#77 – Samudra di Ujung Jalan Setapak

Judul: Samudra di Ujung Jalan Setapak
Judul asli: The Ocean at the End of the Lane
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Juli 2013)
Halaman: 264
ISBN: 978-979-22-9768-3
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Aku, narator kisah ini, mengendarai mobilnya menuju rumah lamanya yang telah berpuluh tahun tidak ada. Rumah tua itu dirobohkan dan digantikan dengan rumah baru. Setelah menatap sebentar rumah baru itu, dia melanjutkan perjalanannya.

Mobilnya menjauhi kota dan memasuki jalanan yang lebih sempit, lebih berangin, dan menjadi jalur setapak kecil. Jalan setapak itu berakhir di rumah pertanian Hempstock. Aku memarkirkan mobilnya di samping pekarangan. Dia bertanya-tanya masihkah keluarga Hempstock tinggal di sini?

Aku melintasi pekarangan, menuju pintu depan, dan mengetuk pintu rumah keluarga Hempstock. Ketika dia hendak berbalik pulang karena tidak ada jawaban, muncul wanita tua dari koridor. “Mrs. Hempstock?” sapa Aku. Aku dipersilakan masuk oleh Mrs. Hempstock.

Ketika Aku berdiri di koridor itu, tiba-tiba saja semua ingatan datang kembali. Padahal sebelumnya dia tidak ingat apapun terkait keluarga Hempstock. Ingatan itu membawanya kembali ke peristiwa lebih dari empat puluh tahun yang lalu ketika dia masih berusia tujuh tahun. Dia duduk di bangku di depan kolam bebek. Dia ingat itu bukan kolam bebek biasa. Itu adalah samudranya Lettie Hempstock, teman pertamanya yang melindunginya dan menyelamatkan nyawanya.

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah catatan Aku untuk mengenang peristiwa tidak biasa yang dialaminya. Kisahnya bermula dari Penambang Opal yang memutuskan bunuh diri di mobil ayah Aku. Dari kejadian itu dia berkenalan dengan Lettie Hempstock, anak perempuan berusia sebelas tahun. Lettie mengajaknya ke rumahnya. Aku juga berkenalan dengan ibu dan nenek Lettie.

Meninggalnya Penambang Opal ternyata membangkitkan makhluk ajaib yang membuat kekacauan di lingkungan mereka. Lettie harus membereskan makhluk tersebut agar lingkungan mereka menjadi tentram kembali. Kembali Lettie mengajak Aku untuk ikut menemaninya berpetualang mengalahkan si makhluk. Sungguh sayang karena sebuah keteledoran dari Aku, dia tanpa sengaja membawa makhluk tersebut ke dalam dunianya.

Makhluk tersebut, yang nanti kita ketahui sebagai kutu, menjelma menjadi wanita muda cantik bernama Ursula Monkton. Sosoknya menyebalkan sekali. Dia mirip-mirip Dolores Umbridge level menyebalkannya. Dia membuat hidup Aku merana. Mengancam Aku, membuat ayah Aku menghukum Aku secara fisik, intinya Aku dipenjara di rumahnya sendiri.

Saya baru saja menamatkan Samudra di Ujung Jalan Setapak untuk kedua kalinya tadi malam. Pertama kali baca dua tahun lalu dan saya terhipnotis dengan ceritanya. Bukunya sangat terasa aura magisnya. Sangat menyihir saya dengan intens ceritanya (begitu Ursula Monkton datang ke keluarga Aku) dan harunya (ketika Lettie mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan Aku). Membuat saya tidak bisa berkata-kata.

I was speechless and remained speechless for two years.

Buku ini sangat indah buat saya. Saking indahnya saya, yang biasanya selalu bacot ke mana-mana jika ketemu buku bagus, hanya bisa diam. Untuk membaca ulang pun saya tidak sanggup. Baru punya keberanian untuk baca lagi setelah dua tahun berselang. Kesan saya tetap sama: magis, indah, haru, menyihir.

Setelah membaca untuk kedua kalinya, saya memutuskan tidak bisa lagi untuk diam. Saya harus menyuarakan betapa indahnya novel ini. Kalian semua harus tahu. Karena itulah resensi ini dibuat.

Apakah kalian mau tahu apa yang membuat saya begitu terharu dengan cerita Samudra?

Pertama, setelah Lettie berkorban untuk Aku dan dia terluka begitu parah, dia harus tidur di dalam samudranya untuk menyembuhkan luka-lukanya. Tidak ada yang tahu pasti berapa lama. Bisa hanya sebulan. Atau bahkan berpuluh-puluh tahun. Atau mungkin Lettie tidak akan pernah keluar dari samudranya karena lukanya yang terlalu berat.

