#7 – Predictably Irrational

Predictably Irrational Judul: Predictably Irrational
Penulis: Dan Ariely
Rating: 5/5

Predictably Irrational adalah buku yang mengupas di balik perilaku irasional kita. Misalnya, kenapa kita bisa sembuh dengan membeli obat yang lebih mahal ketimbang obat yang lebih murah padahal kandungan obatnya sama, kenapa yang namanya “gratisan” itu sangat menarik bagi kita namun ternyata tidak benar-benar gratis 100%, dan masih banyak lagi.

Jika menurut ilmu ekonomi sebagai manusia kita bersikap dan berperilaku sangat rasional dan penuh perhitungan, maka tidak demikian menurut Behavioral Economics. Karena pada kenyataannya, manusia akan membuat keputusan-keputusan yang irasional.

Dan Ariely memberikan ringkasan dari penelitian-penelitiannya untuk menjelaskan perilaku irasional kita. Dan penelitian-penelitian yang dilakukan Ariely ini keren-keren. Kreatif banget. Wajar juga sih, kan Ariely memang peneliti. Setiap bab yang saya baca saya tak henti-hentinya “Oh iya juga ya..”, “Bener itu..”, dan “Oh, ternyata gitu toh.” dan setiap penjelasan yang diberikan sangat masuk akal dan memberikan wawasan baru.

Buku yang bagus dan menjadi favorit saya. Layak untuk dibaca ulang. Nanti kalau sudah dibaca ulang, saya akan mencatat bagian-bagian pentingnya. Kalau mood sedang bagus, mungkin nanti akan saya tulis ulang resensinya. Karena sekarang saya sedang malas menulis dan tidak tahu mau meresensi apa karena tidak ada catatan kecil saya untuk buku ini. My bad. I’m sorry. 😆

#4 – Extremely Loud and Incredibly Close

Cover Extremely Loud and Incredibly CloseTitle: Extremely Loud and Incredibly Close
Author: Jonathan Safran Foer
Rating: 5/5

One of the good things in reading a book is when you don’t have any expectations at all and after you finish reading it you take a deep sigh and say to yourself, “Damn, it’s good.” You don’t read its synopsis and reviews. What you only have is people say it’s a good book. That’s it. And that’s what I have experienced with Extremely Loud & Incredibly Close. I don’t have any expectations at all. All I know is that some of my friends say that this is good. So, I read it.

At first, I thought it was about another love story. A romance. It only took me few pages to realise that this was about a boy and his father. “Okay, this is interesting,” I thought. So, I read page after page and it’s getting more and more interesting for me. Maybe just like what Ayu has written in her review of this book, “This could be one of my biased review because I’m reading this when I’m not in a right emotional state.” In my case was I was in a right emotional state. I was fine and I wasn’t in my depresive mood. But, I lost my father 58 days ago. Automatically, I relate myself to Oskar Schell, the main character. Yes, this could be one of my biased review because the same story what Oskar and I have.

Oskar lost his father in 9/11 tragedy. After he died, Oskar found a vase. Inside it there was an envelope written “Black” with a key in it. Oskar thought it should have something to do with his father. So, he decided to find this Black–whoever he or she was–and asked Black about the key. Maybe Black knew something about his father. He roamed around New York to find the Black. He had spent eight months before finally he found the right Black. And along his journey he knew who his Grandpa was. At last.

This story was written using three viewpoints: Oskar, his grandfather, and his grandmother. For first few chapters I was confused who was telling a story. But then I was able to know who the narator was for each chapter.

I love Oskar. He was smart and was a critical boy. He’s only 9 years old and he knew already he was an atheist. Though I doubt that there was really a 9-year-old boy could think like that. I get the feeling that he got all that from his father since, I think, the two of them were very close. What Oskar and his father have, the relationship between them, reminds me of my own relationship with my father. While reading this, I couldn’t stop thinking of my father. Oskar and I have the same story. We both loved our father. We both lost someone that was dear to our hearts. We both grieved, but in different way. By roaming around New York to find the Black was Oskar’s way to grieve. He definitely took a really long time to grieve. He’s upset at his mother because he thought his mother was so quickly to be happy and find a new friend. He just didn’t know that there’s no right way to grieve.

After finish reading this, I felt pain in my old wound. It was like someone pour a salt over it. I guess my wound will never completely heal. I closed my ebook reader and whispered, “Papa, I miss you so much.”

#3 – Blink

BlinkJudul: Blink
Penulis: Malcolm Galdwell
Edisi: ebook. Pertama kali terbit tahun 2005.

Akhirnya saya bisa baca juga Blink setelah sekian tahun saya tahu buku ini (pertama kali diberitahu oleh dosen saya sewaktu saya masih semester 1 atau 2). Seandainya saya baca buku ini sewaktu saya kuliah dulu niscaya topik thin-slicing adalah topik yang menarik. Berhubung saya baru baca sekarang, somehow topik ini sudah tidak menarik lagi.

