#74 – Laut Bercerita

36393774._sx318_Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, Oktober 2017)
Halaman: x + 379
ISBN: 978-602-424-694-5
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Asmara adikku, 

Saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang.

Ini sebuah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan. (hal. 364)

Laut Bercerita berkisah tentang mereka yang dihilangkan dan keluarga mereka yang harus berjuang karena kehilangan. Sebanyak 22 aktivis, yang dianggap terlalu berani melawan kediktatoran, diculik. Sembilan orang kembali, sementara tiga belas orang lainnya belum (atau bahkan tidak) kembali. Mereka hilang begitu saja, termasuk Biru Laut.

Perkenalan Laut dengan dunia aktivis dimulai ketika dia menjadi mahasiswa di UGM. Di sana dia banyak bertemu dengan teman-teman mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah. Di kampus Laut bergabung di organisasi Winatra yang berafiliasi dengan Wirasena. Bersama mereka, Laut belajar untuk berani bersuara. Mereka cukup vokal memprotes ketidakadilan yang dialami rakyat. Akibatnya, mereka menjadi target operasi.

Di tahun 1998 Winatra dan Wirasena dicekal dan dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Anggotanya diburu. Laut dan teman-temannya terpaksa harus bersembunyi dari satu kota ke kota lain. Mereka selalu berganti nama dan menyamar. Intinya, hidup mereka tidak pernah bisa tenang karena harus selalu waspada.

Sayang sekali tempat persembunyian mereka berhasil diendus aparat. Laut bersama teman-temannya diciduk. Mereka dibawa ke suatu tempat. Di sana mereka disekap dan disiksa selama berbulan-bulan. Mereka disetrum, dipukuli, matanya digigit semut rang-rang, disuruh berbaring di atas balok es selama berjam-jam, dan berbagai macam siksaan lainnya harus mereka terima.

Sang Penyair, sosok yang dikagumi Laut, pernah menyelipkan sebait puisi yang diselipkannya ke dalam buku tulis bersampul hitam. Itu adalah hadiah darinya untuk ulang tahun ke-25 Laut. Bait puisi itu berbunyi:

Matilah engkau mati
Kau akan lahir berkali-kali…

Tetapi, hari itu Laut akan mati dan dia tidak tahu apakah dia bisa bangkit.

Setelah separuh awal buku kita mendengar cerita Laut, di separuh akhir buku saatnya Asmara Jati bercerita. Asmara adalah adik perempuan Laut. Meski mereka cukup bertolak belakang dari segi minat, tetapi hubungan mereka sangat dekat. Laut sangat idealis. Dia juga mencintai sastra. Sementara Asmara lebih pragmatis. Kecintaannya terhadap ilmu biologi membawanya ke fakultas kedokteran.

Di dalam cerita Asmara kita akan mendengar kesedihan keluarga, teman, dan kekasih. Tidak adanya kabar berita membuat mereka merana. Mereka ingin kepastian nasib dari orang-orang yang mereka kasihi. Kalau mereka masih hidup, tolong, kembalikan mereka. Kalau mereka memang sudah mati, tolong, beritahu di mana mereka dikubur. Akan kami berikan pemakaman yang layak untuk mereka.

Kehilangan orang yang disayang, apalagi sengaja dihilangkan, memang tidak mudah. Asmara bercerita bagaimana kedua orangtuanya dan Anjani, kekasih Laut, masih menolak kenyataan bahwa besar kemungkinan Laut sudah tidak ada lagi. Setiap akhir pekan, orangtua mereka tetap menjalani ritual keluarga mereka, yaitu memasak tengkleng. Empat piring tetap disajikan di atas meja. Mereka berharap tiba-tiba Laut mengetuk pintu dan langsung ikut makan bersama. Sementara Anjani sudah tidak memedulikan dirinya lagi. Badannya tidak terawat. Rambutnya kusut, kukunya menghitam. Semangat hidupnya redup. Seolah-olah waktu terhenti ketika Laut sudah tidak ada.

Asmara mau tidak mau harus berjiwa besar. Dia sudah kehilangan kakak, tetapi dia juga kehilangan orangtuanya. Asmara harus berlapang dada menerima perlakuan seolah-olah dia diabaikan oleh kedua orangtuanya sendiri. Ketika ibunya mengeluh, “Kamu tak akan tahu beratnya kehilangan anak.” Asmara meluapkan emosinya.

“Aku juga kehilangan abangku, Bu. Mas Laut adalah kakak yang sangat dekat denganku.” Aku mulai tak tahan dan tersinggung dengan ucapan Ibu. “Aku juga kehilangan Bapak dan yang Ibu perlu tahu, aku juga kehilangan Ibu.” (hal. 362)

Ketika membaca Laut Bercerita saya menjadi teringat salah satu peristiwa kelam di negara ini. Peristiwa di tahun 1998 ketika rezim Orde Baru mendekati akhir menjadi puncak konflik dalam cerita. Banyak aktivis diculik, banyak yang tidak kembali.

Laut Bercerita memang tentang peristiwa tersebut. Seperti yang ditulis Leila di “Ucapan Terima Kasih”-nya:

Ide untuk menulis mereka yang dihilangkan lahir pada tahun 2008 ketika saya meminta Nezar Patria untuk menuliskan pengalamannya pada saat diculik Maret 1998. Saya meminta dia menulis sepenuh hati dan jujur lengkap dengan perasaannya. Hasilnya, sebuah artikel berjudul “Di Kuil Penyiksaan Orde Baru” yang dimuat dalam Edisi Khusus Soeharto, Tempo, Februari 2008 adalah tulisan yang nyaris tanpa penyuntingan. Sebuah cerita yang jujur bagaimana seorang anak muda dan kawan-kawannya, yang mengalami horor penyiksaan dari hari ke hari karena mereka dianggap menggugat Indonesia di masa Orde Baru yang nyaris tanpa demokrasi. (hal. 374)

Tokoh-tokoh di Laut Bercerita terinspirasi dari tokoh-tokoh yang ada. Ada Nezar Patria, Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Munir, hingga Wiji Thukul. Jika Biru Laut merupakan pengembangan karakter dari Nezar Patria (ini asumsi saya), maka Wiji Thukul adalah Sang Penyair.

Untuk menulis novel ini, selain Nezar, Leila juga mewawancarai Rahardja Waluya Jati, Mugiyanto Sipin, Budiman Sudjatmiko, Andi Arief, Wilson Obrigados, Tommy Aryanto, Robertus Robert, Ngarto F, Lilik H.S, Usman Hamid, dan Haris Azhar. Meski ini adalah novel fiksi, Leila mengakui segalanya terinspirasi dari kisah yang mereka ceritakan pada Leila. “Tanpa mereka, novel ini tak akan bernyawa,” tulis Leila.

Iya, novel ini pada kenyataannya memang sangat bernyawa. Leila sangat apik meramu hasil wawancara tersebut (dan tentunya bersama dengan hasil risetnya yang lain) menjadi catatan kisah Biru Laut dan Asmara Jati. Dari sudut pandang mereka yang hilang, juga dari sudut pandang mereka yang kehilangan. Sama-sama menyakitkan. Ada pahit dan getir. Dan itu mampu memengaruhi mood saya sebagai pembaca. Untuk menulis resensi ini pun saya banyak mengambil jeda. Menarik nafas barang sejenak setelah cukup sesak harus mengingat-ingat kembali jalan cerita dari novel ini.

Novel ini menceritakan secuil sejarah kelam bangsa kita. Sudah 21 tahun sejak tahun 1998, tetapi tidak ada kejelasan apapun. Oleh karena itu, wahai pembaca yang budiman, izinkanlah Laut Bercerita sebagai pengingat untuk kita semua bahwa ada manusia-manusia hebat dan pemberani yang sampai sekarang tidak ada kabarnya. Bahwa ada keluarga mereka yang terus-menerus mencari jawaban sampai sekarang. Karena ini adalah kisah mereka. Dan kisah kita juga, sebagai bangsa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s