#94 – Artemis Fowl

Artemis FowlJudul: Artemis Fowl (Artemis Fowl #1)
Penulis: Eoin Colfer
Penerbit: Disney-Hiperion (pertama terbit tahun 2001)
Halaman: 396
ISBN13: 9780786817870
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Artemis Fowl II baru berusia 12 tahun ketika dia memimpin “kerajaan kriminal” yang ditinggalkan oleh ayahnya, Artemis Fowl senior, yang hilang karena kapal yang ditumpanginya diserang oleh rudal dari mafia Rusia. Meski Fowl baru berusia 12 tahun, jangan remehkan dirinya. Fowl jenius. Dia sangat detail dan teliti. Dia bisa satu-dua langkah lebih maju dalam membuat strategi.

Di buku pertama ini, Fowl membuat rencana untuk mendapatkan emas yang banyak. Emas ini untuk mengganti kekayaan keluarganya yang hilang akibat serangan mafia Rusia. Namun, bukan sembarang emas yang menjadi incarannya, melainkan emas dari dunia peri.

Lanjutkan membaca “#94 – Artemis Fowl”

#91 – Blood of Elves

Judul: Blood of Elves
Penulis: Andrzej Sapkowski
Penerjemah: Danusia Stok
Penerbit: Orbit (Mei 2009)
Halaman: 420
ISBN: 978-0-316-0371-4
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Dandelion, penyair terkenal kita, semakin terkenal saja. Syair-syairnya terasa nyata dan memang berdasarkan kisah nyata, yaitu dari kisah Geralt of Rivia. Dari syairnya tersebut, orang-orang jadi berasumsi Ciri selamat atau tidak. Ada yang ngotot dia hidup karena diselamatkan oleh Geralt, ada yang keukeuh yakin bahwa dia sudah tewas karena ada saksi matanya. Gara-gara syairnya tersebut Dandelion nyaris kehilangan nyawanya disiksa oleh Rience, penyihir jahat yang dicurigai dari Nilfgaard.

Kalau ketiga buku sebelumnya — The Last WishSword of Destiny, dan Season of Storms — merupakan kumpulan cerpen, maka Blood of Elves adalah sebuah novel dengan cerita satu kesatuan utuh. Kita akan melihat Geralt yang sangat menyayangi dan melindungi Ciri, Ciri berlatih menjadi witcher di Kaer Morhen, kemudian dia melanjutkan pelajarannya di dunia luar biar bisa bersosialisasi, dan nantinya dilatih Yennefer untuk menjadi penyihir.

Lanjutkan membaca “#91 – Blood of Elves”

#89 – Sword of Destiny

Judul: Sword of Destiny (The Witcher #0.75)
Penulis: Andrzej Sapkowski
Penerbit: Orbit (19 Mei 2015)
Halaman: 384
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Sword of Destiny masih berupa kumpulan cerpen tentang Geralt of Rivia. Ada enam cerpen di sini. Di buku ini pula kita bertemu dengan Ciri untuk pertama kalinya.

Saya langsung saja untuk meringkas masing-masing ceritanya ya.

1. The Bounds of Reason

Jika orang-orang pada ingin membunuh naga, maka tidak dengan Geralt. Meski ditawari uang sekalipun, Geralt tetap tidak akan mau membunuh naganya. Geralt memang punya code of conduct-nya sendiri dan dia sangat taat mematuhinya.

Mengetahui pandangan Geralt terhadap naga membuat Borch alias Three Jackdaws mengajak Geralt untuk melihat naga. Tujuan Borch murni hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya. Borch tidak sendirian. Dia ditemani Vea dan Tea. Mereka ini adalah pengawal pribadinya Borch.

Ternyata bukan hanya mereka yang menaruh minat dengan naga. Ada Dandelion, sekelompok dwarves yang dipimpin Yarpen Zigrin, Boholto dan anak buahnya, tentara dari Raja Niedamir, Yennefer, dan lain-lain. Mereka ini ingin membunuh naga untuk kepentingan mereka sendiri. Nantinya Geralt, Borch dan pengawal pribadinya, dan Yennefer bersama-sama bertarung melawan yang lain untuk melindungi naga yang jadi incaran.

