

Lembah ini panjang dan sempit, di antara dua deret pegunungan, Sungai Salinas mengalir berkelok-kelok dan melingkar di tengah-tengahnya, sampai akhirnya terjun ke Teluk Monterey. (hal. 11)

Deskripsi masih terus berlanjut. Bagaimana dia masih ingat nama rumput dan bunga-bunga rahasianya, pegunungan di lembah timur yang selalu ceria, sungai-sungai kecil mengalir dari kedua ngarai-ngarai bukit dan jatuh ke dasar Sungai Salinas. Deskripsi yang sangat detil dan indah membuat kita dapat membayangkan seperti apa rupa Salinas Valley, yang awalnya dihuni oleh orang Indian, ras hina yang tidak mempunyai tenaga, kreativitas, atau budaya, untuk lalu diusir oleh orang Spanyol, yang keras dan sinis. Mereka datang dan menjelajah, tapi mereka tamak mencari emas atau Tuhan. Lalu, datang orang Amerika, lebih serakah karena jumlahnya lebih banyak. Mereka merebut tanah dan merombak hukum. (hal. 17 – 19)

Kisah East of Eden terentang antara pertengahan abad ke 19 sampai menjelang akhir Perang Dunia I. Sebuah kisah melibatkan dua keluarga, yaitu keluarga Hamilton dan keluarga Trask, dan lintas generasi. Pertama sekali Steinbeck mengenalkan keluarga Hamilton kepada kita. Samuel Hamilton adalah sosok orang bijak. Dia pintar, selalu riang, dan berhati baik. Ketika orang-orang sudah beramai-ramai mencaplok tanah subur di Salinas, Hamilton kebagian sisa tanah yang tandus. Tidak ada mata air. Tanahnya tidak bisa digunakan untuk bercocok tanam. Keluarga Hamilton miskin, tetapi mereka bisa bertahan hidup. Suami-istri Hamilton malah bisa dibilang cukup berhasil membesarkan anak-anaknya.

Lalu, ada keluarga Trask. Adam Trask datang ke Salinas membawa istri, Cathy, yang baru dinikahinya dan uang melimpah yang baru diwarisinya dari ayahnya. Di sana dia membeli tanah subur berhektar-hektar. Dia sudah membangun impian. Bersama istrinya dan anak-anak mereka kelak, mereka akan mengelola tanah pertanian itu. Sayang, impian itu hanya tetap menjadi sebuah impian Adam semata karena Cathy tidak memiliki visi yang sama dengan Adam.

Saya akan berhenti merangkum plot cerita sampai di situ. Untuk mencegah spoiler, tentu saja. Sekarang mari kita masuk ke bagian di mana yang membuat buku ini sangat menarik buat saya.

Tentu saja yang menarik adalah ceritanya. Jika buku 1 dan 2 digabung maka tebalnya lebih dari 1100 halaman, tetapi itu tidak membuat saya keder dan jadi mundur. Sebaliknya, saya malah menjadi sangat terbawa ke dalam cerita. Saya ketagihan. Steinbeck menarik saya penuh untuk menikmati setiap konflik yang ada, meski harus membuat saya menjadi kesal dan sesak di beberapa tempat.

Steinbeck menceritakan ulang kisah perseteruan Cain dan Abel dua kali. Pertama, antara Adam dan Charles. Kedua, antara Aron dan Caleb. Kisah keduanya berakar dari rasa cemburu dan kecewa ditolak oleh orangtua. Charles cemburu setengah mati pada Adam karena menurutnya ayah mereka lebih menyayangi Adam ketimbang Charles. Charles, yang bertubuh besar dan kekar, pernah sampai ingin membunuh Adam. Dia menghajar Adam habis-habisan. Sementara Caleb yang iri dengan Aron, berusaha untuk memenangkan hati Adam Trask, untuk kemudian menyadari bahwa Adam lebih menyukai Aron. Caleb membalasnya dengan memberitahu Aron sebuah rahasia yang membuat Aron terlalu kaget untuk menerima. Dia pergi dari rumah, menjadi tentara, lalu mati.

Tidak banyak kebahagiaan yang diberikan oleh Steinbeck di East of Eden. Lewat novel ini Steinbeck mengajarkan kita kepahitan. Bahwa meski kita sudah menjadi manusia baik dan penuh cinta, akan ada kalanya kita bersinggungan dengan orang yang tidak punya hati, selayaknya monster jahat. Seperti, Adam yang mencintai Cathy sepenuh hati, namun harus menerima kenyataan bahwa Cathy merupakan sesosok manusia tanpa hati. Cathy tidak punya perasaan. Dia adalah contoh manusia yang sangat, sangat jahat. Tidak memiliki kompas moral. Dia sangat licik dan manipulatif. Tidak ada rasa segan baginya menghalalkan segala cara untuk mendapatkan tujuan hidupnya. Dia tidak percaya orang lain. Dia hanya percaya dirinya sendiri. Cathy is a pure evil. She destroys everything that she touches.

Jadi, ketika Cathy menembak bahu Adam dan meninggalkan dua anak kembar yang baru dilahirkannya, Adam tidak pernah pulih dari rasa duka. Dia tenggelam dalam kenestapaan yang dia ciptakan sendiri. Adam terlalu naif. Dan itu membuatnya, in some sense, menelantarkan Aron dan Caleb. Untung ada Hamilton dan Lee yang masih bertahan untuk menyadarkan Adam dari kekeliruannya.

Selain cerita menarik, East of Eden memiliki karakter yang ada sangat matang pengembangannya. Ada Cathy yang sangat murni jahatnya. Ada Aron sebagai antitesis dari Cathy. Aron adalah sosok manusia sempurna. Ada Caleb yang terombang-ambing antara baik dan jahat. Ada Adam yang naif. Dan ada Samuel juga Lee sebagai tokoh bijak dan penuh filosofi. Karakter-karakter yang lain pun cukup unik, seperti istri Samuel dan anak-anak mereka, juga Abra. Mereka diberikan ruang yang cukup oleh Steinbeck untuk menjelaskan karakter seperti apa mereka sebenarnya.

East of Eden sarat penuh renungan filosofis. Ia tidak hanya memberitahu kita bahwa terkadang manusia tidak punya pilihan (maksudnya Cathy yang tidak bisa menjadi manusia baik. She was born that way. She didn’t choose. She couldn’t choose), bahwa shit happens and you just need to suck it up and move on with your life, bahwa dalam perjalanan hidup kita akan bertemu dengan orang-orang jahat dan kita harus mempersiapkan diri, dan bahwasanya hidup itu tidak selamanya indah dan penuh dengan gula-gula.

Akhirul kalam, saya sangat menikmati East of Eden. Sampai tulisan ini dibuat novel ini adalah buku terbaik di 2019 yang saya baca. Memang terlalu gelap di sana sini, yang anehnya justru membuatnya sangat menawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s