#130 – Kompas Emas

9789792224887_his-dark-materials1_the-golden-compass-kompas-emas

Judul: The Golden Compass: Kompas Emas (His Dark Materials #1)
Penulis: Philip Pullman
Alih bahasa: B. Sendra Tanuwidjaja
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan V, April 2018)
Halaman: 488
ISBN: 978-979-22-2488-7
Bisa dibeli di: Gramedia.com
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Lyra Belacqua, gadis cilik berusia 11 tahun, dan Pantalaimon (biasa dipanggil “Pan), dæmon-nya,  hanya tahu dunia di Akademi Jordan, Oxford, dan sekitarnya. Ia merupakan gambaran anak-anak yang bebas, senang bermain, dan berpetualang. Keahliannya membual atau bersilat lidah. Keahliannya yang ini nantinya akan banyak sekali membantunya dalam petualangannya. Sampai-sampai Iorek Byrnison memberi Lyra julukan Silvertongue karena keahliannya tersebut.

Petualangan Lyra dimulai ketika ia diajak Mrs. Coulter untuk menjadi asisten kecilnya. Mrs. Coulter berjanji akan mengajari semuanya yang ia tahu kepada Lyra. Dengan senang hati Lyra menerima ajakan tersebut meski sebenarnya ia sedang gundah karena sahabatnya, Roger, hilang. Lyra curiga Roger diculik oleh Pelahap, yang belakangan memang sedang gencar menculik anak-anak.

Kehidupan bersama Mrs. Coulter tidak seindah yang dibayangkan oleh Lyra. Kehidupan mewah dan glamor Mrs. Coulter tidak cocok untuk Lyra yang berjiwa bebas. Selain itu, pelan-pelan terkuak siapa sesungguhnya Mrs. Coulter yang membuat Lyra kabur dari rumah Mrs. Coulter, bertemu dengan orang-orang gipsi, pergi ke Utara, hampir mengalami pemutusan dengan Pan, dan menyeberang ke dunia kita. Dunia Lyra berbeda dengan dunia kita, dan berparalel.

Selama petualangannya itu, Lyra dibantu oleh sebuah alat bernama alethiometer, sebuah alat istimewa, seperti kompas, tapi kegunaannya untuk menemukan jawaban. Alethiometer berasal dari bahasa Yunani, yaitu alethia yang berarti kebenaran atau pengungkapan, jadi alethiometer merupakan alat yang dapat memberikan kita jawaban kebenaran dari hampir semua pertanyaan kita. Ternyata Lyra sangat berbakat dalam menggunakan dan membaca alethiometer. As if she was born to read alethiometer.

northern_lights_28novel29_cover

gambar dari sini

Saya membaca edisi terjemahan ini di Gramedia Digital. Terjemahannya sangat enak dibaca dan mudah dipahami anak-anak dan remaja. Bahwa buku ini ditargetkan untuk pembaca usia muda, dengan kisah fantasinya ada beruang yang bisa berbicara; penyihir berusia panjang, awet muda, dan dapat terbang; dan dæmon (dibaca seperti kita membaca “demon” dalam bahasa Inggris), tetapi pada kenyataannya jika ditelisik lebih dalam buku ini cukup membawa pesan yang berat.

Dari suatu reviu yang saya baca bilang kalau trilogi His Dark Materials, yang ateis banget, ditulis sebagai antitesis The Chronicles of Narnia yang sangat kental aroma Kristianinya. Maka tidak heran kalau kita membaca di buku ini ada semacam kritikan terhadap Gereja dan dogmanya yang begitu kuat mengakar. Tidak heran kalau buku ini mendapat kritikan tajam dari beberapa kelompok dari umat Kristiani.

Buku ini juga bisa dibilang memiliki unsur sains atau setidaknya dukungannya terhadap dunia sains. Hal itu terlihat sejak awal Philip Pullman menulis karakter tokoh-tokoh cendekiawan, Akademi Jordan, dan Debu, yang ternyata merupakan dark matter kalau di dunia kita. Dari hal ini saja membuat saya menyukai novel ini.

Hal lainnya yang membuat saya menyukai novel ini adalah dæmon. Dæmon bukan hewan yang mengekor manusia ke manapun ia pergi, melainkan ia adalah manifestasi inner self dalam bentuk fisik. Dæmon masih dapat berubah-ubah wujud ketika manusianya masih kecil. Ketika manusianya sudah mencapai usia pubertas, dæmon akan mengambil wujud tertentu yang menggambarkan kepribadian manusianya. Sepertinya seru jika kita bisa bercakap-cakap dengan inner self kita yang berbentuk hewan. Jadi, kita tahu bahwa kita tidak sendiri.

Katanya kalau di dunia kita, manusia juga memiliki dæmon. Hanya saja dæmon-nya terintegrasi dalam diri manusianya, jadi tidak ada wujudnya. Berbeda dengan dæmon di dunia Lyra yang mewujud dalam karakter fisik. Dipikir-pikir karakter dæmon ini kan maknanya filosofis sekali. Bahwa sejatinya kita tidak sendiri. Ada inner-self dalam setiap diri manusia yang merupakan sahabat manusia itu sendiri.

Dari laman Wikipedia, seri ini diberi judul His Dark Materials berdasarkan puisi John Milton yang berjudul Paradise Lost.

Into this wilde Abyss,
The Womb of nature and perhaps her Grave,
Of neither Sea, nor Shore, nor Air, nor Fire,
But all these in their pregnant causes mixt
Confus’dly, and which thus must ever fight,
Unless th’ Almighty Maker them ordain
His dark materials to create more Worlds,
Into this wilde Abyss the warie fiend
Stood on the brink of Hell and look’d a while,
Pondering his Voyage; for no narrow frith
He had to cross.

— Paradise Lost, Book 2, lines 910–920

Pullman memilih His dark materials dari puisi ini karena dianggap yang paling mirip penggambarannya dengan dark matter dalam dunia astrofisika. Buku ini terbit pertama kali tahun 1995 di UK. Di Indonesia diterjemahkan pertama kali di tahun 2006 oleh Gramedia Pustaka Utama.

Oh iya, saya sudah nonton serial televisinya di HBO. Untuk buku pertama dari seri His Dark Materials, hanya terdapat sedikit perbedaan dengan yang di serial televisinya. Cerita di serial televisi mengikuti dengan setia pakem yang ada di novelnya, meski ada perubahan sedikit saja. Jadi, saya nonton serialnya dulu baru baca novelnya dan sama-sama suka dengan keduanya. Meski sejujurnya pas baca tidak terlalu antusias atau semangat karena sudah tahu ceritanya. Jadi, tidak ada element of surprise. Atas dasar itulah saya memberi nilai 4 bintang, alih-alih 5 bintang.

Karakter favorit saya di sini adalah Iorek Byrnison. Karena saya suka saja dengan beruang yang bisa bicara ini. Seorang calon raja yang terbuang karena kesalahan yang dibuatnya secara tidak sengaja (ada andil Mrs. Coulter dalam hal ini!).

Jadi, demikianlah resensi Kompas Emas kali ini. Semoga berkenan!

Iklan

Satu komentar pada “#130 – Kompas Emas”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: