#44 – Dunia Sophie

dunia-sophieJudul: Dunia Sophie
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Rahmani Astuti
Penerbit: Mizan (Edisi Gold, Cetakan X, Oktober 2013)
Halaman: 800
ISBN-13: 978-979-433-574-1
Harga: Rp 99.000,-
Rating: 5/5

Sophie Amundsend baru saja pulang dari sekolah. Memasuki halaman rumahnya ia memandang kotak surat. Ada sebuah surat yang ditujukan kepada Sophie. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada perangko. Isi surat itu: Siapakah kamu?

Lanjutkan membaca “#44 – Dunia Sophie”

#34 – 1984

1984Judul: 1984
Penulis: George Orwell
Penerbit: Penguin Books (2008)
Halaman: viii + 326
ISBN: 978-0-141-03614-4
Harga: Lupa. Beli buku ini di tahun 2010.
Rating: 5/5

It was a bright cold day in April, and the clocks were striking thirteen.

Kalimat di atas membuka cerita 1984. Novel dystopia ini ditulis oleh George Orwell, nama pena dari Eric Arthur Blair, di tahun 1949.

Pada saat itu keadaan dunia terbagi menjadi tiga, yaitu Oceania, Eurasia, dan Eastasia. Airstrip One, dulu yang dikenal Great Britain dan sekarang menjadi bagian Oceania, menjadi latar tempat cerita ini. Negara ini dipimpin oleh tirani, Big Brother, yang sangat mengatur kehidupan rakyatnya. Makanan, postur tubuh, hingga seks semuanya diatur oleh Negara. Tidak ada kebebasan berbicara, tidak ada kebebasan berpikir, jatuh cinta tidak diizinkan, bahasa juga diatur. Negara sampai membuat Newspeak sebagai pengganti Oldspeak (bahasa Inggris yang digunakan sebelum perang).

Lanjutkan membaca “#34 – 1984”

#31 – Bumi Manusia

Bumi ManusiaJudul: Bumi Manusia
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantara (Cetakan XIII, Mei 2008)
Halaman: 535
ISBN-13: 978-979-97-3123-4
Harga: Lupa. Beli buku ini di tahun 2008
Rating: 5/5

Bumi Manusia mengisahkan cerita tentang Minke, seorang siswa H. B. S. dan keturunan priyayi Jawa. Cerita ini mengambil latar belakang Indonesia tahun di awal abad ke-20. Pada masa itu Indonesia sedang mencoba bangkit melawan kolonialisme Belanda.

Minke, pemuda tampan juga pintar, suatu hari mengunjungi Boerderij Buitenzorg atas ajakan temannya, Robert Suurhof. Pemilik tempat itu adalah seorang nyai yang biasa dipanggil Nyai Ontosoroh, karena lidah pribumi di sana tidak dapat melafalkan Buitenzorg. Nama itu melekat di dirinya dan meninggalkan nama lahirnya, yaitu Sanikem.

Lanjutkan membaca “#31 – Bumi Manusia”

#25 – Cantik itu Luka

Cantik itu LukaJudul: Cantik itu Luka
Penulis: Eka Kurniawan
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan VIII, Desember 2015)
Halaman: viii + 479
ISBN 13: 978-602-03-1258-3
Harga: Rp 99.500,-
Rating: 5/5

Perkenalkan tokoh utama dalam novel ini, Dewi Ayu. Ia adalah seorang perempuan keturunan Belanda dan Indonesia. Ayah dan ibunya satu ayah, tapi beda ibu. Ya, Dewi Ayu adalah hasil inses kakak-beradik Henri dan Aneu Stammler.

Dewi Ayu berparas cantik. Kecantikannya menggoda pria manapun yang melihatnya. Semua pria di Halimunda ingin menikmati lekuk tubuhnya dan menghabiskan malam bersamanya. Dewi Ayu terpaksa menjadi pelacur. Jepang yang memaksanya. Yang kemudian melacurkan badan menjadi pekerjaan Dewi Ayu hingga akhir hayatnya.

Cerita dibuka dengan Dewi Ayu bangkit dari kubur setelah 21 tahun dia mati. Seketika Halimunda geger. Orang-orang banyak yang penasaran, sekaligus takut. Bagaimanapun orang mati bisa hidup lagi setelah 21 tahun? Tapi, Dewi Ayu bangkit bukan untuk menjawab keheranan mereka. Dewi Ayu punya satu tujuan, yakni pulang ke rumah dan melihat anak bungsunya.