Lanjutkan membaca “#89 – Sword of Destiny”

#87 – The Last Wish

Judul: The Last Wish (The Witcher #0.5)
Penulis: Andrzej Sapkowski
Penerbit: Orbit (14 Desember 2008)
Halaman: 360
ISBN: 978-0-326-05508-6
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Setelah selesai baca seri A Song of Ice and Fire dan menuliskan resensi masing-masing buku, saya punya niat untuk membaca seri The Witcher. Niatnya lagi saya akan menulis resensi setiap bukunya. Lumayan kan blog ini jadi rajin update. Seandainya nanti resensi saya asal-asalan dan terkesan malas, mohon dimaklumi ya. 😀

Jadi, The Last Wish adalah buku pertama, yang entah kenapa di Goodreads nomornya ditulis 0.5, dari seri The Witcher. Dia merupakan kumpulan cerpen tentang Geralt of Rivia. 

Lanjutkan membaca “#87 – The Last Wish”

#85 – A Dance with Dragons

Judul: A Dance with Dragons (A Song of Ice and Fire #5)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books
Halaman: 1125
eISBN: 978-0-553-90565-6
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Setelah cukup kecewa dengan A Feast for Crows, kekecewaan itu terobati dengan A Dance with Dragons. Tokoh kesayangan kita semua — Tyrion Lannister, tentu saja — bersama dengan tokoh-tokoh utama lainnya, seperti Jon Snow dan Daenerys, datang kembali. Kehadiran mereka dengan cerita yang terus berkembang membuat buku ini semakin menarik.

Kita juga bertemu kembali dengan Theon Greyjoy, setelah di dua buku sebelumnya tidak ada dia sama sekali. Di sini dia menjadi Reek, yang sudah disiksa habis-habisan oleh Ramsay Bolton.

Jika di buku sebelumnya cerita berfokus di tiga tempat, yaitu King’s Landing, Dorne, dan The Iron Lands, maka di sini fokus ceritanya berpindah ke Wall, Winterfell, dan Meereen, meski sesekali tetap ke Braavos dan King’s Landing.

Lanjutkan membaca “#85 – A Dance with Dragons”

#83 – A Feast for Crows

Judul: A Feast for Crows (A Song of Ice and Fire #4)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books
Halaman: 1061
ISBN13: 9780553582024
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Buku keempat seri A Song of Ice and Fire ini berfokus tiga tempat, yaitu King’s Landing, Dorne, dan The Iron Islands. Di sini kita juga akan menemukan banyak POV (point of view) yang sama sekali baru, misalnya Cersei, Brienne, dan Arianne Martell. Kita tidak akan bertemu dengan Jon, Dany, dan Tyrion, tetapi kita masih bertemu dengan Sansa dan Arya.

Martin menulis juga kisah dari tokoh-tokoh yang lain, tetapi berhubung ceritanya panjang banget maka beliau memutuskan untuk membaginya menjadi dua.

Lanjutkan membaca “#83 – A Feast for Crows”

#81 – A Storm of Swords

Judul: A Storm of Swords (A Song of Ice and Fire #3)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Spectra
Halaman: 973
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Setelah buku kedua, A Clash of Kings, yang diakhiri dengan Winterfell yang hangus dibakar; Bran beserta Hodor, Jojen, dan Meera harus berpisah dengan Rickon dan Osha. Mereka menuju dua tempat yang berbeda. Bran dan rombongan akan mencari The Third-Eye Raven, sementara Rickon dan Osha barangkali ke White Harbor, The Umbers, atau entah ke mana, yang terpenting adalah Bran dan Rickon jangan jalan bersama.

Buku ketiga dari seri A Song of Ice and Fire ini dimulai dengan pelarian Jaime Lannister. Dia dibebaskan oleh Catelyn Stark dengan syarat Sansa dan Arya harus dikembalikan ke ibunya. Untuk menjamin keselamatan Jaime dan supaya Lannister tidak ingkar janji, Catelyn mengutus Brienne of Tarth. Jaime harus tiba di King’s Landing dengan selamat.

