#9 – Oksimoron

OksimoronJudul: Oksimoron
Penulis: Isman H. Suryaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 296
ISBN 13: 978-979-22-6272-8
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 4/5

Masih dalam rangka bazar Gramedia, Oksimoron termasuk buku yang saya beli di bazar. Syukur Alhamdulillah saya bisa dapat Oksimoron dengan harga Rp 30ribu saja. 😀

Membaca judul dan sampul belakangnya, saya kira Oksimoron bercerita tentang suatu hal yang serius. Rupanya tentang pernikahan toh. Bukankah pernikahan juga suatu hal yang serius? Hihihi…

Oksimoron berkisah tentang pasangan muda yang baru menikah, yaitu Rine dan Alan. Isman mendeskripsikan Rine dan Alan sebagai pasangan muda dan modern. Mereka sepakat di dalam pernikahan nanti mereka adalah mitra. Jika Rine yang bekerja mapan, maka Alan yang mengambil urusan domestik. Jika Rine tidak ingin memiliki anak, maka Alan menyetujui keputusan Rine. Bukankah pernikahan seharusnya memang seperti itu? Saling menghargai, melengkapi, dan memahami.

Konflik cerita dimulai ketika Rine dan Alan memutuskan untuk memberitahu orangtua mereka bahwa mereka tidak ingin punya anak. Orangtua mereka jelas sangat kaget dan tidak dapat menerima keputusan itu. Turman dan Ika (orangtua Rine) dan Dadan (ayah Alan) pun bekerja sama untuk memengaruhi anak-anak mereka agar mengubah keputusan. Akankah rencana mereka berhasil? Well, baca sendiri saja ya untuk tahu kelanjutan kisahnya. 😆

Membaca awal-awal halaman saya sudah dapat menerka Oksimoron adalah cerita yang humoris. Saya sudah dibuat tertawa sejak halaman ke 4. Halaman-halaman berikutnya pun Oksimoron tetap berhasil membuat saya tertawa. Alan dan Andi selalu berhasil membuat saya tertawa. Hubungan adik-kakak ini dekat sekali dan itu yang membuat jadi lucu. Karena mereka saking dekatnya, mereka jadi konyol kalau sedang berdekatan. Bahkan Turman dan Dadan juga membuat saya tertawa dengan dialog-dialog mereka. Contohnya seperti di bawah ini saat ijab kabul:

Mengikuti isyarat penghulu, Turman langsung berkata lantang, “Saya nikahkan putri saya, Rine Kumalasari bin Turman Syaringgih dengan mas kawin perhiasan emas sembilan puluh enam gram dibayar TUNAI.”

Sebelum kata ‘tunai’ selesai diucapkan (atau diteriakkan) Turman, Alan langsung menyambut dalam satu napas, tidak kalah lantang, “Saya terima nikahnya Rine Kumalasari bin Turman Syaringgih dengan mas kawin emas sembilan puluh enam gram dibayar TUNAI!”

Sebagian hadirin tertawa kecil dan berbisik-bisik. Dari sudut matanya, Alan bisa melihat Dadan mengangkat jempolnya. “Bagaimana?” tanya Penghulu kepada kedua saksi.

“Sah,” angguk mereka.

“Sebentar,” Turman mengangkat tangan kanannya. “Bisa diulang? Tadi dia lupa sebut ‘perhiasan’.”

Sang Penghulu melongo. “Menurut saya nggak apa-apa, Pak.”

“Nggak bisa,” tegas Turman. “Emas dan perhiasan emas itu dua barang yang berbeda. Nanti nggak sah. Mohon diulang.”

“Nggak apa-apa ya, Den?” senyum Penghulu kepada Alan. “Kerelaan mertua patut dijaga,” tawanya.

Alan hanya mengangguk gugup. Tanpa melirik pun Alan yakin bahwa Dadan sedang misuh-misuh. Dan prosesi itu pun diulang. Kali ini Alan tidak luput mengucapkan “perhiasan”.

“Bagaimana?” tanya Penghulu kepada kedua saksi.

Mereka kembali mengangguk, “Sah.”

“Bentar dulu,” Turman kembali menengahi. “Tadi sebelum ‘dibayar tunai’ ada jeda dikit. Kayaknya ngambil napas.”

Sang penghulu menoleh Turman. Ekspresinya berubah khawatir, “Bapak benar rela menikahkan putri Bapak?”

“Sangat rela,” jawab Turman, tanpa mengubah ekspresi. “Jadi gimana? Bisa diulang?”

