#135 – Bisma Dewabrata

32940303 Judul: Bisma Dewabrata
Penulis: B. B. Triatmoko, S. J.
Penerbit: PT Kanisius (2014)
Halaman: 193
ISBN: 978-979-21-4114-6
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Secara tidak sengaja saya menemukan buku elektronik ini di Gramedia Digital. Meski halamannya tipis — total hanya 193 halaman — tetapi tetap saja butuh waktu lebih dari satu hari (tepatnya dua hari) buat saya untuk menamatkannya. Menandakan saya memang semakin tua semakin susah untuk fokus membaca buku, tetapi anehnya bisa fokus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengecek lini masa media sosial. Huft.

Well, anyway, yang menjadi hal utama begitu mencolok dari Bisma Dewabrata adalah pemilihan katanya yang indah. Selain itu, Bisma Dewabrata mengambil cerita dari sudut pandang yang berbeda. Mengutip dari kata pengantar yang ditulis oleh Sindhunata:

Bukan Dewabrata atau Dewi Amba yang bersalah, melainkan kemalangan yang menerkam mereka, dan membuat cinta mereka tak kesampaian. (hal. 4)

Akibat dari suatu fitnah dan ambisi keji seorang patih membuat Dewabrata dan Dewi Amba terpaksa berpisah. Membuat saya tidak bisa tidak untuk menaruh iba terhadap mereka berdua. Bagaimana rasanya harus berpisah karena kesalahpahaman akibat dari fitnah? Dua-duanya memegang janji untuk menunggu satu sama lain, tetapi dua-duanya tidak bisa bersatu karena seperti yang ditulis oleh Sindhunata, “Kemalangan yang menerkam mereka.” Saya tidak bisa membayangkan. Saya tidak mau membayangkan. Cukup sudah rasa sakit yang pernah hinggap di hati waktu dulu. Tidak usah dicari lagi, meski hanya membayangkan.

Sepanjang buku banyak kalimat yang layak dikutip. Beberapa saya tuliskan di sini:

“Cinta dan benci tumbuh dari akar yang sama, hanya bermuara pada buah yang berbeda. Mengundang orang untuk keluar dari dirinya, sedangkan benci melumpuhkan orang dari dalam dirinya karena tidak menerima keterbatasan jiwanya.” (Dewabrata, hal. 49 – 50)

“Setiap manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk memilih. Dia bisa memilih untuk mengakhiri dendam dan kemarahannya. Ada lebih banyak hal dalam kehidupan yang lebih menarik untuk digeluti.” (Dewi Amba, hal. 55)

… cinta bukan sesuatu yang menghendaki kenikmatan untuk dirinya sendiri. Cinta tidak ingin memiliki, tetapi melepaskan dan membebaskan. Cinta tidak ingin menguasai, tetapi membiarkan diri terbuka pada sesuatu yang lebih besar dari perasaan cinta itu sendiri. (hal. 68)

Menghancurkan lebih mudah daripada menghidupkan. Merusak lebih mudah daripada membangkitkan kembali. (hal. 91)

“Keseimbangan itu penting untuk menjaga kesehatan jiwa. … Alam semesta mengandung banyak keseimbangan. Maka, apabila satu sisi terganggu, alam semesta akan mencari jalannya untuk membuat seimbang lagi. Semakin besar gangguan yang terjadi, semakin keras usaha alam untuk menyeimbangkannya.” (Rama Bargawa, hal. 103)

“Apakah kesempurnaan itu? Sempurna itu tidak berarti hidup putih bersih tanpa noda. Itu bukan manusia namanya. Tidak ada siang tanpa malam. Tidak ada putihnya awan kalau tidak ada langit biru yang menyatakannya. Kesempurnaan itu suatu keutuhan. Utuh berarti semua unsurnya ada, ya kelebihan, ya kekurangan. Tinggal bagaimana kita menjalinnya dalam kehidupan sehingga kelemahan menjadi kesempatan untuk menampilkan kekuatan, dan kekuatan menjadi kewaspadaan bahwa segala sesuatunya hanya bersifat sementara.” (Rama Bargawa, hal. 109)

Kemerdekaan batin tercapai ketika jiwa mampu berkata: “Aku bebas dari rasa dendam, penderitaan, kemarahan, dan rasa bersalah. Aku bebas dari rasa diriku adalah yang terpenting. Aku bebas dari rasa mengasihani diri. Aku bisa menertawakan diriku sendiri. Aku melihat kejenakaan kehidupan.” (hal. 117)

Selepas membaca ini, setidaknya membuka pikiran baru buat saya. Terasa juga ikatan tali simpul kencang yang penuh dendam akibat rasa sakit mulai terlepas sedikit. Bisma Dewabrata ternyata juga bisa memberikan efek yang menenangkan.

Buku ini membuat hati menjadi terasa lebih ikhlas. Atau, dalam kata pengantar Sindhunata menulisnya dengan lebih baik:

Buku ini menarik, karena membawa kita untuk realistis menerima, bahwa kemalangan adalah bagian dari cinta. (hal. 4)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: