#65 – Amba

Judul: Amba: Sebuah Novel
Penulis: Laksmi Pamuntjak
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama (cetakan IV, Oktober 2013)
Format: E-book
Harga: Gratis dengan meminjam di iJak
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Dua perempuan dilarikan ke Rumah Sakit Waeapo. Perempuan yang pertama bernama Amba Kinanti Eilers. Usia 62 tahun dan berasal dari Jakarta. Ia terluka parah dan tidak sadarkan diri akibat serangan dari perempuan satunya yang bernama Mukaburung.

Mukaburung adalah anak angkat Kepala Suku Kepala Air di Waeapo. Awalnya tidak diketahui secara pasti mengapa Mukaburung menyerang Amba hingga menyebabkannya mengalami luka berat. Ketika ditanya Amba hanya diam seribu bahasa. Dalam dirinya seolah tidak ada lagi gairah. Sampai pada akhirnya nanti Amba akan membuka suara kepada Samuel — laki-laki yang menemaninya ke Pulau Buru — dan menceritakan seluruh kisahnya sejak awal hingga kenapa Mukaburung begitu murka terhadapnya.

Ternyata Mukaburung marah besar begitu melihat Amba memeluk kuburan suaminya, seseorang yang dijuluki Resi di sana. Resi yang sudah terkubur itu merupakan cinta sejati Amba. Dia adalah Bhisma.

Tahun 1965 ketika isu komunisme begitu santer dan sensitif, menyerang siapa saja yang bersinggungan, dan meninggalkan luka begitu dalam. Amba dan Bhisma termasuk menjadi korban. Mereka harus terpisah selama 40 tahun lebih karena rezim Orde Baru memaksa mereka untuk berpisah. Padahal Bhisma bukan anggota PKI. Dosanya hanyalah dia berteman terlalu dekat dengan orang-orang Partai. Dia menaruh perhatian lebih pada isu-isu yang diusung oleh PKI. Karena itu dia ditangkap, dijebloskan dari satu penjara ke penjara, untuk terakhir dia menghabiskan umurnya di Pulau Buru.

Selama membaca Amba tak henti-hentinya saya berpikir betapa kreatifnya Laksmi mengadopsi kisah cinta segitiga antara Amba, Bhisma, dan Salwa dari Mahabharata. Ia meramunya sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah kisah cinta yang penuh dengan pilu dan tragis dengan latar peristiwa tahun 1965.

Saya bilang begitu karena menurut saya Laksmi piawai menggabungkan kisah Amba-Bhisma-Salwa di Mahabharata dengan Amba-Bhisma-Salwa di novel sebagai tokoh utama. Lihatlah bagaimana Laksmi menceritakan awalnya Amba tertawa ketika dia dipertemukan dengan Salwa, lalu ketika dia kaget begitu bertemu dengan Bhisma. Tentu ini bukan suatu kebetulan ‘kan? Amba teringat dengan kisah Amba di Mahabharata. Dia bertanya-tanya apakah mungkin kisah hidupnya nanti akan sama dengan kisah tersebut?

Hal menarik lainnya dari Amba ada beberapa subtopik cerita yang menyegarkan. Buku tebal ini tidak melulu membahas tentang kisah cinta segitiga dan peristiwa tahun 1965, atau tentang sastra Jawa kuno, tetapi juga ada kisah latar belakang Samuel. Keluarganya yang mantan tentara KNIL memilih untuk pergi ke Belanda lalu menitipkan Samuel ke pamannya di Ambon. Mantan tentara KNIL dan keluarga yang berharap memperoleh hidup sejahtera di Belanda ternyata di sana mereka tidak dianggap. Lalu, ada sekilas tentang konflik agama di Maluku. Saya menganggap kisah Samuel ini sebagai intermezzo yang menyegarkan. Dia tidak berlebihan dan tidak mengambil porsi utama dalam cerita.

Sekarang mari kita bahas sekilas kisah cinta antara Amba, Salwa, dan Bhisma. Oh, satu lagi: Adalhard Eilers.

Saya tidak bisa bilang saya mengagumi Amba. Oke, saya akui dia memang cantik (meski dia tidak pernah merasa dirinya cantik) dan selalu memesona siapa saja yang melihatnya. Dia pintar dan cerdas, juga pandai memasak. Dia sangat berbeda dari wanita kebanyakan pada masa itu di mana dia ingin bebas. Dia tidak ingin terpenjara oleh norma pada saat itu (wanita harus segera menikah).

Akan tetapi, cintanya ke Bhisma membuat saya kesal sekali. Dia menyia-nyiakan dua pria baik yang sangat tulus mencintainya hanya demi Bhisma, yang menurut saya cintanya ini cinta berdasarkan nafsu. Dia meninggalkan Salwa, tunangannya, hanya karena dia kepincut dengan Bhisma. Dia lebih memilih membuang Salwa — seorang pria baik-baik, setia, bertanggung jawab, menghormati, dan menghargai wanita — demi Bhisma, yang menurutnya lebih berwarna dan menyenangkan.

Lalu, ada Adalhard Eilers. Pria dari Amerika yang sedang mengadakan riset di Yogya. Mereka bertemu dan Adalhard sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Adalhard tahu Amba sedang kebingungan dan butuh perlindungan. Adalhard menawarkan itu. Dan Amba sungguh egois. Dia menerima tawaran dari Adalhard, tapi dia tidak pernah bisa mencintai Adalhard dengan utuh.

Kembali saya merasa gemas dengan Amba. Empat puluh tahun lebih dia menikah dengan Adalhard, tetapi kenapa dia masih dikejar-kejar masa lalunya? Kenapa Amba tidak bisa berhenti melepas bayangan? Kenapa Amba tidak bisa berhenti mengejar hantu? Dia terpaku begitu lama pada satu titik sehingga mengabaikan sekelilingnya. Dia tidak bisa menghargai apa yang sudah dia punya. Seolah-olah hidup Amba terhenti di tahun 1965 bersamaan dengan hilangnya Bhisma. Pertanyaannya sekarang adalah is he worth it?

Saya tidak tahu apa alasan utama Amba memilih Bhisma. Barangkali memang ada sesuatu dalam diri Bhisma yang tidak dia temukan di pria manapun. Seorang lelaki petualang, meletup-letup, penuh semangat. Dia juga pintar dan tampan.

Ya sudah. Amba sudah memilih Bhisma. Ini masalah rasa. Bhisma adalah soal rasa yang Amba suka. Dia memilih penderitaannya sendiri dan mari kita hargai keputusannya. Mungkin Amba memang tipe orang yang lebih mengedepankan perasaan dan mengabaikan logika. Dia akan mengejar apapun yang kata hatinya perintahkan, termasuk mengejar bayangan selama empat puluh tahun.

Saya sempat ragu akan memberi 4 atau 5 ⭐ untuk Amba. Sikap Amba yang menyakiti banyak pihak demi satu pria membuat saya ingin memberi 4 ⭐ . Namun, saya sadar saya menjadi sangat subjektif karena keegoisan Amba. Setelah saya mencoba untuk mengesampingkan perasaan dan mencoba untuk lebih objektif, novel ini layak untuk diberi 5 ⭐ .

Perhatikanlah dengan baik-baik bagaimana Laksmi merajut kata-kata sehingga menjadi demikian puitis. Juga dengan deskripsi latar tempat dan waktu yang sangat baik dapat membuat kita memvisualisasikannya seolah kita juga berada di sana.

Lalu, dengan berbagai peristiwa sejarah yang Laksmi coba paparkan kepada kita seperti tali-tali yang terjalin dengan rapi, dengan pesan utama yang ingin disampaikan: bukan hanya anggota partai dan keluarganya yang mengalami penderitaan akibat peristiwa 1965, tapi siapapun, rakyat biasa, termasuk sepasang kekasih yang tidak tahu-menahu harus kehilangan masa depan bersama dihancurkan oleh Orde Baru.

Sekilas Tentang Novel Amba 

Amba adalah novel pertama Laksmi Pamuntjak. Ia diterbitkan pertama kali di tahun 2012 dalam bahasa Inggris dengan judul The Question of Red, lalu diterbitkan dalam bahasa Indonesia. Amba juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman (Alle Farben Rot) dan Belanda (Of de Kluer van Rod).

Amba mendapat pengakuan internasional. Tahun 2016 ia memenangi LiBeraturpreis, sebuah penghargaan sastra Jerman khusus untuk penulis wanita di negara-negara Asia, Afrika, Amerika Latin, Karibia, dan Arab.

Meski novelnya mendapat apresiasi luar biasa dari dalam dan luar negeri, menurut Laksmi novelnya bukan untuk mengoreksi sejarah. Dikutip dari Antara:

“Saya hanya ingin mencatat ulang sejarah dengan huruf s kecil, tentang kisah-kisah manusia biasa yang tidak tercatat; tentang mereka yang tidak terlibat, tetapi hidupnya berubah dilimbur arus sejarah,” kata Laksmi.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s