Dewi Ayu memiliki empat orang anak. Mereka adalah Alamanda, Adinda, Maya Dewi, dan Si Cantik. Ketiga anaknya–Alamanda, Adinda, dan Maya Dewi–mewarisi kecantikan ibunya. Hanya Si Cantik yang buruk rupa. Dewi Ayu memang menghendaki anak bungsunya agar terlahir jelek, seperti monster. Suatu kehendak yang aneh bagi seorang ibu. Kelak kita akan mengetahui alasannya di dekat akhir cerita.

Lanjutkan membaca “#25 – Cantik itu Luka”

#24 – Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk

Nagabumi IJudul: Nagabumi I: Jurus Tanpa Bentuk
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, November 2009)
Halaman: 815
ISBN 13: 978-979-22-5014-5
Harga: Rp 40.000,-
Rating: 5/5

Menyesal saya tidak membaca karya-karya Seno Gumira Ajidarma (SGA) sejak dulu. Namanya tentu sudah pernah saya dengar. Sayangnya, baru Nagabumi inilah dari sekian banyak buku SGA yang saya baca. Setelah membaca Nagabumi, tentunya memburu buku-buku karangan SGA adalah sebuah kewajiban.

Pendekar Tanpa Nama adalah tokoh utama dalam kisah Nagabumi. Usianya sudah 100 tahun. Dia menggambarkan umurnya yang tidak muda lagi itu seperti senja yang menyambut malam gelap. Artinya, sewaktu-waktu ajal dapat menjemputnya.

Menyadari usianya yang sudah sepuh–meskipun demikian raga, jiwa, dan pikirannya tidak menurun–dia harus meninggalkan sesuatu sebelum nyawanya terlepas dari tubuh. Maka dia pun menulis kisah perjalanan hidupnya. Kisahnya itu ditulisnya di atas lontar yang dia sendiri membuatnya.

Niat menuturkan kembali jalan hidupnya melalui sebuah tulisan pun juga didasarkan atas tuduhan yang disematkan kepadanya. Dia dituduh menyebarkan ajaran sesat. Pendekar Tanpa Nama merasa heran kenapa dia dituduh dan menjadi buruan Negara. Hadiah 10.000 keping inmas dijanjikan Negara kepada siapa saja yang dapat membunuh Pendekar Tanpa Nama. Padahal sudah 25 tahun dia mengasingkan diri dari dunia luar dan masuk ke alam rimba untuk samadhi.

Untuk mengetahui apa yang sudah terjadi dalam 25 tahun terakhir, Pendekar Tanpa Nama memutuskan keluar dari pengasingannya. Dia kembali melebur ke dalam masyarakat untuk menemukan jawaban atas teka-teki pertanyaan yang menggelayut di dalam benaknya. Dia bertanya-tanya siapakah gerangan sesungguhnya yang mengejarnya? Adakah musuh-musuhnya masih ada yang menyimpan dendam kepadanya? Kenapa Negara juga ikut memburunya bahkan menawarkan hadiah besar untuk kematiannya? Ataukah sebenarnya ini adalah permainan siasat seseorang yang menghasut dan menebar fitnah untuk menghancurkan Pendekar Tanpa Nama?

Maka Pendekar Tanpa Nama pun menuliskan kisahnya. Ini adalah caranya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Dia mengisahkan ceritanya dari awal, sejak dia diselamatkan oleh Sepasang Pendekar dari Celah Kledung dan diasuh oleh mereka, dan ketika dia memulai pengembaraannya di dunia persilatan sejak umur 15 tahun. Sementara bagi pembaca, kisah hidup Pendekar Tanpa Nama menarik untuk diikuti.

Sungguh sebuah otobiografi yang sangat memukau! Ingatan Pendekar Tanpa Nama masih tajam meski usianya tidak lagi muda. Setiap pertarungan diceritakannya secara detil. Seolah-olah baru dialaminya kemarin. Pendekar Tanpa Nama ternyata tidak hanya jago bersilat, melainkan juga jago mengolah kata.

Sepanjang kisah pengembaraannya yang diceritakannya secara runut, diceritakannya pula kisah-kisah kerajaan pada masa itu. Pergolakan, perebutan kekuasaan, perselisihan antar pemeluk agama, dan penindasan pada rakyat lemah. Dia menceritakannya dari sudut pandang rakyat jelata.

Membaca Nagabumi I amat mengasyikkan. Saya yang sebelumnya belum pernah baca cerita tentang silat ternyata bisa mengikuti pertarungan demi pertarungan yang dilalui Pendekar Tanpa Nama. Tentunya dengan jantung saya yang juga berdebar kencang saking tegangnya. Meski jurus-jurus dan ilmu yang dipakai terkesan berlebihan bagi beberapa orang, saya mengabaikan hal itu. Bukan apa-apa, karena saya pikir ini adalah cerita silat. Sudah sewajarnyalah cerita silat menggunakan jurus dan ilmu yang terkesan tidak masuk akal asalkan porsinya pas.

Tentunya yang mengagumkan bagi saya adalah Pendekar Tanpa Nama itu sendiri. Dia digambarkan SGA tidak hanya sebagai seorang pendekar silat yang mumpuni, melainkan juga sebagai seseorang yang dalam pemikirannya. Lewat kisah Pendekar Tanpa Nama ini juga SGA mengajarkan falsafah hidup dan nilai-nilai kebajikan. Suatu hal yang sebenarnya kita juga butuhkan sekarang ini.

Nagabumi I adalah novel yang Indonesia banget. Wait, ataukah seharusnya saya bilang Nusantara banget? Nagabumi I menggunakan latar belakang abad VIII di masa-masa pertarungan kekuasaan antara Wangsa Syailendra dan Wangsa Sanjaya maka tidak heranlah mengapa saya mengatakan novel ini Nusantara banget. Deskripsi kehidupan masa itu, seperti kehidupan penduduk desa dan cara berpakaian mereka, sangat kuat sehingga dapat saya visualisasikan dengan baik dalam benak saya.

Memang dalam novel ini banyak sekali bertebaran istilah-istilah yang ajaib dan berbagai kisah dan ajaran yang baru bagi saya. Jangan khawatir, SGA menyediakan catatan akhir untuk menjelaskan hal-hal tersebut. Tetapi, saya tidak membolak-balik antara catatan akhir dengan halaman yang sedang saya baca karena akan sungguh melelahkan! Lebih baik saya nikmati saja ceritanya. Kalau sudah bingung betul, baru saya buka catatan akhir untuk melihat penjelasannya. Dan seandainya suatu saat nanti saya terlalu santai dan memiliki niat ingin lebih jauh mendalami sejarah kerajaan-kerajaan Nusantara, khususnya pada abad VIII, budayanya, atau apapun yang terkait bisa saya telusuri daftar pustaka yang telah disediakan SGA di halaman akhir Nagabumi I.

Baik penggemar cerita silat maupun yang bukan penggemar cerita silat, Nagabumi I layak untuk dibaca. Novelnya yang tebal sampai 815 halaman janganlah dijadikan penghalang untuk membacanya. Meski tebalnya novel ini terasa mengintimidasi dan ukuran hurufnya juga kecil, percayalah, kisah Pendekar Tanpa Nama sangat seru untuk diikuti. Sungguh sayang jika harus dilewatkan.

#16 – Sabtu Bersama Bapak

Sabtu Bersama BapakJudul: Sabtu Bersama Bapak
Penulis: Adhitya Mulya
Penerbit: GagasMedia (cetakan VI, 2014)
Halaman: x + 278 halaman
ISBN 13: 978-979-780-721-4
Harga: Rp 48.000,-
Rating: 5/5

Jujur saja, Sabtu Bersama Bapak adalah buku pertama Adhitya Mulya yang saya baca. Itupun saya tertarik membeli novel ini karena judulnya mengingatkan saya akan ayah saya. Saya memang punya sentimen yang sangat tinggi terhadap apapun yang berhubungan dengan relasi antara ayah dan anak.

Butuh waktu hampir tiga minggu dulu setelah saya membaca novel ini lalu saya menulis riviunya. Bukan apa-apa, tapi karena Sabtu Bersama Bapak mengingatkan saya pada seseorang yang saya sayangi dan saya hormati.

Jadi, Sabtu Bersama Bapak berkisah tentang keluarga Garnida. Gunawan Garnida memiliki istri dan dua orang anak laki-laki bernama Satya dan Cakra. Dia sangat mencintai keluarga kecilnya. Begitu mengetahui kanker yang dideritanya akan merenggut nyawanya dalam satu tahun membuatnya harus berputar otak agar anak-anaknya yang masih kecil tidak merasa kehilangan bapak mereka. Gunawan lalu memutuskan untuk merekam dirinya menggunakan handycam.

Gunawan sudah mewasiatkan kepada istrinya, Itje, agar Satya dan Cakra menonton video rekaman dirinya satu kali dalam seminggu, yaitu setiap hari Sabtu. Maka tidak heran jika Satya dan Cakra selalu antusias menyambut hari Sabtu. Karena hari Sabtu berarti saatnya hari bersama Bapak. Begitulah, meski Gunawan meninggal ketika Satya dan Cakra masih berusia delapan dan lima tahun, Satya dan Cakra tidak kehilangan sosok ayah. Karena Gunawan tetap bersama mereka. Dia tetap membesarkan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang.

Satya dan Cakra pun tumbuh menjadi laki-laki yang punya prinsip. Mereka memegang teguh prinsip dan nilai-nilai yang diajarkan oleh bapak mereka. Satya tumbuh menjadi pria dewasa yang pintar dan bertanggung jawab pada keluarga. Cakra juga tumbuh menjadi pria yang memiliki kepribadian matang.

Keduanya memiliki persoalan mereka masing-masing. Satya yang sempat “kehilangan arah” beruntung segera kembali ke track-nya. Dia belajar menjadi suami dan ayah yang baik dari bapaknya. Cakra berjuang mencari cinta dan nilai-nilai yang ditanamkan bapaknya membuatnya berhasil mendapatkan wanita yang baik.

Membaca Sabtu Bersama Bapak membuat saya teringat salah satu kutipan dari film 7/24:

The good foundation of everything is a good family.

Dan saya mengamini hal tersebut. Keluarga Garnida adalah keluarga yang harmonis. Meski Gunawan tidak bisa hadir secara fisik di tengah-tengah keluarga tersebut, dia tetap hadir di hati masing-masing anggota keluarganya. Itje pun berhasil membesarkan anak-anak mereka sendirian, tentunya dengan dibantu Gunawan melalui rekaman videonya. Lalu, lihatlah Satya dan Cakra ketika dewasa mereka menjadi pria baik yang berkarakter, bertanggung jawab, dan sholeh.

Membaca wejangan-wejangan dari Gunawan untuk kedua putranya di sepanjang novel ini membuat saya bisa memahami kenapa pada akhirnya Satya dan Cakra bisa tumbuh menjadi pria dewasa yang, yah, seperti itu. Mereka beruntung punya ayah yang menjadi role model yang patut. Nasihat dari Gunawan kepada anak-anaknya membuat saya mengangguk-angguk setuju dan tidak bisa membantah.

Cobalah lihat pandangan Gunawan yang tidak setuju anak sulung diberi beban yang terlalu berat:

“Seorang anak, tidak wajib menjadi baik atau pintar hanya karena dia sulung. Nanti yang sulung benci sama takdirnya dan si bungsu tidak belajar tanggung jawab dengan cara yang sama. semua anak wajib menjadi baik dan pintar karena memang itu yang sebaiknya semua manusia lakukan.”

“Menjadi panutan bukan tugas anak sulung–kepada adik-adiknya. Menjadi panutan adalah tugas orangtua–untuk semua anaknya.” (hal. 105 – 106)

Lalu, nasihat Gunawan tentang mimpi:

Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian merencanakannya dengan baik.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Dengan syarat, kalian rajin dan tidak menyerah.
Bapak minta kalian bermimpi setinggi mungkin. Tapi mimpi tanpa rencana dan action, hanya akan membuat anak istri kalian lapar.
Kejar mimpi kalian.
Rencanakan. (hal. 151)

Kemudian, ajaran Gunawan yang dipegang teguh Cakra dalam mencari jodoh:

“Kata Bapak saya… dan dia dapat ini dari orang lain. Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahannya, Yu.”
“…”
“Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” (hal. 217)

Adhitya Mulya mengajarkan nilai-nilai kepada kita melalui Gunawan tanpa menggurui. Nilai-nilai yang menurut saya tidak ada salahnya untuk kita dengarkan dan terapkan dalam kehidupan kita. Membaca Sabtu Bersama Bapak juga seperti membaca sekilas tentang parenting, yang pada akhirnya mendorong saya untuk mulai membaca mengenai parenting dari sekarang. Yah, setidaknya mencicil lah… 😛

Akhirul kalamSabtu Bersama Bapak sukses membuat saya termotivasi dalam satu hal: membangun dan memiliki keluarga yang harmonis dan bahagia. The foundation of everything is a good family, remember?

Eh, ada yang ketinggalan. Sebelum benar-benar mengakhiri riviu kali ini, ijinkan saya mengutip satu hal lagi yang membuat hati saya benar-benar mencelos:

“Satya, Cakra…
Meski Bapak tidak ada di samping kalian, semoga semua pesan yang kalian terima bertahun-tahun berhasil membantu kalian menjalani apapun yang kalian jalani.”
“Ini adalah video terakhir Bapak.
Bapak sudah merekam semua pesan yang ingin Bapak sampaikan.
Pesan-pesan yang Bapak anggap penting untuk kalian.
Jika kalian menyaksikan video ini, artinya sebentar lagi kalian akan menikah. Akan menjadi kepala dari sebuah keluarga. Suami dari seorang istri. Dan Bapak dari seorang anak.
Tugas Bapak membimbing kalian,
selesai di sini.
Tugas kalian sekarang, membimbing keluarga kecil kalian.
Selalu ingatkan kepada diri kalian, untuk memberikan yang terbaik bagi mereka.
Karena kehadiran mereka adalah hal yang terbaik yang dapat terjadi pada kalian.
Sebagaimana kehadiran Mamah dan kalian.
Menjadi hal terbaik dalam hidup Bapak.
Terima kasih untuk itu. Terima kasih sudah membahagiakan Bapak.
Untuk terakhir kalinya, Bapak ucapkan, Bapak sayang kalian.
Assalamu’alaikum wr.wb.” (hal. 272 – 273)

#13 – Burung-Burung Manyar

Burung-burung ManyarJudul: Burung-burung Manyar
Penulis: Y. B. Mangunwijaya
Penerbit: Penerbit Buku Kompas (cetakan I, 2014)
Halaman: x + 406 halaman
ISBN 13: 978-979-709-842-1
Harga: Rp 69.000,-
Rating: 5/5

Burung-burung Manyar berkisah tentang Teto dan Atik. Dua manusia yang berteman sejak kecil lalu tumbuh perasaan cinta di kala mereka dewasa. Teto yang terlampau arogan dan menuruti egonya lebih memilih untuk tidak memperjuangkan cintanya dan bergabung dengan KNIL. Dia benci Jepang yang telah merenggut ayah dan ibunya. Dia sinis pada Indonesia yang berjuang untuk memperoleh kemerdekaan. Padahal Atik–orang yang dicintainya–berjuang di kubu seberang. Mereka adalah sepasang manusia yang saling mencintai, tapi berada dalam dua kubu yang bertentangan.

Mengapa selalu segala yang indah berdampingan dengan yang kotor dan berbau? Jika benar cinta dan kemesraan pria-wanita itu mulai dari sumber kebahagiaan, mengapa Tuhan menciptakan tubuh kita sedemikian sehingga organ cinta sangat dilekatkan berdampingan bahkan bersatu dengan lubang pembuangan kotoran? (hal. 74 – 75)

Semasa menjadi pasukan KNIL, Teto sebenarnya mulai mempertanyakan keputusannya. Benarkah keputusannya bergabung dengan KNIL, apalagi setelah Atik juga ikut berjuang membela Indonesia? Ah, malu rasanya kalau dia harus keluar dari KNIL dan mencari Atik. Malu juga rasanya setelah perang usai dia pulang dan mencari Atik. Maka, atas nama gengsi Teto harus mengubur perasaannya dan melupakan Atik. Tentu saja dia gagal. Dia memang melanjutkan hidupnya dengan kuliah, menjadi sarjana Matematika, menikah, ditinggal istri, dan punya posisi penting di perusahaan multinasional. Namun, jangan tanya perasaannya. Penyesalannya tiada henti karena telah melepas Atik.

Sepanjang saya membaca Burung-burung Manyar, saya berpikir perang itu sesungguhnya merugikan semua pihak. Saya tidak tahu mana yang sesungguhnya benar dan salah. Semua pihak merasa dirinyalah yang paling benar. Pokoknya pihak yang bertentangan adalah musuh yang harus dikalahkan. Dengan dua tokoh utama, Teto dan Atik, yang berada di pihak-pihak yang saling bertentangan, Romo Mangun mengajak kita untuk berempati. Teto dan Atik memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih untuk bergabung dengan pihak-pihak yang bertikai. Inilah yang coba diajarkan Romo Mangun lewat novel ini. Marilah kita belajar untuk melihat dari sudut pandang orang lain, termasuk sudut pandang musuh kita.

Romo Mangun mendeskripsikan perasaan Teto sangat detil sampai-sampai saya bisa memakluminya bergabung dengan KNIL. Saya juga bisa mengerti perasaan rakyat kecil yang sesungguhnya lebih menyukai Belanda berkuasa ketimbang Jepang. Bahkan, ada yang berharap Indonesia bergabung saja dengan Belanda dan membentuk commonwealth. Untuk apa Indonesia merdeka kalau masih miskin begini? Untuk apa Indonesia merdeka kalau penguasanya semena-mena dan menindas rakyat? Kembali saja dikuasai Belanda. Orang-orang Belanda malah jauh lebih bermartabat dan baik hati ketimbang pribumi yang punya kekuasaan.

Atik juga sangat kuat dideskripsikan oleh Romo Mangun. Atik adalah seorang wanita yang berpendirian, kuat, cerdas, dan sangat mencintai Teto. Meski dia sudah menikah dan punya tiga anak, dia masih menempatkan Teto di sudut hatinya. Cinta Atik kepada Teto ini membuat saya kembali bertanya ke diri sendiri, “Memangnya benar ada cinta seperti ini?”

Terlepas dari cerita yang luar biasa memikat (meski saya tidak suka dengan ending-nya yang sungguh menyesakkan), tutur tulisan yang mengalun dengan indah dan jenaka, dan penokohan yang sangat kuat, ada dua hal yang sedikit mengganggu saya. Pertama, perbedaan usia Teto dan Atik. Kalau saya tidak salah, di bab-bab awal diceritakan usia mereka terpaut dua tahun dengan Teto yang lebih tua. Namun, di bab “Aula Hikmah” yang menceritakan Atik sidang mempertahankan tesisnya, saat itu Atik berumur 41 tahun. Hal ini seperti apa yang Teto ceritakan:

Ah, itulah Sang Pujaan. Nah, tersenyum, merasa sip dia, walaupun telah satu tahun melampaui umur 40 tahun; … (hal. 308)

Kemudian, Teto bilang (saya lupa di halaman berapa) umurnya 46 tahun. Ah, bisa saja saya keliru. Nanti deh kapan-kapan dibaca ulang dan dicek sebenarnya berapa tahun perbedaan usia mereka.

Kedua, ada dua bab yang bercerita tentang Karjo dan setan kopor. Saya tidak tahu apa pentingnya mereka ini dalam cerita karena tidak memiliki hubungan erat dengan cerita utama. Bisa jadi Karjo dan setan kopor hadir dalam cerita untuk menjelaskan kondisi rakyat kecil pada saat itu yang semakin sengsara karena ditindas pemimpinnya.

Meski ada dua hal yang sedikit mengganggu, tapi saya bisa memaafkan. Toh, Burung-burung Manyar jauh lebih banyak sisi mengesankannya daripada sisi mengganggunya. Dengan senang hati saya memberi nilai 5 bintang dari 5. Ditambah, saya memasukkannya ke dalam rak buku “favorites” di Goodreads saya. 🙂

#11 – Wuthering Heights

Wuthering HeightsJudul: Wuthering Heights
Penulis: Emily Bronte
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan II, Juli 2011)
Halaman: 488
ISBN 13: 978-979-22-6978-9
Harga: Rp 30.000,-
Rating: 5/5

Saya pertama kali selesai membaca Wuthering Heights pada tanggal 26 September 2011 (terima kasih kepada Goodreads telah menyimpan catatan sejarah membaca saya) dan serta merta saya langsung menyematkan label favorit pada novel romansa gelap ini. Waktu itu saya membaca bahasa aslinya dan rada-rada puyeng dengan gaya penulisannya. Maklum, namanya juga sastra klasik. Tapi, setidaknya saya masih bisa mengerti untuk mengikuti ceritanya (dan kemudian lama-lama terbiasa dengan gaya novel sastra klasik).

Ketika saya menemukan terjemahan novel ini di acara bazar bulan lalu, segera saya mengambil satu kopi untuk saya bawa pulang. Meski sebenarnya saya agak was-was dengan terjemahannya, tapi saya pikir tidak apa deh. Saya belum punya buku cetak dari Wuthering Heights ini, yang notabene adalah novel favorit saya sepanjang masa. Yang saya baca sebelumnya hanyalah versi e-book. Toh, saya percaya dengan kualitas buku terbitan Gramedia Pustaka Utama. Jadi, seharusnya sih terjemahannya bagus. Alhamdulillah, harapan saya terbukti. 🙂

Wuthering Heights bercerita tentang kisah cinta yang gelap antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Kisah bermula ketika Mr. Earnshaw setelah dari perjalanannya membawa pulang seorang anak gipsi ke rumah. Heathcliff langsung bisa menjalin hubungan yang erat dengan Catherine, tetapi tidak dengan Hindley, kakak Catherine. Hindley tidak suka dengan Heathcliff karena menurutnya Heathcliff adalah anak gipsi yang liar, bodoh, bandel, dan susah diatur. Hindley kerap menyiksa Heathcliff, tapi hal itu bukan masalah besar baginya karena dia mendapatkan pelipur lara dari Catherine. Mereka selalu menghabiskan waktu berdua dan bermain bersama-sama hingga akhirnya ketika mereka remaja ada perasaan cinta dalam hati mereka.

Apakah kisah mereka berakhir dengan bahagia? Sayangnya tidak. Masalah utama menjadi muncul ketika Catherine memutuskan untuk menerima lamaran Edgar Linton. Padahal dalam hatinya Catherine menyadari dia mencintai Heathcliff. Alasannya menerima Edgar pun karena dianggapnya Edgar lebih kaya dan lebih terdidik dibandingkan Heathcliff. Suatu alasan yang sering kita jumpai di sekitar kita bukan? Seorang wanita memutuskan untuk menikah dengan pria A yang dirasanya bisa memberikan status yang lebih baik ketimbang si B yang sebenarnya dicintainya. 😉

Mendengar Catherine menerima pinangan Edgar, saat itu juga dia kabur dari Wuthering Heights. Catherine pun menjadi rapuh. Namun, tiga tahun kemudian Heathcliff kembali datang dan menghantui kehidupan Catherine dan keluarga barunya. Heathcliff datang sebagai sosok yang baru. Dia bukan lagi anak gipsi yang bodoh, miskin, dan liar, melainkan dia menjadi pria yang gagah, cakap, dan kaya.

Kembalinya Heathcliff bukan tanpa alasan. Ada dendam yang harus dituntaskannya. Dia ingin membalas rasa sakit hati dicampakkan dan harus diakui cara-caranya luar biasa kejam dan tidak berperasaan. Di benak Heathcliff hanya ada Catherine, Catherine, dan Catherine. Hidupnya hanya berpusat pada Catherine. Demi Catherine Heathcliff akan melakukan apa saja, termasuk menyakiti dan menyiksa orang lain. Tidak hanya Catherine, Hindley, Edgar, dan Isabella Linton (adik Edgar) yang harus merasakan pembalasan dendam Heathcliff, melainkan juga sampai kepada keturunan mereka masing-masing. Bahkan, anak kandung Heathcliff sendiri pun, Linton, ikut merasakan kekejaman Heathcliff.

Sebenarnya Heathcliff dan Catherine adalah pasangan yang cocok. Sama-sama keras, bebas, tidak mau dikekang, dan sudah mengerti satu sama lain. Dengan masuknya Edgar ke dalam kehidupan mereka merusak kisah cinta mereka, yang sebenarnya sangat saya sayangkan kenapa Edgar mau-maunya jatuh cinta dengan Catherine. Seharusnya biarkan saja Catherine dan Heathcliff menikah. Toh, lama-kelamaan pasti Catherine tidak tahan dengan watak Heathcliff yang kasar. Tapi, tentu saja kalau ceritanya begitu Wuthering Heights yang kita tahu tidak akan sekelam, sesedih, sedramatis, dan senelangsa ini. Betul tidak? 😛

Akhir cerita tidak sesuai dengan bayangan saya. Sungguh di luar dugaan. Saya kira pada awalnya pasti akhir cerita akan dibuat semakin menyedihkan mengingat dari awal saja ceritanya sudah sangat gelap. Tapi, untunglah Emily Bronte tidak sejahat itu dengan tokoh-tokoh ciptaannya. Meski di bab terakhir saya tetap dibuat merinding membacanya–bab terakhir ini bercerita tentang proses kematian Heathcliff dan ditulis dengan mencekam!–pada akhirnya ada juga kisah bahagia yang tercipta. 🙂

Untuk menambah kegelapan Wuthering Heights, silakan disimak video klip berikut ini:

#5 – A to Z by Request

A to Z by RequestJudul: A to Z by Request
Penulis: Rizal Affif dkk.
Penerbit: PT Grasindo (cetakan pertama, 2013)
Halaman: vi + 338
ISBN 13: 978-602-251-171-7
Harga: Rp 37.600,- (setelah diskon 20%)
Rating: 5/5

Seorang teman SMP dan SMA memberitahu saya bahwa dia sudah menerbitkan buku, meski teman tersebut dengan rendah hati bilang buku tersebut tidak bisa dibilang sepenuhnya bukunya karena dia hanya menyumbang satu tulisan dalam buku tersebut. Buku yang dimaksud adalah A to Z by Request, sebuah antologi cerpen, dan teman saya yang dimaksud adalah Luxmaning Hutaki Widiastari.

Sebagai teman, saya sungguh bangga dengan pencapaian Lulu, panggilan akrab teman saya. Saya turut senang ada teman saya yang akhirnya menerbitkan sebuah buku. Dan sebagai teman yang suportif, saya membeli buku tersebut kemarin di Gramedia setelah berbulan-bulan dulu dan setelah ada diskon dulu.

Jadi, apa itu A to Z by Request? Bagaimana jalan ceritanya? Seru gak? Seru. Ini sungguhan. Untuk sebuah antologi dimana nama-nama penulisnya hanya satu orang saja yang saya kenal, saya berani bilang ini adalah buku yang bagus. 26 cerpen yang ada ditulis selayaknya ditulis oleh penulis profesional dan sudah ada nama. Selama membaca tak henti-hentinya saya berkata kepada diri sendiri bahwa buku ini layak untuk mendapat apresiasi yang lebih luas dan ke 26 penulis ini layak mendapat panggung yang lebih megah di Indonesia. Masing-masing dari mereka layak untuk menerbitkan buku sendiri.

