#116 – Britt-Marie was Here

27406704._sy475_

Judul: Britt-Marie was Here
Penulis: Fredrik Backman
Penerbit: Atria Books
Halaman: 324
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Britt-Marie meninggalkan suaminya, Kent, ketika mengetahui suaminya selingkuh dengan perempuan muda dan cantik. Di usianya yang sudah 63 tahun, tidak punya pengalaman kerja apapun dan terpaksa harus hidup sendiri, membuat Britt-Marie memaksa dirinya harus mendapatkan pekerjaan. Alasan utamanya karena dia tidak mau dia meninggal sendirian dan jasadnya baru ditemukan beberapa hari kemudian karena tidak ada yang mencarinya. Jadi, terdamparlah ia di Borg.

Borg merupakan kota kecil yang nyaris tidak ada kehidupan. Semua orang sepertinya sudah menyerah dengan Borg. Hanya orang-orang tua dan anak-anak yang masih bertahan di sana. Britt-Marie mendapatkan pekerjaan sebagai pengurus pusat rekreasi yang ada di Borg.

Awalnya berat bagi Britt-Marie beradaptasi di lingkungan baru. Selama puluhan tahun hidupnya hanya berkutat di dunia Kent. Ketika Britt-Marie lepas dari Kent dan memiliki hidup baru, semuanya terasa asing bagi Britt-Marie. Ia terbiasa hidup yang memiliki pola dan pola tersebut melingkupi mengurus Kent, anak-anak Kent, dan rumah. Di Borg, meski terasa aneh dan sulit, ia mulai mengubah fokusnya dengan mengurus pusat rekreasi dan, secara terpaksa karena dijebak, mengurus anak-anak berlatih sepak bola.

Borg menawarkan sesuatu yang baru untuk Britt-Marie. Sesuatu yang asing dan menakutkan, tapi di sisi lain juga menyenangkan. Di sana Britt-Marie mulai bisa mengenali emosinya. Ia mulai bisa belajar bahwa ia juga punya mimpi dan keinginannya sendiri. Ia belajar banyak hal baru, terutama tentang sepak bola.

Selama di Borg, Britt-Marie akhirnya menyadari bahwa Kent tidaklah baik untuk dia. Di sana ia bertemu dengan seseorang yang mungkin baik untuk dia, yang bisa saja bilang kalau Britt-Marie sempurna untuknya, tetapi Britt-Marie memilih untuk memendam perasaannya. Britt-Marie lebih memilih untuk tidak jatuh cinta lagi karena dia sudah terlalu tua untuk itu dan lebih baik kembali ke kehidupan lamanya meski dia tahu itu tidak baik untuknya hanya karena itu adalah sesuatu yang sebaiknya dilakukan. Karena hanya kehidupan itu yang ia tahu. Karena, menurut Britt-Marie, seharusnya memang begitu.

Sami went to town to protect someone who doesn’t deserve it, and Britt-Marie is getting ready to go home for the same reason. Because if we don’t forgive those we love, then what is left? What is love if it’s not loving our lovers even when they don’t deserve it?

Sampai di sini saya kesal sekali dengan Britt-Marie, tapi saya mencoba memahaminya. Usia Britt-Marie 63 tahun dan ia termasuk orang yang kaku dalam berpikir. Jadi, meskipun kejadian luar biasa yang dialaminya, yaitu perselingkuhan Kent, tidak mampu membuat cara berpikirnya berubah drastis. Apalagi ketika mengetahui latar belakang kenapa Britt-Marie sampai memiliki pola pikir sekaku itu dan ia terobsesi dengan bersih-bersih, saya tidak bisa apa-apa, selain berempati kepadanya.

Meski begitu, saya suka bagaimana Fredrik Backman menutup cerita ini.

There’s a soccer pitch. There’s a soccer club.
And whatever happens.
Wherever she is.
Everyone will know Britt-Marie was here.

Britt-Marie was Here is a heartwarming story. Fredrik Backman never fails me.

By the wayBritt-Marie was Here sudah dibikin filmnya. Kalau lihat dari trailer-nya sih kok kayaknya seru ya. Di mana ya saya bisa nonton filmnya?

2 tanggapan untuk “#116 – Britt-Marie was Here”

  1. Hi Kimi! Salam kenal, seru sekali membaca ulasannya. Aku sudah lama ingin baca buku-buku Backman yang lain setelah baca Anxious People.

    1. Halo, Asri! Salam kenal juga. Terima kasih sudah mampir dan membaca ulasanku. Jadi, bagaimana setelah membaca ulasanku ini? Sudah baca juga Britt-Marie was Here?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: