#90 – Gadis-Gadis March

Judul: Gadis-Gadis March
Judul Asli: Little Women
Penulis: Louisa May Alcott
Penerjemah: Annisa Cinantya Putri, Widya Kirana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (Cetakan II, 2020)
Halaman: 378
ISBN13: 978-602-06-1027-6
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Mr. March sedang ikut berperang. Di rumah Keluarga March ada istrinya — Mrs. March — dan anak-anak mereka, yaitu Meg, Jo, Beth, dan Amy. Juga ada Hannah, asisten rumah tangga Keluarga March. Mereka dulu hidup mewah, tetapi sekarang mereka hidup sederhana karena Mr. March ditipu dalam urusan bisnis.

Meski mereka hidup miskin, tetapi mereka tetap bahagia. Rumah mereka sangat hangat karena dilimpahi cinta dan kasih sayang. Mereka punya satu sama lain untuk melewati segala masalah yang ada. Keseharian mereka sama seperti kebanyakan dari kita. Bermain, bersenda gurau, bertengkar, mengurus rumah.

Meg sangat mengayomi adik-adiknya. Jo tomboi, cuek, dan masih suka meledak-ledak. Beth punya perasaan yang peka. Sementara, Amy sedikit manja. Hubungan antara gadis-gadis March ini sangat dekat. Mereka saling menyayangi satu sama lain. Meg dan Jo yang berusia hampir 17 dan 16 tahun masih mau bermain dengan Beth dan Amy, yang masing-masing berusia 13 dan 12 tahun.

Mereka punya tetangga yang baik hati, yaitu Mr. Laurence dan cucu laki-lakinya, Laurie. Anak-anak perempuan itu juga sangat dekat dengan Laurie. Laurie ini seumuran dengan Jo. Para gadis March dan Laurie sering bermain bersama.

Novel ini ditulis lebih kurang 150 tahun yang lalu. Mrs. March cukup berpikiran progresif pada zamannya. Dia sangat mendukung anak-anaknya untuk berkembang dan menjadi yang terbaik yang mereka bisa. Dia tidak memaksa anaknya untuk segera menikah atau hanya terpaku pada urusan domestik.

“… Lebih baik menjadi perawan tua yang bahagia, ketimbang istri yang menderita, atau gadis-gadis yang tidak menjaga kehormatannya dan berkeliaran mencari-cari suami,” kata Mrs. March tegas. “… Ingatlah satu hal, anak-anakku, seorang ibu selalu siap menjadi tempat kalian menceritakan apa pun, seorang ayah menjadi sahabat, dan kami berdua percaya dan berharap bahwa putri-putri kami, menikah ataupun tidak, akan menjadi kebanggaan dan sumber kenyamanan hidup kami.” (hal. 160)

Selama membaca Gadis-Gadis March saya merasa diselimuti kehangatan. Ceritanya sederhana dan sungguh manis. Keluarga March ini sepertinya sempurna sekali. Orangtua yang sangat mendukung anak-anaknya dan hubungan adik-kakak yang dekat. Bikin iri saja.

Berhubung ceritanya sederhana dan masih relatable dengan keseharian kita, konflik ceritanya jadi tidak terlalu intens. Namun, ada dua konflik yang cukup penting. Pertama, saat Mr. March dan Beth sakit parah. Kedua, ketika Meg dilamar Mr. Brooke (tutornya Laurie).

Saat Mr. March dan Beth, keluarga mereka kalang kabut. Apalagi kondisi Beth yang sakit scarlet fever cukup gawat. Mereka takut sekali kalau Beth tidak dapat bertahan melawan demam itu. Beruntunglah mereka berdua sembuh dan dapat kembali ke tengah-tengah keluarga.

Ketika Mrs. March mau berangkat ke rumah sakit tempat Mr. March dirawat, dia menenangkan anak-anaknya dan memberi wejangan:

“… Bekerja merupakan hiburan yang ampuh.” (Mrs. March, hal. 267)

Sedangkan kisah cinta Meg dan Mr. Brooke membuat Jo meradang. Dia tidak setuju Meg dan Brooke bersatu. Dia tidak ikhlas jika harus membagi Meg dengan orang lain.

Di akhir cerita, mereka semua berkumpul bahagia dan membuat saya semakin iri saja. Semoga nanti saya bisa punya keluarga yang hangat seperti Keluarga March.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s