Dari tema yang disuguhkan pun sudah menarik. 26 penulis mendapatkan satu huruf untuk tema cerita yang ditulis. Dari huruf A hingga Z. Dengan huruf tersebut terserah kepada setiap penulis bagaimana mereka akan meramunya menjadi sebuah cerita yang enak dibaca. Entah itu menjadi sebuah awalan nama, titel, chord, penyakit, apapun. Dan dari setiap huruf membawa kejutan yang tidak biasa. Nyaris di setiap akhir cerita saya dibuat tersenyum, ya tersenyum puas, tersenyum getir. Tentu saja karena ceritanya mampu mengaduk emosi. Ke 26 cerita sukses memberikan twist cerita yang tidak dapat saya duga sebelumnya. Jangankan twist, jalan ceritanya saja bagaimana tidak dapat saya terka. Mungkin saya terlalu asyik membaca rangkaian kata dan diksi yang menarik sehingga saya membiarkan diri saya hanyut dalam cerita. Saya tidak membiarkan diri saya terlalu sibuk untuk menebak alur cerita. “Nikmati saja cerita yang sudah disuguhi, Kim. Jangan kamu terlalu ambil pusing.” Seperti yang tertera di cara penyajian buku ini (bisa dibaca di sampul belakang):

Ambil segelas kopi dan sebungkus kacang. Cari huruf mana saja sesuai selera dan temukan cerita di baliknya. Nikmati selagi hangat.

Itu kunci utamanya: nikmati selagi hangat. Namun, saran saya jangan hanya membaca huruf-huruf tertentu. Baca semua huruf dari A hingga Z. Dan bersiaplah untuk selalu ketagihan dan bilang, “I want another word, please. I want more.”

#4 – Extremely Loud and Incredibly Close

Cover Extremely Loud and Incredibly CloseTitle: Extremely Loud and Incredibly Close
Author: Jonathan Safran Foer
Rating: 5/5

One of the good things in reading a book is when you don’t have any expectations at all and after you finish reading it you take a deep sigh and say to yourself, “Damn, it’s good.” You don’t read its synopsis and reviews. What you only have is people say it’s a good book. That’s it. And that’s what I have experienced with Extremely Loud & Incredibly Close. I don’t have any expectations at all. All I know is that some of my friends say that this is good. So, I read it.

At first, I thought it was about another love story. A romance. It only took me few pages to realise that this was about a boy and his father. “Okay, this is interesting,” I thought. So, I read page after page and it’s getting more and more interesting for me. Maybe just like what Ayu has written in her review of this book, “This could be one of my biased review because I’m reading this when I’m not in a right emotional state.” In my case was I was in a right emotional state. I was fine and I wasn’t in my depresive mood. But, I lost my father 58 days ago. Automatically, I relate myself to Oskar Schell, the main character. Yes, this could be one of my biased review because the same story what Oskar and I have.

Oskar lost his father in 9/11 tragedy. After he died, Oskar found a vase. Inside it there was an envelope written “Black” with a key in it. Oskar thought it should have something to do with his father. So, he decided to find this Black–whoever he or she was–and asked Black about the key. Maybe Black knew something about his father. He roamed around New York to find the Black. He had spent eight months before finally he found the right Black. And along his journey he knew who his Grandpa was. At last.

This story was written using three viewpoints: Oskar, his grandfather, and his grandmother. For first few chapters I was confused who was telling a story. But then I was able to know who the narator was for each chapter.

I love Oskar. He was smart and was a critical boy. He’s only 9 years old and he knew already he was an atheist. Though I doubt that there was really a 9-year-old boy could think like that. I get the feeling that he got all that from his father since, I think, the two of them were very close. What Oskar and his father have, the relationship between them, reminds me of my own relationship with my father. While reading this, I couldn’t stop thinking of my father. Oskar and I have the same story. We both loved our father. We both lost someone that was dear to our hearts. We both grieved, but in different way. By roaming around New York to find the Black was Oskar’s way to grieve. He definitely took a really long time to grieve. He’s upset at his mother because he thought his mother was so quickly to be happy and find a new friend. He just didn’t know that there’s no right way to grieve.

After finish reading this, I felt pain in my old wound. It was like someone pour a salt over it. I guess my wound will never completely heal. I closed my ebook reader and whispered, “Papa, I miss you so much.”