#18 – Supernova: Akar

Supernova AkarJudul: Supernova: Akar
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books (cetakan II, April 2003)
Halaman: xiv + 210 halaman
ISBN: 979-96257-2-6
Rating: 5/5

Menulis riviu Akar entah kenapa terasa berat. Saya bingung bagaimana harus memulainya. Sempat saya tinggalkan dulu dan simpan tulisan ini menjadi draft sejak kemarin. Sampai akhirnya saya paksakan diri untuk menulis riviu ini. Saya merasa berhutang dengan Bodhi. Saya takut mengecewakannya. Mungkinkah saya telah jatuh hati padanya? Bisa jadi.

Sama seperti Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya membaca ulang Akar dalam rangka membaca maraton serial Supernova. Saya ingin mencoba mengingat kenapa dulu saya bisa tertarik dengan Supernova dan menjadikan Dee sebagai penulis favorit saya. Setelah membaca ulang Akar, saya sekarang tahu alasannya. Dee bisa membuat pembaca jatuh cinta dengan tokoh-tokoh Supernova dan saya jatuh cinta dengan Bodhi (tentu saja selain kekuatan riset yang mendalam dan gaya penulisan yang asyik menjadi kelebihan Dee). Sewaktu pertama kali saya membaca novel ini saya memberi rating 3/5 di Goodreads, namun setelah membaca untuk kedua kali saya memberi rating 5/5.

Saya tidak akan menulis sinopsis cerita Akar karena saya tidak bisa. Ingatan saya jadi lemah ketika harus mengingat kembali jalan cerita untuk ditulis sinopsisnya di sini. Tidak hanya itu, saya juga malas. Entah kenapa. Saya terfokus pada Bodhi. Dia menyedot semua perhatian dan semangat saya. Anehnya, ketika saya memutuskan untuk bercerita tentang Bodhi saja, saya langsung bersemangat. Rasa malas langsung menguap. Lucu ya. Daya tarik Bodhi tidak hanya di dalam cerita, tetapi juga saya terkena efeknya.

Bagi saya Bodhi adalah sosok manusia yang misterius. Dia sukar untuk dipahami. Mungkin itu juga karena dia tidak membiarkan dirinya untuk mudah dipahami orang lain. Dia tidak sembarangan membuka diri kepada orang-orang. Dan perjalanan mencari jati dirinya ini yang membuat saya jatuh cinta. Petualangannya dari Thailand hingga akhirnya ke Kamboja menunjukkan dia begitu gigih, sabar, nekad, dan tidak gampang menyerah. Kepasrahannya pada semesta juga semakin membuat dia, ehm, seksi.

Perjalanan Bodhi ala backpacker ini sangat baik digambarkan oleh Dee. Begitu detil sehingga membuat saya juga ikut merasa bertualang bersama Bodhi. Bodhi yang kesusahan uang, lalu semesta mempertemukannya dengan Kell, si seniman tato, dan jadilah Bodhi mendapat uang dari merajah kulit manusia. Sayangnya, uang dari hasilnya mentato harus hilang dan dia kembali mengalami kesulitan uang. Kemudian, perjalanan menegangkan yang harus dilalui Bodhi ketika dia hendak ke Pailin. Di tengah jalan dia kepergok tentara Khmer Merah. Lalu, ketika dia terpaksa mengikuti pertandingan sabung nyawa di Pailin. Dia harus melawan jawara di sana yang berbadan kekar, tinggi, dan ternyata jago kickboxing juga wushu. Saya megap-megap seperti ikan yang tidak bertemu air. Tegang. Diam-diam saya berdoa, “Please, don’t die, Bodhi… Perjalananmu belum selesai.” Untunglah Bodhi tidak mati.

Kalian tahu, saya semakin jatuh cinta dengan Bodhi ketika dia bilang begini:

… Ternyata diriku pun menyimpan bara, padahal aku tak ingin itu. Mengapa manusia harus terlahir dengan deposit amarah? … Aku ingat betul kapan terakhir kali aku marah, dan pada siapa. Aku marah pada Buddha. Aku marah setiap hari. Aku marah karena begitu mencintai-Nya dan tak ada yang paling kuinginkan selain pulang. Pulang. Tapi kenapa aku malah dibuang? (hal. 167)

Di balik sosok misterius, kalem, dan berpembawaan tenang itu Bodhi tetaplah manusia biasa. Dia memiliki rasa insecure. Dia juga rapuh. Dan sampai halaman terakhir saya merasakan kekosongan jiwa Bodhi.

Kalau kalian juga ingin ikut berpetualang bersama Bodhi menjelajah Thailand sampai ke Kamboja dan ingin merasakan cerita yang hidup (ini kata Mas Galih), saya berani bilang kalian tidak akan menyesal dengan membaca buku ini.

#17 – Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Ksatria, Putri, dan Bintang JatuhJudul: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Pustaka Sejati (cetakan VIII, 2008)
Halaman: x + 286 halaman
ISBN: 979-96257-0-X
Rating: 4/5

Setelah saya menonton filmnya di bioskop, saya mampir ke Gramedia dan melihat Partikel dan Gelombang. Segera saya ambil dan saya bawa pulang tentunya setelah saya bayar di kasir. Dua novel itu selesai saya baca dalam dua hari saja. Lalu, saya pikir tidak ada salahnya saya membaca ulang serial Supernova yang lain dan saya tulis riviunya. Sekalian mengingatkan kembali kenapa dulu saya menjadikan Dewi Lestari sebagai penulis Indonesia favorit saya setelah saya membaca serial Supernova ini.

