#27 – Inteligensi Embun Pagi

Inteligensi Embun PagiJudul: Inteligensi Embun Pagi
Penulis: Dee Lestari
Penerbit: Bentang (cetakan I, Februari 2016)
Halaman: xiv + 710
Harga: Gratis. Hadiah ulang tahun dari Mas Joe.
Rating: 3/5

Sebagai fans Supernova, jelas saya sangat menanti-nanti Inteligensi Embun Pagi, untuk seterusnya mari kita singkat saja menjadi IEP. Berbagai pertanyaan yang menggelayut akhirnya terjawab juga di sini. Meski tetap ada pertanyaan-pertanyaan berikutnya, tapi bagi saya pertanyaan tersebut sudah tidak terlalu penting lagi.

(lebih…)

#21 – Supernova: Gelombang

Supernova GelombangJudul: Supernova: Gelombang
Penulis: Dee
Penerbit: PT Bentang Pustaka (cetakan III, November 2014)
Halaman: x + 482
ISBN 13: 978-602-291-057-2
Harga: Rp 79.000,-
Rating: 5/5

Setelah sempat sedikit kecewa dengan Partikel, kekecewaan itu langsung terobati begitu saya membaca Gelombang. Adalah Alfa yang mengobati rasa kecewa itu. Dia lelaki Batak, pintar, ganteng, dan pekerja keras. Tambahkan juga dia sangat jago main gitar. Bagaimana saya tidak jatuh hati coba? Saya tahu ini bias. Saya memang bisa sangat lemah jika dihadapkan dengan pria pintar. Inilah yang namanya personal preferences. 😛

Alfa juga baik hati. Satu hal yang saya juga suka dari dia adalah ketika dia menginginkan sesuatu dia akan fokus untuk mendapatkannya. Dia sangat goal-oriented. Dia tahu apa yang dia inginkan. Hal itu terlihat jelas ketika dia merantau ke Amerika dan menjadi imigran gelap. Dia harus main kucing-kucingan dengan pihak berwenang agar tidak tertangkap. Dia tahu dia masih punya hutang yang harus dibayar. Dan caranya membayar adalah dengan rajin belajar, masuk perguruan tinggi bergengsi dengan beasiswa, dan punya pekerjaan bagus sebagai trader.

Seperti tokoh-tokoh di buku-buku Supernova sebelumnya, Alfa juga punya tugas pencarian jati dirinya sendiri. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya yang membuatnya sampai-sampai takut untuk tidur. Semuanya bermula sejak makhluk misterius yang disebut Si Jaga Portibi muncul dalam hidup Alfa. Saat itu dia masih kecil. Pelan-pelan jawabannya mulai terkuak ketika Alfa berada di Tibet.

Memang ada sedikit bolong dalam Gelombang. Sebagai seorang imigran gelap hidup Alfa terlalu mudah. Bagaimana caranya dia bisa lolos beasiswa di Cornell mengingat statusnya itu? Tunggu dulu, sebelum dia bisa apply ke Cornell, pertanyaannya adalah bagaimana dia bisa masuk sekolah di Amerika? Kemudian, kok dia bisa bebas tidak masuk kerja berhari-hari hanya karena ada urusan personal yang harus diselesaikan, sampai pulang kampung ke Indonesia pula? Oh ya, Alfa terlalu sempurna dan dia adalah karyawan kesayangan Tom Irvine.

Jujur saja, saya tidak terlalu memikirkan kebolongan ini. Saya lebih memilih untuk menikmati saja jalan ceritanya dan ikhlas untuk dibuat penasaran. Kisah Alfa membuat saya tidak sabar untuk terus membuka lembar demi lembar halamannya. Berharap saya bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang terus menghantui pada halaman berikutnya. Pertanyaan-pertanyaan yang mana lagi? Banyak. Baca terus tulisan ini dan kalian akan mengerti pertanyaan yang mana yang saya maksud.

