#51 – A Man Called Ove

Judul: A Man Called Ove
Penulis: Fredrick Backman
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Penerbit: Noura Books
Halaman: 440
ISBN-13: 978-602-385-023-5
Harga: Gratis. Pinjam di iJakarta.
Rating: 5/5

Ove itu laki-laki yang menyebalkan. Pria berusia 59 tahun ini hobinya marah-marah kalau ada hal yang tidak sesuai dengan peraturan. Kalau ada peraturan bilang tidak boleh ada kendaraan di dalam pemukiman, maka dia akan ngamuk kalau ada yang melanggarnya. Dia adalah pria yang sangat menjunjung tinggi moral yang diyakininya.

Ove juga sangat kaku. Dia punya jadwal rutin yang tidak bisa diganggu. Dia bangun tepat pada pukul 6 kurang 15. Lalu, dia inspeksi keliling kompleks. Dia menolak modernisme. Dia tidak suka perubahan.

(lebih…)

#50 – Kaas

kaas-kejuJudul: Kaas
Penulis: Willem Elsschot
Penerjemah: Jugiarie Soegiarto
Editor: Dini Pandia
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Mei 2010)
Halaman: 176
ISBN-13: 978-979-22-5767-0
Harga: Gratis. Pemberian Lulu.
Rating: 4/5

Frans Laarmans seorang pegawai kerani (administrasi) biasa. Karirnya mandek dan sepertinya tidak akan bisa berkembang lagi. Sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab, dia ingin punya penghasilan yang banyak untuk meningkatkan taraf hidup keluarganya. Sebuah tawaran menggiurkan pun datang kepadanya. Sebuah posisi sebagai agen penjual keju dengan gaji dan insentif besar yang ditawarkan kepadanya cukup menggoda.

(lebih…)

#44 – Dunia Sophie

dunia-sophieJudul: Dunia Sophie
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Mizan (Edisi Gold, Cetakan X, Oktober 2013)
Halaman: 800
ISBN-13: 978-979-433-574-1
Harga: Rp 99.000,-
Rating: 5/5

Sophie Amundsend baru saja pulang dari sekolah. Memasuki halaman rumahnya ia memandang kotak surat. Ada sebuah surat yang ditujukan kepada Sophie. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada perangko. Isi surat itu: Siapakah kamu?

(lebih…)

#39 – The Trial

the-trialJudul: The Trial (Proses)
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Sigit Susanto
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Agustus 2016)
Halaman: vi + 251
ISBN-13: 978-602-03-2895-9
Harga: Rp 57.600,- (setelah diskon 10% pakai kartu Gramedia Flazz)
Rating: 2/5

Proses berkisah tentang Josef K, seorang bankir dengan karir cemerlang. Suatu pagi dia ditangkap dua petugas di apartemennya. Dia dituntut ke pengadilan untuk tuntutan yang tidak pernah terungkap. K merasa bingung apa yang menjadi kesalahannya sehingga dituntut. Karena selama ini K yakin tidak pernah berbuat tindakan kriminal.

(lebih…)

#38 – Arranged Marriage

Arranged MarriageJudul: Arranged Marriage (Perjodohan)
Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah: Gita Yuliani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2014)
Halaman: 376
ISBN-13: 978-602-03-0135-8
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 5/5

Arranged Marriage berisi sebelas cerita pendek dari Divakaruni. Dari judulnya sudah jelas topik dari kumpulan cerpen ini adalah perjodohan. Sebagian besar tokoh utamanya adalah wanita India yang dijodohkan oleh keluarganya. Latar cerita berada di India dan Amerika Serikat.

Ini adalah cerita para wanita yang harus menerima kenyataan bahwa mereka dijodohkan dengan lelaki yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Pernikahan yang mereka akan lalui seperti sebuah perjudian. Akankah pernikahan mereka bahagia atau justru menyiksa mereka?

(lebih…)

#37 – Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng

Putri Sirkus dan Lelaki Penjual DongengJudul: Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: A. Rahartati Bambang
Penerbit: Penerbit Mizan (edisi II, cetakan I, Juni 2015)
Halaman: 259
ISBN-13: 978-979-433-887-2
Harga: Rp 47.500,-
Rating: 3/5

Petter memiliki daya imajinasi yang luar biasa. Dia sangat kreatif dalam menulis cerita. Imajinasinya begitu liar. Anehnya, Petter tidak berminat untuk menjadi penulis ternama. Dia benci ketenaran dan lebih memilih untuk bekerja di balik layar. Dia menjual ide-ide ceritanya ke banyak penulis. Dari ide-ide cerita itu menghasilkan banyak karya sastra, berbagai macam penghargaan, dan penjualan buku yang memuaskan.