“Dia tidak mati. Kau tidak membunuhnya, burung-burung kelaparan itu juga tidak, walaupun mereka berusaha mencelakaimu lewat dirinya. Dia telah diserahkan kepada samudranya. Suatu hari, pada waktunya nanti, samudra itu akan mengembalikannya.” (hal. 237)

Kedua, ketika ibu Lettie mengantarkan Aku pulang, ibunya menghapus ingatan dan menciptakan memori baru. Dia menanamkan cerita kalau Aku diundang ke acara perpisahan Lettie yang sebentar lagi akan pindah ke Australia untuk tinggal bersama ayahnya.

Australia amat sangat jauh dari sini. Aku bertanya-tanya, berapa lama sampai Lettie kembali dari Australia bersama ayahnya. Bisa bertahun-tahun lagi, kurasa. Australia terletak di sisi lain dunia ini, melintasi samudra… (hal. 243)

Tanpa disadari Aku beberapa kali dia kembali ke peternakan Hempstock dan ke kolam bebek itu. Meskipun Mrs. Hempstock bilang bahwa Lettie yang memanggil Aku untuk datang, tetapi saya menangkapnya itu adalah gestur bahwa Aku merindukan sahabat pertamanya yang telah mengorbankan kehidupannya untuk Aku. Aku seperti membawa perasaan bersalahnya terus-menerus selama ini. Dia ingin menjenguk Lettie atau mungkin berharap Lettie sudah sembuh dan keluar dari samudranya sehingga dia bisa meminta maaf dan berterima kasih secara langsung. Atau, bisa jadi ada pertanyaan menggelayut di benak Aku, “Kenapa Lettie menyelamatkan nyawaku? Seharusnya dia tidak menyelamatkan aku. Ini salahku sehingga terjadi kekacauan begini.”

Tahu begitu berat beban rasa bersalah yang dipikul Aku membuat Mrs. Hempstock tua (nenek Lettie) dan Mrs. Hempstock muda (ibu Lettie) menghapus memori terkait peristiwa itu dan kapanpun ketika Aku datang ke peternakan keluarga mereka. Mereka kembali menanamkan memori bahwa Lettie baik-baik saja dan saat ini masih tinggal di Australia.

“Kalau nanti Lettie menulis surat dari Australia,” kataku, “tolong sampaikan salamku padanya.”

“Akan kusampaikan,” sahutnya. “Dia pasti senang kau ingat padanya.” (hal. 257)

Itu, buat saya, sangat pedih. Sama seperti ketika saya melihat ayah saya yang sudah kesusahan untuk mengingat dan pikun menjelang akhir hidupnya. Bahkan untuk mengingat beliau sudah sholat atau belum, lupa rakaat ke berapa, dan ada satu kata-katanya yang membuat saya terpaksa keluar dari kamar rumah sakit dan menangis, “Papa lupa bacaan niat sholatnya.” Sangat mengoyak hati.

Namun, saya paham kenapa keluarga Hempstock harus melakukan itu. Mereka ingin melindungi Aku agar bisa terus melanjutkan hidupnya dan melupakan rasa bersalahnya. Padahal mereka juga kehilangan, tetapi mereka tidak menyalahkan Aku. Mereka juga berjuang setelah Lettie pergi, tetapi mereka masih melindungi Aku dengan cara mereka. That was a selfless action. 

Samudra di Ujung Jalan Setapak adalah novel fantasi dewasa dari Neil Gaiman, tetapi menurut saya bagian dewasanya sangat sedikit. Ia dapat dibaca oleh siapa saja (tentu saja bagian dewasanya harus disensor. Disensor pun tidak akan menghilangkan esensi cerita). Terjemahan dari Tanti Lesmana juga sangat baik. Saya baca novel ini dalam bahasa aslinya dulu baru kemudian terjemahannya. Saya dapat menjamin bahwa terjemahannya sangat pas. Oh, iya, terjemahan dari judulnya juga terasa… poetic. Iya, gak sih? The Ocean at the End of the Lane diterjemahkan menjadi Samudra di Ujung Jalan Setapak. Rasa-rasanya kok puitis sekali dari judulnya saja ya?

Ngomong-ngomong, biasanya saya tidak pernah terlalu peduli dengan sampul buku, tetapi saya tidak dapat untuk tidak mengatakan bahwa sampul buku Samudra ini sangat bagus. Seperti merangkum garis besar ceritanya dalam sebuah gambar, yaitu seorang wanita yang tidur terlelap di dalam samudra.

Jadi, teman-teman semuanya, intinya adalah Samudra di Ujung Jalan Setapak ini termasuk dalam buku favorit saya sepanjang masa. Saya sangat menyarankan kalian untuk membacanya karena saya tidak mau merasakan pedih ini sendirian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s