#22 – What the Dog Saw

What the Dog SawJudul: What the Dog Saw: Dan Petualangan-petualangan Lainnya
Penulis: Malcolm Gladwell
Penerjemah: Zia Anshor
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan II, Februari 2010)
Halaman: xviii + 462
ISBN 13: 978-979-22-5249-1
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 4/5

What the Dog Saw adalah kumpulan artikel yang ditulis Malcolm Gladwell di The New Yorker, tempat dia bekerja sejak tahun 1996. Buku ini terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama mengenai orang-orang yang oleh Gladwell sebut sebagai “genius minor”, seperti Nassim Taleb dan Cesar Millan; bagian kedua membahas teori dan cara-cara menata pengalaman, seperti masalah tunawisma, kasus Enron, dan tentang plagiarisme; bagian ketiga tentang perkiraan kita selama ini mengenai manusia, seperti tentang menyusun profil kriminal dan tentang bakat.

Total ada sembilan belas artikel pilihan dalam What the Dog Saw. Semuanya menarik untuk dibaca. Saya sudah membaca tulisan Gladwell sebelumnya yang berjudul Blink dan saya lebih menyukai bukunya yang ini ketimbang Blink. Artikel-artikel yang ditulis banyak memberikan informasi baru buat saya. Temanya pun tidak membosankan. Lebih seru ketimbang thin-slicing yang jadi pembahasan di Blink.

#11 – Wuthering Heights

Wuthering HeightsJudul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan II, Juli 2011)
Halaman: 488
ISBN 13: 978-979-22-6978-9
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5/5

Saya pertama kali selesai membaca Wuthering Heights pada tanggal 26 September 2011 (terima kasih kepada Goodreads telah menyimpan catatan sejarah membaca saya) dan serta merta saya langsung menyematkan label favorit pada novel romansa gelap ini. Waktu itu saya membaca bahasa aslinya dan rada-rada puyeng dengan gaya penulisannya. Maklum, namanya juga sastra klasik. Tapi, setidaknya saya masih bisa mengerti untuk mengikuti ceritanya (dan kemudian lama-lama terbiasa dengan gaya novel sastra klasik).

Ketika saya menemukan terjemahan novel ini di acara bazar bulan lalu, segera saya mengambil satu kopi untuk saya bawa pulang. Meski sebenarnya saya agak was-was dengan terjemahannya, tapi saya pikir tidak apa deh. Saya belum punya buku cetak dari Wuthering Heights ini, yang notabene adalah novel favorit saya sepanjang masa. Yang saya baca sebelumnya hanyalah versi e-book. Toh, saya percaya dengan kualitas buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Jadi, seharusnya sih terjemahannya bagus. Alhamdulillah, harapan saya terbukti. 🙂

Wuthering Heights bercerita tentang kisah cinta yang gelap antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Kisah bermula ketika Mr. Earnshaw setelah dari perjalanannya membawa pulang seorang anak gipsi ke rumah. Heathcliff langsung bisa menjalin hubungan yang erat dengan Catherine, tetapi tidak dengan Hindley, kakak Catherine. Hindley tidak suka dengan Heathcliff karena menurutnya Heathcliff adalah anak gipsi yang liar, bodoh, bandel, dan susah diatur. Hindley kerap menyiksa Heathcliff, tapi hal itu bukan masalah besar baginya karena dia mendapatkan pelipur lara dari Catherine. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua dan bermain bersama-sama hingga akhirnya ketika mereka remaja ada perasaan cinta dalam hati mereka.

Apakah kisah mereka berakhir dengan bahagia? Sayangnya tidak. Masalah utama menjadi muncul ketika Catherine memutuskan untuk menerima lamaran Edgar Linton. Padahal dalam hatinya Catherine menyadari dia mencintai Heathcliff. Alasannya menerima Edgar pun karena dianggapnya Edgar lebih kaya dan lebih terdidik dibandingkan Heathcliff. Suatu alasan yang sering kita jumpai di sekitar kita bukan? Seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan pria A yang dirasanya bisa memberikan status yang lebih baik ketimbang si B yang sebenarnya dicintainya. 😉

Mendengar Catherine menerima pinangan Edgar, saat itu juga dia kabur dari Wuthering Heights. Catherine pun menjadi rapuh. Namun, tiga tahun kemudian Heathcliff kembali datang dan menghantui kehidupan Catherine dan keluarga barunya. Heathcliff datang sebagai sosok yang baru. Dia bukan lagi anak gipsi yang bodoh, miskin, dan liar, melainkan dia menjadi pria yang gagah, cakap, dan kaya.

