#142 – Taman Rahasia

The Secret Garden Judul: Taman Rahasia – The Secret Garden
Penulis: Frances Hodgson Burnett
Alih Bahasa: Barokah Ruziati
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama (16 Desember 2019)
Halaman: 320
ISBN: 978-979-22-5490-7
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Taman Rahasia berkisah tentang Mary Lennox, seorang anak perempuan yang manja, pemarah, keras kepala, dan egois. Ia baru saja kehilangan kedua orangtuanya. Karena ia tinggal sendirian di India akhirnya ia dibawa pamannya, Archibald Craven, untuk tinggal bersamanya di Misselthwaite Manor, Yorkshire, Inggris.

Mary merasa kesepian di tempat barunya yang luas dan memiliki lebih dari seratus kamar yang hampir semuanya terkunci. Apalagi di Misselthwaite Manor berbeda dengan di India. Di sini tidak ada pelayan yang mau melayaninya setiap saat. Awalnya anak yang menjengkelkan itu uring-uringan sampai akhirnya dia menemukan taman rahasia dan berkenalan dengan Dickon Sowerby dan Colin Craven. Hidupnya berubah menjadi lebih menyenangkan dan Mary menjadi anak yang lebih baik.

Ketika saya melihat buku ini di Gramedia Digital, saya tidak tahu buku ini bercerita tentang apa dan saya juga tidak mencari tahu. Saya hanya bisa menebak Taman Rahasia adalah sebuah buku klasik lainnya yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Sebagai seseorang yang mengaku-ngaku menyukai sastra klasik, saya membuka buku ini. Lalu, sesaat saya membacanya saya jadi tahu buku ini juga buku anak-anak. Saya bukan penggemar cerita anak-anak, tetapi bukan berarti saya membencinya sehingga menolak atau antipati jika disuruh membaca cerita anak-anak. Maka, saya melanjutkan membaca Taman Rahasia sampai habis dan saya jatuh cinta dengan buku ini.

Buku ini memiliki semuanya sehingga layak untuk diberi nilai sempurna. Tokoh-tokoh yang memberikan inspirasi (Dickon dan Susan Sowerby) dan perkembangan karakter yang sempurna (Mary Lennox, Collin dan Archibald Craven), hubungan persahabatan yang dibangun dalam waktu yang tepat, cerita yang hangat, dan gaya penulisan (atau tepatnya terjemahan) yang menarik. Hal yang menakjubkan buat saya, Taman Rahasia memiliki unsur cerita mystical atau spiritual yang dilambangkan melalui taman rahasia itu sendiri dan bagaimana Colin menyebut Sihir. Meski buku ini memiliki unsur spiritual, tetapi buku ini tidak berat dan tetap ringan dibaca untuk anak-anak. Itulah hebatnya Frances Hodgson Burnett bisa menulis sesuatu yang rumit, seperti spiritualisme, dalam bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak.

Namun, sebagai seseorang yang barangkali sudah kehilangan daya imajinasi atau barangkali karena saya membaca buku ini ketika saya sudah dewasa, saya menerjemahkan Sihir, yang disebut-sebut oleh Colin, sebagai sebuah kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran itu bisa jadi baik, bisa pula buruk. Di buku digambarkan bahwa Mary dan Colin adalah sosok yang sama-sama menyebalkan. Mary merasa semua orang tidak suka dengan dirinya dan ia pun tidak suka dengan orang-orang. Colin meyakini bahwa dirinya penyakitan dan akan mati muda sehingga dia menjadi anak yang menyebalkan, suka marah-marah, dan memerintah semaunya. Itulah kekuatan pikiran yang buruk. Bagaimana mereka meyakini bahwa mereka seperti itu dan mereka pun menjadi seperti itu.

Sementara kekuatan pikiran baik bisa mengubah seseorang menjadi lebih baik dan menjadi manusia baru. Setiap kali kita menanamkan ke dalam diri kita bahwa kita adalah manusia baik, berharga, sehat maka pikiran dan tubuh kita mewujudkannya. Itulah yang dilakukan oleh Colin lewat “penelitian ilmiah”-nya. Lewat Sihir dia semacam “memantrai” dirinya sendiri bahwa dia akan sembuh dari penyakitnya, dia akan sehat, dia akan bahagia. Dibantu oleh sepupunya, Mary, dan teman barunya, Dickon, juga oleh taman rahasia mereka yang semakin penuh dengan tanaman yang cantik, burung robin, hewan-hewan peliharaan Dickon, dan musim semi yang indah, Colin berhasil sembuh dan dia yakin dia akan hidup selamanya! Selama-lamanya! Dalam ilmu Psikologi keyakinan seperti ini disebut self-fulfilling prophecy . Jadi, saudara-saudara, jangan remehkan pikiranmu. Pikiranmu bisa membentuk dirimu.

Meski di buku ini Mary adalah tokoh utamanya, tetapi buat saya bintang dari Taman Rahasia adalah Dickon Sowerby. Dia seperti Dr. Dolittle yang menjelma dalam tubuh anak-anak. Dia mencintai alam dan hewan. Dia mengerti hewan dan entah bagaimana hewan-hewan pun mengerti Dickon dan patuh padanya. Dickon juga cukup dewasa untuk anak berusia tiga belas tahun. Dengan gayanya yang masih anak-anak, dia bijak, tetapi tidak menggurui sehingga membuat teman-teman barunya — Mary dan Colin — menghormati dan menyayanginya.

Lewat Dickon, kita diajarkan untuk mencintai alam dan isinya. Dickon gemar beraktivitas fisik dan di luar, seperti berkebun dan bermain dengan hewan-hewan di padang moor. Itu membuatnya menjadi anak yang sehat, ceria, dan ramah. Ah, saya jadi sayang juga sama Dickon!

Ada sebuah resensi yang saya baca bahwa buku ini rasis. Mungkin saya kurang peka atau tidak paham, tetapi saya tidak mengetahui sampai batas mana sebuah buku dipandang sebagai buku yang rasis? Memang pada buku ini dideskripsikan di awal-awal — pada saat Mary masih jadi anak manja dan menjengkelkan — bahwa pelayan India digambarkan sangat manut dan sadar akan posisinya yang rendah. Juga dialog pertengkaran antara Mary dan Martha ketika Mary tersinggung dia dibilang sebagai orang hitam. Menurut saya, hal ini masih bisa saya pahami karena Mary masih anak-anak dan mengingat kondisi dan tempat dia lahir dan dibesarkan jadi ya wajar Mary memiliki pola pikir sempit seperti itu. Apalagi, buku ini berlatar waktu di awal abad ke-20, di mana pikiran rasisme dan perbudakan, masih cukup dominan di kalangan orang kulit putih kelas atas. Menurut saya, penting juga untuk memberikan sedikit sejarah akan kehidupan Mary sebagai latar cerita. Akan tetapi, hal itu dibahas secuil saja. Tidak sepanjang cerita. Karena sesudahnya buku ini fokus pada keindahan alam, persahabatan, dan kekuatan pikiran. Buku ini sudah semacam buku how to be a better person.

Buku ini tidak hanya cocok untuk dibaca oleh anak-anak, melainkan juga oleh orang dewasa. Buku ini mengajak anak-anak untuk bermain, bergembira, berteman dengan semua orang, bersahabat dengan alam, dan bermimpi. Karena begitulah seharusnya anak-anak, bukan? Buku ini juga mengingatkan orang dewasa agar tidak lupa untuk berbahagia. Dan yang pasti buku ini memberikan kehangatan bagi siapapun yang membacanya, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: