#99 – The Lost Colony

Judul: The Lost Colony (Artemis Fowl #5)
Penulis: Eoin Colfer
Penerbit: Hyperion Books (2006)
Halaman: 385
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Sepuluh ribu tahun yang lalu, terjadi pertempuran di sebuah pulau ajaib di Irlandia antara manusia dan peri. Manusia menang dan menguasai pulau tersebut. Menyadari kekalahannya, para peri pun memutuskan untuk membuat peradabannya sendiri jauh di pusat Bumi. Mereka tidak akan terlihat lagi oleh manusia. Mereka tidak ingin diganggu oleh manusia.

Namun, ada satu kelompok dari jenis peri yang menolak keputusan tersebut. Kelompok tersebut adalah demonsDemons sendiri adalah salah satu ras dari peri. Ras lainnya ada elves, dwarves, goblins, gnomes, pixies, sprites, dan gremlins

Demons menggunakan kekuatannya untuk memindahkan Hybras, pulau kecil mereka. Mereka berencana untuk bersembunyi sambil mengumpulkan kekuatan sampai nanti mereka sudah cukup kuat untuk kembali bertarung dan mengalahkan manusia. Sayangnya, sihir yang dipakai untuk bersembunyi malah membuat mereka terlempar ke Limbo, yaitu sebuah tempat antah berantah, di mana konsep waktu dan tempat menjadi tidak berlaku.

Sepuluh ribu tahun berlalu, sihir yang mengikat para demons di Limbo semakin melemah. Mereka mulai ditarik lagi masuk ke dalam waktu dan tempat masa sekarang. Para demons sewaktu-waktu bisa muncul di dunia manusia. Tidak ada yang mengetahui secara pasti kapan dan di mana para demons ini bisa muncul. Well, tentu saja ada Artemis Fowl II yang bisa menghitung secara tepat probabilitasnya.

Suatu ketika, satu demon muncul di sebuah teater di Sicilia. Perhitungan Fowl tepat dan akurat. Ternyata Fowl tidak sendirian. Ada satu kelompok lain yang ternyata sudah menunggu kemunculan demon tersebut dan menculiknya. Penculikan demon tersebut menjadi sebuah ancaman bagi dunia peri karena eksistensi mereka dapat terbongkar di dunia manusia.

Fowl harus bertindak sesuatu. Bersama sahabat-sahabatnya, seperti Butler, Captain Holly Short, Mulch Diggums, dan Foaly, mereka kembali berpetualang untuk menyelamatkan dunia peri. 

Di The Lost Colony Fowl menemukan saingannya yang sesama jenius. Namanya Minerva Paradizo. Usianya baru 12 tahun, tetapi cukup merepotkan Fowl. Minerva inilah yang menculik No. 1, demon warlock yang muncul di teater Sicilia. 

Awalnya saya kagum dengan Minerva. Batin saya bilang Fowl harus hati-hati nih dengan Minerva. Dia saingan kuat buat Fowl, setelah Opal Koboi. Namun, setelah dipikir-pikir lagi, ah, kayaknya nggak deh. Minerva tidak sejenius itu. Not even close compare to Artemis. Kalau Fowl bilang sih, Minerva ini, “She’s a regular juvenile criminal mastermind.” Di usia 12 tahun, Fowl sudah bikin kacau dunia peri. Dia menculik Holly Short dan berhasil mendapatkan emas peri dari meminta tebusan untuk membebaskan Short. Dan Artemis membuat rencananya dari nol.

Sementara Minerva bisa menculik No. 1, itupun karena sebelumnya ada  Leon Abbott, demon yang lain, yang tanpa sengaja muncul di rumah Minerva. Abbott ditangkap dan dia secara sukarela membeberkan semuanya tentang demons kepada Minerva. 

Di buku kelima ini Fowl digambarkan sudah mulai puber. Dia sudah mulai tertarik secara fisik pada lawan jenisnya. Yang saya suka, Fowl ini terlalu melogikakan semuanya. Dia menganalisis perasaannya. Padahal dia masih berusia 14 tahun. Misalnya ini:

“It’s this blasted puberty, Butler. Every time I see a pretty girl, I waste valuable mind space thinking about her. That girl at the restaurant for instance. I’ve glanced in her direction a dozen times in the past few minutes.”

