Rekap Januari 2018

Tahun 2018 ini saya kembali menantang diri saya untuk membaca 50 buku. Bulan Januari sudah berlalu dan enam buku sudah selesai saya baca. Suatu awal yang baik bukan? Semoga bulan-bulan berikutnya saya tetap rajin membaca.

Mari kita langsung saja ke daftar buku yang saya baca selama satu bulan kemarin. Ini dia daftarnya:

1. The Puppeteer – Jostein Gaarder

Buku terbaru dari salah satu penulis idola saya, Bapak Jostein Gaarder. Bercerita tentang Jakop Jacobsen, seorang pria kesepian yang mencari kehangatan keluarga di tengah-tengah mereka yang sedang berduka. Untuk resensi lengkap, bisa teman-teman baca di sini.

Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

2. White Wedding – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Elphira terlahir albino. Keadaannya membuatnya sangat membenci warna putih. Namun, Sierra — seorang anak laki-laki — berusaha mati-matian untuk membuat Elphira agar mau menyukai warna putih. Elphira menyukai Sierra. Sierra membuatnya merasa nyaman dan aman, juga membuatnya bahagia. Sayangnya, kebahagiaan itu harus segera berakhir karena ternyata Sierra adalah malaikat.

Elphira mengingatkan saya pada Ava, tokoh anak kecil di Di Tanah Lada. Cara mereka berbicara, karakter mereka yang sama-sama pintar dan kritis, semuanya mirip. Ini semakin menguatkan opini saya bahwa Ziggy memang menyukai karakter anak kecil yang pintar.

Dari ceritanya sendiri ada yang membuat saya kurang sreg. Anak berusia 10 tahun sudah bisa mengerti tentang konsep cinta dan pernikahan and she took it very seriouslyWellI don’t know…

Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

3. Petang Panjang di Central Park – Bondan Winarno

Jauh sebelum Pak Bondan terkenal dengan “Maknyus”-nya, beliau adalah seorang wartawan dan penulis. Buku ini adalah buktinya. Petang Panjang di Central Park adalah kumpulan cerpen yang ditulisnya selama rentang masa tahun 1980 hingga 2004. Ceritanya kebanyakan tentang cinta. Ceritanya sederhana, tanpa bahasa yang njelimet, namun tidak menghilangkan keindahan dari ceritanya itu sendiri.

Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

4. Bekisar Merah – Ahmad Tohari

Bekisar Merah bercerita tentang Lasi, seorang perempuan muda dan cantik. Ia meninggalkan kampung halamannya karena kecewa dengan suaminya yang selingkuh dan menghamili perempuan lain.

Bekisar sendiri merupakan unggas elok hasil kawin silang antara ayam hutan dan ayam biasa. Bekisar ini sering dijadikan hiasan rumah orang-orang kaya. Lasi, yang memiliki darah Jepang dari ayahnya, memiliki kulit putih dan mata yang khas juga kecantikan memukau yang membuatnya menjadi hiasan rumah orang kaya bernama Pak Han.

Selama membaca Bekisar Merah saya seringkali merasa geregetan. Saya geregetan dengan Lasi dan Kanjat. Sama-sama bodoh atau bagaimana ini sih… Sama-sama suka tapi kok ya terlalu banyak menahan diri dan tidak mau (atau tidak berani?) untuk segera mengambil tindakan. Satu tindakan cepat dari Kanjat mungkin bisa menyelamatkan Lasi dari Pak Han.

Latar belakang desa yang miskin dengan penduduknya yang mayoritas bekerja sebagai penyadap nira dari pohon kelapa, kepolosan dan kesederhanaan Lasi, kehidupan sopir truk yang banyak “rumah” di sepanjang perjalanannya membuat novel ini sangat menarik untuk dibaca.

Rating: 3 dari 5 ⭐ – liked it

5. Kubah – Ahmad Tohari

Karman kembali ke kampung halamannya setelah 12 tahun diasingkan di Pulau B sebagai tahanan politik. Dia aktif di sebuah partai setelah direkrut secara sistematis oleh temannya. Karman yang dulu alim dan rajin beribadah, hormat kepada orang yang lebih tua, dan ramah lambat laun menjadi sosok yang sama sekali berbeda setelah masuk ke partai.

Selama 12 tahun di pengasingan membuatnya sangat menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia pulang ke kampung dan menebus kesalahannya dulu dengan kembali berbaur dengan masyarakat desa. Pak Haji, orang yang dulu telah dia khianati, memberikannya kepercayaan dengan memintanya untuk membangun sebuah kubah.

Saya lebih menyukai Kubah ketimbang Bekisar Merah. Ceritanya tidak bikin geregetan. Kubah juga memberikan perspektif lain tentang jaman politik di tahun 1960an. Bahwa di mata Ahmad Tohari orang-orang desa yang polos adalah korban yang sesungguhnya di balik ambisi orang-orang partai komunis.

Rating: 4 dari 5 ⭐ – really liked it

6. Lintang Kemukus Dini Hari – Ahmad Tohari

Ternyata novel ini adalah seri kedua dari Dukuh Paruk. Saya kira ceritanya berbeda dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang dulu saya baca. Rupanya Ronggeng Dukuh Paruk yang saya baca sudah merupakan gabungan dari Dukuh Paruk, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Tapi, tidak apa-apa. Membaca ulang novel ini membuat saya kembali ingat cerita Ronggeng Dukuh Paruk. Dan setelah membaca novel ini, saya dapat menarik kesimpulan bahwa Ahmad Tohari selalu mengambil latar pedesaan untuk ceritanya dengan orang-orang desa yang polos dan lugu sebagai tokoh-tokohnya. Saya juga ingin menyimpulkan pandangan politik beliau, tetapi saya takut salah. Haha.

Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Itulah enam buku yang saya baca di bulan Januari kemarin. Semoga bulan Februari ini saya bisa membaca lebih banyak buku.

Bagaimana dengan kalian? Buku apa yang kalian baca di bulan lalu? Share ya di kolom komentar. 😀

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s