#89 – Sword of Destiny

Judul: Sword of Destiny (The Witcher #0.75)
Penulis: Andrzej Sapkowski
Penerbit: Orbit (19 Mei 2015)
Halaman: 384
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Sword of Destiny masih berupa kumpulan cerpen tentang Geralt of Rivia. Ada enam cerpen di sini. Di buku ini pula kita bertemu dengan Ciri untuk pertama kalinya.

Saya langsung saja untuk meringkas masing-masing ceritanya ya.

1. The Bounds of Reason

Jika orang-orang pada ingin membunuh naga, maka tidak dengan Geralt. Meski ditawari uang sekalipun, Geralt tetap tidak akan mau membunuh naganya. Geralt memang punya code of conduct-nya sendiri dan dia sangat taat mematuhinya.

Mengetahui pandangan Geralt terhadap naga membuat Borch alias Three Jackdaws mengajak Geralt untuk melihat naga. Tujuan Borch murni hanya ingin menuntaskan rasa penasarannya. Borch tidak sendirian. Dia ditemani Vea dan Tea. Mereka ini adalah pengawal pribadinya Borch.

Ternyata bukan hanya mereka yang menaruh minat dengan naga. Ada Dandelion, sekelompok dwarves yang dipimpin Yarpen Zigrin, Boholto dan anak buahnya, tentara dari Raja Niedamir, Yennefer, dan lain-lain. Mereka ini ingin membunuh naga untuk kepentingan mereka sendiri. Nantinya Geralt, Borch dan pengawal pribadinya, dan Yennefer bersama-sama bertarung melawan yang lain untuk melindungi naga yang jadi incaran.

Lanjutkan membaca “#89 – Sword of Destiny”

#87 – The Last Wish

Judul: The Last Wish (The Witcher #0.5)
Penulis: Andrzej Sapkowski
Penerbit: Orbit (14 Desember 2008)
Halaman: 360
ISBN: 978-0-326-05508-6
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Setelah selesai baca seri A Song of Ice and Fire dan menuliskan resensi masing-masing buku, saya punya niat untuk membaca seri The Witcher. Niatnya lagi saya akan menulis resensi setiap bukunya. Lumayan kan blog ini jadi rajin update. Seandainya nanti resensi saya asal-asalan dan terkesan malas, mohon dimaklumi ya. 😀

Jadi, The Last Wish adalah buku pertama, yang entah kenapa di Goodreads nomornya ditulis 0.5, dari seri The Witcher. Dia merupakan kumpulan cerpen tentang Geralt of Rivia. 

Lanjutkan membaca “#87 – The Last Wish”

#85 – A Dance with Dragons

Judul: A Dance with Dragons (A Song of Ice and Fire #5)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books
Halaman: 1125
eISBN: 978-0-553-90565-6
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Setelah cukup kecewa dengan A Feast for Crows, kekecewaan itu terobati dengan A Dance with Dragons. Tokoh kesayangan kita semua — Tyrion Lannister, tentu saja — bersama dengan tokoh-tokoh utama lainnya, seperti Jon Snow dan Daenerys, datang kembali. Kehadiran mereka dengan cerita yang terus berkembang membuat buku ini semakin menarik.

Kita juga bertemu kembali dengan Theon Greyjoy, setelah di dua buku sebelumnya tidak ada dia sama sekali. Di sini dia menjadi Reek, yang sudah disiksa habis-habisan oleh Ramsay Bolton.

Jika di buku sebelumnya cerita berfokus di tiga tempat, yaitu King’s Landing, Dorne, dan The Iron Lands, maka di sini fokus ceritanya berpindah ke Wall, Winterfell, dan Meereen, meski sesekali tetap ke Braavos dan King’s Landing.

Lanjutkan membaca “#85 – A Dance with Dragons”

#84 – Good Natured

Judul: Good Natured: The Origins of Right and Wrong in Humans and Other Animals
Penulis: Frans de Waal
Penerbit: Harvard University Press (cetakan VII, 2003)
Halaman: 368
ISBN: 0-674-35661-6
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Pernahkah kalian bertanya-tanya dari mana asal-muasal moral? Apakah hanya manusia yang memiliki simpati dan empati? Apakah hewan-hewan lain tidak memilikinya? Jika hewan lain tidak memilikinya, lalu kenapa hewan seperti simpanse bisa sedih jika ada temannya yang mati? Kenapa mereka juga mau berbagi makanan dengan gerombolan kawanan mereka? Nah, de Waal mencoba menjelaskannya melalui buku ini.