Maksud saya, dia terlalu serius. Kenapa dia tidak bisa menikmati saja perasaannya? Eh, saya lupa. Kita berbicara soal Artemis Fowl II. He’s not an ordinary teenager. He’s a criminal mastermind.

Bagaimana dengan perkembangan hati nurani Fowl? Apakah dia berubah semakin baik? Oh, tentu saja. Di sini dia mulai bertindak altruisme, menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan (kalau imbalan favoritnya Fowl sih emas). Bahkan, Fowl sampai rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan orang lain. Misalnya, sewaktu mereka terjebak di Menara 101 di Taipei, dengan koper bom waktu yang akan meledak dalam waktu beberapa menit ke depan.  Fowl akan mencoba untuk menjinakkan sendiri bomnya dan meminta Short untuk membawanya beserta No. 1 dan Qwan, another warlock, terbang keluar dari Menara 101.

“Let Holly fly out over the sea and drop the bomb,” argued Butler. “We can mount a rescue organization later.”
“It will be too late. If we don’t get these fairies out of here, the eyes of the world will be on Taipei. And anyway, the local seas are thronged with fishing boats. This is the only way. I will not allow humans or fairies to die when I might have prevented it.”

Menyenangkan melihat Artemis Fowl II semakin menjadi baik begini. 

Lalu, dengan Mulch Diggums. Perannya tidak terlalu banyak di sini. Tidak sebanyak yang saya harapkan. Kemunculannya sempat membuat segar cerita. Kemudian, begitu dia tidak ada lagi, somehow ceritanya terasa sedikit membosankan. 

Buat saya The Last Colony ini serunya hanya di awal. Begitu di pertengahan sampai ke akhir, terutama dimulai sejak Minerva jadi sadar bahwa tindakannya itu buruk, ceritanya jadi biasa saja. Semacam antiklimaks dan kurang greget. Saya yang tadinya mengharapkan ada perlawanan sengit dari Minerva, semacam adu taktik begitu, ternyata, yah, hanya begitu saja.

Peran antagonis utama kemudian berpindah ke Billy Kong dan Leon Abbott. Mereka tipikal penjahat yang hanya mengandalkan otot, bukan otak. Kalau sudah terbiasa menghadapi Artemis Fowl, Opal Koboi, dan Minerva, karakter antagonis seperti Billy Kong dan Leon Abbott ini, meh.

Satu hal lagi, sejak kemunculan Juliet Butler di The Eternity Code, sejujurnya saya mengharapkan Juliet dapat beraksi kembali. Tadinya saya mengira Juliet diberi porsi peran yang lebih banyak. Namun, setelah dua buku berlalu, tidak ada tanda-tanda tersebut. Kita hanya diberitahu kalau Juliet tidak berminat untuk menjadi pengawal dan pindah ke Amerika untuk menjadi petarung di acara semacam Ultimate Fighting Championship. Hiks, saya sedih. Akan tetapi, masih ada tiga buku di seri Artemis Fowl. Barangkali Juliet akan muncul lagi. Hehe, tidak ada salahnya dong saya berharap?

Oh iya, hampir lupa. Setelah baca The Lost Colony, saya jadi punya satu pertanyaan. Kalau manusia dan peri berperang dan hasilnya adalah manusia menang, peri terdesak, dan peri tinggal di pusat Bumi, seharusnya teknologi manusia lebih berkembang dong ya… Maksud saya, manusia bisa menang tentunya bukan tanpa alasan. Entah itu dari otak manusia yang lebih berkembang atau teknologinya yang lebih maju pada saat itu, dan seharusnya manusia lebih maju setelah sepuluh ribu tahun berevolusi. Iya, toh? Eh, tapi, ini kenapa di masa sekarang teknologi peri malah jauh, jauh lebih maju ketimbang teknologi manusia? Ehm, sebuah pertanyaan yang patut untuk direnungkan. Halah.

Baca juga resensi:
1. Artemis Fowl
2. The Seventh Dwarf
3. The Arctic Incident
4. The Eternity Code
5. The Opal Deception

3 pemikiran pada “#99 – The Lost Colony

  1. Ping balik: #100 – The Time Paradox – Blog Buku Kimi

  2. Ping balik: #101 – The Atlantis Complex – Blog Buku Kimi

  3. Ping balik: #102 – The Last Guardian – Blog Buku Kimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s