Catelyn harus membayar mahal perbuatannya tersebut. Salah satu bannerman Stark yang setia, melepaskan diri dari Stark. Robb mulai kehilangan kekuatan pasukannya. Dia memang mungkin memenangkan semua pertarungannya, tetapi sebenarnya Robb mulai kalah. Buat apa dia bisa memenangi semua pertempurannya, tetapi harus kehilangan adik-adiknya dan Winterfell? Nantinya Robb bakal benar-benar kalah setelah dia tidak menepati janjinya untuk menikahi salah satu putri Lord Walder Frey. Bersiap-siaplah kalian nanti di bagian Red Wedding.

Lanjutkan membaca “#81 – A Storm of Swords”

#80 – A Clash of Kings

Judul: A Clash of Kings (A Song of Ice and Fire #2)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Spectra (September 2000)
Halaman: 969
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Robert Baratheon dan Eddard Stark mati. Seharusnya yang melanjutkan tahta kerajaan adalah Joffrey, tetapi Robb Stark, Stanis Baratheon, dan Renly Baratheon masing-masing mengklaim mereka adalah raja. Jangan lupa ada nama Daenerys Targaryen yang juga berambisi ingin merebut kembali tahta milik keluarganya.

Sesuai judulnya A Clash of Kings berpusar pada raja-raja yang bertempur demi Iron Throne di King’s Landing. Itu garis besar ceritanya. Pertempuran demi pertempuran terjadi melanjutkan pertempuran sebelumnya di A Game of Thrones. Robb Stark sepertinya akan memenangi pertempuran melawan Lannisters dan Renly membawa pasukannya dalam jumlah besar ke King’s Landing. Terdengar sangat menjanjikan, seperti ada secercah cahaya bahwa Lannisters akan kalah di tangan Starks dan King’s Landing akan jatuh ke tangan Renly.

Namun, jangan tersenyum bahagia dulu karena di luar dugaan Stanis menghadang Renly. Malah dia menantang Renly untuk bertempur. Seperti sudah siap berpesta, tetapi sayangnya pesta harus dibatalkan. Sungguh disesalkan, bukannya mereka bertiga menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan Lannisters, malah mereka sibuk berkelahi sendiri mempertahankan ego masing-masing.

Lanjutkan membaca “#80 – A Clash of Kings”

#79 – A Game of Thrones

Judul: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books (cetakan I, 1996)
Halaman: 837
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Lord Eddard Stark dan anak-anaknya — Robb, Bran, dan si bastard, Jon — sedang dalam perjalanan pulang ketika mereka menemukan lima bayi direwolves. Induk mereka mati. Kecil harapan bagi bayi-bayi itu untuk bertahan hidup jika induk mereka mati. Lord Stark sudah memerintahkan untuk dibunuh saja, tapi Bran ngotot ingin merawat mereka. Jon, dengan penuh hormat, bilang ke ayahnya:

“Lord Stark, … there are five pups. Three male, two female.”
“What of it, Jon?”
“You have five trueborn children. Three sons, two daughters. The direwolf is the sigil of your House. Your children were meant to have these pups, my lord.”

Lanjutkan membaca “#79 – A Game of Thrones”

#77 – Samudra di Ujung Jalan Setapak

Judul: Samudra di Ujung Jalan Setapak
Judul asli: The Ocean at the End of the Lane
Penulis: Neil Gaiman
Penerjemah: Tanti Lesmana
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama (cetakan I, Juli 2013)
Halaman: 264
ISBN: 978-979-22-9768-3
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Aku, narator kisah ini, mengendarai mobilnya menuju rumah lamanya yang telah berpuluh tahun tidak ada. Rumah tua itu dirobohkan dan digantikan dengan rumah baru. Setelah menatap sebentar rumah baru itu, dia melanjutkan perjalanannya.

Mobilnya menjauhi kota dan memasuki jalanan yang lebih sempit, lebih berangin, dan menjadi jalur setapak kecil. Jalan setapak itu berakhir di rumah pertanian Hempstock. Aku memarkirkan mobilnya di samping pekarangan. Dia bertanya-tanya masihkah keluarga Hempstock tinggal di sini?

Lanjutkan membaca “#77 – Samudra di Ujung Jalan Setapak”