Dengan pengalamannya yang sudah puluhan tahun sebagai primatolog dan etolog — yang pekerjaannya sudah pasti mengamati perilaku hewan — de Waal menyajikan bukti-bukti bahwa perilaku moral juga bisa diamati di hewan, tidak hanya primata, tetapi juga anjing, gajah, lumba-lumba, dan lainnya. Intinya adalah bahwasanya moralitas itu universal di animal kingdom.

Jadi, jika kita berpikir bahwa agama, budaya, atau hukum mengatur moral kita, tidak ada salahnya untuk berpikir ulang. Kita adalah manusia modern merupakan produk evolusi. Otak kita berkembang dari yang berpikir sederhana hingga bisa berpikir kompleks dan abstrak, seperti yang de Waal bilang:

Lanjutkan membaca “#84 – Good Natured”

#83 – A Feast for Crows

Judul: A Feast for Crows (A Song of Ice and Fire #4)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books
Halaman: 1061
ISBN13: 9780553582024
Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

Buku keempat seri A Song of Ice and Fire ini berfokus tiga tempat, yaitu King’s Landing, Dorne, dan The Iron Islands. Di sini kita juga akan menemukan banyak POV (point of view) yang sama sekali baru, misalnya Cersei, Brienne, dan Arianne Martell. Kita tidak akan bertemu dengan Jon, Dany, dan Tyrion, tetapi kita masih bertemu dengan Sansa dan Arya.

Martin menulis juga kisah dari tokoh-tokoh yang lain, tetapi berhubung ceritanya panjang banget maka beliau memutuskan untuk membaginya menjadi dua.

Lanjutkan membaca “#83 – A Feast for Crows”

#81 – A Storm of Swords

Judul: A Storm of Swords (A Song of Ice and Fire #3)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Spectra
Halaman: 973
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Setelah buku kedua, A Clash of Kings, yang diakhiri dengan Winterfell yang hangus dibakar; Bran beserta Hodor, Jojen, dan Meera harus berpisah dengan Rickon dan Osha. Mereka menuju dua tempat yang berbeda. Bran dan rombongan akan mencari The Third-Eye Raven, sementara Rickon dan Osha barangkali ke White Harbor, The Umbers, atau entah ke mana, yang terpenting adalah Bran dan Rickon jangan jalan bersama.

Buku ketiga dari seri A Song of Ice and Fire ini dimulai dengan pelarian Jaime Lannister. Dia dibebaskan oleh Catelyn Stark dengan syarat Sansa dan Arya harus dikembalikan ke ibunya. Untuk menjamin keselamatan Jaime dan supaya Lannister tidak ingkar janji, Catelyn mengutus Brienne of Tarth. Jaime harus tiba di King’s Landing dengan selamat.

Catelyn harus membayar mahal perbuatannya tersebut. Salah satu bannerman Stark yang setia, melepaskan diri dari Stark. Robb mulai kehilangan kekuatan pasukannya. Dia memang mungkin memenangkan semua pertarungannya, tetapi sebenarnya Robb mulai kalah. Buat apa dia bisa memenangi semua pertempurannya, tetapi harus kehilangan adik-adiknya dan Winterfell? Nantinya Robb bakal benar-benar kalah setelah dia tidak menepati janjinya untuk menikahi salah satu putri Lord Walder Frey. Bersiap-siaplah kalian nanti di bagian Red Wedding.

Lanjutkan membaca “#81 – A Storm of Swords”

#80 – A Clash of Kings

Judul: A Clash of Kings (A Song of Ice and Fire #2)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Spectra (September 2000)
Halaman: 969
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Robert Baratheon dan Eddard Stark mati. Seharusnya yang melanjutkan tahta kerajaan adalah Joffrey, tetapi Robb Stark, Stanis Baratheon, dan Renly Baratheon masing-masing mengklaim mereka adalah raja. Jangan lupa ada nama Daenerys Targaryen yang juga berambisi ingin merebut kembali tahta milik keluarganya.

Sesuai judulnya A Clash of Kings berpusar pada raja-raja yang bertempur demi Iron Throne di King’s Landing. Itu garis besar ceritanya. Pertempuran demi pertempuran terjadi melanjutkan pertempuran sebelumnya di A Game of Thrones. Robb Stark sepertinya akan memenangi pertempuran melawan Lannisters dan Renly membawa pasukannya dalam jumlah besar ke King’s Landing. Terdengar sangat menjanjikan, seperti ada secercah cahaya bahwa Lannisters akan kalah di tangan Starks dan King’s Landing akan jatuh ke tangan Renly.

Namun, jangan tersenyum bahagia dulu karena di luar dugaan Stanis menghadang Renly. Malah dia menantang Renly untuk bertempur. Seperti sudah siap berpesta, tetapi sayangnya pesta harus dibatalkan. Sungguh disesalkan, bukannya mereka bertiga menggabungkan kekuatan untuk menghancurkan Lannisters, malah mereka sibuk berkelahi sendiri mempertahankan ego masing-masing.