Cukup sekian kata pengantar dan mari kita mulai saja riviunya… 😀

Cerita dibuka dengan flash back perkenalan Dhimas dan Ruben di Georgetown, Washington DC. Setelah perkenalan itu mereka menjadi sepasang kekasih. Sepuluh tahun kemudian mereka masih bersama dan mereka berkolaborasi menulis buku yang sebenarnya adalah ambisi Ruben. Sepuluh tahun yang lalu ketika mereka berdua sedang terkena badai serotonin di Watergate Condominium, Ruben berikrar:

“Sepuluh tahun dari sekarang, aku harus membuat karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains.” (hal. 11)

Bersama-sama, Dhimas dan Ruben, menulis kisah Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Kisah tersebut yang hebatnya memiliki kesamaan cerita dengan yang dialami Ferre, Rana, dan Diva. Ferre adalah sang Ksatria yang jatuh cinta dengan Rana, si Putri, yang sayangnya sudah menikah. Sementara Diva adalah sang Bintang Jatuh. Ketika Ksatria hancur hatinya, Bintang Jatuh datang dan membantu Ksatria untuk mengobati lukanya.

Seperti yang Ruben bilang dia ingin membuat satu tulisan yang “membantu menjembatani semua percabangan sains” dan memang itu yang terjadi. Oke, mungkin tidak semua percabangan sains sih, Ruben agak lebay memang. Meski begitu, KPBJ tetap menawarkan suatu kebaruan bagi saya dulu ketika membaca untuk pertama kali di tahun 2008. Teori-teori Fisika yang njelimet (yang dengan senang hati tidak terlalu saya pusingkan), psikologi, dan filsafat, juga sekilas tentang ekonomi, menjadi menarik ketika diramu menjadi fiksi oleh Dhimas.

Sebenarnya kita harus berterima kasih kepada Dhimas karena lewat dialah KPBJ menjadi menarik. Bisa bayangkan segala macam teori itu, tumplek jadi satu ditulis Ruben? Membosankan pastinya. “Bisa jadi hand-out kuliah saja sudah bagus,” ejek Dhimas. Ini menandakan kecerdikan Dee sebagai penulis cerita. Dia ingin membuat pembacanya menjadi pintar dengan segala teori itu, namun dia tidak mau membuat pembacanya langsung menutup buku ketika baru membaca halaman kedua atau ketiga.

KPBJ adalah novel Indonesia pertama yang saya baca yang menurut saya bisa seserius dan seilmiah ini. Riset yang mendalam, dengan catatan-catatan kaki untuk menerangkan sesuatu hal, ditambah di halaman akhir Dee memberikan referensi bagi pembacanya yang ingin membaca lebih lanjut. Tuh, kan, apa saya bilang? Dee memang punya niat luhur ingin membuat pintar para pembacanya. Masalahnya kita, sebagai pembacanya, berniat untuk belajar lebih lanjut atau tidak? Sayangnya, di buku-buku Supernova berikutnya tidak ada lagi daftar pustaka yang diberikan. Padahal, menurut saya, tema di setiap buku Supernova menarik untuk kita eksplorasi lebih lanjut. Dengan adanya daftar pustaka setidaknya kita ada petunjuk yang membantu kita–yang berminat–dalam mengeksplorasi topik-topik tersebut.

Cerita yang bagus dan mengalir, dengan diksi dan susunan kata yang oke. Sayangnya, saya masih ada kurang sreg di beberapa tempat. Pertama, dialog Dhimas dan Ruben. Terlalu “tinggi” buat saya yang hanyalah butiran atom ini. Halah. Jadinya saya lewati saja. Toh, seandainya bagian Dhimas dan Ruben dihilangkan, KPBJ tetap bisa ada kok. Saya juga merasa Ruben ini memang pintar banget, tapi kalau di dunia nyata ketemu saya pasti saya bengong juga sih. Menurut saya, Ruben kurang “membumi”.

Kedua, perselingkuhan Rana dan Ferre. Maaf, untuk topik yang satu ini saya sangat bias. Tidak bisa objektif. Atas alasan apapun Rana selingkuh dengan Ferre, menurut saya sih tetap kampret dan bodoh. Baiklah, saya mengaku. Ini personal banget. Sepertinya mulai sekarang saya harus belajar untuk tetap netral setiap membaca cerita yang mengangkat topik perselingkuhan.

Cuma dua itu saja kok yang kurang sreg di saya. Sisanya, oke lah. Apalagi Diva. Saya suka tokoh Diva ini. Sekarang setelah diingat-ingat lagi dulu saya pernah terinspirasi dengan Diva. Dia cerdas, cantik, lugas, dan, ehm… apa ya… dia berbeda dari kebanyakan orang. Apa satu kata sifat yang tepat untuk menggambarkan Diva? Apakah itu unik? Out-of-the-box? Ah, itulah pokoknya. Tapi, meski saya terinspirasi sama dia, ada satu pemikiran dia yang saya tidak setuju: tentang melacurkan diri. Dia menganggap dia hanyalah berdagang dengan menjajakan tubuhnya. Menurutnya menjual tubuh tidak ada bedanya dengan menjual tenaga, waktu, dan pikiran lalu digaji. Dia lebih memilih untuk menjadi melacurkan badannya ketimbang harus melacurkan pikirannya. Argumen ini tidak pernah bisa saya mengerti.

Begitulah KPBJ menurut saya. Bagi yang ingin membaca novel Indonesia yang berbeda dari kebanyakan, mungkin kalian bisa membaca Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.

#16 – Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama BapakJudul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia (cetakan VI, 2014)
Halaman: x + 278 halaman
ISBN 13: 978-979-780-721-4
Harga: Rp 48.000,-
Rating: 5/5

Jujur saja, Sabtu Bersama Bapak adalah buku pertama Adhitya Mulya yang saya baca. Itupun saya tertarik membeli novel ini karena judulnya mengingatkan saya akan ayah saya. Saya memang punya sentimen yang sangat tinggi terhadap apapun yang berhubungan dengan relasi antara ayah dan anak.

Butuh waktu hampir tiga minggu dulu setelah saya membaca novel ini lalu saya menulis riviunya. Bukan apa-apa, tapi karena Sabtu Bersama Bapak mengingatkan saya pada seseorang yang saya sayangi dan saya hormati.

Jadi, Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang keluarga Garnida. Gunawan Garnida memiliki istri dan dua orang anak laki-laki bernama Satya dan Cakra. Dia sangat mencintai keluarga kecilnya. Begitu mengetahui kanker yang dideritanya akan merenggut nyawanya dalam satu tahun membuatnya harus berputar otak agar anak-anaknya yang masih kecil tidak merasa kehilangan bapak mereka. Gunawan lalu memutuskan untuk merekam dirinya menggunakan handycam.

Gunawan sudah mewasiatkan kepada istrinya, Itje, agar Satya dan Cakra menonton video rekaman dirinya satu kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Sabtu. Maka tidak heran jika Satya dan Cakra selalu antusias menyambut hari Sabtu. Karena hari Sabtu berarti saatnya hari bersama Bapak. Begitulah, meski Gunawan meninggal ketika Satya dan Cakra masih berusia delapan dan lima tahun, Satya dan Cakra tidak kehilangan sosok ayah. Karena Gunawan tetap bersama mereka. Dia tetap membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Satya dan Cakra pun tumbuh menjadi laki-laki yang punya prinsip. Mereka memegang teguh prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan oleh bapak mereka. Satya tumbuh menjadi pria dewasa yang pintar dan bertanggung jawab pada keluarga. Cakra juga tumbuh menjadi pria yang memiliki kepribadian matang.

Keduanya memiliki persoalan mereka masing-masing. Satya yang sempat “kehilangan arah” beruntung segera kembali ke track-nya. Dia belajar menjadi suami dan ayah yang baik dari bapaknya. Cakra berjuang mencari cinta dan nilai-nilai yang ditanamkan bapaknya membuatnya berhasil mendapatkan wanita yang baik.

Membaca Sabtu Bersama Bapak membuat saya teringat salah satu kutipan dari film 7/24:

The good foundation of everything is a good family.

Dan saya mengamini hal tersebut. Keluarga Garnida adalah keluarga yang harmonis. Meski Gunawan tidak bisa hadir secara fisik di tengah-tengah keluarga tersebut, dia tetap hadir di hati masing-masing anggota keluarganya. Itje pun berhasil membesarkan anak-anak mereka sendirian, tentunya dengan dibantu Gunawan melalui rekaman videonya. Lalu, lihatlah Satya dan Cakra ketika dewasa mereka menjadi pria baik yang berkarakter, bertanggung jawab, dan sholeh.

Membaca wejangan-wejangan dari Gunawan untuk kedua putranya di sepanjang novel ini membuat saya bisa memahami kenapa pada akhirnya Satya dan Cakra bisa tumbuh menjadi pria dewasa yang, yah, seperti itu. Mereka beruntung punya ayah yang menjadi role model yang patut. Nasihat dari Gunawan kepada anak-anaknya membuat saya mengangguk-angguk setuju dan tidak bisa membantah.

Cobalah lihat pandangan Gunawan yang tidak setuju anak sulung diberi beban yang terlalu berat:

“Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.”

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung–kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua–untuk semua anaknya.” (hal. 105 – 106)

Lalu, nasihat Gunawan tentang mimpi:

Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian rajin dan tidak menyerah.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar.
Kejar mimpi kalian.
Rencanakan. (hal. 151)

Kemudian, ajaran Gunawan yang dipegang teguh Cakra dalam mencari jodoh:

“Kata Bapak saya… dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahannya, Yu.”
“…”
“Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” (hal. 217)

Adhitya Mulya mengajarkan nilai-nilai kepada kita melalui Gunawan tanpa menggurui. Nilai-nilai yang menurut saya tidak ada salahnya untuk kita dengarkan dan terapkan dalam kehidupan kita. Membaca Sabtu Bersama Bapak juga seperti membaca sekilas tentang parenting, yang pada akhirnya mendorong saya untuk mulai membaca mengenai parenting dari sekarang. Yah, setidaknya mencicil lah… 😛

Akhirul kalamSabtu Bersama Bapak sukses membuat saya termotivasi dalam satu hal: membangun dan memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. The foundation of everything is a good family, remember?

Eh, ada yang ketinggalan. Sebelum benar-benar mengakhiri riviu kali ini, ijinkan saya mengutip satu hal lagi yang membuat hati saya benar-benar mencelos:

“Satya, Cakra…
Meski Bapak tidak ada di samping kalian, semoga semua pesan yang kalian terima bertahun-tahun berhasil membantu kalian menjalani apapun yang kalian jalani.”
“Ini adalah video terakhir Bapak.
Bapak sudah merekam semua pesan yang ingin Bapak sampaikan.
Pesan-pesan yang Bapak anggap penting untuk kalian.
Jika kalian menyaksikan video ini, artinya sebentar lagi kalian akan menikah. Akan menjadi kepala dari sebuah keluarga. Suami dari seorang istri. Dan Bapak dari seorang anak.
Tugas Bapak membimbing kalian,
selesai di sini.
Tugas kalian sekarang, membimbing keluarga kecil kalian.
Selalu ingatkan kepada diri kalian, untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Karena kehadiran mereka adalah hal yang terbaik yang dapat terjadi pada kalian.
Sebagaimana kehadiran Mamah dan kalian.
Menjadi hal terbaik dalam hidup Bapak.
Terima kasih untuk itu. Terima kasih sudah membahagiakan Bapak.
Untuk terakhir kalinya, Bapak ucapkan, Bapak sayang kalian.
Assalamu’alaikum wr.wb.” (hal. 272 – 273)

#15 – Lelaki Harimau

Lelaki HarimauJudul: Lelaki Harimau
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan I cover baru, Agustus 2014)
Halaman: iv + 194
ISBN 13: 978-602-03-0749-7
Harga: Rp 45.000,-
Rating: 5/5

Suatu hari Anwar Sadat ditemukan tewas dalam keadaan leher nyaris putus seperti habis digigit harimau. Tersiar kabar pelakunya adalah Margio. Namun, dia membantah. Dia bilang, “Bukan aku yang melakukannya. Ada harimau dalam tubuhku.”

Dalam Lelaki Harimau kita diajak untuk memecahkan suatu kasus pembunuhan. Kita mencari tahu siapa pelakunya dan apa yang menjadi motifnya. Eka Kurniawan membawa kita melakukan time travel untuk menemukan jawabannya. Kita ditarik mundur ke sejarah keluarga Margio: sewaktu ibu dan ayahnya dijodohkan, ketika Margio dan Mameh–adik perempuannya–masih kecil, dan penyiksaan-penyiksaan yang kerap dilakukan oleh Komar, ayah mereka. Kemudian, kita dibawa ke masa Margio yang terpaksa menolak cinta Maharani, anak Anwar Sadat. Kita akan terus diajak Eka untuk melakukan perjalanan waktu dari satu peristiwa ke peristiwa berikutnya. Tugas kita adalah meluruskan garis benang merah yang kusut sehingga kitapun jadi mengetahui harimau apa yang dimaksud Margio dan kenapa dia membunuh Anwar Sadat.

Eka menulis plot cerita Lelaki Harimau rapi sekali. Dia sabar menuntun kita dari satu konflik ke konflik berikutnya. Membaca novel ini juga seperti mengupas bawang. Untuk mengetahui apa yang terjadi berikutnya kita harus mengupas lapisan demi lapisan. Hati-hati, air mata bisa keluar selagi mengupas bawang. Kita tidak tahu pada lapisan ke berapa akan menemukan jawabannya.

#14 – Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas

Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar TuntasJudul: Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (Cetakan I, Mei 2014)
Halaman: vi + 250
ISBN 13: 978-602-03-0393-2
Harga: Rp 58.000,-
Rating: 3/5

Ajo Kawir, sebagai tokoh utama dalam novel ini, punya satu permasalahan besar: Burungnya tidak bisa berdiri! Hal itu disebabkan secara tidak langsung oleh sahabatnya, Si Tokek. Atau setidaknya demikianlah yang dipikirkan Si Tokek. Si Tokek menyalahkan dirinya sendiri karena kalau bukan ajakannya mengintip Rona Merah–janda gila–mandi, mungkin mereka tidak akan melihat kejadian Rona Merah diperkosa dua orang polisi, sehingga burung Ajo Kawir tidak perlu tidur panjang.

Kejadian itu terjadi saat Ajo Kawir masih remaja. Dia sangat sedih dan terpukul begitu tahu burungnya tidak bisa berdiri sejak saat itu. Dia sering menangis. Bahkan, dia pernah hampir memotong burungnya sendiri. Untungnya Si Tokek melihat kejadian itu dan mencegahnya. Si Tokek meyakinkan Ajo Kawir suatu saat nanti burungnya pasti bangun dari tidurnya. Kalaupun dipaksa bangun sekarang, memangnya mau dipakai untuk apa? Begitulah Si Tokek mencoba menghiburnya sahabatnya. Ajo Kawir tertawa. Dia pun mulai bisa menerima kenyataan dan dia membiarkan burungnya tidur selama yang dia mau.

“Hanya orang yang enggak bisa ngaceng, bisa berkelahi tanpa takut mati,” kata Iwan Angsa sekali waktu perihal Ajo Kawir. (hal. 1)

Memang Ajo Kawir tidak takut mati. Dia menjadi jagoan kampung dan hobi sekali berkelahi. Bahkan dia menerima tawaran untuk membunuh Si Macan, seorang preman yang terkenal kejam. Namun, begitu dia mengenal Iteung, dia jadi takut mati. Dia juga jadi berusaha keras untuk membangunkan burungnya dari tidur. Biar bagaimanapun, dia ingin membahagiakan Iteung. Memainkan jari di lubang kemaluan wanita tidak akan cukup memuaskannya. Iteung ingin lebih. Dan dia pun hamil.

Ajo Kawir berang. Dia pergi dari rumah dan kemudian menjadi supir truk. Dia tidak lagi berada di jalan kekerasan. Malahan dia menemukan jalan kedamaian. Dia berdamai dengan dirinya. Dia tidak lagi menuntut burungnya untuk berhenti dari hibernasi. Dia bersumpah tidak akan lagi berkelahi. Ajo Kawir sudah tobat.

Setelah selesai membaca novel ini, saya memperhatikan sampul dan judulnya. Saya baru bisa memahami kenapa seekor burung matanya terpejam seolah-olah tidur. Jelas ini tentang burung Ajo Kawir yang sedang tidur. Kemudian dari judulnya, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas sudah menggambarkan perasaan Ajo Kawir yang rindu dengan istrinya, Iteung. Ya rindu ingin bertemu, juga rindu ingin tidur bersama. Di akhir cerita Ajo Kawir bisa menjawab kerinduannya, tetapi tunggu dulu… Cerita tidak berakhir begitu saja.

Jujur saja, begitu halaman pertama saya buka dan membaca kata-kata Iwan Angsa di atas, saya sedikit kecewa. Saya jadi memperkirakan cerita novel ini bakal tidak jauh-jauh dari seks, minimal mengumbar begitu banyak alat kelamin. Dan, saya benar. Bukan masalah sebenarnya. Ini hanya masalah selera. Saya tidak terlalu tertarik dengan cerita yang bertema seks. Karena saya punya referensi novel sampah yang berbau seks. Apalagi kalau bukan Fifty Shades of Grey?

Saya tahu saya menggeneralisasi dan itu tidak baik. Untunglah generalisasi saya kali ini salah. Karena rupanya novel ini jauh lebih bagus ketimbang Fifty Shades of Grey tentu saja. Ceritanya tidak melulu soal seks. Ada cerita tentang persahabatan antara Ajo Kawir dan Si Tokek, cerita yang menyindir polisi semaunya saja (dua orang polisi yang memperkosa Rona Merah), cerita tentang posisi wanita yang lemah dan selalu kalah sehingga jadi objek seks pria, cerita tentang kebesaran jiwa Ajo Kawir, dan tentu saja cerita tentang cinta.

Meski banyak cerita yang ingin disampaikan, Eka Kurniawan menuliskannya dengan sederhana tanpa terkesan murahan. Tidak rumit dan tidak berkelok-kelok. Eka tidak memakai kosakata rumit yang bikin dahi berkerut. Ceritanya mengalir dengan lancar, tanpa mampet, tanpa tersendat. Jadi, meski buku ini cukup vulgar, saya memaklumi dan memaafkan.

#13 – Burung-Burung Manyar

Burung-burung ManyarJudul: Burung-burung Manyar
Penulis: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Penerbit Buku Kompas (cetakan I, 2014)
Halaman: x + 406 halaman
ISBN 13: 978-979-709-842-1
Harga: Rp 69.000,-
Rating: 5/5

Burung-burung Manyar berkisah tentang Teto dan Atik. Dua manusia yang berteman sejak kecil lalu tumbuh perasaan cinta di kala mereka dewasa. Teto yang terlampau arogan dan menuruti egonya lebih memilih untuk tidak memperjuangkan cintanya dan bergabung dengan KNIL. Dia benci Jepang yang telah merenggut ayah dan ibunya. Dia sinis pada Indonesia yang berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Padahal Atik–orang yang dicintainya–berjuang di kubu seberang. Mereka adalah sepasang manusia yang saling mencintai, tapi berada dalam dua kubu yang bertentangan.

Mengapa selalu segala yang indah berdampingan dengan yang kotor dan berbau? Jika benar cinta dan kemesraan pria-wanita itu mulai dari sumber kebahagiaan, mengapa Tuhan menciptakan tubuh kita sedemikian sehingga organ cinta sangat dilekatkan berdampingan bahkan bersatu dengan lubang pembuangan kotoran? (hal. 74 – 75)

Semasa menjadi pasukan KNIL, Teto sebenarnya mulai mempertanyakan keputusannya. Benarkah keputusannya bergabung dengan KNIL, apalagi setelah Atik juga ikut berjuang membela Indonesia? Ah, malu rasanya kalau dia harus keluar dari KNIL dan mencari Atik. Malu juga rasanya setelah perang usai dia pulang dan mencari Atik. Maka, atas nama gengsi Teto harus mengubur perasaannya dan melupakan Atik. Tentu saja dia gagal. Dia memang melanjutkan hidupnya dengan kuliah, menjadi sarjana Matematika, menikah, ditinggal istri, dan punya posisi penting di perusahaan multinasional. Namun, jangan tanya perasaannya. Penyesalannya tiada henti karena telah melepas Atik.

Sepanjang saya membaca Burung-burung Manyar, saya berpikir perang itu sesungguhnya merugikan semua pihak. Saya tidak tahu mana yang sesungguhnya benar dan salah. Semua pihak merasa dirinyalah yang paling benar. Pokoknya pihak yang bertentangan adalah musuh yang harus dikalahkan. Dengan dua tokoh utama, Teto dan Atik, yang berada di pihak-pihak yang saling bertentangan, Romo Mangun mengajak kita untuk berempati. Teto dan Atik memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih untuk bergabung dengan pihak-pihak yang bertikai. Inilah yang coba diajarkan Romo Mangun lewat novel ini. Marilah kita belajar untuk melihat dari sudut pandang orang lain, termasuk sudut pandang musuh kita.

Romo Mangun mendeskripsikan perasaan Teto sangat detil sampai-sampai saya bisa memakluminya bergabung dengan KNIL. Saya juga bisa mengerti perasaan rakyat kecil yang sesungguhnya lebih menyukai Belanda berkuasa ketimbang Jepang. Bahkan, ada yang berharap Indonesia bergabung saja dengan Belanda dan membentuk commonwealth. Untuk apa Indonesia merdeka kalau masih miskin begini? Untuk apa Indonesia merdeka kalau penguasanya semena-mena dan menindas rakyat? Kembali saja dikuasai Belanda. Orang-orang Belanda malah jauh lebih bermartabat dan baik hati ketimbang pribumi yang punya kekuasaan.