“Kalau walinya gimana?” gerutu Dadan cukup keras. “Bisa diganti?” (hal. 84 – 85)

Tuh kan. Dodol banget. 😆

Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita menurut saya sangat pas proporsinya. Dengan karakter mereka masing-masing memberikan warna pada cerita sehingga menjadi lebih menarik. Selain Rine yang tegas, Alan yang lebih soft ketimbang Rine, dan Andi yang ngeyel melulu. Ada Turman yang digambarkan sebagai ayah yang angkuh, gengsian, dan cuek. Sementara Dadan digambarkan sebagai ayah yang dekat dengan kedua anaknya, pengertian, dan sangat memahami anak-anaknya. Semuanya diberikan proporsi yang pas dan tidak berlebih-lebihan.

Pada akhirnya Oksimoron adalah novel yang menghibur. Isman H. Suryaman keren!

#8 – InterWorld

InterWorldJudul: InterWorld
Penulis: Neil Gaiman dan Michael Reaves
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2010)
Halaman: 280
ISBN 13: 978-979-22-5890-5
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 4/5

Joey Harker hobi sekali tersesat. Bahkan di dalam rumahnya sendiri pun dia masih bisa tersesat. Keluarga dan teman-temannya sudah paham betul hobi Joey yang satu ini. Joey sendiri baru memahami kenapa dia bisa seringkali tersesat setelah mendapat tugas dari Mr. Dimas, guru mata pelajaran Kajian-kajian Sosial di sekolahnya.

Saat itu Joey dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas yang agak ekstrem. Mereka diangkut naik bus sekolah dan diturunkan di sembarang tempat. Tugas mereka adalah menemukan jalan menuju pos dalam batas waktu tertentu dan tanpa peta. Ponsel, kartu kredit, dan uang tunai disita. Jadi, mereka benar-benar tidak bisa meminta bantuan dari orangtua atau menelpon taksi untuk menjemput. Dari sinilah petualangan kemudian dimulai.

Dalam tugas itu Joey kembali tersesat. Tak mengherankan sebetulnya. Namun, tersesatnya Joey kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Joey tersesat ke dunia lain. Rupanya Joey adalah seorang Pelintas. Dia bisa melintasi antardimensi. Dan ternyata Joey bukan satu-satunya Pelintas yang ada di Multiverse.

Joey adalah Pelintas yang hebat. Kekuatannya menjadi daya tarik bagi dua kubu di Multiverse, yaitu HEX yang mengandalkan sihir dan Binary yang mengandalkan sains. Kedua kubu ini bernafsu ingin menguasai Multiverse dengan memanfaatkan kekuatan para Pelintas, termasuk Joey. Namun, Joey memutuskan untuk bergabung dengan InterWorld Prime, sebuah gabungan pasukan berupa dirinya dari berbagi versi dari berbagai dimensi yang ada di Multiverse. Mereka pun juga memiliki kekuatan-kekuatan yang hebat seperti Joey. Mereka bersatu-padu berjuang menghentikan kekuatan jahat yang ingin menguasai Multiverse.

Cerita yang sangat menarik bagi saya. Neil Gaiman selalu berhasil memukau saya. Bagi saya, dia pengarang dengan imajinasi yang luar biasa. Orang yang kreatif sekali bisa membuat cerita-cerita fantasi dan kali ini sci-fi. Sudah cukup lama sebenarnya saya mengincar buku ini, tetapi baru kesampaian beli tanggal 25 Maret yang lalu. Itupun karena Gramedia sedang mengadakan bazar buku murah. InterWorld hanya dibanderol dengan harga Rp 20.000,-.

Well, satu yang menjadi pertanyaan bagi saya mengapa Neil Gaiman dan Michael Reaves tidak banyak membahas Binary? Tadinya saya kira ceritanya akan terjadi perang antara HEX dan Binary, juga dengan InterWorld yang bertindak sebagai gerilyawan. Sesekali mengecoh kedua kubu tersebut dengan serangan tiba-tiba. Nyatanya, Gaiman dan Reeves lebih banyak menceritakan HEX ketimbang Binary. Binary hanya dijelaskan sembari lalu. Penjelasan yang cukup memberikan kita informasi bahwa sedang terjadi perebutan kekuasaan di Multiverse antara HEX dan Binary. Sudah, hanya itu saja. Konflik yang ada pun hanya antara InterWorld dan HEX, tidak ada Binary. Jadi, menurut saya kurang seru saja. Kasihan Binary hanya dijadikan pemanis saja dan tidak memberikan kontribusi apapun dalam konflik di InterWorld.