Gelombang juga mengajarkan saya ilmu baru, yaitu tentang mimpi. Entah kebetulan atau tidak, setelah saya renungkan kembali semua buku dari serial Supernova memberikan topik-topik yang memang sedang saya minati. Tentang sains, filsafat, meditasi, orangutan, dan mimpi. Belakangan saya memang sedang penasaran dengan lucid dreaming.

Secara keseluruhan membaca serial Supernova seperti menyusun kepingan puzzle. Setiap bukunya adalah kepingan yang siap untuk disusun, tapi dibutuhkan kesabaran dan tanda tanya yang begitu besar untuk setiap kepingan itu: Masing-masing kepingan ini mau ditaruh dimana? Karena puzzle Supernova sangat membingungkan dan kepingan-kepingan itu tidak banyak membantu. Apa maksud cerita Supernova ini? Apa latar belakangnya? Apa yang memulai kisah ini? Siapa sesungguhnya Supernova, Akar, Petir, Partikel, dan Gelombang ini? Bagaimana mereka bisa saling berkaitan? Dan Dee pelit sekali untuk memberi petunjuk jawabannya, termasuk dalam Gelombang. Membaca Gelombang semakin menimbulkan banyak pertanyaan. Saya semakin bingung dan penasaran. Mudah-mudahan saja pada episode berikutnya Dee menjawab semua pertanyaan saya.

#20 – Supernova: Partikel

Supernova PartikelJudul: Supernova: Partikel
Penulis: Dee
Penerbit: PT Bentang Pustaka (cetakan II, Desember 2014)
Halaman: viii + 560 halaman
ISBN 13: 978-602-291-055-8
Harga: Rp 89.000,-
Rating: 3/5

Ketika memegang Partikel saya bergumam, “Wah, tebal juga ya bukunya.” Saya cukup kaget melihat Partikel setebal itu sementara prekuelnya tipis saja. Saya pun jadi penasaran. Dengan buku setebal itu apa ceritanya sama menariknya dengan Akar dan Petir? Apakah Zarah punya kekuatan spesial atau keunikan seperti Bodhi dan Elektra?

Sayangnya, Partikel tidak semenarik Akar maupun Petir. Zarah sebagai tokoh utama tidak terasa spesial. Letak kelebihan Zarah hanya pada rasa ingin tahunya yang begitu besar. Dia pintar dan dia kritis. Tapi, hei, kita sudah punya tokoh yang luar biasa pintar sebelumnya, ‘kan? Maksud saya, apa yang bisa membuat Zarah menjadi tokoh cerita yang stand out dan tidak mediocre? KPBJ punya Ruben yang kaku dan pintar dan Diva yang idealis. Akar punya Bodhi yang tenang dan misterius. Petir punya Elektra yang lugu dan cuek. Lalu, bagaimana dengan Zarah?

Saya mengagumi sosok Zarah kecil hingga remaja. Berkat didikan yang tidak konvensional dari Firas, ayahnya, sejak kecil Zarah menunjukkan rasa ingin tahu yang sangat besar. Dia juga tumbuh menjadi seseorang yang kritis. Dia tidak tunduk begitu saja pada sistem, baik itu agama maupun pendidikan. Dia yang merasa hidupnya terpenjara menemukan kebebasannya di alam. Akhirnya, dia memutuskan untuk ke London dan menjadi fotografer wildlife.

Setelah Zarah dewasa, saya tidak lagi merasakan kekaguman pada Zarah. Dia seperti berkompromi dengan keadaan. Hidupnya berkutat pada cinta, pekerjaan, dan misi mencari ayahanda tercinta. Saya kehilangan Zarah yang cerdas dan kritis. Kembali saya bertanya ke diri sendiri, “Jadi, apa nih yang bikin Zarah spesial?”

Oke, barangkali Zarah punya kekuatan spesial. Tadinya saya mengira Zarah juga memiliki kelebihan seperti Bodhi yang punya sensitivitas luar biasa dan Elektra yang mampu mengendalikan listrik. Saya pikir bakal seru seandainya Zarah punya kelebihan seperti Bodhi dan Elektra. Sampai halaman terakhir saya tidak menemukan kekuatan spesial Zarah. Sedikit kecewa sih… Karena saya kira tokoh-tokoh Supernova punya kekuatan spesial untuk bertarung melawan musuh-musuh. Ini sih harapan saya.

Lalu, apa yang membuat Zarah spesial sehingga membuatnya menjadi Partikel dan bergabung dengan tokoh-tokoh dalam serial Supernova lainnya? Entahlah. Saya tidak dapat menemukan jawabannya sampai di akhir cerita dan ini membuat saya penasaran hingga saat ini.

Meski sedikit kecewa dengan Zarah setidaknya saya dihibur oleh Dee dengan paparannya tentang fungi, orangutan, alam liar, fotografi, dan alien. Ada satu bagian dimana saya merasakan kedekatan emosional dengan Partikel ketika Firas menggambar anatomi otak dan bercerita ke Zarah tentang hubungan manusia dan binatang.

“Jangan pisahkan dirimu dari binatang,” pesannya. “Kamu lebih dekat dengan mereka daripada yang kamu bayangkan,” lanjutnya lagi.
Aku pun bertanya, seperti biasanya, “Biar apa, Ayah?”
“Biar kamu tidak sombong jadi manusia,” ujarnya sambil tersenyum. (halaman 22)

Salah satu alasan yang saya suka dari serial Supernova adalah selalu ada ilmu baru yang dapat saya pelajari. Saya sangat kagum dengan ketabahan dan semangat Dee dalam melakukan riset untuk menulis serial Supernova. Tentunya Dee tidak dapat menulis dengan detil akan topik-topik yang dibahas seandainya Dee malas riset. Di sinilah salah satu kekuatan Dee: riset yang mendalam. Mudah-mudahan saja akan semakin banyak penulis Indonesia yang tidak malas riset.

Akhirul kalam, meski Partikel tidak sekeren prekuelnya, saya tetap merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Kita bisa belajar singkat tentang alien di sini. 😀

#19 – Supernova: Petir

Supernova PetirJudul: Supernova: Petir
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books (Cetakan IV, Juni 2007)
Halaman: x + 226 halaman
ISBN: 979-98229-0-4
Rating: 5/5

Petir berkisah tentang seorang gadis Cina yang terobsesi dengan petir bernama Elektra. Etra, panggilan akrabnya, tinggal di Bandung bersama ayahnya dan kakak perempuannya, Watti. Etra yang cuek bebek dan pemalas seperti tidak memiliki visi dalam hidupnya. Berbeda dengan Watti yang sudah tahu nanti dia mau jadi apa.

Di sinilah letak menariknya Etra. Meski terlihat dia cuek dan pemalas, tetapi ketika dia dalam keadaan terdesak toh mau tak mau dia harus memikirkan kelangsungan hidupnya. Lulusan S1 menganggur dan tidak punya pekerjaan itu rasanya sungguh menyedihkan. Menyedihkan karena tidak punya gaji rutin yang diterima tiap bulan, sementara uang tabungan Etra semakin menipis. Mau sehemat apapun kamu menggunakan uangmu, ketika kamu tidak memiliki pemasukan tentu saja lama-kelamaan uang yang kamu punya akan habis. Betul tidak?

Karena keadaan lah yang membuat Etra mengirim surat lamaran ke Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional (dia sudah sangat desperate!). Dia mengesampingkan akal sehatnya dan diam-diam berharap tidak ketahuan menaruh surat lamaran itu di kuburan belakang rumah pamannya. Siapa sangka dari keisengan seseorang-entah-siapa yang menaruh surat lowongan kerja Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional ini di bawah pintu rumah Etra rupa-rupanya menuntun Etra berinteraksi dengan Ibu Sati? Ibu Sati ini pula lah yang membantu Etra menemukan jati dirinya dan mengeluarkan potensi dalam diri Etra yang sesungguhnya.

Petir berbeda dengan dua prekuelnya, yakni Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh dan Akar. Jika kedua prekuelnya lebih serius, maka Petir lebih terasa kesederhanaan dalam ceritanya. Petir terasa lebih dekat dengan kisah kita sehari-hari. Tentang sarjana nganggur yang putus asa butuh uang dan pekerjaan, tentang sibling rivalry, juga tentang membangun bisnis dari nol. Meski demikian, ketiganya tetap mengusung tema yang sama: pencarian jati diri.

Tokoh Elektra yang cuek dan pemalas itu juga terasa membumi. Dia tidak sepintar Ruben atau semisterius Bodhi. Elektra tetaplah gadis Cina cuek, pemalas, keras kepala, tapi sesungguhnya dia baik hati. Dia hanya perlu dilecut dulu untuk bisa bermetamorfosis. Mengingatkan kalian dengan seseorang kah? 😛

Oh, dan satu hal lagi, Elektra ini sungguh lucu. Saya yakin dari sononya Elektra bukan orang yang humoris, melainkan kecuekannya itu yang bikin gemas. Sifat pemalas dan keras kepalanya itu yang bikin lucu. Tidak sekali-dua kali saya dibuat terpingkal-pingkal oleh tingkah Elektra dan celetukan-celetukannya, tetapi berkali-kali. Misalnya, Watti yang terus-terusan merecoki kehidupan Elektra dengan menyuruhnya cari pacar yang oke, baik, dan yang bisa menghidupi Elektra. Elektra yang kesal membalas Watti dengan menyampaikan pesan dari Bang Nelson.

Seminggu yang lalu saya ketemu Bang Nelson, terus dia menanyakan kamu. Saya bilang kamu sudah nikah terus pindah ke Papua. Bang Nelson mukanya sedih gitu, soalnya dia titip satu ayat untuk kamu. Tapi sudah telat.
Ayat yang mana? Suara Watti langsung tegang.
Yohanes 22 ayat 5: Ketahuilah, barang siapa yang menukar kasih Yesus demi cinta pada kekasih akan tersesat, dan baginya pintu semua surga tertutup selama-lamanya. Aku berbicara tanpa diputus napas.
Sejenak tak ada suara. Baru kemudian kudengar Watti terbata-bata: Ta–tapi, kan, kamu bilang aku bakal impas. Kalau pintu surga yang ini menutup, yang sana bakal kebuka…
Sori, Watt. Ternyata saya salah. Dalam ayat dari Bang Nelson, jelas-jelas ditulis ‘semua’. SEMUA pintu surga, jadi… nggak ada yang terkecuali. Kuhela napas berat. Mengesankan keprihatinan yang mendalam. (hal. 47)

Seminggu dari situ Watti marah-marah dan ngambek dengan Elektra. Dia memusuhi Elektra sebulan, yang oleh Elektra dianggap sebulan yang indah. Watti telat menyadari kitab Yohanes cuma sampai pasal 21. Tidak ada pasal 22.

Dan berikut salah satu contoh celetukan Elektra yang membuat saya tersenyum simpul:

Dan konon, pria manapun akan ngiler lihat cewek bokong besar karena itu lambang kesuburan. Sementara kalau kulihat-lihat, lingkar pinggang dan pinggulku tak jauh beda. Dadaku timbul seada-adanya. Mau bagaimana masa depanku, coba? Watti sudah bisa tenang karena dia ‘cica’. Cina cakep. Aku masih harus tegang karena statusku cuma ‘cia’. Cina aja. … Aku juga ingin ketemu Mami agar kami bisa bercermin berdua, mencari kemiripanku dengan wajah cantiknya. Sungguh. Aku tak merasa buruk-buruk amat, tapi tak terurus. Itulah ungkapan yang tepat. (hal. 29)

Bagi teman-teman yang sedang butuh bacaan ringan dan menghibur, juga ingin tertawa, tidak ada salahnya mempertimbangkan Petir untuk dibaca.