Kembalinya Heathcliff bukan tanpa alasan. Ada dendam yang harus dituntaskannya. Dia ingin membalas rasa sakit hati dicampakkan dan harus diakui cara-caranya luar biasa kejam dan tidak berperasaan. Di benak Heathcliff hanya ada Catherine, Catherine, dan Catherine. Hidupnya hanya berpusat pada Catherine. Demi Catherine Heathcliff akan melakukan apa saja, termasuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Tidak hanya Catherine, Hindley, Edgar, dan Isabella Linton (adik Edgar) yang harus merasakan pembalasan dendam Heathcliff, melainkan juga sampai kepada keturunan mereka masing-masing. Bahkan, anak kandung Heathcliff sendiri pun, Linton, ikut merasakan kekejaman Heathcliff.

Sebenarnya Heathcliff dan Catherine adalah pasangan yang cocok. Sama-sama keras, bebas, tidak mau dikekang, dan sudah mengerti satu sama lain. Dengan masuknya Edgar ke dalam kehidupan mereka merusak kisah cinta mereka, yang sebenarnya sangat saya sayangkan kenapa Edgar mau-maunya jatuh cinta dengan Catherine. Seharusnya biarkan saja Catherine dan Heathcliff menikah. Toh, lama-kelamaan pasti Catherine tidak tahan dengan watak Heathcliff yang kasar. Tapi, tentu saja kalau ceritanya begitu Wuthering Heights yang kita tahu tidak akan sekelam, sesedih, sedramatis, dan senelangsa ini. Betul tidak? 😛

Akhir cerita tidak sesuai dengan bayangan saya. Sungguh di luar dugaan. Saya kira pada awalnya pasti akhir cerita akan dibuat semakin menyedihkan mengingat dari awal saja ceritanya sudah sangat gelap. Tapi, untunglah Emily Bronte tidak sejahat itu dengan tokoh-tokoh ciptaannya. Meski di bab terakhir saya tetap dibuat merinding membacanya–bab terakhir ini bercerita tentang proses kematian Heathcliff dan ditulis dengan mencekam!–pada akhirnya ada juga kisah bahagia yang tercipta. 🙂

Untuk menambah kegelapan Wuthering Heights, silakan disimak video klip berikut ini:

#10 – In Cold Blood

In Cold BloodJudul: In Cold Blood
Penulis: Truman Capote
Penerjemah: Santi Indra Astuti
Penerbit: PT Bentang Pustaka (cetakan I, September 2007)
Halaman: viii + 476
ISBN 13: 978-979-1227-09-4
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 4/5

Holcomb, Kansas, adalah sebuah kota kecil. Penduduknya tidak hanya saling kenal satu sama lain, melainkan juga bisa hafal sejarah keluarganya. Ketika Nancy Ewalt dan Susan Kidwell ke rumah Clutter pada Minggu pagi dan mendapati satu keluarga itu dibunuh, sontak kota kecil itu diselimuti ketakutan.

Herb Clutter, Bonnie Clutter, Nancy Clutter, dan Kenyon Clutter harus menjadi korban pembunuhan yang dilakukan Perry Smith dan Richard “Dick” Hickock. Pembunuhan itu terjadi pada tanggal 15 November 1959. Bonnie, Nancy, dan Kenyon tewas ditembak di kepala, sementara Herb Clutter tewas dengan leher nyaris putus. Smith dan Dick nekad melakukan pembunuhan itu untuk uang tak lebih dari 50 dolar.

Ketika saya membaca sampul belakangnya, serta merta saya penasaran. Dua orang mantan residivis ini tega membunuh empat nyawa hanya karena 50 dolar? Apa sebenarnya yang menjadi motif pembunuhan itu? Rasa sakit hati kah? Atau murni perampokan? Saya pun mulai membuka halaman pertama. Sejak halaman pertama ini saya sudah terganggu dengan terjemahan jelek dan kaku dari penerjemahnya. Yang bisa membuat saya bertahan membaca nonfiksi novel–Capote melabelinya demikian–ini karena saya penasaran apa yang menjadi motif kejahatan itu.

Capote menulis dengan detil kejadian sebelum dan sesudah pembunuhan. Dia dengan rinci menjelaskan kehidupan keluarga Clutter dan juga rinci menjelaskan latar belakang Smith dan Dick. Semuanya mendapatkan porsi yang sama dan pas. Capote berhasil menjelaskan sisi emosi Smith dan Dick, membuat saya bisa memahami dan menaruh rasa iba terutama dengan Smith.

Hal yang menarik dari In Cold Blood adalah bagaimana Capote mengatur alur ceritanya. Capote tidak tergesa-gesa memberikan kita motif serta kapan dan bagaimana kedua pelaku kejahatan itu tertangkap. Diawal-awal saya dibuat penasaran dengan motif. Setelah saya tahu apa yang menjadi motif kejahatan, saya mengangguk-angguk seraya berkata, “Oh, rupanya karena Floyd Wells ini toh berkoar-koar ke Dick dan Smith tentang keluarga Clutter.” Rasa penasaran saya tuntas terpenuhi. Namun, ada rasa penasaran berikutnya yang muncul. Bagaimana mereka tertangkap? Kok sepertinya susah sekali menangkap mereka? Capote dengan sabar menjelaskan setelah Dick dan Smith kabur ke Meksiko dan kehabisan uang di sana, mereka kemudian kembali ke Amerika Serikat dan akhirnya tertangkap di Las Vegas. Lagi, setelah rasa penasaran terjawab, muncul kembali rasa penasaran berikutnya. Bagaimana dengan hukuman mereka? Capote kembali memberi penjelasan dengan sabar. Dia menceritakan proses persidangan Dick dan Smith dengan cukup detil. Pro-kontra hukuman mati juga dibahas di sini.

Seandainya saja terjemahan dari Mbak Santi ini bagus, niscaya saya akan memberikan nilai 5 bintang dari 5.

#8 – InterWorld

InterWorldJudul: InterWorld
Penulis: Neil Gaiman dan Michael Reaves
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2010)
Halaman: 280
ISBN 13: 978-979-22-5890-5
Harga: Rp 20.000,-
Rating: 4/5

Joey Harker hobi sekali tersesat. Bahkan di dalam rumahnya sendiri pun dia masih bisa tersesat. Keluarga dan teman-temannya sudah paham betul hobi Joey yang satu ini. Joey sendiri baru memahami kenapa dia bisa seringkali tersesat setelah mendapat tugas dari Mr. Dimas, guru mata pelajaran Kajian-kajian Sosial di sekolahnya.

Saat itu Joey dan teman-teman sekelasnya mendapatkan tugas yang agak ekstrem. Mereka diangkut naik bus sekolah dan diturunkan di sembarang tempat. Tugas mereka adalah menemukan jalan menuju pos dalam batas waktu tertentu dan tanpa peta. Ponsel, kartu kredit, dan uang tunai disita. Jadi, mereka benar-benar tidak bisa meminta bantuan dari orangtua atau menelpon taksi untuk menjemput. Dari sinilah petualangan kemudian dimulai.

Dalam tugas itu Joey kembali tersesat. Tak mengherankan sebetulnya. Namun, tersesatnya Joey kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Joey tersesat ke dunia lain. Rupanya Joey adalah seorang Pelintas. Dia bisa melintasi antardimensi. Dan ternyata Joey bukan satu-satunya Pelintas yang ada di Multiverse.

Joey adalah Pelintas yang hebat. Kekuatannya menjadi daya tarik bagi dua kubu di Multiverse, yaitu HEX yang mengandalkan sihir dan Binary yang mengandalkan sains. Kedua kubu ini bernafsu ingin menguasai Multiverse dengan memanfaatkan kekuatan para Pelintas, termasuk Joey. Namun, Joey memutuskan untuk bergabung dengan InterWorld Prime, sebuah gabungan pasukan berupa dirinya dari berbagi versi dari berbagai dimensi yang ada di Multiverse. Mereka pun juga memiliki kekuatan-kekuatan yang hebat seperti Joey. Mereka bersatu-padu berjuang menghentikan kekuatan jahat yang ingin menguasai Multiverse.

Cerita yang sangat menarik bagi saya. Neil Gaiman selalu berhasil memukau saya. Bagi saya, dia pengarang dengan imajinasi yang luar biasa. Orang yang kreatif sekali bisa membuat cerita-cerita fantasi dan kali ini sci-fi. Sudah cukup lama sebenarnya saya mengincar buku ini, tetapi baru kesampaian beli tanggal 25 Maret yang lalu. Itupun karena Gramedia sedang mengadakan bazar buku murah. InterWorld hanya dibanderol dengan harga Rp 20.000,-.

Well, satu yang menjadi pertanyaan bagi saya mengapa Neil Gaiman dan Michael Reaves tidak banyak membahas Binary? Tadinya saya kira ceritanya akan terjadi perang antara HEX dan Binary, juga dengan InterWorld yang bertindak sebagai gerilyawan. Sesekali mengecoh kedua kubu tersebut dengan serangan tiba-tiba. Nyatanya, Gaiman dan Reeves lebih banyak menceritakan HEX ketimbang Binary. Binary hanya dijelaskan sembari lalu. Penjelasan yang cukup memberikan kita informasi bahwa sedang terjadi perebutan kekuasaan di Multiverse antara HEX dan Binary. Sudah, hanya itu saja. Konflik yang ada pun hanya antara InterWorld dan HEX, tidak ada Binary. Jadi, menurut saya kurang seru saja. Kasihan Binary hanya dijadikan pemanis saja dan tidak memberikan kontribusi apapun dalam konflik di InterWorld.

Meski begitu, saya tetap memberikan 4 bintang dari 5 karena penulisnya adalah penulis favorit saya dan ceritanya juga menarik. 😀

#2 – Lapar

LaparJudul: Lapar
Penulis: Knut Hamsun
Penerjemah: Marianne Katoppo
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia (cetakan II, Juli 2013)
Halaman: xxii + 284
ISBN 13: 978-979-461-850-9
Harga: Rp 55.000,-

Knut Hamsun. Nama itu belum saya pernah dengar sebelumnya hingga hari Sabtu tanggal 28 Desember 2013. Hari itu saya iseng ke toko buku di kota saya dan melihat buku ini di rak “Sastra”. Saya pun tertarik ketika mengetahui Hamsun adalah seorang penerima nobel di bidang kesusastraan.

Lapar bercerita tentang “Aku” yang sangat miskin. Sudah biasa baginya tidak memegang uang sepeser pun dan tidak makan berhari-hari. “Aku” harus menahan lapar, badannya menjadi kurus kering, lemah, dan tidak berdaya. Bahkan dia tidak punya tempat tinggal. Pernah dia harus tidur di hutan di kala cuaca begitu dingin.

Yang menarik dari “Aku” adalah meski dia sangat miskin dan sudah tidak makan berhari-hari, dia tetap berpikir positif. Dia selalu semangat dan yakin bahwa artikelnya akan dimuat di koran dan dia akan mendapat uang untuk makan. Dia percaya itu. “Aku” juga orang yang jujur dan harga dirinya begitu tinggi. Meski dia tidak punya uang dan sangat kelaparan, dia tidak mau mengharapkan belas kasihan orang lain. Dia juga seorang yang jujur. Ketika seorang pelayan salah memberikan uang kembalian kepadanya, awalnya dia senang karena telah menerima uang “gratis”. Namun, lama-kelamaan hati nuraninya terus menghantuinya. Dia merasa bersalah. Untuk menebus rasa bersalahnya, dia memberikan uang itu ke nenek-nenek penjual roti. Bahkan, di saat saya mengira dia sebentar lagi akan mati, dia tetap optimis dan semangat.

Terlepas dari sifat positif dari tokoh “Aku”, jujur saja saya sering merasa kesal. Saya kesal dengan sifatnya yang terlalu optimis itu. Dia terlalu percaya diri bahwa tulisannya akan diterima editor, sementara dia sudah ditolak berkali-kali. Bukannya dia juga tetap mencari pekerjaan yang lain, tapi dia tetap terpaku dengan pekerjaannya sebagai penulis. Akibatnya, dia tidak punya penghasilan dan dia harus menahan lapar juga dingin karena dia tidak ada tempat tinggal. Yah, mungkin ini karena saya yang pragmatis, tapi entahlah… Rasa-rasanya “Aku” itu ya ndak benar juga.

Lapar yang aslinya berbahasa Norwegia diterjemahkan dengan baik oleh Marianne Katoppo. Tahu darimana saya kalau novel ini terjemahannya baik sementara saya kan tidak bisa bahasa Norwegia? Karena saya menikmati membaca novel ini. Kening saya tidak perlu berkerut membaca terjemahan yang aneh. Saya terhanyut membaca dari awal hingga akhir. Namun sayang, masih ada beberapa kesalahan ketik. Tapi, bisa ditolerir lah. Mudah-mudahan cetakan yang berikutnya tidak ada lagi kesalahan ketik.

Skala 1 – 5, saya beri nilai 4 untuk Lapar.