Meski begitu, saya tetap memberikan 4 bintang dari 5 karena penulisnya adalah penulis favorit saya dan ceritanya juga menarik. 😀

#7 – Predictably Irrational

Predictably Irrational Judul: Predictably Irrational
Penulis: Dan Ariely
Rating: 5/5

Predictably Irrational adalah buku yang mengupas di balik perilaku irasional kita. Misalnya, kenapa kita bisa sembuh dengan membeli obat yang lebih mahal ketimbang obat yang lebih murah padahal kandungan obatnya sama, kenapa yang namanya “gratisan” itu sangat menarik bagi kita namun ternyata tidak benar-benar gratis 100%, dan masih banyak lagi.

Jika menurut ilmu ekonomi sebagai manusia kita bersikap dan berperilaku sangat rasional dan penuh perhitungan, maka tidak demikian menurut Behavioral Economics. Karena pada kenyataannya, manusia akan membuat keputusan-keputusan yang irasional.

Dan Ariely memberikan ringkasan dari penelitian-penelitiannya untuk menjelaskan perilaku irasional kita. Dan penelitian-penelitian yang dilakukan Ariely ini keren-keren. Kreatif banget. Wajar juga sih, kan Ariely memang peneliti. Setiap bab yang saya baca saya tak henti-hentinya “Oh iya juga ya..”, “Bener itu..”, dan “Oh, ternyata gitu toh.” dan setiap penjelasan yang diberikan sangat masuk akal dan memberikan wawasan baru.

Buku yang bagus dan menjadi favorit saya. Layak untuk dibaca ulang. Nanti kalau sudah dibaca ulang, saya akan mencatat bagian-bagian pentingnya. Kalau mood sedang bagus, mungkin nanti akan saya tulis ulang resensinya. Karena sekarang saya sedang malas menulis dan tidak tahu mau meresensi apa karena tidak ada catatan kecil saya untuk buku ini. My bad. I’m sorry. 😆

#6 – Decision Making Near End-of-Life

Decision Making Near End of LifeJudul: Decision Making Near End-of-Life
Penulis: James L. Werth, Jr. dan Dean Blevins (editor)
Rating: 3/5

Buku ini termasuk dalam seri Death, Dying, and Bereavement. Saya yang sedang tertarik dengan apa-apa yang berbau kematian membaca buku ini dengan senang hati dan kemudian berujung pada hati suram dan mimpi buruk. Halah. Tapi, saya tidak kapok kok. Saya masih tertarik dengan topik kematian. 😛

Buku ini terdiri dari  empat bagian. Bagian pertama merupakan kisah-kisah personal dari pasien dan keluarga pasien yang pernah mengalami near end-of-life ini. *Ngomong-ngomong, terjemahan yang tepat untuk near end-of-life apa ya?* Terdapat empat kisah, yaitu kisah remaja yang terinfeksi virus HIV dari ibunya yang melahirkannya, kisah pria yang menderita sindrom Guillain-Barre, kisah seorang ayah dan kakak yang harus memutuskan mencabut life support orang yang dikasihi mereka berdua, dan kisah seorang anak yang harus menghormati keinginan ayahnya untuk mengakhiri nyawanya karena penyakit yang dideritanya.

Bagian kedua merupakan garis besar dari isu yang dibahas di buku ini, yaitu pilihan near end-of-life. Bagian ketiga merupakan aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam berbagai pilihan end-of-life dan proses pengambilan keputusannya. Bagian keempat adalah pertimbangan psikososial.

Biasanya saya tidak suka baca buku nonfiksi dimana merupakan hasil keroyokan. Maksudnya, penulisnya banyak tergantung ada berapa bab. Masing-masing bab ditulis oleh penulis yang berbeda. Kemudian ada editor yang merapikannya. Tapi, buku ini pengecualian. Bukan berarti saya juga benar-benar suka sama buku ini sih, hanya saja Decision Making Near End-of-life adalah buku jenis ini pertama yang bisa saya baca sampai habis. Mungkin karena saya memang sedang tertarik dengan topik yang dibahas, mungkin juga karena diksi yang digunakan juga tidak njelimet dan tidak kebanyakan jargon. Lebih membumi ketimbang buku-buku nonfiksi sejenisnya.

Seperti judulnya buku ini membahas tentang pilihan yang harus diambil menyangkut nyawa pasien yang mendekati akhir hidupnya, entah itu karena brain trauma, Alzheimer, kanker stadium lanjut, sindrom Guillain-Barre, HIV/AIDS, atau berbagai penyakit berbahaya lainnya. Penyakit-penyakit tersebut yang pada akhirnya nanti akan membawa pengidapnya pada kematian. Misalnya pasien dengan brain trauma dimana dia dalam keadaan koma, kendati dia selamat, namun otaknya tidak mungkin lagi berfungsi. Atau pasien kanker stadium lanjut yang jika keadaannya sudah sangat parah nantinya hanya akan bisa berbaring dan tidak sadar. Kalau sudah begini, apakah yang akan dilakukan oleh keluarga pasien? Mempertahankan pasien semaksimal mungkin dengan membuatnya tetap hidup atau memilih untuk tidak melihat pasien menderita dan mengikhlaskan pasien pergi?

Apapun pilihan yang dipilih oleh keluarga pasien–karena pasien sudah tidak bisa lagi berbicara untuk menentukan pilihannya sendiri–seyogyanya harus dipertimbangkan masak-masak. Ada banyak hal yang harus diperhatikan. Diantaranya kesehatan mental pasien itu sendiri. Jika pasien meminta kematiannya dipercepat, harus dipertanyakan permintaannya itu apakah betul-betul dia menginginkannya atau jangan-jangan kesehatan mentalnya terganggu? Kemudian, bagaimana kesepakatan keluarga. Jangan sampai ada perdebatan yang nantinya malah menyiksa pasien. Lalu, pandangan agama dan spiritual terhadap penyakit yang mengancam nyawa, di saat pasien sedang sekarat, dan kematian. Terakhir, bagaimana budaya dan keragaman individu dalam melihat end-of-life.

Akan sangat membantu jika di saat pasien masih sadar dan masih punya kemampuan untuk mengambil keputusan telah membicarakan soal penyakitnya, implikasi penyakitnya, kemungkinan terburuk dari penyakitnya, dan apa yang harus dilakukan oleh keluarga jika nanti kemungkinan terburuk itu datang. Oleh karena itu, di sini sangat diperlukan untuk terus berdiskusi secara intensif dengan dokter yang merawat. Jangan takut untuk menanyakan apa kemungkinan terburuk dari penyakit yang diderita. Tanyakan saran medis dari dokter. Tanyakan semuanya sedetil mungkin, sampai hal yang paling kecil sekalipun. Semuanya ini bertujuan agar nantinya memudahkan pengambilan keputusan near end-of-life si pasien.

#5 – A to Z by Request

A to Z by RequestJudul: A to Z by Request
Penulis: Rizal Affif dkk.
Penerbit: PT Grasindo (cetakan pertama, 2013)
Halaman: vi + 338
ISBN 13: 978-602-251-171-7
Harga: Rp 37.600,- (setelah diskon 20%)
Rating: 5/5

Seorang teman SMP dan SMA memberitahu saya bahwa dia sudah menerbitkan buku, meski teman tersebut dengan rendah hati bilang buku tersebut tidak bisa dibilang sepenuhnya bukunya karena dia hanya menyumbang satu tulisan dalam buku tersebut. Buku yang dimaksud adalah A to Z by Request, sebuah antologi cerpen, dan teman saya yang dimaksud adalah Luxmaning Hutaki Widiastari.

Sebagai teman, saya sungguh bangga dengan pencapaian Lulu, panggilan akrab teman saya. Saya turut senang ada teman saya yang akhirnya menerbitkan sebuah buku. Dan sebagai teman yang suportif, saya membeli buku tersebut kemarin di Gramedia setelah berbulan-bulan dulu dan setelah ada diskon dulu.

Jadi, apa itu A to Z by Request? Bagaimana jalan ceritanya? Seru gak? Seru. Ini sungguhan. Untuk sebuah antologi dimana nama-nama penulisnya hanya satu orang saja yang saya kenal, saya berani bilang ini adalah buku yang bagus. 26 cerpen yang ada ditulis selayaknya ditulis oleh penulis profesional dan sudah ada nama. Selama membaca tak henti-hentinya saya berkata kepada diri sendiri bahwa buku ini layak untuk mendapat apresiasi yang lebih luas dan ke 26 penulis ini layak mendapat panggung yang lebih megah di Indonesia. Masing-masing dari mereka layak untuk menerbitkan buku sendiri.

