#79 – A Game of Thrones

Judul: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books (cetakan I, 1996)
Halaman: 837
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Lord Eddard Stark dan anak-anaknya — Robb, Bran, dan si bastard, Jon — sedang dalam perjalanan pulang ketika mereka menemukan lima bayi direwolves. Induk mereka mati. Kecil harapan bagi bayi-bayi itu untuk bertahan hidup jika induk mereka mati. Lord Stark sudah memerintahkan untuk dibunuh saja, tapi Bran ngotot ingin merawat mereka. Jon, dengan penuh hormat, bilang ke ayahnya:

“Lord Stark, … there are five pups. Three male, two female.”
“What of it, Jon?”
“You have five trueborn children. Three sons, two daughters. The direwolf is the sigil of your House. Your children were meant to have these pups, my lord.”

Lord Stark mulai goyah. Pada akhirnya dia pun mengizinkan bayi-bayi direwolves itu dipelihara oleh anak-anaknya. Sebelum memberikan izin, dia bertanya ke Jon, “You want no pup for yourself, Jon?” Dengan bijaknya Jon menjawab:

“The direwolf graces the banners of House Stark. I am no Stark, Father.”

Dialog itu adalah kesan pertama yang berkesan buat saya terhadap Jon. Di usianya yang baru empat belas tahun, dia sudah bisa menempatkan posisinya. Jawaban itu juga menggambarkan karakternya yang cukup bijak di usianya yang masih remaja.

Kemudian ceritanya berlanjut. Lord Robert Baratheon jauh-jauh datang dari King’s Landing ke Winterfell untuk meminta Ned Stark menjadi Hand-nya, Bran jatuh dari jendela tower yang tinggi dan dia jadi cacat, Jon bergabung ke Night’s Watch, dan… masih panjang ceritanya.

Wajar saja kalau ceritanya panjang, bukunya tebal banget sampai lebih dari delapan ratus halaman. Jujur saja, saya agak lama membacanya karena ternyata cukup melelahkan juga membaca deskripsi dari Martin, terutama di bagian perangnya. Meski begitu, saya tetap menyukai A Game of Thrones. Sangat menyukai malah.

Buat saya, Martin jenius sekali bisa merancang cerita sekompleks ini; penuh dengan plot dan intrik. Jangan lupakan ceritanya yang juga gelap dan muram.

Dengan cerita kompleks seperti ini, otomatis Martin memerlukan banyak karakter dengan masing-masing kepribadiannya yang kompleks juga dan dia berhasil melakukannya. Kita bisa melihatnya dari sudut pandang delapan tokoh penting di buku ini. Martin menulis ceritanya dengan satu-bab-satu-karakter. Kita jadi tahu isi kepala Bran, Catelyn, Daenerys, Eddard, Jon, Arya, Tyrion, dan Sansa. Seperti yang sudah saya bilang sebelumnya, karakter mereka ini memang kompleks. Eddard yang sangat noble, Catelyn yang emosional dan bertindak gegabah, Jon yang merasa terasingkan, Tyrion yang bermulut tajam, cerdik, tapi cerdas.

Dari mereka, kita jadi berkenalan dengan tokoh-tokoh lain yang tidak kalah kompleks karakternya. Ada yang super licik, ada yang polos, keras kepala, jahat, dan manja. Itu membuat cerita ini menjadi semakin menarik. Saya tidak bisa benar-benar mencintai atau benar-benar membenci siapapun di sini. Contohnya, Sansa. Di awal-awal saya melihat Sansa ini sangat menyebalkan. Namun, seiring dengan berkembangnya cerita Sansa berubah. She had to play to the game well if she wanted to survive. Atau, Eddard. Kalau dilihat sekilas sih, dia ini luar biasa keren. Sangat noblefamily man, menjunjung tinggi kejujuran dan harga diri. Dia sangat keras kepala untuk itu yang membuat saya jadi kesal sendiri. Dia terlalu kaku dan tidak bisa ikut mengalir dalam permainan sehingga mengakibatkan nyawanya melayang. Dia sudah diingatkan oleh Cersei Lannister:

“When you play the game of thrones, you win or you die.”

Hal lain yang saya suka adalah Martin tidak segan-segan mematikan tokoh penting di ceritanya. Dalam hal ini saya akui Martin memang kejam. Saran saya dalam membaca buku ini jangan terlalu attached dengan salah satu karakter kalau tidak mau sedih nantinya.

Karena saya baru membaca bukunya setelah menonton serial televisinya, saya jadi baru tahu kalau anak-anak Stark (termasuk Jon) dan Daenerys ternyata masih remaja dan anak-anak. Beda di serial televisinya di mana saya perkirakan usia mereka 20an awal untuk Robb, Jon, dan Dany; anak-anak dan remaja untuk Sansa, Bran, Arya, dan Rickon. Saya jadi membayangkan betapa perihnya anak-anak ini harus mengalami rentetan peristiwa malang bertubi-tubi. Mereka dibikin cepat dewasa oleh Martin.

Dan yang menarik adalah sejak awal Martin tidak dengan terang-terangan memberitahu siapa tokoh utama di sini. Setidaknya itu menurut saya. Karena saya telat mengikuti ceritanya, baik di serial televisi maupun novelnya, sumpah saya tidak tahu kalau Jon adalah tokoh utamanya. Saya tadinya malah mengira bahwa Robb yang menjadi our hero and main protagonist. Ketika membaca novelnya, saya semakin tidak bisa menebak. Semuanya seperti mendapat tempat yang sama pentingnya.

Dengan cerita yang sekompleks ini seharusnya saya memberi nilai sempurna, tetapi tidak bisa. Karena saya sudah nonton serial televisinya dan saya harus jujur bahwa serial televisinya merebut kepuasan dan rasa penasaran saya. Maksudnya, saya sudah tahu jalan ceritanya dan itu membuat novelnya menjadi kurang menarik. Maafkan saya, Pak Martin.

Meskipun begitu, saya tetap mau mengucapkan terima kasih kepada George R. R. Martin. Terima kasih, Pak Martin, telah membuat cerita fantasi rumit, penuh intrik, keren, dan detil ini.

3 pemikiran pada “#79 – A Game of Thrones

  1. Ping-balik: #80 – A Clash of Kings | Blog Buku Kimi

  2. Ping-balik: #83 – A Feast for Crows | Blog Buku Kimi

  3. Ping-balik: #85 – A Dance with Dragons | Blog Buku Kimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s