#18 – Supernova: Akar

Supernova AkarJudul: Supernova: Akar
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Books (cetakan II, April 2003)
Halaman: xiv + 210 halaman
ISBN: 979-96257-2-6
Rating: 5/5

Menulis riviu Akar entah kenapa terasa berat. Saya bingung bagaimana harus memulainya. Sempat saya tinggalkan dulu dan simpan tulisan ini menjadi draft sejak kemarin. Sampai akhirnya saya paksakan diri untuk menulis riviu ini. Saya merasa berhutang dengan Bodhi. Saya takut mengecewakannya. Mungkinkah saya telah jatuh hati padanya? Bisa jadi.

Sama seperti Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh, saya membaca ulang Akar dalam rangka membaca maraton serial Supernova. Saya ingin mencoba mengingat kenapa dulu saya bisa tertarik dengan Supernova dan menjadikan Dee sebagai penulis favorit saya. Setelah membaca ulang Akar, saya sekarang tahu alasannya. Dee bisa membuat pembaca jatuh cinta dengan tokoh-tokoh Supernova dan saya jatuh cinta dengan Bodhi (tentu saja selain kekuatan riset yang mendalam dan gaya penulisan yang asyik menjadi kelebihan Dee). Sewaktu pertama kali saya membaca novel ini saya memberi rating 3/5 di Goodreads, namun setelah membaca untuk kedua kali saya memberi rating 5/5.

Saya tidak akan menulis sinopsis cerita Akar karena saya tidak bisa. Ingatan saya jadi lemah ketika harus mengingat kembali jalan cerita untuk ditulis sinopsisnya di sini. Tidak hanya itu, saya juga malas. Entah kenapa. Saya terfokus pada Bodhi. Dia menyedot semua perhatian dan semangat saya. Anehnya, ketika saya memutuskan untuk bercerita tentang Bodhi saja, saya langsung bersemangat. Rasa malas langsung menguap. Lucu ya. Daya tarik Bodhi tidak hanya di dalam cerita, tetapi juga saya terkena efeknya.

Bagi saya Bodhi adalah sosok manusia yang misterius. Dia sukar untuk dipahami. Mungkin itu juga karena dia tidak membiarkan dirinya untuk mudah dipahami orang lain. Dia tidak sembarangan membuka diri kepada orang-orang. Dan perjalanan mencari jati dirinya ini yang membuat saya jatuh cinta. Petualangannya dari Thailand hingga akhirnya ke Kamboja menunjukkan dia begitu gigih, sabar, nekad, dan tidak gampang menyerah. Kepasrahannya pada semesta juga semakin membuat dia, ehm, seksi.

Perjalanan Bodhi ala backpacker ini sangat baik digambarkan oleh Dee. Begitu detil sehingga membuat saya juga ikut merasa bertualang bersama Bodhi. Bodhi yang kesusahan uang, lalu semesta mempertemukannya dengan Kell, si seniman tato, dan jadilah Bodhi mendapat uang dari merajah kulit manusia. Sayangnya, uang dari hasilnya mentato harus hilang dan dia kembali mengalami kesulitan uang. Kemudian, perjalanan menegangkan yang harus dilalui Bodhi ketika dia hendak ke Pailin. Di tengah jalan dia kepergok tentara Khmer Merah. Lalu, ketika dia terpaksa mengikuti pertandingan sabung nyawa di Pailin. Dia harus melawan jawara di sana yang berbadan kekar, tinggi, dan ternyata jago kickboxing juga wushu. Saya megap-megap seperti ikan yang tidak bertemu air. Tegang. Diam-diam saya berdoa, “Please, don’t die, Bodhi… Perjalananmu belum selesai.” Untunglah Bodhi tidak mati.