Lanjutkan membaca “#80 – A Clash of Kings”

#79 – A Game of Thrones

Judul: A Game of Thrones (A Song of Ice and Fire #1)
Penulis: George R. R. Martin
Penerbit: Bantam Books (cetakan I, 1996)
Halaman: 837
Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

Lord Eddard Stark dan anak-anaknya — Robb, Bran, dan si bastard, Jon — sedang dalam perjalanan pulang ketika mereka menemukan lima bayi direwolves. Induk mereka mati. Kecil harapan bagi bayi-bayi itu untuk bertahan hidup jika induk mereka mati. Lord Stark sudah memerintahkan untuk dibunuh saja, tapi Bran ngotot ingin merawat mereka. Jon, dengan penuh hormat, bilang ke ayahnya:

“Lord Stark, … there are five pups. Three male, two female.”
“What of it, Jon?”
“You have five trueborn children. Three sons, two daughters. The direwolf is the sigil of your House. Your children were meant to have these pups, my lord.”

Lanjutkan membaca “#79 – A Game of Thrones”

#78 – The Origin of Humankind

Judul: The Origin of Humankind
Penulis: Richard E. Leakey
Penerbit: BasicBooks (1994)
Halaman: 190
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Evolusi manusia selalu menjadi topik favorit saya (bersamaan dengan banyak topik lainnya). Setiap kali saya membuka buku bertemakan human evolution saya merasa semangat dan sangat menikmati membacanya. Saya juga jadi semangat belajar. Padahal latar belakang pendidikan maupun latar belakang keluarga saya tidak berkaitan dengan evolusi manusia. It just happened that I love it.

Saya menemukan buku The Origin of Humankind ini dari beberapa buku yang saya baca sebelumnya dengan tema yang sama. Buku-buku tersebut banyak menyebut nama Richard E. Leakey. Maka jadilah saya berburu buku elektroniknya.

Setelah sudah cukup lama dia mengendap di Dropbox, saya memutuskan untuk mulai membacanya. Sejak halaman awal saja saya sudah tahu saya suka buku ini. Bahasanya ringan dan membumi sehingga sangat mudah dipahami oleh orang awam seperti saya. Meski beberapa hipotesis sudah pernah saya dengar sebelumnya (maklum buku ini keluaran tahun 1994) — seperti nenek moyang manusia modern berasal dari Afrika — ada hal-hal baru yang saya dapatkan juga, misalnya ada alasannya kenapa nenek moyang manusia, yang tadinya berjalan dengan empat kaki, perlahan-lahan berevolusi berjalan menggunakan dua kakinya saja.

Seperti biasa, saya akan merangkum isi dari setiap babnya.

Lanjutkan membaca “#78 – The Origin of Humankind”

#72 – The Age of Empathy

6525532Judul: The Age of Empathy: Nature’s Lessons for a Kinder Society
Penulis: Frans de Waal
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Bagaimana selama ini kalian memandang manusia secara umum? Apakah kalian termasuk golongan optimis (bahwa manusia ini sebenarnya makhluk baik) atau golongan skeptis (bahwa semua manusia itu jahat)? Saya pernah berada di keduanya. Dulu sekali (sewaktu masih naif dan polos) saya percaya bahwa semua manusia itu baik. Belakangan saya memegang teguh prinsip all humans are evil until proven otherwiseSemua manusia itu jahat sampai terbukti sebaliknya. Prinsip yang saya pegang erat sejak melihat begitu besarnya kemampuan manusia dalam berbuat jahat.

Frans de Waal, seorang ahli primata ternama, mempertanyakan kenapa sih manusia itu dianggap secara natural — biologis — jahat? Maka ditulislah buku ini oleh beliau untuk menjelaskan kepada kita — orang awam — bahwa manusia itu gabungan antara kebaikan dan kejahatan. Beliau membandingkan perilaku hewan mamalia dan primata, mulai dari tikus, paus, gajah, monyet, simpanse, hingga manusia. Berbagai hasil penelitian dijabarkan, tentu saja menggunakan bahasa yang mudah dipahami.

Bukunya sangat thought provoking. Saya mengalami sedikit disonansi kognitif setelah membacanya. Pikiran saya menjadi lebih optimis dan bisa lebih memahami manusia. Batas toleransi saya pun sedikit meningkat pada manusia. Semoga ini bisa bertahan seterusnya.

Well, anyway, akan saya rangkum tiap bab dari buku ini.

Lanjutkan membaca “#72 – The Age of Empathy”