Dari tema yang disuguhkan pun sudah menarik. 26 penulis mendapatkan satu huruf untuk tema cerita yang ditulis. Dari huruf A hingga Z. Dengan huruf tersebut terserah kepada setiap penulis bagaimana mereka akan meramunya menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Entah itu menjadi sebuah awalan nama, titel, chord, penyakit, apapun. Dan dari setiap huruf membawa kejutan yang tidak biasa. Nyaris di setiap akhir cerita saya dibuat tersenyum, ya tersenyum puas, tersenyum getir. Tentu saja karena ceritanya mampu mengaduk emosi. Ke 26 cerita sukses memberikan twist cerita yang tidak dapat saya duga sebelumnya. Jangankan twist, jalan ceritanya saja bagaimana tidak dapat saya terka. Mungkin saya terlalu asyik membaca rangkaian kata dan diksi yang menarik sehingga saya membiarkan diri saya hanyut dalam cerita. Saya tidak membiarkan diri saya terlalu sibuk untuk menebak alur cerita. “Nikmati saja cerita yang sudah disuguhi, Kim. Jangan kamu terlalu ambil pusing.” Seperti yang tertera di cara penyajian buku ini (bisa dibaca di sampul belakang):

Ambil segelas kopi dan sebungkus kacang. Cari huruf mana saja sesuai selera dan temukan cerita di baliknya. Nikmati selagi hangat.

Itu kunci utamanya: nikmati selagi hangat. Namun, saran saya jangan hanya membaca huruf-huruf tertentu. Baca semua huruf dari A hingga Z. Dan bersiaplah untuk selalu ketagihan dan bilang, “I want another word, please. I want more.”

Buku di Januari 2014

Terinspirasi dari Rise yang wrap-up buku-buku yang sudah dibacanya selama satu bulan kemarin, maka saya juga ikut-ikutan ingin membuat ringkasan buku apa saja yang sudah saya baca selama bulan Januari yang lalu. Karena, toh tidak semua buku saya tulis riviunya, tapi hanya saya beri rating di Goodreads. Jadi, selama 31 hari di Januari saya membaca delapan buku berikut:

1. How the Mind Works – Steven Pinker

Buku pertama dari Steven Pinker yang saya baca dan saya, jujur saja, agak susah mencernanya. Yah, mungkin saja karena topik tentang cognitive science belum begitu familier bagi saya. Atau bisa saja karena dari dulu saya tidak suka kognitif (saya tidak lulus mata kuliah itu!), jadi tanpa saya sadari saya memblok semua hal yang berbau-bau kognitif. Padahal saya tertarik dengan topik bahasa, neuroscience, dan human mind. Tapi, sepertinya jika ingin membaca buku-buku dengan dua topik tersebut, maka mau tak mau saya harus bersinggungan dengan ilmu kognitif. Blah.

Rating: 3/5 (ini aneh. Saya juga lupa kenapa saya memberi 3 bintang dari 5. Sepertinya nanti saya harus baca ulang buku ini. Kapan-kapan.)

2. Lapar – Knut Hamsun

Riviu sudah saya tulis di sini. Singkatnya sih tokoh “Aku” adalah orang yang sangat miskin. Dia sudah terbiasa lapar dan tidak makan berhari-hari. Meski begitu, dia selalu berpikir positif, jujur, dan berharga diri tinggi, yang bagaimanapun juga saya melihatnya ketiga sifat itu kalau takarannya berlebihan ya tidak bagus juga. Malah mencelakakan.

Rating: 4/5

3. Blink: The Power of Thinking without Thinking – Malcolm Galdwell

Riviu juga sudah saya tulis di sini. Buku tentang snap judgment atau thin-slicing. Buku yang ringan, mudah dibaca, dan tidak terlalu tebal. Itu berarti isinya juga ya so-so.

Rating: 2/5

4. Sampar – Albert Camus

Novel ini berkisah tentang wabah yang menyerang sebuah kota di Aljazair, yaitu Oran. Bagaimana penduduk kota tersebut menghadapi wabah tersebut dan bertahan hidup. Perjuangan Dr. Bernard Rieux yang tanpa pamrih mengobati penduduk Oran mengharuskannya rela diisolasi dan tidak dapat bertemu dengan istrinya, yang pada saat wabah menyerang istrinya sedang berobat ke luar kota. Juga perjuangan karakter-karakter lain di buku ini dengan caranya masing-masing.

Rating: 4/5

5. The Man who Mistook His Wife for a Hat – Oliver Sacks

Buku tentang kisah pasien-pasien yang pernah ditangani Dr. Oliver Sacks, seorang neurologist. Membaca ini saya semakin tertarik dengan neuroscience. Satu hal saja bermasalah di salah satu bagian otak kita akan membuat kita menderita. Parkinson, dementia, Tourette’s Syndrome, dan sebagainya. Membuat saya tidak henti-hentinya bersyukur saya dikaruniai kesehatan dan semoga kesehatan ini bisa saya jaga sampai saya menyerah kepada takdir (baca: meninggal).

Rating: 4/5

6. Inferno – Dan Brown

Tema dari novel ini menarik, yaitu tentang overpopulasi. Seperti yang sudah kita ketahui bersama jumlah populasi manusia yang tidak terkontrol dapat membahayakan umat manusia itu sendiri. Krisis pangan, krisis air, belum lagi berbagai kerusakan di Bumi yang kita buat sendiri. Tema yang menarik, namun tidak diikuti dengan cerita yang menarik, hasilnya ya Inferno. Tokoh antagonis yang terinspirasi dari Divine Comedy-nya Dante, yang memberikan nilai plus lainnya. Sayangnya, apa iya untuk mencegah Bertrand menjalankan aksi kriminalnya dibutuhkan tenaga seorang profesor ahli simbol, Robert Langdon, yang ditemani gadis cantik jelita dan pintar, Sienna Brooks? Plot cerita Dan Brown terlalu mudah ditebak. Intinya itu-itu saja. Mirip dengan novel-novel karangannya sebelumnya.

Rating: 2/5

7. Unaccustomed Earth – Jhumpa Lahiri

Buku kedua dari Jhumpa Lahiri yang sudah saya baca dan saya semakin jatuh cinta dengan dia. Jhumpa (selalu) menulis tentang orang berdarah India, atau asli India, yang tinggal di luar tanah airnya. Ada gegar budaya, ada adaptasi, ada kerinduan, ada kisah cinta dan kasih sayang dalam setiap ceritanya membuat saya “meleleh” dan rapuh. Kata-kata yang digunakan juga indah, bisa menciptakan suasana yang romantis tanpa harus mendeskripsikan romantis itu seperti apa. If you know what I mean.

Rating: 5/5

8. Extremely Loud and Incredibly Close – Jonathan Safran Foer

Riviu sudah saya tulis di sini. Tentang kisah seorang anak berusia 9 tahun, Oskar Schell, yang harus kehilangan ayahnya karena tragedi peristiwa 9/11. Oskar yang sangat dekat dengan ayahnya memiliki kesulitan untuk ikhlas bahwa ayahnya sudah tidak ada lagi. Ini adalah sebuah kisah bagaimana seorang anak harus merelakan ayahnya yang sudah meninggal.

Rating: 5/5

Fiuh… Akhirnya selesai juga. Ternyata membuat rangkuman buku-buku yang sudah dibaca selama satu bulan tidak mudah ya. Tapi, tidak apa-apa. Anggap saja ini sebagai ajang refreshment. Biar otak saya diajak bekerja dulu dengan mengingat-ngingat buku-buku yang sudah saya baca. Mudah-mudahan saja di bulan Februari ini saya bisa membaca lebih banyak buku dibanding bulan kemarin.

#4 – Extremely Loud and Incredibly Close

Cover Extremely Loud and Incredibly CloseTitle: Extremely Loud and Incredibly Close
Author: Jonathan Safran Foer
Rating: 5/5

One of the good things in reading a book is when you don’t have any expectations at all and after you finish reading it you take a deep sigh and say to yourself, “Damn, it’s good.” You don’t read its synopsis and reviews. What you only have is people say it’s a good book. That’s it. And that’s what I have experienced with Extremely Loud & Incredibly Close. I don’t have any expectations at all. All I know is that some of my friends say that this is good. So, I read it.

At first, I thought it was about another love story. A romance. It only took me few pages to realise that this was about a boy and his father. “Okay, this is interesting,” I thought. So, I read page after page and it’s getting more and more interesting for me. Maybe just like what Ayu has written in her review of this book, “This could be one of my biased review because I’m reading this when I’m not in a right emotional state.” In my case was I was in a right emotional state. I was fine and I wasn’t in my depresive mood. But, I lost my father 58 days ago. Automatically, I relate myself to Oskar Schell, the main character. Yes, this could be one of my biased review because the same story what Oskar and I have.

Oskar lost his father in 9/11 tragedy. After he died, Oskar found a vase. Inside it there was an envelope written “Black” with a key in it. Oskar thought it should have something to do with his father. So, he decided to find this Black–whoever he or she was–and asked Black about the key. Maybe Black knew something about his father. He roamed around New York to find the Black. He had spent eight months before finally he found the right Black. And along his journey he knew who his Grandpa was. At last.

This story was written using three viewpoints: Oskar, his grandfather, and his grandmother. For first few chapters I was confused who was telling a story. But then I was able to know who the narator was for each chapter.