Kalian tahu, saya semakin jatuh cinta dengan Bodhi ketika dia bilang begini:

… Ternyata diriku pun menyimpan bara, padahal aku tak ingin itu. Mengapa manusia harus terlahir dengan deposit amarah? … Aku ingat betul kapan terakhir kali aku marah, dan pada siapa. Aku marah pada Buddha. Aku marah setiap hari. Aku marah karena begitu mencintai-Nya dan tak ada yang paling kuinginkan selain pulang. Pulang. Tapi kenapa aku malah dibuang? (hal. 167)

Di balik sosok misterius, kalem, dan berpembawaan tenang itu Bodhi tetaplah manusia biasa. Dia memiliki rasa insecure. Dia juga rapuh. Dan sampai halaman terakhir saya merasakan kekosongan jiwa Bodhi.

Kalau kalian juga ingin ikut berpetualang bersama Bodhi menjelajah Thailand sampai ke Kamboja dan ingin merasakan cerita yang hidup (ini kata Mas Galih), saya berani bilang kalian tidak akan menyesal dengan membaca buku ini.

#17 – Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh

Ksatria, Putri, dan Bintang JatuhJudul: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh
Penulis: Dee
Penerbit: Truedee Pustaka Sejati (cetakan VIII, 2008)
Halaman: x + 286 halaman
ISBN: 979-96257-0-X
Rating: 4/5

Setelah saya menonton filmnya di bioskop, saya mampir ke Gramedia dan melihat Partikel dan Gelombang. Segera saya ambil dan saya bawa pulang tentunya setelah saya bayar di kasir. Dua novel itu selesai saya baca dalam dua hari saja. Lalu, saya pikir tidak ada salahnya saya membaca ulang serial Supernova yang lain dan saya tulis riviunya. Sekalian mengingatkan kembali kenapa dulu saya menjadikan Dewi Lestari sebagai penulis Indonesia favorit saya setelah saya membaca serial Supernova ini.

Cukup sekian kata pengantar dan mari kita mulai saja riviunya… 😀

Cerita dibuka dengan flash back perkenalan Dhimas dan Ruben di Georgetown, Washington DC. Setelah perkenalan itu mereka menjadi sepasang kekasih. Sepuluh tahun kemudian mereka masih bersama dan mereka berkolaborasi menulis buku yang sebenarnya adalah ambisi Ruben. Sepuluh tahun yang lalu ketika mereka berdua sedang terkena badai serotonin di Watergate Condominium, Ruben berikrar:

“Sepuluh tahun dari sekarang, aku harus membuat karya. Satu masterpiece. Satu tulisan atau riset yang membantu menjembatani semua percabangan sains.” (hal. 11)

Bersama-sama, Dhimas dan Ruben, menulis kisah Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh (KPBJ). Kisah tersebut yang hebatnya memiliki kesamaan cerita dengan yang dialami Ferre, Rana, dan Diva. Ferre adalah sang Ksatria yang jatuh cinta dengan Rana, si Putri, yang sayangnya sudah menikah. Sementara Diva adalah sang Bintang Jatuh. Ketika Ksatria hancur hatinya, Bintang Jatuh datang dan membantu Ksatria untuk mengobati lukanya.

Seperti yang Ruben bilang dia ingin membuat satu tulisan yang “membantu menjembatani semua percabangan sains” dan memang itu yang terjadi. Oke, mungkin tidak semua percabangan sains sih, Ruben agak lebay memang. Meski begitu, KPBJ tetap menawarkan suatu kebaruan bagi saya dulu ketika membaca untuk pertama kali di tahun 2008. Teori-teori Fisika yang njelimet (yang dengan senang hati tidak terlalu saya pusingkan), psikologi, dan filsafat, juga sekilas tentang ekonomi, menjadi menarik ketika diramu menjadi fiksi oleh Dhimas.