(lebih…)

#23 – Queen of Dreams

Queen of DreamsJudul: Queen of Dreams (Ratu Mimpi)
Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni
Penerjemah: Gita Yuliani K.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (terbitan I, Agustus 2011)
Halaman: 400
ISBN 13: 978-979-22-7395-3
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 2/5

Rakhi adalah seorang seniman dan ibu tunggal untuk anak semata wayangnya, Jona. Sebagai wanita keturunan India yang lahir dan besar di Amerika, Rakhi sangat ingin mengenal lebih dalam akan tanah kelahiran kedua orangtuanya. Namun sayang, orangtuanya tidak memfasilitasi Rakhi untuk dapat mengenal India.

Ibunya, Mrs. Gupta, adalah seorang peramal mimpi. Ia membantu orang-orang dengan merasakan dan menafsirkan mimpi-mimpi orang lain, serta membimbing mereka menjalani nasib yang telah digariskan. Setelah meninggalkan kelompoknya yang merupakan sesama peramal mimpi, ia merasa tidak utuh lagi. Ia seperti tercerabut dari akarnya. Ia menjaga jarak dari suami dan anaknya sendiri. Meski demikian, suami dan anaknya tetap mencintainya secara utuh, terutama Rakhi.

Saya tidak menikmati membaca Queen of Dreams. Saya bingung sebenarnya novel ini berkisah tentang apa. Konflik yang dibangun kurang terasa. Apakah perihal perpisahan Rakhi dengan suaminya? Jika demikian Divakaruni bertele-tele sekali dalam menjelaskan alasan Rakhi memutuskan untuk bercerai dengan Sonny. Menyebalkan. Ataukah novel ini berkisah tentang pertentangan batin dan kecemasan Mrs. Gupta? Entahlah.

Kemudian, kenapa peristiwa 9/11 dimasukkan ke dalam cerita? Maksud saya, apa pengaruhnya dalam cerita? Karena menurut saya, memasukkan 9/11 terkesan memaksakan sekali. Hanya seperti sembari lewat saja.

Tokoh-tokoh yang ada pun kurang menonjol. Rakhi sebagai orangtua tunggal seperti anak kecil pemarah dan seringkali tantrum. Mengenal Rakhi sangat tidak menyenangkan buat saya. Mrs. Gupta juga terlalu misterius. Saking misteriusnya saya tidak tahu apapun tentang dia. Itu menyebalkan juga buat saya. Justru tokoh yang agak menghibur buat saya adalah Belle, Sonny, dan Mr. Gupta.

Dan yang lebih menyebalkan lagi sampai di akhir cerita tidak dijelaskan siapa sesungguhnya pria berjubah putih yang kerap mendatangi Rakhi.

#22 – What the Dog Saw

What the Dog SawJudul: What the Dog Saw: Dan Petualangan-petualangan Lainnya
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan II, Februari 2010)
Halaman: xviii + 462
ISBN 13: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 4/5

What the Dog Saw adalah kumpulan artikel yang ditulis Malcolm Gladwell di The New Yorker, tempat dia bekerja sejak tahun 1996. Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama mengenai orang-orang yang oleh Gladwell sebut sebagai “genius minor”, seperti Nassim Taleb dan Cesar Millan; bagian kedua membahas teori dan cara-cara menata pengalaman, seperti masalah tunawisma, kasus Enron, dan tentang plagiarisme; bagian ketiga tentang perkiraan kita selama ini mengenai manusia, seperti tentang menyusun profil kriminal dan tentang bakat.

Total ada sembilan belas artikel pilihan dalam What the Dog Saw. Semuanya menarik untuk dibaca. Saya sudah membaca tulisan Gladwell sebelumnya yang berjudul Blink dan saya lebih menyukai bukunya yang ini ketimbang Blink. Artikel-artikel yang ditulis banyak memberikan informasi baru buat saya. Temanya pun tidak membosankan. Lebih seru ketimbang thin-slicing yang jadi pembahasan di Blink.

#11 – Wuthering Heights

Wuthering HeightsJudul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan II, Juli 2011)
Halaman: 488
ISBN 13: 978-979-22-6978-9
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5/5

Saya pertama kali selesai membaca Wuthering Heights pada tanggal 26 September 2011 (terima kasih kepada Goodreads telah menyimpan catatan sejarah membaca saya) dan serta merta saya langsung menyematkan label favorit pada novel romansa gelap ini. Waktu itu saya membaca bahasa aslinya dan rada-rada puyeng dengan gaya penulisannya. Maklum, namanya juga sastra klasik. Tapi, setidaknya saya masih bisa mengerti untuk mengikuti ceritanya (dan kemudian lama-lama terbiasa dengan gaya novel sastra klasik).

Ketika saya menemukan terjemahan novel ini di acara bazar bulan lalu, segera saya mengambil satu kopi untuk saya bawa pulang. Meski sebenarnya saya agak was-was dengan terjemahannya, tapi saya pikir tidak apa deh. Saya belum punya buku cetak dari Wuthering Heights ini, yang notabene adalah novel favorit saya sepanjang masa. Yang saya baca sebelumnya hanyalah versi e-book. Toh, saya percaya dengan kualitas buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Jadi, seharusnya sih terjemahannya bagus. Alhamdulillah, harapan saya terbukti. 🙂

Wuthering Heights bercerita tentang kisah cinta yang gelap antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Kisah bermula ketika Mr. Earnshaw setelah dari perjalanannya membawa pulang seorang anak gipsi ke rumah. Heathcliff langsung bisa menjalin hubungan yang erat dengan Catherine, tetapi tidak dengan Hindley, kakak Catherine. Hindley tidak suka dengan Heathcliff karena menurutnya Heathcliff adalah anak gipsi yang liar, bodoh, bandel, dan susah diatur. Hindley kerap menyiksa Heathcliff, tapi hal itu bukan masalah besar baginya karena dia mendapatkan pelipur lara dari Catherine. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua dan bermain bersama-sama hingga akhirnya ketika mereka remaja ada perasaan cinta dalam hati mereka.

Apakah kisah mereka berakhir dengan bahagia? Sayangnya tidak. Masalah utama menjadi muncul ketika Catherine memutuskan untuk menerima lamaran Edgar Linton. Padahal dalam hatinya Catherine menyadari dia mencintai Heathcliff. Alasannya menerima Edgar pun karena dianggapnya Edgar lebih kaya dan lebih terdidik dibandingkan Heathcliff. Suatu alasan yang sering kita jumpai di sekitar kita bukan? Seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan pria A yang dirasanya bisa memberikan status yang lebih baik ketimbang si B yang sebenarnya dicintainya. 😉

Mendengar Catherine menerima pinangan Edgar, saat itu juga dia kabur dari Wuthering Heights. Catherine pun menjadi rapuh. Namun, tiga tahun kemudian Heathcliff kembali datang dan menghantui kehidupan Catherine dan keluarga barunya. Heathcliff datang sebagai sosok yang baru. Dia bukan lagi anak gipsi yang bodoh, miskin, dan liar, melainkan dia menjadi pria yang gagah, cakap, dan kaya.

Kembalinya Heathcliff bukan tanpa alasan. Ada dendam yang harus dituntaskannya. Dia ingin membalas rasa sakit hati dicampakkan dan harus diakui cara-caranya luar biasa kejam dan tidak berperasaan. Di benak Heathcliff hanya ada Catherine, Catherine, dan Catherine. Hidupnya hanya berpusat pada Catherine. Demi Catherine Heathcliff akan melakukan apa saja, termasuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Tidak hanya Catherine, Hindley, Edgar, dan Isabella Linton (adik Edgar) yang harus merasakan pembalasan dendam Heathcliff, melainkan juga sampai kepada keturunan mereka masing-masing. Bahkan, anak kandung Heathcliff sendiri pun, Linton, ikut merasakan kekejaman Heathcliff.

Sebenarnya Heathcliff dan Catherine adalah pasangan yang cocok. Sama-sama keras, bebas, tidak mau dikekang, dan sudah mengerti satu sama lain. Dengan masuknya Edgar ke dalam kehidupan mereka merusak kisah cinta mereka, yang sebenarnya sangat saya sayangkan kenapa Edgar mau-maunya jatuh cinta dengan Catherine. Seharusnya biarkan saja Catherine dan Heathcliff menikah. Toh, lama-kelamaan pasti Catherine tidak tahan dengan watak Heathcliff yang kasar. Tapi, tentu saja kalau ceritanya begitu Wuthering Heights yang kita tahu tidak akan sekelam, sesedih, sedramatis, dan senelangsa ini. Betul tidak? 😛