I love Oskar. He was smart and was a critical boy. He’s only 9 years old and he knew already he was an atheist. Though I doubt that there was really a 9-year-old boy could think like that. I get the feeling that he got all that from his father since, I think, the two of them were very close. What Oskar and his father have, the relationship between them, reminds me of my own relationship with my father. While reading this, I couldn’t stop thinking of my father. Oskar and I have the same story. We both loved our father. We both lost someone that was dear to our hearts. We both grieved, but in different way. By roaming around New York to find the Black was Oskar’s way to grieve. He definitely took a really long time to grieve. He’s upset at his mother because he thought his mother was so quickly to be happy and find a new friend. He just didn’t know that there’s no right way to grieve.

After finish reading this, I felt pain in my old wound. It was like someone pour a salt over it. I guess my wound will never completely heal. I closed my ebook reader and whispered, “Papa, I miss you so much.”

#3 – Blink

BlinkJudul: Blink
Penulis: Malcolm Galdwell
Edisi: ebook. Pertama kali terbit tahun 2005.

Akhirnya saya bisa baca juga Blink setelah sekian tahun saya tahu buku ini (pertama kali diberitahu oleh dosen saya sewaktu saya masih semester 1 atau 2). Seandainya saya baca buku ini sewaktu saya kuliah dulu niscaya topik thin-slicing adalah topik yang menarik. Berhubung saya baru baca sekarang, somehow topik ini sudah tidak menarik lagi.

Mungkin kalian sudah tahu apa itu thin-slicing. Kita bisa menilai sesuatu dan/atau seseorang hanya dalam beberapa detik saja. Seorang kurator bisa tahu suatu artefak asli atau tidak hanya dengan memandangnya sekilas. Seorang psikolog bisa melihat hanya dalam beberapa menit saja untuk tahu pasangan suami-istri akan awet atau tidak perkawinannya. Dan banyak contoh yang lainnya. Buku ini membahas thin-slicing dimulai dari patung kouros dari enam abad sebelum masehi dan setelah dilihat oleh kurator ternyata palsu, kemudian tentang perkawinan (John Gottman bisa menilai pasangan suami-istri akan bercerai atau tidak hanya dari interaksi mereka dalam beberapa menit saja), tentang periklanan hingga militer. Dengan thin-slicing kita memang bisa menghemat waktu dan tenaga, tetapi thin-slicing juga punya sisi gelapnya. Sisi gelapnya yah… berhati-hatilah dalam melakukan snap judgment karena siapa tahu bisa merugikan diri kita atau orang lain. Hihihi…

Secara keseluruhan, buku ini ringan yah selayaknya psikopop lah. Dalam hitungan jam bisa selesai dibaca sebenarnya. Tapi, berhubung saya sedang malas dan sedang (sok) sibuk juga jadi baru bisa selesai baca buku ini setelah empat hari. 😀 Dan isinya juga tidak terlalu menarik. Tapi, kalau hanya untuk sekadar pengantar tentang thin-slicing, ya Blink lumayan okelah.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 2 untuk Blink.

#2 – Lapar

LaparJudul: Lapar
Penulis: Knut Hamsun
Penerjemah: Marianne Katoppo
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia (cetakan II, Juli 2013)
Halaman: xxii + 284
ISBN 13: 978-979-461-850-9
Harga: Rp 55.000,-

Knut Hamsun. Nama itu belum saya pernah dengar sebelumnya hingga hari Sabtu tanggal 28 Desember 2013. Hari itu saya iseng ke toko buku di kota saya dan melihat buku ini di rak “Sastra”. Saya pun tertarik ketika mengetahui Hamsun adalah seorang penerima nobel di bidang kesusastraan.

Lapar bercerita tentang “Aku” yang sangat miskin. Sudah biasa baginya tidak memegang uang sepeser pun dan tidak makan berhari-hari. “Aku” harus menahan lapar, badannya menjadi kurus kering, lemah, dan tidak berdaya. Bahkan dia tidak punya tempat tinggal. Pernah dia harus tidur di hutan di kala cuaca begitu dingin.

Yang menarik dari “Aku” adalah meski dia sangat miskin dan sudah tidak makan berhari-hari, dia tetap berpikir positif. Dia selalu semangat dan yakin bahwa artikelnya akan dimuat di koran dan dia akan mendapat uang untuk makan. Dia percaya itu. “Aku” juga orang yang jujur dan harga dirinya begitu tinggi. Meski dia tidak punya uang dan sangat kelaparan, dia tidak mau mengharapkan belas kasihan orang lain. Dia juga seorang yang jujur. Ketika seorang pelayan salah memberikan uang kembalian kepadanya, awalnya dia senang karena telah menerima uang “gratis”. Namun, lama-kelamaan hati nuraninya terus menghantuinya. Dia merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalahnya, dia memberikan uang itu ke nenek-nenek penjual roti. Bahkan, di saat saya mengira dia sebentar lagi akan mati, dia tetap optimis dan semangat.