Sebenarnya kita harus berterima kasih kepada Dhimas karena lewat dialah KPBJ menjadi menarik. Bisa bayangkan segala macam teori itu, tumplek jadi satu ditulis Ruben? Membosankan pastinya. “Bisa jadi hand-out kuliah saja sudah bagus,” ejek Dhimas. Ini menandakan kecerdikan Dee sebagai penulis cerita. Dia ingin membuat pembacanya menjadi pintar dengan segala teori itu, namun dia tidak mau membuat pembacanya langsung menutup buku ketika baru membaca halaman kedua atau ketiga.

KPBJ adalah novel Indonesia pertama yang saya baca yang menurut saya bisa seserius dan seilmiah ini. Riset yang mendalam, dengan catatan-catatan kaki untuk menerangkan sesuatu hal, ditambah di halaman akhir Dee memberikan referensi bagi pembacanya yang ingin membaca lebih lanjut. Tuh, kan, apa saya bilang? Dee memang punya niat luhur ingin membuat pintar para pembacanya. Masalahnya kita, sebagai pembacanya, berniat untuk belajar lebih lanjut atau tidak? Sayangnya, di buku-buku Supernova berikutnya tidak ada lagi daftar pustaka yang diberikan. Padahal, menurut saya, tema di setiap buku Supernova menarik untuk kita eksplorasi lebih lanjut. Dengan adanya daftar pustaka setidaknya kita ada petunjuk yang membantu kita–yang berminat–dalam mengeksplorasi topik-topik tersebut.

Cerita yang bagus dan mengalir, dengan diksi dan susunan kata yang oke. Sayangnya, saya masih ada kurang sreg di beberapa tempat. Pertama, dialog Dhimas dan Ruben. Terlalu “tinggi” buat saya yang hanyalah butiran atom ini. Halah. Jadinya saya lewati saja. Toh, seandainya bagian Dhimas dan Ruben dihilangkan, KPBJ tetap bisa ada kok. Saya juga merasa Ruben ini memang pintar banget, tapi kalau di dunia nyata ketemu saya pasti saya bengong juga sih. Menurut saya, Ruben kurang “membumi”.

Kedua, perselingkuhan Rana dan Ferre. Maaf, untuk topik yang satu ini saya sangat bias. Tidak bisa objektif. Atas alasan apapun Rana selingkuh dengan Ferre, menurut saya sih tetap kampret dan bodoh. Baiklah, saya mengaku. Ini personal banget. Sepertinya mulai sekarang saya harus belajar untuk tetap netral setiap membaca cerita yang mengangkat topik perselingkuhan.

Cuma dua itu saja kok yang kurang sreg di saya. Sisanya, oke lah. Apalagi Diva. Saya suka tokoh Diva ini. Sekarang setelah diingat-ingat lagi dulu saya pernah terinspirasi dengan Diva. Dia cerdas, cantik, lugas, dan, ehm… apa ya… dia berbeda dari kebanyakan orang. Apa satu kata sifat yang tepat untuk menggambarkan Diva? Apakah itu unik? Out-of-the-box? Ah, itulah pokoknya. Tapi, meski saya terinspirasi sama dia, ada satu pemikiran dia yang saya tidak setuju: tentang melacurkan diri. Dia menganggap dia hanyalah berdagang dengan menjajakan tubuhnya. Menurutnya menjual tubuh tidak ada bedanya dengan menjual tenaga, waktu, dan pikiran lalu digaji. Dia lebih memilih untuk menjadi melacurkan badannya ketimbang harus melacurkan pikirannya. Argumen ini tidak pernah bisa saya mengerti.

Begitulah KPBJ menurut saya. Bagi yang ingin membaca novel Indonesia yang berbeda dari kebanyakan, mungkin kalian bisa membaca Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh.