#79 – A Game of Thrones

Judul: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books (cetakan I, 1996)
Halaman: 837
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Lord Eddard Stark dan anak-anaknya — Robb, Bran, dan si bastard, Jon — sedang dalam perjalanan pulang ketika mereka menemukan lima bayi direwolves. Induk mereka mati. Kecil harapan bagi bayi-bayi itu untuk bertahan hidup jika induk mereka mati. Lord Stark sudah memerintahkan untuk dibunuh saja, tapi Bran ngotot ingin merawat mereka. Jon, dengan penuh hormat, bilang ke ayahnya:

“Lord Stark, … there are five pups. Three male, two female.”
“What of it, Jon?”
“You have five trueborn children. Three sons, two daughters. The direwolf is the sigil of your House. Your children were meant to have these pups, my lord.”

Lanjutkan membaca “#79 – A Game of Thrones”

#77 – Samudra di Ujung Jalan Setapak

Judul: Samudra di Ujung Jalan Setapak
Judul asli: The Ocean at the End of the Lane
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Juli 2013)
Halaman: 264
ISBN: 978-979-22-9768-3
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Aku, narator kisah ini, mengendarai mobilnya menuju rumah lamanya yang telah berpuluh tahun tidak ada. Rumah tua itu dirobohkan dan digantikan dengan rumah baru. Setelah menatap sebentar rumah baru itu, dia melanjutkan perjalanannya.

Mobilnya menjauhi kota dan memasuki jalanan yang lebih sempit, lebih berangin, dan menjadi jalur setapak kecil. Jalan setapak itu berakhir di rumah pertanian Hempstock. Aku memarkirkan mobilnya di samping pekarangan. Dia bertanya-tanya masihkah keluarga Hempstock tinggal di sini?

Lanjutkan membaca “#77 – Samudra di Ujung Jalan Setapak”

#76 – Semua untuk Hindia

Judul: Semua untuk Hindia
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, Mei 2014)
Halaman: xiv + 154
ISBN: 978-979-91-0710-7
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Semua untuk Hindia adalah buku kumpulan cerpen pertama dari Iksaka Banu yang terbit di tahun 2014. Temanya senada dengan buku-bukunya yang lain yang sudah terlebih dahulu saya baca, Teh dan Pengkhianat, yaitu bertema kolonial. Ceritanya merentang dari jaman sebelum kedatangan Cornelis de Houtman hingga masa sebelum kemerdekaan.

Saya suka dengan penutup kata pengantarnya yang ditulis oleh Nirwan Dewanto:

“Tiga belas cerita pendek dalam buku ini menyangkal praduga umum bahwa sejarah kita apak, berdebu-sawang, dan berbau kemenyan.”

Anyway, ini sinopsis singkat tiga belas cerpen itu.

Lanjutkan membaca “#76 – Semua untuk Hindia”

#75 – Malam Terakhir

Malam TerakhirJudul: Malam Terakhir
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan II, Desember 2012)
Halaman: xviii + 117 halaman
ISBN: 978-979-91-0521-9
Rating: 2 dari 5 ⭐ – it was okay

Kumpulan cerpen dari Leila S. Chudori ini sudah pernah saya baca di tahun 2018 yang lalu. Saya memutuskan untuk membaca ulang karena saya lupa-lupa ingat dengan ceritanya. Dulu saya baca gratis dengan meminjam di iPusnas atau iJak (saya lupa). Sekarang saya bacanya di Gramedia Digital.

Malam Terakhir terdiri dari sembilan cerita pendek yang pernah diterbitkan di tahun 1989. Biar tidak lupa lagi tidak ada salahnya jika saya mencatat ringkasan cerita di sini. Jangan khawatir, sebisa mungkin saya menghindari spoiler. Ini hanya garis besar ceritanya saja.

Lanjutkan membaca “#75 – Malam Terakhir”

#74 – Laut Bercerita

36393774._sx318_Judul: Laut Bercerita
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, Oktober 2017)
Halaman: x + 379
ISBN: 978-602-424-694-5
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Asmara adikku, 

Saat ini aku berada di perut laut, menunggu cahaya datang.

Ini sebuah kematian yang tidak sederhana. Terlalu banyak kegelapan. Terlalu penuh dengan kesedihan. (hal. 364)

Laut Bercerita berkisah tentang mereka yang dihilangkan dan keluarga mereka yang harus berjuang karena kehilangan. Sebanyak 22 aktivis, yang dianggap terlalu berani melawan kediktatoran, diculik. Sembilan orang kembali, sementara tiga belas orang lainnya belum (atau bahkan tidak) kembali. Mereka hilang begitu saja, termasuk Biru Laut.

Perkenalan Laut dengan dunia aktivis dimulai ketika dia menjadi mahasiswa di UGM. Di sana dia banyak bertemu dengan teman-teman mahasiswa yang kritis terhadap pemerintah. Di kampus Laut bergabung di organisasi Winatra yang berafiliasi dengan Wirasena. Bersama mereka, Laut belajar untuk berani bersuara. Mereka cukup vokal memprotes ketidakadilan yang dialami rakyat. Akibatnya, mereka menjadi target operasi.

Lanjutkan membaca “#74 – Laut Bercerita”

#71 – Teh dan Pengkhianat

Judul: Teh dan Pengkhianat
Penulis: Iksaka Banu
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, 2019)
Halaman: 176
ISBN13: 978-602-48-1137-2
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Teh dan Pengkhianat adalah kumpulan dari tiga belas cerita pendek yang ditulis oleh Iksaka Banu. Semua cerita menggunakan sudut pandang orang Belanda asli atau peranakan. Menarik membaca pertentangan batin mereka yang menolak kolonialisme. Tidak jarang akibat dari sikap mereka yang tidak lazim pada saat itu membuat mereka harus berhadapan dengan keluarga, atasan, dan teman sendiri.

Ketiga belas cerita pendek tersebut semuanya bagus. Sebut saya norak atau bagaimana, terserah kalian, tapi sungguh, tidak jarang saya merasa terkaget-kaget dengan sikap para Belanda atau Indo yang membelot ini. Kalau pakai istilah kerennya kognitif saya terdisonansi. Halah.

Anyway, saya buat sinopsisnya sedikit untuk setiap cerita ya.

Lanjutkan membaca “#71 – Teh dan Pengkhianat”

#70 – L’Assommoir

Judul: L’Assommoir (Rumah Minum)
Penulis: Émile Zola
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2018)
Halaman: 660
ISBN13: 978-602-06-1357-4
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Gervaise Macquart, seorang wanita muda berusia 22 tahun, menunggu kekasihnya, Auguste Lantier, semalam di dalam kamar hotel yang kumuh. Mengharapkan kebahagiaan dan hidup yang lebih baik, dia terpesona dengan Lantier dan mereka pun pergi dari kota tempat tinggalnya ke pinggiran Paris. Gervaise sudah mengenal Lantier sejak usianya baru 14 tahun. Dia bahkan sudah melahirkan dua anaknya dari Lantier.

Malam itu Lantier pulang dalam keadaan mabuk setelah puas bersenang-senang bersama wanita lain. Gervaise pergi mencuci pakaian dan ketika dia pulang ke hotel Lantier sudah pergi meninggalkannya dan membawa barang-barangnya.

Lanjutkan membaca “#70 – L’Assommoir”

#68 – East of Eden

Judul: East of Eden (Sebelah Timur Eden, buku 1 dan 2)
Penulis: John Steinbeck
Penerjemah: Lulu Wijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, 2018)
Halaman: 528 + 632
ISBN: 978-602-038-683-6 (Digital, buku 1) dan 978-602-038-684-3 (Digital, buku 2)
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Salinas Valley terletak di California Utara. Ini adalah tempat kelahiran Steinbeck. Di bab 1 dia mendeskripsikan Salinas Valley sebagai berikut:

Lembah ini panjang dan sempit, di antara dua deret pegunungan, Sungai Salinas mengalir berkelok-kelok dan melingkar di tengah-tengahnya, sampai akhirnya terjun ke Teluk Monterey. (hal. 11)

Deskripsi masih terus berlanjut. Bagaimana dia masih ingat nama rumput dan bunga-bunga rahasianya, pegunungan di lembah timur yang selalu ceria, sungai-sungai kecil mengalir dari kedua ngarai-ngarai bukit dan jatuh ke dasar Sungai Salinas. Deskripsi yang sangat detil dan indah membuat kita dapat membayangkan seperti apa rupa Salinas Valley, yang awalnya dihuni oleh orang Indian, ras hina yang tidak mempunyai tenaga, kreativitas, atau budaya, untuk lalu diusir oleh orang Spanyol, yang keras dan sinis. Mereka datang dan menjelajah, tapi mereka tamak mencari emas atau Tuhan. Lalu, datang orang Amerika, lebih serakah karena jumlahnya lebih banyak. Mereka merebut tanah dan merombak hukum. (hal. 17 – 19)

Lanjutkan membaca “#68 – East of Eden”

#66 – 9 dari Nadira

Judul: 9 dari Nadira
Penulis: Leila S. Chudori
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (cetakan I, 2009)
Halaman: xi + 270
ISBN-13: 978-979-91-0209-6
Harga: Gratis dengan meminjam di iPusnas
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Suatu pagi Nadira menemukan ibunya, Kemala Yunus, terbujur kaku. Tubuhnya membiru dengan busa yang keluar dari mulutnya. Di dekatnya ditemukan obat-obatan.

Kematian Kemala yang begitu mendadak dengan cara yang mengejutkan pula membuat satu keluarga tersebut sangat terpukul dan berduka dengan caranya masing-masing. Bram Suwandi, sang suami, harus mengalami depresi karena ditambah permasalahan dia dipensiunkan secara halus di kantornya. Yu Nina–kakak pertama Nadira–menangis meraung-raung, lalu pergi ke Amerika. Kang Arya–kakak kedua Nadira–mungkin terlihat tegar, tetapi kemudian dia menyepi ke hutan bertahun-tahun untuk mengobati kesedihannya. Sementara Nadira, si bungsu yang sangat mencintai dan mengagumi ibunya, butuh waktu bertahun-tahun pula (empat tahun tepatnya) untuk keluar dari kolong meja kerjanya dan mulai menata diri. Selama ini dia membangun kemah di sana, tidur di sana, dan mengabaikan kebutuhan untuk mengurus diri.

Lanjutkan membaca “#66 – 9 dari Nadira”

#65 – Amba

Judul: Amba: Sebuah Novel
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (cetakan IV, Oktober 2013)
Format: E-book
Harga: Gratis dengan meminjam di iJak
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Dua perempuan dilarikan ke Rumah Sakit Waeapo. Perempuan yang pertama bernama Amba Kinanti Eilers. Usia 62 tahun dan berasal dari Jakarta. Ia terluka parah dan tidak sadarkan diri akibat serangan dari perempuan satunya yang bernama Mukaburung.

Mukaburung adalah anak angkat Kepala Suku Kepala Air di Waeapo. Awalnya tidak diketahui secara pasti mengapa Mukaburung menyerang Amba hingga menyebabkannya mengalami luka berat. Ketika ditanya Amba hanya diam seribu bahasa. Dalam dirinya seolah tidak ada lagi gairah. Sampai pada akhirnya nanti Amba akan membuka suara kepada Samuel — laki-laki yang menemaninya ke Pulau Buru — dan menceritakan seluruh kisahnya sejak awal hingga kenapa Mukaburung begitu murka terhadapnya.

Lanjutkan membaca “#65 – Amba”