#97 – The Eternity Code

Judul: The Eternity Code (Artemis Fowl #3)
Penulis: Eoin Colfer
Penerbit: Disney Book Group (2009)
Halaman: 329
Rating: 5 dari 5 ⭐ – it was amazing

Artemis Fowl II menciptakan teknologi baru berupa komputer super yang dinamainya dengan C Cube. Fowl menciptakan C Cube dari helm canggih milik LEPrecon yang diambil Butler sewaktu Fowl Manor diserbu oleh LEPrecon di buku pertama. Kalau menurut Foaly, teknologi C Cube ini usang, tetapi untuk ukuran teknologi Mud People alias manusia, C Cube ini sangat, sangat canggih. Kalau penjelasan dari Fowl, C Cube ini:

“A micro-TV. But also a verbally controlled computer, a mobile phone, a diagnostic aid. This little box can read any information on absolutely any platform, electrical or organic. It can play videos, laserdiscs, DVDs; go online, retrieve e-mail, hack any computer. It can even scan your chest to see how fast your heart’s beating. Its battery is good for two years and, of course, it’s completely wireless.”

C Cube adalah: an omni-sensor. It can read anything you ask it to. Itu berarti dunia berada dalam genggaman siapa pun yang menjadi pemiliknya, yang mana pemiliknya bisa orang baik atau orang jahat. Jika C Cube jatuh di tangan yang salah, tidak hanya dunia manusia yang terancam, dunia bawah tanah alias dunia peri juga akan terancam karena C Cube menggunakan teknologi mereka. Para peri dan makhluk ajaib lainnya akan terekspos dan entah apa yang akan terjadi pada mereka. 

Bukan Artemis Fowl II namanya kalau tidak terlibat dengan dunia kriminal. Meski tahu potensi C Cube yang berbahaya di tangan orang jahat, dia tetap ingin mendemonstrasikan kecanggihannya pada Jon Spiro, seorang kriminal kelas kakap. Fowl ingin menawarkan C Cube pada Jon Spiro dengan harga fantastis, tapi tidak dijual sekarang. Fowl memberi waktu setahun untuk Spiro untuk menjual sahamnya dan membeli Fowl Industries.

“You’ll suppress the technology for a year?”
“Correct. That should give you ample time to sell your stocks before they crash, and to use the profits to buy into Fowl Industries.”

Seorang remaja berusia 13 tahun berani mempermainkan seorang Jon Spiro. Kamu keren sekali, Arty. Tidak ada tukads-tukadsnya

Tentu saja Jon Spiro tidak menerima tawaran dari Fowl. Dengan entengnya dia mengambil begitu saja C Cube milik Fowl untuk kemudian pergi meninggalkan Fowl dan Butler di sebuah restoran yang dipenuhi dengan orang-orangnya Spiro. Butler bergerak cepat dengan “meledakkan” restoran tersebut. Fowl dan Butler selamat karena mereka memakai earplug.

Sayangnya, bukan hanya mereka berdua yang selamat, melainkan juga Arno Blunt, pengawal pribadi Jon Spiro. Nyawa Fowl dalam bahaya. Demi melindungi Fowl, Butler rela mengorbankan nyawanya. Butler kena tembak dari senjata api Blunt. Butler bisa saja tewas jika Fowl tidak berpikir dan bergerak cepat untuk menyelamatkannya. 

Sekarang Fowl harus merebut kembali C Cube miliknya. Dia tahu Jon Spiro orang “gila”. Meski hanya Fowl yang tahu kode C Cube dan hanya dia yang bisa mengoperasikannya, tetap saja Spiro menjadi ancaman. Karena Spiro memiliki tim ahli teknologi dan komputer yang bisa bekerja tanpa henti untuk memecah the eternity code dari C Cube. Agar rencananya berhasil, sekali lagi Fowl harus bekerja sama dengan Captain Holly Short dan Mulch Diggums, juga Foaly. 

The Eternity Code sejauh ini adalah buku favorit saya dari seri Artemis Fowl. Di buku ini Fowl telah kembali menjadi seorang master kriminal. Dia selangkah, wait, barangkali lebih tepatnya sepuluh langkah lebih maju daripada orang-orang di sekitarnya. Dia bisa membuat rencana dengan sangat matang. Dia dapat memprediksi langkah-langkah lawannya dan mengatur langkah apa yang akan diambil. For example, Fowl predicted exactly what Spiro would do and he played along with it and let Spiro think that he got what he wanted. Sebelum akhirnya Spiro harus gigit jari.

Usaha untuk menyelamatkan Butler dari jurang kematian bikin saya deg-degan. Saya tidak ikhlas kalau Butler harus mati. Terlalu cepat kita kehilangan Butler seandainya dia mati di buku ketiga. Untungnya, Colfer tidak sekejam itu. Butler masih bisa terselamatkan nyawanya, tetapi ada kompensasi yang harus dibayar.

Aksi untuk merebut kembali C Cube sangat seru. Fowl dan geng harus bekerja sama dan memastikan semuanya sesuai rencana jika ingin berhasil.  Karena ini Jon Spiro yang harus mereka hadapi. Bukan main seram musuhnya. Di saat saya sedang deg-degan takut rencana Fowl gagal, celetukan konyol Diggums dan snob-nya Foaly suka bikin saya tertawa.

Juliet Butler sangat memesona di sini. Dia tidak takut menghadapi lawan yang lebih besar dari dia. She’s a Butler after all. Tingkat keahlian bela dirinya bikin saya menyesal kenapa saya tidak belajar bela diri juga dari dulu.

Di buku ini juga saya melihat Fowl mulai berubah. Dia mulai lunak pada teman-teman ajaibnya. Di sini pula saya melihat adalah titik awal Fowl mengalami pertentangan batin meski dia menyangkalnya. Pertentangan batin itu bermula dari ayahnya, Artemis Fowl senior, yang sejak sembuh menjadi berbeda. Fowl senior bilang ke Arty:

“While I was a prisoner I thought about my life, how I had wasted it gathering riches whatever the cost to my family and others around me. In a man’s life, he gets few chances to make a difference. To do the right thing. To be a hero, if you will. I intend to become involved in that struggle.”

Dan dia mengajak Fowl untuk menjadi seorang pahlawan. 

Father’s gaze was intense, burning with new passion. “But things are different now. My priorities are different. I intend to seize the day, be the hero that every father should be.” He sat on the bed beside me. “And what about you, Arty? Will you make the journey with me? When the moment comes will you take your chance to be a hero?” I couldn’t respond. I didn’t know the answer. I still don’t.

Saya jadi tidak sabar untuk membaca kelanjutan ceritanya. Saya penasaran dengan karakter Artemis Fowl II di buku berikutnya. Akankah dia berubah menjadi lebih baik atau tetap menjadi seorang criminal mastermind

Baca juga:
1. Artemis Fowl
2. The Seventh Dwarf
3. The Arctic Incident

5 pemikiran pada “#97 – The Eternity Code

  1. Ping balik: #98 – The Opal Deception – Blog Buku Kimi

  2. Ping balik: #99 – The Lost Colony – Blog Buku Kimi

  3. Ping balik: #100 – The Time Paradox – Blog Buku Kimi

  4. Ping balik: #101 – The Atlantis Complex – Blog Buku Kimi

  5. Ping balik: #102 – The Last Guardian – Blog Buku Kimi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s