Akhir cerita tidak sesuai dengan bayangan saya. Sungguh di luar dugaan. Saya kira pada awalnya pasti akhir cerita akan dibuat semakin menyedihkan mengingat dari awal saja ceritanya sudah sangat gelap. Tapi, untunglah Emily Bronte tidak sejahat itu dengan tokoh-tokoh ciptaannya. Meski di bab terakhir saya tetap dibuat merinding membacanya–bab terakhir ini bercerita tentang proses kematian Heathcliff dan ditulis dengan mencekam!–pada akhirnya ada juga kisah bahagia yang tercipta. 🙂

Untuk menambah kegelapan Wuthering Heights, silakan disimak video klip berikut ini:

#10 – In Cold Blood

In Cold BloodJudul: In Cold Blood
Penulis: Truman Capote
Penerjemah: Santi Indra Astuti
Penerbit: PT Bentang Pustaka (cetakan I, September 2007)
Halaman: viii + 476
ISBN 13: 978-979-1227-09-4
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 4/5

Holcomb, Kansas, adalah sebuah kota kecil. Penduduknya tidak hanya saling kenal satu sama lain, melainkan juga bisa hafal sejarah keluarganya. Ketika Nancy Ewalt dan Susan Kidwell ke rumah Clutter pada Minggu pagi dan mendapati satu keluarga itu dibunuh, sontak kota kecil itu diselimuti ketakutan.

Herb Clutter, Bonnie Clutter, Nancy Clutter, dan Kenyon Clutter harus menjadi korban pembunuhan yang dilakukan Perry Smith dan Richard “Dick” Hickock. Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 15 November 1959. Bonnie, Nancy, dan Kenyon tewas ditembak di kepala, sementara Herb Clutter tewas dengan leher nyaris putus. Smith dan Dick nekad melakukan pembunuhan itu untuk uang tak lebih dari 50 dolar.

Ketika saya membaca sampul belakangnya, serta merta saya penasaran. Dua orang mantan residivis ini tega membunuh empat nyawa hanya karena 50 dolar? Apa sebenarnya yang menjadi motif pembunuhan itu? Rasa sakit hati kah? Atau murni perampokan? Saya pun mulai membuka halaman pertama. Sejak halaman pertama ini saya sudah terganggu dengan terjemahan jelek dan kaku dari penerjemahnya. Yang bisa membuat saya bertahan membaca nonfiksi novel–Capote melabelinya demikian–ini karena saya penasaran apa yang menjadi motif kejahatan itu.

Capote menulis dengan detil kejadian sebelum dan sesudah pembunuhan. Dia dengan rinci menjelaskan kehidupan keluarga Clutter dan juga rinci menjelaskan latar belakang Smith dan Dick. Semuanya mendapatkan porsi yang sama dan pas. Capote berhasil menjelaskan sisi emosi Smith dan Dick, membuat saya bisa memahami dan menaruh rasa iba terutama dengan Smith.

Hal yang menarik dari In Cold Blood adalah bagaimana Capote mengatur alur ceritanya. Capote tidak tergesa-gesa memberikan kita motif serta kapan dan bagaimana kedua pelaku kejahatan itu tertangkap. Diawal-awal saya dibuat penasaran dengan motif. Setelah saya tahu apa yang menjadi motif kejahatan, saya mengangguk-angguk seraya berkata, “Oh, rupanya karena Floyd Wells ini toh berkoar-koar ke Dick dan Smith tentang keluarga Clutter.” Rasa penasaran saya tuntas terpenuhi. Namun, ada rasa penasaran berikutnya yang muncul. Bagaimana mereka tertangkap? Kok sepertinya susah sekali menangkap mereka? Capote dengan sabar menjelaskan setelah Dick dan Smith kabur ke Meksiko dan kehabisan uang di sana, mereka kemudian kembali ke Amerika Serikat dan akhirnya tertangkap di Las Vegas. Lagi, setelah rasa penasaran terjawab, muncul kembali rasa penasaran berikutnya. Bagaimana dengan hukuman mereka? Capote kembali memberi penjelasan dengan sabar. Dia menceritakan proses persidangan Dick dan Smith dengan cukup detil. Pro-kontra hukuman mati juga dibahas di sini.

Seandainya saja terjemahan dari Mbak Santi ini bagus, niscaya saya akan memberikan nilai 5 bintang dari 5.