Mungkin kalian sudah tahu apa itu thin-slicing. Kita bisa menilai sesuatu dan/atau seseorang hanya dalam beberapa detik saja. Seorang kurator bisa tahu suatu artefak asli atau tidak hanya dengan memandangnya sekilas. Seorang psikolog bisa melihat hanya dalam beberapa menit saja untuk tahu pasangan suami-istri akan awet atau tidak perkawinannya. Dan banyak contoh yang lainnya. Buku ini membahas thin-slicing dimulai dari patung kouros dari enam abad sebelum masehi dan setelah dilihat oleh kurator ternyata palsu, kemudian tentang perkawinan (John Gottman bisa menilai pasangan suami-istri akan bercerai atau tidak hanya dari interaksi mereka dalam beberapa menit saja), tentang periklanan hingga militer. Dengan thin-slicing kita memang bisa menghemat waktu dan tenaga, tetapi thin-slicing juga punya sisi gelapnya. Sisi gelapnya yah… berhati-hatilah dalam melakukan snap judgment karena siapa tahu bisa merugikan diri kita atau orang lain. Hihihi…

Secara keseluruhan, buku ini ringan yah selayaknya psikopop lah. Dalam hitungan jam bisa selesai dibaca sebenarnya. Tapi, berhubung saya sedang malas dan sedang (sok) sibuk juga jadi baru bisa selesai baca buku ini setelah empat hari. 😀 Dan isinya juga tidak terlalu menarik. Tapi, kalau hanya untuk sekadar pengantar tentang thin-slicing, ya Blink lumayan okelah.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 2 untuk Blink.

#1 – Good Omens

Good Omens

Judul: Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Penulis: Neil Gaiman dan Terry Pratchett

Alkisah dunia akan kiamat. Hari akhir akan segera tiba. Dunia ada di tangan bayi laki-laki yang lahir ke dunia, Anti-Christ, yang menentukan apakah dunia kiamat atau tidak.

Si malaikat Aziraphale dan si iblis Crowley bekerja sama mengawasi  Anti-Christ. Sampai saatnya tiba nanti Anti-Christ akan menentukan nasib dunia. Mereka meyakini bahwa manusia bisa berubah. Mereka percaya jika Anti-Christ di jalan yang “benar”, maka dunia akan selamat. Dunia tidak akan mengalami kekacauan. Kecintaan Aziraphale dan Crowley terhadap manusia lah yang membuat mereka membangkang dari tugas mereka yang seharusnya.

Namun sayang, Aziraphale dan Crowley mengawasi anak yang salah. Warlock, nama anak yang mereka kira adalah Anti-Christ, ternyata hanyalah anak laki-laki biasa. Seharusnya yang mereka awasi adalah Adam Young.

Young sendiri di usianya yang sebelas tahun tidak menyadari bahwa dia punya kekuatan. Ketika dia sedang mengobrol bersama komplotan kecilnya, apa yang dia ucapkan menjadi kenyataan. Dia ingin Bumi penuh dengan pepohonan, maka tumbuhlah pepohonan. Dia ingin orang Tibet menggali terowongan dan ada di tempat mereka, maka datanglah orang Tibet. Dia ingin ada makhluk UFO datang, maka datanglah UFO. Dan seterusnya.

Saya tadinya mengira Young yang egois dengan “idealisme”-nya, tanpa disadarinya akan menghancurkan dunia. Dia akan menciptakan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, antara surga dan neraka. Karena berdasarkan ramalan Anti-Christ akan lahir dan dunia akan kiamat. Ternyata perkiraan saya salah. Adam Young tidak bertindak dengan apa yang sudah digariskan kepadanya.

Terlepas dari ceritanya yang lucu, konyolnya Aziraphale dan Crowley, saya berpendapat buku ini (mungkin) berbicara soal determinisme dan free will. Adam Young yang sudah digariskan sebagai Anti-Christ, yang harus menciptakan kekacauan, menciptakan perang antara Surga dan Neraka, yang harusnya membuat dunia berakhir, malah lebih memilih dunia yang damai. Si iblis Crowley yang seharusnya jahat, merayu manusia agar selalu berbuat jahat, malah menyukai manusia dan ingin hidup damai di bumi, dan juga dia berteman dengan si malaikat Aziraphale. Aziraphale bahkan bilang bahwa dia merasa Crowley di dalam hatinya setidaknya memiliki sedikit kebaikan.

Kita sebagai manusia punya kecenderungan yang sama besar untuk menjadi baik atau jahat. Semuanya tergantung pada pilihan kita untuk menjadi salah satu diantaranya.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 4 untuk Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch.

*tulisan ini saya muat juga di blog saya satunya.