Terlepas dari sifat positif dari tokoh “Aku”, jujur saja saya sering merasa kesal. Saya kesal dengan sifatnya yang terlalu optimis itu. Dia terlalu percaya diri bahwa tulisannya akan diterima editor, sementara dia sudah ditolak berkali-kali. Bukannya dia juga tetap mencari pekerjaan yang lain, tapi dia tetap terpaku dengan pekerjaannya sebagai penulis. Akibatnya, dia tidak punya penghasilan dan dia harus menahan lapar juga dingin karena dia tidak ada tempat tinggal. Yah, mungkin ini karena saya yang pragmatis, tapi entahlah… Rasa-rasanya “Aku” itu ya ndak benar juga.

Lapar yang aslinya berbahasa Norwegia diterjemahkan dengan baik oleh Marianne Katoppo. Tahu darimana saya kalau novel ini terjemahannya baik sementara saya kan tidak bisa bahasa Norwegia? Karena saya menikmati membaca novel ini. Kening saya tidak perlu berkerut membaca terjemahan yang aneh. Saya terhanyut membaca dari awal hingga akhir. Namun sayang, masih ada beberapa kesalahan ketik. Tapi, bisa ditolerir lah. Mudah-mudahan cetakan yang berikutnya tidak ada lagi kesalahan ketik.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 4 untuk Lapar.

#1 – Good Omens

Good Omens

Judul: Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Penulis: Neil Gaiman dan Terry Pratchett

Alkisah dunia akan kiamat. Hari akhir akan segera tiba. Dunia ada di tangan bayi laki-laki yang lahir ke dunia, Anti-Christ, yang menentukan apakah dunia kiamat atau tidak.

Si malaikat Aziraphale dan si iblis Crowley bekerja sama mengawasi  Anti-Christ. Sampai saatnya tiba nanti Anti-Christ akan menentukan nasib dunia. Mereka meyakini bahwa manusia bisa berubah. Mereka percaya jika Anti-Christ di jalan yang “benar”, maka dunia akan selamat. Dunia tidak akan mengalami kekacauan. Kecintaan Aziraphale dan Crowley terhadap manusia lah yang membuat mereka membangkang dari tugas mereka yang seharusnya.

Namun sayang, Aziraphale dan Crowley mengawasi anak yang salah. Warlock, nama anak yang mereka kira adalah Anti-Christ, ternyata hanyalah anak laki-laki biasa. Seharusnya yang mereka awasi adalah Adam Young.

Young sendiri di usianya yang sebelas tahun tidak menyadari bahwa dia punya kekuatan. Ketika dia sedang mengobrol bersama komplotan kecilnya, apa yang dia ucapkan menjadi kenyataan. Dia ingin Bumi penuh dengan pepohonan, maka tumbuhlah pepohonan. Dia ingin orang Tibet menggali terowongan dan ada di tempat mereka, maka datanglah orang Tibet. Dia ingin ada makhluk UFO datang, maka datanglah UFO. Dan seterusnya.

Saya tadinya mengira Young yang egois dengan “idealisme”-nya, tanpa disadarinya akan menghancurkan dunia. Dia akan menciptakan peperangan antara kebaikan dan kejahatan, antara surga dan neraka. Karena berdasarkan ramalan Anti-Christ akan lahir dan dunia akan kiamat. Ternyata perkiraan saya salah. Adam Young tidak bertindak dengan apa yang sudah digariskan kepadanya.

Terlepas dari ceritanya yang lucu, konyolnya Aziraphale dan Crowley, saya berpendapat buku ini (mungkin) berbicara soal determinisme dan free will. Adam Young yang sudah digariskan sebagai Anti-Christ, yang harus menciptakan kekacauan, menciptakan perang antara Surga dan Neraka, yang harusnya membuat dunia berakhir, malah lebih memilih dunia yang damai. Si iblis Crowley yang seharusnya jahat, merayu manusia agar selalu berbuat jahat, malah menyukai manusia dan ingin hidup damai di bumi, dan juga dia berteman dengan si malaikat Aziraphale. Aziraphale bahkan bilang bahwa dia merasa Crowley di dalam hatinya setidaknya memiliki sedikit kebaikan.

Kita sebagai manusia punya kecenderungan yang sama besar untuk menjadi baik atau jahat. Semuanya tergantung pada pilihan kita untuk menjadi salah satu diantaranya.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 4 untuk Good Omens: The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch.

*tulisan ini saya muat juga di blog saya satunya.