Atik juga sangat kuat dideskripsikan oleh Romo Mangun. Atik adalah seorang wanita yang berpendirian, kuat, cerdas, dan sangat mencintai Teto. Meski dia sudah menikah dan punya tiga anak, dia masih menempatkan Teto di sudut hatinya. Cinta Atik kepada Teto ini membuat saya kembali bertanya ke diri sendiri, “Memangnya benar ada cinta seperti ini?”

Terlepas dari cerita yang luar biasa memikat (meski saya tidak suka dengan ending-nya yang sungguh menyesakkan), tutur tulisan yang mengalun dengan indah dan jenaka, dan penokohan yang sangat kuat, ada dua hal yang sedikit mengganggu saya. Pertama, perbedaan usia Teto dan Atik. Kalau saya tidak salah, di bab-bab awal diceritakan usia mereka terpaut dua tahun dengan Teto yang lebih tua. Namun, di bab “Aula Hikmah” yang menceritakan Atik sidang mempertahankan tesisnya, saat itu Atik berumur 41 tahun. Hal ini seperti apa yang Teto ceritakan:

Ah, itulah Sang Pujaan. Nah, tersenyum, merasa sip dia, walaupun telah satu tahun melampaui umur 40 tahun; … (hal. 308)

Kemudian, Teto bilang (saya lupa di halaman berapa) umurnya 46 tahun. Ah, bisa saja saya keliru. Nanti deh kapan-kapan dibaca ulang dan dicek sebenarnya berapa tahun perbedaan usia mereka.

Kedua, ada dua bab yang bercerita tentang Karjo dan setan kopor. Saya tidak tahu apa pentingnya mereka ini dalam cerita karena tidak memiliki hubungan erat dengan cerita utama. Bisa jadi Karjo dan setan kopor hadir dalam cerita untuk menjelaskan kondisi rakyat kecil pada saat itu yang semakin sengsara karena ditindas pemimpinnya.

Meski ada dua hal yang sedikit mengganggu, tapi saya bisa memaafkan. Toh, Burung-burung Manyar jauh lebih banyak sisi mengesankannya daripada sisi mengganggunya. Dengan senang hati saya memberi nilai 5 bintang dari 5. Ditambah, saya memasukkannya ke dalam rak buku “favorites” di Goodreads saya. 🙂

#12 – Ilmu Kedokteran Lengkap tentang Neurosains

Ilmu Kedokteran Lengkap tentang NeurosainsJudul: Ilmu Kedokteran Lengkap tentang Neurosains
Penulis: Iyan Hernanta
Penerbit: D-Medika (cetakan I, Februari 2013)
Halaman: 274
ISBN 13: 978-602-7665-47-7
Harga: Rp 15.000,-
Rating: 1/5

Saya memiliki minat baru, yaitu neurosains. Sejak kapan tertarik saya lupa juga. Itupun tertarik karena membaca buku-buku sebelumnya yang membahas singkat tentang neurosains. Otak ini menarik banget ya ternyata. Sayangnya ketertarikan saya hanya sebatas, yah, tertarik. Tertarik tanpa mau mencari tahu lebih banyak lagi.

Begitu saya menemukan buku ini masih di bazar kemarin dan harganya juga murah, segera saya ambil. Sebenarnya saya tidak berharap banyak dari buku yang mengaku-ngaku lengkap ini. Iseng sajalah saya beli untuk menambah wawasan. Toh, harganya juga murah kok hanya Rp 15.000,-.

Seperti yang sudah saya duga, buku ini hanya mengaku-ngaku lengkap karena sesungguhnya isinya tidaklah lengkap. Apa yang kamu harapkan dari buku setebal 274 halaman membahas tentang neurosains? Ilmu neurosains bakal habis dikupas tuntas, begitu? Bagian-bagian otak akan dijelaskan dengan detil, begitu? Segala macam jenis penyakit otak bakal ditulis, begitu? Sayang sekali tidak. Judul buku boleh bombastis, tapi sungguh disayangkan tidak sepadan dengan isinya. Belum lagi kejanggalan-kejanggalan yang saya rasakan ketika membaca buku ini.

Kejanggalan pertama adalah untuk buku yang membahas otak tapi tidak memberikan gambar otak itu rasanya aneh. Iyan hanya menuliskan nama anatomi otak dan berharap pembacanya bisa membayangkan sendiri otak dan bagian-bagiannya. Di mana letak sistem limbik, otak reptil, otak besar, otak kecil? Pokoknya di situ. Bayangkan sendiri ya.

Kejanggalan kedua: silakan teman-teman baca paragraf di bawah ini:

Pada sekitar 1950-an, diperkirakan 2,5 juta penduduk dunia mengidap penyakit ini (Alzheimer), dan mencapai enam miliar orang pada tahun 2000. WHO memperkirakan lebih dari satu miliar orang tua yang berusia lebih dari 60 tahun atau 10 persen penduduk dunia mengidap Alzheimer pada tahun 2003. (hal. 125)

Pertama-tama, itu datanya dari mana? Penulis pakai sumber dari mana? Apakah datanya valid dan sumbernya terpercaya? Kemudian, perhatikan kata-kata mencapai enam miliar orang pada tahun 2000. Apakah betul tahun 2000 penderita Alzheimer mencapai angka enam miliar? WOW. Luar biasa sekali. Tolong beritahu saya berapa jumlah penduduk bumi pada tahun 2000. Terima kasih.

Kejanggalan ketiga: perihal daftar pustaka. Buku ini mengutip banyak sumber untuk materi tulisannya. Tetapi, masak iya daftar pustaka hanya satu lembar? Padahal mengutipnya banyak sekali lho. Contohnya berikut ini:

“Satu sinaps bisa menampung 1.000 tombol skala molekuler. Itu baru satu sinaps. Bisa dibayangkan, satu otak manusia memiliki berapa tombol. Bisa melebihi seluruh tombol komputer, router, dan koneksi seluruh internet yang ada di bumi,” jelas Smith, yang dikutip VIVAnews dari Cnet, Minggu 21 November 2010. (hal. 63)

Saya cek di daftar pustakanya ternyata tidak ada referensi VIVAnews. Apalagi Iyan mengutip sumber kedua. Dan melihat cara penulisan daftar pustaka, khususnya referensi dari online, saya kok miris ya. Iyan hanya menulis faktailmiah.com, id.wikipedia.org, majalahkesehatan.com, dan lain-lain sebagai referensi online-nya. Penulisan daftar pustakanya tidak sesuai dengan kaidah. Ya, terserah sih mau pakai kaidah yang mana, tapi biasanya yang dipakai kaidah APA.

Kejanggalan keempat: penggunaan kata “ansietas” dan “avokad” yang mengganggu. Apa itu ansietas dan avokad? Setelah saya baca-baca lagi saya pun menyimpulkan mungkin maksudnya adalah anxiety dan avocado. Tapi, kenapa harus pakai kata “ansietas” dan “avokad” lho, Mas… Sudah ada di kamus lho kata “kecemasan” dan “alpukat”. Saya bahkan tidak yakin “ansietas” dan “avokad” ini ada di KBBI.

Saya yakin pasti masih ada kejanggalan-kejanggalan lainnya dalam buku ini. Berhubung saya tidak punya kemampuan yang cukup akan topik neurosains jadi ya saya hanya bisa menemukan kejanggalan secara umum saja. Itupun bisa jadi masih ada yang terlewat dari saya.

Akhirul kalam, anggap saja membaca buku ini sebagai sebuah hiburan. Dan semoga saya bisa menemukan buku neurosains populer yang jauh lebih bagus daripada ini. 😀

#9 – Oksimoron

OksimoronJudul: Oksimoron
Penulis: Isman H. Suryaman
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 296
ISBN 13: 978-979-22-6272-8
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 4/5

Masih dalam rangka bazar Gramedia, Oksimoron termasuk buku yang saya beli di bazar. Syukur Alhamdulillah saya bisa dapat Oksimoron dengan harga Rp 30ribu saja. 😀

Membaca judul dan sampul belakangnya, saya kira Oksimoron bercerita tentang suatu hal yang serius. Rupanya tentang pernikahan toh. Bukankah pernikahan juga suatu hal yang serius? Hihihi…

Oksimoron berkisah tentang pasangan muda yang baru menikah, yaitu Rine dan Alan. Isman mendeskripsikan Rine dan Alan sebagai pasangan muda dan modern. Mereka sepakat di dalam pernikahan nanti mereka adalah mitra. Jika Rine yang bekerja mapan, maka Alan yang mengambil urusan domestik. Jika Rine tidak ingin memiliki anak, maka Alan menyetujui keputusan Rine. Bukankah pernikahan seharusnya memang seperti itu? Saling menghargai, melengkapi, dan memahami.

Konflik cerita dimulai ketika Rine dan Alan memutuskan untuk memberitahu orangtua mereka bahwa mereka tidak ingin punya anak. Orangtua mereka jelas sangat kaget dan tidak dapat menerima keputusan itu. Turman dan Ika (orangtua Rine) dan Dadan (ayah Alan) pun bekerja sama untuk memengaruhi anak-anak mereka agar mengubah keputusan. Akankah rencana mereka berhasil? Well, baca sendiri saja ya untuk tahu kelanjutan kisahnya. 😆

Membaca awal-awal halaman saya sudah dapat menerka Oksimoron adalah cerita yang humoris. Saya sudah dibuat tertawa sejak halaman ke 4. Halaman-halaman berikutnya pun Oksimoron tetap berhasil membuat saya tertawa. Alan dan Andi selalu berhasil membuat saya tertawa. Hubungan adik-kakak ini dekat sekali dan itu yang membuat jadi lucu. Karena mereka saking dekatnya, mereka jadi konyol kalau sedang berdekatan. Bahkan Turman dan Dadan juga membuat saya tertawa dengan dialog-dialog mereka. Contohnya seperti di bawah ini saat ijab kabul:

Mengikuti isyarat penghulu, Turman langsung berkata lantang, “Saya nikahkan putri saya, Rine Kumalasari bin Turman Syaringgih dengan mas kawin perhiasan emas sembilan puluh enam gram dibayar TUNAI.”

Sebelum kata ‘tunai’ selesai diucapkan (atau diteriakkan) Turman, Alan langsung menyambut dalam satu napas, tidak kalah lantang, “Saya terima nikahnya Rine Kumalasari bin Turman Syaringgih dengan mas kawin emas sembilan puluh enam gram dibayar TUNAI!”

Sebagian hadirin tertawa kecil dan berbisik-bisik. Dari sudut matanya, Alan bisa melihat Dadan mengangkat jempolnya. “Bagaimana?” tanya Penghulu kepada kedua saksi.

“Sah,” angguk mereka.

“Sebentar,” Turman mengangkat tangan kanannya. “Bisa diulang? Tadi dia lupa sebut ‘perhiasan’.”

Sang Penghulu melongo. “Menurut saya nggak apa-apa, Pak.”

“Nggak bisa,” tegas Turman. “Emas dan perhiasan emas itu dua barang yang berbeda. Nanti nggak sah. Mohon diulang.”

“Nggak apa-apa ya, Den?” senyum Penghulu kepada Alan. “Kerelaan mertua patut dijaga,” tawanya.

Alan hanya mengangguk gugup. Tanpa melirik pun Alan yakin bahwa Dadan sedang misuh-misuh. Dan prosesi itu pun diulang. Kali ini Alan tidak luput mengucapkan “perhiasan”.

“Bagaimana?” tanya Penghulu kepada kedua saksi.

Mereka kembali mengangguk, “Sah.”

“Bentar dulu,” Turman kembali menengahi. “Tadi sebelum ‘dibayar tunai’ ada jeda dikit. Kayaknya ngambil napas.”

Sang penghulu menoleh Turman. Ekspresinya berubah khawatir, “Bapak benar rela menikahkan putri Bapak?”

“Sangat rela,” jawab Turman, tanpa mengubah ekspresi. “Jadi gimana? Bisa diulang?”

“Kalau walinya gimana?” gerutu Dadan cukup keras. “Bisa diganti?” (hal. 84 – 85)

Tuh kan. Dodol banget. 😆

Tokoh-tokoh yang ada dalam cerita menurut saya sangat pas proporsinya. Dengan karakter mereka masing-masing memberikan warna pada cerita sehingga menjadi lebih menarik. Selain Rine yang tegas, Alan yang lebih soft ketimbang Rine, dan Andi yang ngeyel melulu. Ada Turman yang digambarkan sebagai ayah yang angkuh, gengsian, dan cuek. Sementara Dadan digambarkan sebagai ayah yang dekat dengan kedua anaknya, pengertian, dan sangat memahami anak-anaknya. Semuanya diberikan proporsi yang pas dan tidak berlebih-lebihan.

Pada akhirnya Oksimoron adalah novel yang menghibur. Isman H. Suryaman keren!

#5 – A to Z by Request

A to Z by RequestJudul: A to Z by Request
Penulis: Rizal Affif dkk.
Penerbit: PT Grasindo (cetakan pertama, 2013)
Halaman: vi + 338
ISBN 13: 978-602-251-171-7
Harga: Rp 37.600,- (setelah diskon 20%)
Rating: 5/5

Seorang teman SMP dan SMA memberitahu saya bahwa dia sudah menerbitkan buku, meski teman tersebut dengan rendah hati bilang buku tersebut tidak bisa dibilang sepenuhnya bukunya karena dia hanya menyumbang satu tulisan dalam buku tersebut. Buku yang dimaksud adalah A to Z by Request, sebuah antologi cerpen, dan teman saya yang dimaksud adalah Luxmaning Hutaki Widiastari.

Sebagai teman, saya sungguh bangga dengan pencapaian Lulu, panggilan akrab teman saya. Saya turut senang ada teman saya yang akhirnya menerbitkan sebuah buku. Dan sebagai teman yang suportif, saya membeli buku tersebut kemarin di Gramedia setelah berbulan-bulan dulu dan setelah ada diskon dulu.

Jadi, apa itu A to Z by Request? Bagaimana jalan ceritanya? Seru gak? Seru. Ini sungguhan. Untuk sebuah antologi dimana nama-nama penulisnya hanya satu orang saja yang saya kenal, saya berani bilang ini adalah buku yang bagus. 26 cerpen yang ada ditulis selayaknya ditulis oleh penulis profesional dan sudah ada nama. Selama membaca tak henti-hentinya saya berkata kepada diri sendiri bahwa buku ini layak untuk mendapat apresiasi yang lebih luas dan ke 26 penulis ini layak mendapat panggung yang lebih megah di Indonesia. Masing-masing dari mereka layak untuk menerbitkan buku sendiri.

Dari tema yang disuguhkan pun sudah menarik. 26 penulis mendapatkan satu huruf untuk tema cerita yang ditulis. Dari huruf A hingga Z. Dengan huruf tersebut terserah kepada setiap penulis bagaimana mereka akan meramunya menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Entah itu menjadi sebuah awalan nama, titel, chord, penyakit, apapun. Dan dari setiap huruf membawa kejutan yang tidak biasa. Nyaris di setiap akhir cerita saya dibuat tersenyum, ya tersenyum puas, tersenyum getir. Tentu saja karena ceritanya mampu mengaduk emosi. Ke 26 cerita sukses memberikan twist cerita yang tidak dapat saya duga sebelumnya. Jangankan twist, jalan ceritanya saja bagaimana tidak dapat saya terka. Mungkin saya terlalu asyik membaca rangkaian kata dan diksi yang menarik sehingga saya membiarkan diri saya hanyut dalam cerita. Saya tidak membiarkan diri saya terlalu sibuk untuk menebak alur cerita. “Nikmati saja cerita yang sudah disuguhi, Kim. Jangan kamu terlalu ambil pusing.” Seperti yang tertera di cara penyajian buku ini (bisa dibaca di sampul belakang):

Ambil segelas kopi dan sebungkus kacang. Cari huruf mana saja sesuai selera dan temukan cerita di baliknya. Nikmati selagi hangat.

Itu kunci utamanya: nikmati selagi hangat. Namun, saran saya jangan hanya membaca huruf-huruf tertentu. Baca semua huruf dari A hingga Z. Dan bersiaplah untuk selalu ketagihan dan bilang, “I want another word, please. I want more.”